
Abby membelalakkan mata, melihat Rei yang ada di depannya. Wanita itu tidak menyangka sama sekali jika Rei akan tahu keberadaannya. Sementara si pria cantik langsung melongo melihat wajah tampan Rei.
"Wah, tidak menyangka kalau pacar you kece badai," seloroh si pria cantik.
"Heee...bukan pacar aku ini mah. Dia suami orang." Abby setengah berbisik ke arah pria cantik itu. Wanita jadi-jadian itu membulatkan bibir hingga membentuk huruf O.
"Terus dia ke sini mau ngapain?" Bisik pria itu lagi. Abby mengedikkan bahunya, tidak tahu. Rei menghampiri Abby lalu menarik tangan wanita itu untuk pergi dari sana. "Hei....ini gimana urusannya?!" teriak si pria menunjukkan sisi maskulinnya.
"Asistennku yang akan mengurusnya. Dua slot langsung kami beli." Tegas Rei langsung menyeret Abby dari tempat itu. Rei mengabaikan teriakan Abby yang menggema di lorong kosong tersebut. Beberapa waktu Rei hanya diam, hingga dia tidak tahan dengan ocehan Abby yang ternyata lebih parah dari burung kutilang yang sudah mahir bersiul.
"Eehhh...." Abby membulatkan mata, saat Rei menyudutkan dirinya di satu tempat yang sepi. Bangunan itu memang masih sepi karena belum banyak yang menempati.
"Kamu ini ternyata sangat berisik, baik saat setengah sadar maupun waktu sadar."
Ha? Abby tidak paham dengan ucapan Rei. Wanita itu hanya melihat wajah Rei dengan dua tangan Abby berada di dada pria itu. Menahan agar Rei tidak terlalu dekat dengannya.
"Maksudnya apa sih? Minggir, kenapa juga kamu masih nyariin saya?" Abby berusaha mendorong jauh tubuh Rei tapi pria itu bergeming di tempatnya.
"Kau pikir setelah kejadian waktu itu, aku akan melepaskanmu? Tidak! Setelah hari itu kau adalah milikku." Rei dengan cepat mencium bibir Abby, tidak peduli di mana pria itu berada, yang Rei inginkan hanyalah membuat Abby selalu berada dalam pelukannya.
*
*
Arch turun dari mobilnya, pria itu bergegas masuk ke lobi sebuah hotel di mana Neo sudah menunggu. Klien mereka akan tiba lima menit lagi. Sebuah meeting penting yang bisa membuat Arch semakin sukses. Arch dan Neo berjalan beriringan sambil membicarakan dokumen yang akan mereka diskusikan dengan klien mereka. Semua beres, tinggal menunjukkannya pada klien mereka.
"Aku lihat pemandangan apik hari ini?" Neo berkata setelah satu jam meeting dengan klien mereka. Arch nampak acuh pada awalnya. Namun saat nama Abby di sebut, pria itu langsung melihat ke arah Neo dengan tatapan serius.
"Apa maksudmu Abby ada di hotel ini dan masuk bersama Rei?" Arch jelas kepo. Bagaimana bisa Abby memiliki hubungan dengan Rei, suami Alicia.
__ADS_1
Neo lantas menceritakan soal penglihatannya. Di mana dia memang melihat Abby yang datang bersama Rei. Hingga satu kesimpulan Neo membuat Arch melongo. Rei mirip dengan En, apa tidak mungkin jika Abby keliru menganggap Rei adalah En.
"Wah...ini gawat. Kau tahu di mana kamar mereka. Aku harus membawa Abby keluar dari sana." Kata Arch panik. Pria itu sungguh cemas dengan nasib Abby.
Ting....pintu lift terbuka di lantai, di mana kamar Rei berada. Mereka setengah berlari saat mendekati kamar itu. Arch dan Neo saling pandang, setelah melihat pintu kamar hotel itu sedikit terbuka. Dua pria itu merangsek masuk. Hingga keduanya mendengar pertengkaran antara Rei dan....Alicia.
"Aku tidak mau menceraikanmu!"
"Kenapa? Bukankah kau sudah menemukan apa yang kau cari? Wanita yang bisa memuaskanmu! Lepaskan aku! Dan kalian bisa menikah!" Raung Alicia.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud merusak rumah tangga kalian. Sungguh." Suara Abby terdengar menyela di antara sahutan suara Rei dan Alicia.
