In My Dream

In My Dream
Selamanya


__ADS_3

Arch menjalani kehidupan dalam kehampaan. Setelah kepergian Sia, pria itu seperti orang yang hidup tanpa tujuan. Arch bekerja seperti biasa, tapi tidak ada semangat dalam dirinya. Arch hidup hanya sekedar hidup. Tatapan Arch kosong, pria itu benar-benar kehilangan arah hidupnya.


Semua anggota keluarga tentu merasa khawatir. Mereka cemas kalau Arch sampai berbuat yang tidak-tidak. Mereka sempat ingin menjodohkan Arch dengan Abby. Namun keduanya kompak menolak. Entah kenapa, baik Arch maupun Abby merasa jika ada yang menunggu mereka di ujung jalan.


Pernikahan Aro dan Rissa berlangsung meriah, meski kebahagiaan terasa tidak lengkap. Sebab seharusnya pernikahan itu menjadi double grand wedding. Namun Arch dengan lapang dada mempersilahkan sang kakak menikah lebih dulu. Arch tidak bisa egois, dengan menahan pernikahan Aro. Karena itu dia membiarkan pernikahan Aro dan Rissa dihelat besar-besaran.


Ada rasa sesak saat Arch melihat Aro dan Rissa tersenyum bahagia di hari pernikahan mereka. Namun Arch berusaha berbesar hati. