In My Dream

In My Dream
Harapan Terakhir


__ADS_3

Tubuh Elyos kali ini benar-benar ambruk ke lantai, dengan rasa sakit luar biasa menyerang sekujur tubuhnya. Pria itu mengerang, merintih menahan sakit. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Namun dalam benaknya, dia hanya memikirkan Sia. Ribuan kali Elyos memanggil nama gadis itu.


Rasa sakit semakin tak tertahanka membuat Elyos terkulai lemah di istananya. "Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu Sia. Maafkan aku Ametyst, aku tetap tidak bisa melepaskan rasa cintaku pada Sia."


Butiran kristal bening itu menetes dari sudut mata Elyos. Hatinya begitu sakit saat mengingat Sia. Pada akhirnya satu permintaan pria itu mohonkan ke langit. "Aku tidak bisa menerima takdirmu, bagaimanapun aku mencoba. Karena itu aku rela jika kau ingin menghapuskanku karena aku melanggar ketentuan langit. Aku tetap mencintai Sia."


Langit bergejolak, saat Elyos selesai berucap. Tubuh pria itu tidak bergerak sama sekali. Sementara di atas sana, The Lord yang Agung tersenyum. Dia tentu tahu dengan apa yang baru saja terjadi. "Dia memilih mati." Gumam pria dengan wajah yang terlihat begitu damai.


"Apa yang akan kita lakukan?" Ice bertanya.


"Menurutmu, Yang Mulai?" The Lord balik bertanya. Ice tersenyum mendengar perkataan dari The Lord.


Di bumi, Arch langsung berteriak panik begitu tahu siapa yang mengalami kecelakaan. Dia melihat tubuh Sia yang tergeletak di tengah jalan. Banyak orang berkerumun di sekitar tubuh Sia, dengan satu orang mulai menghubungi ambulan.



Kredit Pinterest.com


Tidak ada darah yang yang mengalir dari tubuh Sia. Arch dengan cepat meraih tubuh Sia. Berkali-kali menepuk pelan tubuh calon istrinya. "Si, bangun! Sia..Sia....Si....." teriak pria itu. Rasa takut dan khawatir langsung menyergap hati Arch. Dia takut hal buruk terjadi pada gadis yang begitu dia cinta.


Tak berapa lama, ambulans datang. Tanpa menunggu, Arch langsung naik membawa tubuh Sia ke atas mobil berwarna putih. Petugas sigap menolong Sia yang keadaanya membuat mereka bingung. Tidak ada luka, tidak ada perdarahan. Namun semua tanda vital melemah.

__ADS_1


"Mungkin ada pendarahan internal." Gumam seorang petugas. Yang lain mengangguk paham. Mobil itu meluncur di jalan tanpa hambatan. Satu petugas langsung menghubungi rumah sakit. Memberitahu keadaan pasien yang menurut mereka sangat aneh. Di sebelah Sia tampak Arch yang hanya bisa tergugu, melihat calon istri yang hanya dalam hitungan hari akan resmi dia nikahi. Terbaring tidak bergerak sama sekali. Tidak bisa Arch pungkiri dia sangat takut kehilangan Sia. Pria itu hanya bisa mengenggam tangan Sia selama dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Begitu sampai di rumah sakit. Brankar yang membawa tubuh Sia langsung ditarik masuk ke ruang UGD dengan beberapa dokter sudah stand by di sana. Arch menatap nanar pintu ruang UGD yang mulai tertutup. Pria itu menjatuhkan diri di tempat itu. "Aku mohon selamatkan dia. Aku akan menukarnya dengan apapun asal dia selamat."


Dua doa melanglang ke langit. Dua doa dari dua pria untuk satu gadis yang sama. Fantasia Delavega, siapakah dia? Sampai dua pria rela memberikan apapun untuk gadis itu. Dunia langit kembali bergetar, rasa cinta Arch yang besar mampu mengusik ketenangan istana langit. Setelah sebelumnya permintaan Elyos membuat The Lord tersenyum.


"Sebenarnya siapa sih gadis ini? Kenapa kisah cintanya tidak bisa selesai bahkan setelah kau dengan jelas memilihkan siapa jodoh Sia." Wind, seperti biasa, dewa yang sangat ekspresif itu tidak bisa menutupi rasa penasaranya.


Ice terkekeh, Wind satu-satunya dewa yang masih jomblo karena dia belum menemukan wanita yang sudah ditetapkan jadi pendampingnya.


