
Sia bersenandung gembira saat keluar dari kamarnya. Hal itu membuat Arch heran. Biasanya wajah gadis itu akan terlihat suram, sendu tanpa senyum. Jangan lupakan mata bengkak seperti habis menangis semalaman.
"Kenapa bajumu lain? Kamu gak kerja hari ini?" Arch bertanya to the poin. Lengkungan bibir Sia menjadi jawaban. "Aku libur hari ini. Ada urusan." Sia menjawab singkat, sambil memberikan sepiring sandwich full daging asap kali ini sebagai proteinnya. Arch layaknya seorang pria yang tinggal dengan istrinya. Meski untuk urusan pribadi mereka melakukannya sendiri-sendiri. Tapi saat di meja makan. Sia memperlakukan Arch seperti seorang suami. Makan dan minum dilayani, seperti yang orang tuanya lakukan saat di rumah.
"Urusan? Urusan apa?" Kepo Arch sambil menggigit ujung sandwichnya. Enak, seperti biasa. Sia tahu selera Arch yang menyukai rasa sedikit asin ketimbang manis dan gurih.
"Adalah. Hari ini aku tidak ada janji dengan klien. Jadi aku bisa libur. Semua tinggal menunggu hari H."
Arch lemas seketika, dia tidak bersemangat jika tidak ada Sia. "Apa aku ikutan bolos ya?" gumam Arch setelah Sia keluar rumah lebih dulu. Gadis itu terlihat cantik dengan dres berwarna pastel. Arch jadi tidak rela membiarkan Sia keluar sendirian.
Tak lama Arch memutuskan mengikuti Sia. Gadis itu akan marah kalau tahu dirinya tidak bekerja. Di halte bus, dilihatnya Sia tengah menghubungi Abby. Terlihat raut wajah kecewa di wajah Sia.
"Ya sudahlah, aku pergi sendiri saja." Kata Sia yang sempat didengar Arch. Pria itu mengikuti Sia menggunakan taksi. Arch sedikit mengerutkan dahi, ketika Sia berhenti di depan sebuah pegadaian. Gadis itu masuk begitu saja. Arch mulai kebingungan, ah seharusnya dia menerima ponsel dari Aro hari itu. Namun ponsel itu terlalu mencolok untuknya. Sia bisa curiga.
Arch sibuk menggerutu, tapi omelan pria itu berhenti saat melihat Sia keluar dari pegadaian itu dengan wajah sendu. Arch tentu bingung. Tadi pas masuk seneng amat, sekarang sedih lagi. Memang apa sih yang Sia lakukan di dalam sana. Pria itu jadi bingung harus bagaimana.
Pada akhirnya Arch mengekor langkah Sia. Gadis itu melangkah gontai menyusuri lajur pejalan kaki. Sia berjalan tak tentu arah.
"Maaf, Sia. Kalung itu sudah dilelang minggu lalu. Sekarang sudah terjual. Paman sudah menghubungimu berkali-kali. Tapi panggilan Paman selalu kamu reject."
Penjelasan sang Paman membuat Sia sedih seketika. Dia kehilangan kalung peninggalan sang ibu. Satu-satunya harta yang tertinggal untuknya, tidak bisa dia pertahankan. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Sia. Beberapa kali Sia mendongakkan kepalanya. Mencegah agar air matanya tidak mengalir. Tapi nyatanya dia gagal melakukan itu. Bulir bening itu mengalir membasahi pipinya. Sia lantas menghentikan langkahnya.
Gadis itu duduk begitu saja di tepi jalan. Tanpa peduli pada pandangan orang lain. Air mata itu sudah berhenti mengalir. Berganti dengan tatapan mata kosong dan wajah sedih.
"Elyos sudah pergi dan aku tidak bisa mempertahankan kalung terakhir dari ibu. Kenapa aku selalu sendirian?" pekik Sia dalam hari. Gadis itu menganggap kalung itu teman yang harus dia jaga. Tapi nyatanya dia tidak bisa melakukannya. Padahal tanggal jatuh temponya masih dua hari lagi dan Sia punya uang genap 30 juta di rekeningnya. Tapi dia terlambat. Dia terlambat satu minggu.