"Aku bilang tidak akan menceraikanmu! Apa aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau akan menyebarkan aibku setelah kita berpisah! Itu kan yang akan kau lakukan?!" Rei menunjuk Alicia dengan jarinya. Keadaan pria itu kacau. Kancing kemejanya hampir terlepas semua. Sementara Abby masih berpakaian lengkap. Sebab saat Alicia mendobrak masuk bersama Fex, Rei tengah mencoba melecehkan Abby
Alicia membulatkan mata mendengar tuduhan Rei, sungguh tidak ada niat untuk menyebarkan ketidaknormalan Rei. Yang Alicia inginkan hanya lepas dari belenggu pernikahan bersama Rei yang begitu menyiksa. Alicia ingin menikmati hidupnya. Dia ingin menjalani kehidupan normal tanpa kekangan dari pihak manapun.
Alicia mendelik saat Rei mencekik lehernya. Sedang Abby langsung menjerit panik. "Kau pikir aku percaya?" Baik Abby maupun Fex dengan cepat berupaya melepaskan cekikan Rei di leher Alicia.
Alicia dengan cepat kehilangan nafas. Wajahnya memerah. Hingga pukulan dari Arch, membuat Rei terhuyung ke samping dan melepaskan cekikkannya pada Alicia. Tubuh Alicia ambruk dengan Fex dan Abby sigap menahannya.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau kelakuanmu sebejatt ini, Reiki Savian Altarezza!" Kata Arch dengan dua tangan terkepal kuat. Menahan diri untuk tidak menghajar Rei di hadapan para perempuan. Di samping Arch, Neo siap siaga menjaga Arch. Neo hafal betul kalau Arch sudah emosi, dia bisa memukuli lawannya tanpa ampun.
"Siapa kau? Ini bukan urusanmu! Pergi kau dari sini!" Rei berkata marah. Melihat sosok Arch yang sekilas dia ingat pernah beberapa kali bertemu Alicia untuk kepentingan bisnis.
"Ini akan jadi urusanku. Kau membawa Abby dalam masalah rumah tanggamu dan kau melukai Alicia! Aku tidak suka!" Raung Arch. Melihat wajah kesakitan Alicia membuat Arch terluka. Pria itu tahu benar, Sia dan Alicia adalah dua orang yang berbeda. Namun pria itu tidak tahu kenapa, rasa yang Arch miliki untuk Alicia sama dengan rasa yang Arch punya bagi Sia.
"Apa kau menyukai istriku? Aku ingat tunanganmu yang sudah meninggal sangat mirip dengan Alicia."
"Omong kosong apa ini? Apa kau juga menuduh istrimu berselingkuh denganku?"
__ADS_1
Rei menyeringai, "Bisa jadi."
Buuughhhh, satu pukulan kembali menghantam wajah Rei, tangan Arch terkepal ingin menyerang lagi. Tapi Neo menahannya. "Itu untuk membungkam mulut kotormu! Berani kau menuduh istrimu sendiri selingkuh. Padahal semua kesalahan ada padamu. Kalau aku jadi Alicia. Aku sudah lama pergi darimu. Buat apa hidup dengan laki-laki tidak berguna sepertimu!"
Telak! Semua ucapan Arch serasa menghunjam jantung Rei. Apa yang dikatakan Arch sangat mewakili apa yang Alicia rasakan. Arch berbalik, berjalan menuju ke arah Alicia. Namun tiba-tiba saja Rei bangun, menarik pundak Arch lalu memukul wajah Arch, dua kali bogem mentah itu mendarat di wajah tampan Arch. Sampai Neo dan Fex berhasil melerai keduanya.
"Cukup!" Suara Alicia membuat dua pria itu menoleh. Wajah Alicia sembab, dengan bekas membiru di leher wanita itu.
"Kau brengsek, Rei!" Maki Arch langsung.
"Kau yang brengsek! Berani menggoda istriku di belakangku!"
"Cukup!!!!" Teriakan Alicia membuat Rei menoleh. Sementara Arch masih melihat ke arah Rei, waspada.
"Kau! Aku akan minta cerai darimu!"
"Keluargamu akan kuhancurkan jika kau berani minta pisah dariku!" Ancam Rei.
"Aku tidak takut! Ayahku akan lebih suka kehilangan hartanya daripada melihatku menderita! Aku mau kita bercerai!"
Teriak Alicia yakin dengan keputusannya. Luka hati masih bisa Alicia tahan, tapi saat Rei mencekik lehernya, oke it's enough. We're done.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****
__ADS_1