Baru kembali dari istana keabadian, tempat tinggal The Lord, pria itu akhirnya tahu kisah tersembunyi antara Elyos, Sia dan Arch di kehidupan sebelumnya. "Kita akan mengakhiri perjanjian konyol antara mereka bertiga." Putus The Lord pada akhirnya. Ice mengangguk paham dengan perintah pria itu.


"Telingaku sakit, tiap kali satu periode Amethyst di dunia berakhir. Wanita itu harus memilih satu di antara mereka. Tidak dengan cara seperti ini," tegas The Lord.


Tim dokter menggelengkan kepalanya pelan. Sehari setelah kecelakaan Sia terjadi, dan berakhir dengan status gadis itu dinyatakan koma. Yang menjadi keheranan dokter adalah tidak ada luka dalam di tubuh Sia. Perdarahan internal pun tidak ada. Tapi seluruh organ vital dalam tubuh Sia mengalami penurunan fungsi yang sangat membahayakan.


"Bukankah ini aneh?" seorang dokter bergumam saat visit suatu hari. Semua kehidupan Sia ditopang oleh peralatan medis.


Hari berlalu, sudah seminggu dan keadaan Sia tetap tidak menunjukkan perbaikan. Dari hasil pemeriksaan, tim dokter malah mengatakan kalau Sia sudah mengalami mati otak yang artinya suatu kondisi di mana seluruh aktivitas otak terhenti secara permanen. Seperti kondisi Sia, mati otak menyebabkan pasien mengalami koma dengan kemungkinan untuk sadar kembali sangat kecil.


Bisa dibayangkan bagaimana shocknya Arch dengan perkataan dokter. Pria itu menangis tersedu, tidak mampu menutupi kesedihan dalam hatinya. Kenapa baru saja dia akan mereguk kebahagiaan bersama Sia, ada cobaan yang datang menghadang.

__ADS_1


Satu pelukan dari Aro, membuat tangis Arch semakin kencang. Hari bahagia yang telah dirancang sedemikian rupa, hancur seketika. Arch tidak kuat menahan sesak, melihat Sia yang terbaring dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.


Dalam keadaan seperti itu, hasil penyelidikan kepolisian menunjukkan kalau kecelakaan Sia di sengaja. Betapa marahnya Arch saat tahu kalau yang menabrak Sia adalah Cherry. Tidak main-main, hari itu juga Arch mengajukan tuntutan pada Cherry. Meski Cherry mengatakan kalau lampu sudah hijau dan Sia malah berhenti di tengah jalan, tetap saja Arch tidak mau tahu. Pria itu akan memproses tuntutan sampai Cherry mendekam di penjara.


Permohonan dari Aska untuk menarik tuntutan pun tidak Arch dengarkan. Pria itu terlalu marah dengan Cherry. Terlebih ada bukti kalau Cherry sengaja menabrak Sia setelah sempat berhenti saat lampu berubah hijau.


"Penjarakan dia! Berikan hukuman paling berat untuk perempuan itu!" perintah Arch pada pengacaranya. Pria itu tidak mempedulikan teriakan dari Aska. Pria itu terus menghiba pada Arch agar mau mencabut tuntutannya.


"Baguslah kalau dia mati! Biar dia menyusul dua orang tuanya!" teriakan dari Cherry membuat semua terkejut.


"Kau dengar? Dia sengaja menabrak Sia karena dia membencinya. Dengarkan aku, jangan harap kau akan lepas dari tempat ini! Kau akan mendekam lama di sini. Aku pastikan itu!"


Arch meninggalkan kantor polisi, membiarkan Aska dan Cherry yang kini bertengkar sendiri. Arch masuk ke mobil, detik berikutnya pria itu memukul kemudi saking frustrasinya. Pria itu tidak tahu harus bagaimana untuk membangunkan Sia.


Arch merasa sangat putus asa. Dia bingung harus bagaimana. Lama pria itu termenung, menjadikan kemudi sebagai tumpuan kepalanya. Hingga tiba-tiba satu nama terlintas di kepala Arch. Nama itu mungkin saja bisa membantunya. Harapan terakhir yang Arch pikirkan.


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


Anyway, SELAMAT HARI RAYA IDULFITRI KEPADA READERS YANG MERAYAKAN. MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 🫠🫠🥰🥰🥰


****


__ADS_2