__ADS_1
Saat Sia sibuk dengan kesedihannya, seseorang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Satu tangan terulur pada Sia. Gadis itu segera mengangkat wajahnya. "Arch...." lirih Sia.
"Ayo kita kencan." Ajak pria itu. Sia sejenak terpaku melihat Arch yang berada di depannya. Tangan pria itu setia menunggu balasan uluran tangan Sia. Dua pasang mata itu saling beradu pandang. Hingga perlahan Sia mengulurkan tangannya. Bibir Arch tersenyum, detik berikutnya dua tangan itu sudah saling berpaut. Berjalan saling beriringan.
Keduanya menyusuri jalur pejalan kaki menuju ke sebuah taman. Mereka mengitari taman itu satu putaran. Sampai mereka merasa lelah. Lantas memutuskan duduk di salah satu bangku taman. Sia sejenak terdiam saat Arch kembali dengan satu kotak kecil es krim di tangannya.
"Kata mereka, es krim efektif buat ngilangin sedih." Kata pria itu singkat. Sia mengulum senyumnya. Bisa saja pria bernama Arch ini.
Keduanya duduk berdampingan. Mereka mulai ngobrol. Arch tidak menyinggung sama sekali soal Sia yang pergi ke pegadaian. Sampai Sia akhirnya bertanya pada Arch. Soal panggilan sang Paman yang selalu kena reject. Apa pria itu pernah melakukannya.
"Gak lah, aku gak pernah nyentuh ponselmu tanpa izinmu."
Benar juga. Arch tipe pria tertib. Kalau pinjam sesuatu pasti minta izin sama yang punya. "Memangnya telepon dari Pamanmu penting banget?"
"Bagiku iya?" Arch sesaat terdiam. Lalu pria itu mengulurkan tanganya. Meminjam ponsel Sia. Arch menuliskan sebuah pesan pada seseorang. Lantas mengembalikannya pada Sia. Tunggu sepuluh menit kata pria itu.
"Dia bisa mengakses sendiri CCTV-nya. Kenapa juga harus minta bantuan ke kita." Sungut Aro.
"Masalahnya dia tidak punya alatnya."
Aro terdiam seketika, benar juga. Ponsel saja tidak punya bagaimana mau mengakses kamera pengawas. Ciel mengatakan kalau Arch mengirim pesan menggunakan ponsel Sia. "Jadi karena itu dia tidak berangkat kerja. Mereka kencan begitu?" kesal Aro.
Ciel mengedikkan bahunya. Mereka kini terhubung dengan pusat kendali kamera pengawas di seluruh bangunan Dreamaker. "Ini yang dia minta."
Ciel mengirimkan link untuk mengakses sistem kamera pengawas di bagian HRD. Tombol pesawat ditekan, bersamaan dengan itu, ponsel Sia berbunyi. Sebuah link masuk ke kotak masuknya.
__ADS_1
"Kamu yang minta?" Sia menyerahkan ponselnya pada Arch. Beberapa waktu Arch terdiam mengamati ponsel Sia. Hingga pria itu terdengar mengumpat marah. Dalam satu rekaman terlihat jelas bagaimana seorang gadis berulang kali, bolak balik ke meja Sia. Selain meminjam barang. Mata tajam Arch juga menemukan gerakan mencurigakan dari seorang rekan kerja Sia.
"Dia menyentuh ponselmu."
Kata Arch sambil melihat pada layar ponselnya. Mata Sia membulat, melihat siapa yang beberapa kali terlihat jelas menyentuh ponselnya.
"Kita harus menanyainya. Apa maksud dia melakukan itu."
Arch menyeret tangan Sia, pergi dari sana. "Arch kita bisa menanyainya baik-baik."
"Aku gak janji." Balas Arch enteng.
"Tapi dia perempuan."
"Bodo amat. Sekali biang kerok selamanya tetap biang kerok." Maki Arch berulangkali. Pria itu menghentikan taksi lalu berangkat ke kantor mereka.
Sia tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti kemauan Arch yang jelas-jelas sedang marah.
"Dasar nenek sihir bermuka dua." Gerutu Arch dalam hati.
***
Up lagi reader
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****