
Seth mengepalkan tangannya, mengingat ucapan Yue padanya. Dewa bulan itu memberi peringatan keras padanya agar tidak mengganggu mimpi manusia. Mengubahnya menjadi mimpi buruk, untuk meningkatkan energi kristal hitam. Sudah banyak laporan mengenai perangai manusia yang mulai berubah karena pengaruh energi negatif dari kristal hitam.
"Jika kau tidak menghentikan semua ini. Jangan salahkan aku jika aku menghancurkan kristal hitam milikmu."
Yue mengangkat tangannya dan separuh kekuatan kristal hitam dihancurkan oleh dewa bulan itu.
"Ingat Seth, ini peringatan terakhir. Dan aku tidak main-main kali ini." Yue berlalu dari hadapan Seth. Meninggalkan Seth yang hanya bisa diam tanpa berani menyahut satu patah kata pun yang Yue ucapkan. Hanya dua tangannya yang terkepal erat, menunjukkan betapa marahnya Seth dengan perkataan Yue. Dia sama sekali tidak terima, hasil kerja kerasnya diambil begitu saja.
"Kau pikir aku akan berhenti? Kau salah! Aku...Seth, tidak akan pernah mundur. Sekali aku menginginkan sesuatu, aku harus mendapatkannya. Meski harus melawan Fire atau bahkan Kaisar Langit sendiri," tekad Seth.
Larc hanya menggelengkan kepala melihat bagaimana kerasnya sifat Seth. Jika sudah begini tidak ada yang bisa mengubah pendirian Seth.
"Cari kesempatan dan bawa raga Amethyst padaku." Satu perintah kembali Seth tegaskan pada Larc. Tangan kanan Seth itu langsung undur diri. Membiarkan Seth dengan amarahnya.
*
*
Sejak Arch memberitahu kalau dia adalah orang yang pernah menumpang di rumah Sia, hubungan keduanya mulai membaik. Menghangat. Meski hari itu mereka harus kucing-kucingan dengan Irwan Wijaya. Ayah Arch yang tiba-tiba datang. Sia harus mau sembunyi di kamar Arch lagi. Dan berakhir dengan Sia yang tertidur di kamar pria itu. Arch membiarkan sampai jam kantor berakhir.
"Pulang sana!" usir Sia ketika pria itu ikut pulang dengannya.
"Kenapa? Kan aku pernah tinggal di sini," balas Arch santai. Pria itu mendudukkan diri di sofa seperti biasa.
"Oiii, tuan muda. Nanti di cari mamamu," seru Sia sebelum masuk ke kamarnya. Biasanya gadis itu akan segera mandi kalau moodnya bagus.
Saat itulah, pikiran Arch menerawang. Beberapa hari terakhir ini, dia merasa ada sosok lain yang hidup dalam dirinya. Arch merasa melihat kelebatan hal yang bukan ingatannya. Pria itu jadi curiga pada dirinya sendiri.
Lama terdiam, akhirnya Arch tertidur. Dalam tidurnya Arch bermimpi. Dia berada di sebuah tempat mirip aula istana. Di depannya berdiri seorang pria dengan rambut panjang berwarna putih, senada dengan bajunya. Wajah pria itu terlihat damai dengan ketenangan yang mampu menyeret orang lain untuk turut merasakan ketenangan saat bersamanya.
Tidak ada rasa takut dalam diri Arch, saat pria itu berjalan mendekat ke arah pria bermanik mata biru itu. Elyos, pria itu sengaja menunggu Arch menyadari kehadirannya dalam pria diri pria itu sebelum menunjukkan wujudnya langsung pada Arch.
__ADS_1
"Siapa kau?" tanya Arch to the poin.
Senyum Elyos mengembang. "Aku Elyos. Maaf sebelumnya karena aku menumpang hidup dalam tubuhmu," jawab Elyos terus terang.
Arch terkejut, bagaimana bisa makhluk hidup menumpang pada manusia lain. Apa mereka jenis parasit yang menempel pada hidupan lain untuk hidup dengan mengambil makanan inangnya.
"Aku tidak seperti yang kau pikirkan."
Arch semakin heran, Elyos bisa membaca pikirannya. "Aku hanya menumpang di tubuhmu. Sampai kekuatanku pulih dan ragaku sendiri kembali."
"Kenapa aku? Kenapa bukan orang lain?"
