
Sia berjalan gontai masuk ke kantor Dreamaker. Sedikit keributan di lobi, sama sekali tidak menarik perhatian Sia. Gadis itu tidak peduli. Dia hanya menghabiskan malamnya dengan menangis dan siang dengan bekerja. Kalung Sia tampak berkerlip samar di balik kemeja putih Sia. Sebuah tanda yang sama sekali tidak disadari oleh Sia. Gadis itu berjalan sambil menunduk. Hingga Sia menabrak bahu seorang wanita.
"Jalan lihat-lihat dong!" bentak suara yang Sia kenal. Sia mengangkat wajahnya, hingga terlihatlah wajah Rissa di depan mata. Sia sedikit mengerutkan dahi. Ada yang berubah dari Rissa. Gadis itu tidak mengenakan seragam freelancer seperti biasa. Gadis itu memakai dress yang nampak mahal. Begitu juga dengan make up Rissa. Penampilan gadis itu terlihat berkelas.
Satu seringai terukir di bibir Rissa. Raut mengejek tersirat di wajah gadis itu. "Kau tidak akan pernah menang melawanku. Hari ini kau akan tahu siapa aku." Bisik Rissa lirih.
Satu keributan terdengar dari arah depan. Tapi Sia tidak peduli. Baik perkataan Rissa maupun keributan di lobi, Sia mengabaikannya. Gadis itu berjalan gontai menuju mejanya. Sesaat melamun, sampai teriakan Veni mengejutkan Sia.
"Sia, big news....big news!!!" Veni hampir meledakkan telinga Sia, karena gadis itu berteriak begitu keras. Seperti toa tukang jualan.
"Apaan sih? Masih pagi, jangan bikin gue budek dong. Mahal sekarang ke rumah sakit."
"Kabar besar! Kabar besar!" Aldo ikut menambahi kehebohan Veni.
"Kabar besar apaan? Bonus naik?" tanya Sia sendu. Gadis itu menyiapkan lembar konsul dan berkas yang harus dia kerjakan.
"Ini lebih dari sekedar bonus naik. Kamu tahu, yang kemarin itu bukan bos kita yang sebenarnya. Dia kakak dari bos kita yang sesungguhnya. Dan katanya, hari ini mas bos mulai bekerja. Kakaknya saja sudah aje gile gantengnya. Bagaimana adiknya. Jadi kepo deh."
Aldo dan Sia melongo mendengar omelan Veni. Anak itu sarapan petasan ya, sampai bisa mengeluarkan bunyi tanpa jeda sampai amunisinya habis.
"Elu keselek kembang api di mana Ven, bisa meletup gitu ngomongnya." Celetuk Aldo. Veni reflek meninju lengan Aldo.
"Jangan ditinju dong Ven,ini latihan tiap minggu tahu. Mahal."
"Ck..ck...ck...gak penting. Yang penting sekarang adalah gue kepo sama adiknya Mas Aroha Aegis Wijaya. Pasti ganteng pisan, eeuuuyyy."
Lagi sebuah jawaban absurd, Sia dan Aldo dengar dari bibir Veni. "Dia kesambet jin tomang ya?" bisik Sia. Aldo manggut-manggut mengiyakan. Veni jelas protes disebut kesurupan oleh dua temannya tersebut. Veni kembali mengomel, sibuk mengumpat dua sahabatnya sendiri. Sementara Sia dan Aldo justru terbahak melihat cara Veni ngedumel. "Seperti mbah dukun baca mantra ya?" tanya Aldo. Sedang Sia terpingkal-pingkal mendengar ucapan Aldo.
"Yang itu dukunnya namanya Alam, yang ini namanya Alim, kan dia cewek." Tawa Sia dan Aldo meledak. Hal itu membuat Veni geram. Gadis itu hampir mengeluarkan makiannya ketika bola mata Veni membulat. Melihat siapa yang tengah berjalan melewati lobi. Di dampingi Aro, seorang pria berwajah seperti Arch melintas. Dengan Rissa...Rissakah itu yang menggandeng lengan pria berwajah mirip Arch.
__ADS_1
"Itu Arch bukan sih?" Veni reflek menunjuk serombongan orang yang berjalan menuju lift. Berjarak lima meter dari meja kerja mereka. Sia langsung memutar lehernya begitu nama Arch disebut. Sia hampir mematahkan lehernya sendiri karena menoleh terlalu cepat. Dari tempat Sia duduk, jelas dia bisa melihat wajah Arch.
"Arch...dia Arch..." Teriak Sia.
Kredit Pinterest.com
Meski tampilan pria itu berbeda tapi Sia yakin jika dia Arch. Sia berlari ke arah Arch. Sebulan tidak bertemu membuat Sia merasa rindu dengan pria yang kini memakai jas hitam dengan kemeja putih serta celana senada berwarna hitam. Gaya seorang bos.