"Karena auramu dan milikku sama. Juga karena kita memiliki rasa yang sama pada satu gadis yang sama."
Dua pria beda dunia itu saling pandang. Tatapan Arch seketika berubah dengan aroma permusuhan yang langsung Elyos rasakan.
"Kau menyukai Sia? Tunggu dulu, siapa kau sebenarnya?"
"Terserah jika kau tidak percaya. Tapi kenyataannya, kau ada di istanaku di dunia mimpi." Arch langsung terdiam. Tempatnya berdiri memang terasa bukan seperti dunia yang Arch tinggali. Di tempat itu rasanya lebih tenang dan damai.
"Aku terluka jadi kekuatanku belum pulih. Aku perlu tumpangan untuk bertahan di dunia manusia."
Arch terdiam, mendengar penjelasan Elyos. Sampai Elyos berkata kalau dia tidak akan lama meminjam raga Arch. "Aku tidak akan merugikan dirimu dan tubuhmu. Aku jamin."
"Lalu soal kau menyukai Sia, apa itu benar."
"Meski aku menyukainya. Aku tidak akan bisa memilikinya, kami beda dunia. Sia adalah rumah paling nyaman yang bisa aku tinggali di bumi. Dunia mimpi miliknya, aku tinggal di sana."
Saat itu mata Arch terbuka tiba-tiba. Pria itu melihat ke arah dapur, di mana Sia pasti menyiapkan makan malamnya.
"Makan di sini atau pulang?" tanya Sia tanpa melihat ke arah Arch.
__ADS_1
"Aku menyukainya tapi mustahil bagi kami untuk bersatu. Aku sadar siapa aku dan siapa Sia. Kami beda dunia. Bagaimanapun dia punya takdirnya sendiri. Aku tidak akan mencampuri hal itu."
Satu lemparan bantal membuat Arch tersadar dari lamunannya. Pria itu berjalan gontai, keluar dari rumah Sia. "Dasar orang aneh," gerutu Sia. Gadis itu memakan makan malamnya sendiri. Tanpa dia tahu, Elyos tengah menatapnya. Seulas senyum terbit di bibir pria itu. Setelah semua ini selesai, kekuatannya pulih, dia akan kembali ke istana mimpi. Memutuskan hubungannya dengan Sia, karena mereka tidak bisa berhubungan terus.
"Aku akan pergi sebentar lagi. Tapi aku harap bisa mengucapkan selamat tinggal langsung padamu." Kata Elyos sambil menunduk.
Saat pria itu mengangkat wajahnya, betapa terkejutnya dia melihat Amethyst yang berdiri di hadapannya.
"Yang mulia, Dewi." Elyos buru-buru memberi hormat pada Amethyst. Kedudukan Elyos lebih rendah dari Amethyst, padahal Elyos adalah pangeran dunia mimpi.
Elyos sesaat melihat Sia yang asyik dengan makanannya. Hal itu ditangkap oleh Amethyst. Dewi itu menghela nafasnya. Dia sendiri yang memilih mate-nya. Namun pilihannya sibuk memperhatikan orang lain. Sama sekali tidak melihatnya.
Saat Elyos kembali melihat ke arah Amethyst, dewi itu sudah menghilang. Pangeran mimpi itu hanya bisa mengerutkan dahinya. Tidak paham dengan maksud Amethyst muncul di hadapannya.
"Patah hatikah?" tanya satu suara yang membuat Amethyst menoleh.
"Dia sama sekali tidak menghiraukanku," keluh dewi cantik itu, menatap helaian benang merah yang berkelip di jari manisnya. Bersamaan dengan helaian benang merah yang jadi pasangannya, juga ikut berkelip.
"Dia memandangmu terlalu tinggi." Kini suara itu tahu siapa pilihan Amethyst.
"Hatinya benar-benar tinggi untuk kuraih," ujar Amethyst sendu.
Terdengar suara tertawa yang membuat Amethyst kesal. "Tertawa lagi, kubekukan kau ke kutub utara," ancam Amethyst.
"Janganlah. Baru tahu kalau Amethyst bisa marah juga." Ledek suara yang tak lain adalah Yue itu. Setelah ribuan tahun, akhirnya terkuak juga. Siapa pria yang diinginkan oleh Amethyst. Pilihan penjaga kuil mimpi.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih."
__ADS_1
***