"Arch...kamu dari mana saja?" tanya Sia dengan nafas terengah. Gadis itu berhenti tepat di hadapan Arch. Tidak peduli jika kehadirannya menghambat perjalanan mereka.
Suasana hening sejenak. Aro menatap Arch, sedang Arch menatap lurus pada Sia. Pria itu hampir berlari memeluk Sia, saat melihat gadis itu bercanda dengan Aldo dan Veni. Arch sangat merindukan Sia.
"Putuskan hubunganmu dengan gadis itu!"
"Arch kamu ke mana saja? Aku cemas padamu?"
Sia sangat terkejut dengan ucapan Rissa. Dilihatnya pria yang berdiri di hadapannya. Sia yakin itu adalah Arch. Hanya saja Arch yang ada di depannya ini, kenapa wajahnya begitu dingin. Terlihat jika pria di hadapan Sia itu tidak mengenalnya.
"Arch....apa itu kamu?" Sia bertanya dengan suara terbata. Sungguh dia akan menangis sebentar lagi, jika saja pria itu membantahnya. Elyos jelas sudah meninggal dalam pelukannya. Dan kini apa dia juga akan melihat Arch pergi. Wajah pria di depan Sia sangat mirip dengan Arch yang sudah dua bulan tinggal di rumahnya.
Tanpa mereka sadari, Irwan Wijaya melihat semua kejadian itu dari lantai dua bangunan Dreamaker. Pria itu masuk lewat pintu samping. Posisi Irwan tepat berada satu garis lurus dengan Arch. Hingga ketika Arch melihat ke lantai dua. Dilihatnya sang ayah yang berdiri di sana. Seolah mengawasinya.
"Tunjukkan bagaimana kau akan melindunginya." Gumam Irwan, seorang pria berdiri di samping Irwan. Sang asisten, juga tangan kanan Irwan.
Melihat sang papa yang mengawasinya. Arch tidak punya pilihan lain. Suara Sia membuat Arch kembali menatap gadis cantik itu. "Arch....apa itu kau?" lagi pertanyaan yang sama terlontar dari bibir Sia.
"Namaku memang Arch. Archie Aodra Wijaya. Tapi aku tidak mengenal siapa kau!"
__ADS_1
Tubuh Sia terhuyung ke belakang. Jawaban dingin dari Arch membuat Sia serasa mati rasa. Jantung Sia terasa sakit. Terlebih, saat rombongan Arch berlalu dari hadapannya. Tanpa kata, tanpa bicara.
"Maafkan aku Si, saat ini aku hanya bisa melakukan ini. Aku akan memikirkan cara untuk minta maaf padamu. Setelah mama benar-benar sembuh." Batin Arch pilu.
Bisa Arch lihat bagaimana kecewanya Sia saat mendengar perkataannya. Kecewa dan sedih, dua kata yang bisa menggambarkan pancaran bola mata cantik milik Sia.
"Kau tidak apa-apa Si? Jika bukan Arch, lalu dia siapa?" pertanyaan Veni di jawab gelengan kepala oleh Sia. Aldo dan Veni membantu Sia berjalan dan duduk di kursinya. Tatapan gadis itu kosong. Dia tidak tahu harus berbuat apalagi sekarang.
*
*
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Aro,dua jam setelah rapat direksi digelar. Dalam rapat itu diumumkan kalau Dreamaker Wedding Organizer resmi dipimpin oleh Arch. Sementara Aro akan kembali ke kantor pusat.
"Menurutmu bagaimana? Dia gadis yang selama dua bulan ini menampungku di rumahnya. Tanpa bertanya siapa aku. Dia memberiku makan sesuai standarku. Tanpa mengeluh. Dan dia satu-satunya gadis yang berhasil menarik perhatianku. Sekarang pikirkan apa yang aku rasa, saat aku dipaksa berpura-pura tidak mengenalnya. Kau tahu sendiri rasanya!"
Aro menelan ludahnya kasar. Dia pernah berada di posisi Arch, menyukai seorang gadis tapi dipisahkan oleh keadaan. Sakit, sangat sakit rasanya. Kini Arch, sang adik merasakan hal yang sama. Akankah Arch juga akan mengalami hal seperti dirinya.
"Aku tidak bisa berpura-pura tidak mengenalnya....aku tidak bisa!"
"Tapi Arch....kamu tahu, Papa bisa melakukan apapun pada Sia. Itu bisa saja hal buruk." Aro memperingatkan.
Arch terdiam. Pria itu menatap pemandangan dari jendela ruangannya. "Aku akan mencari cara untuk melawan. Aku tidak akan menyerah begitu saja." Tekad Arch.
***
Up lagi readers
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***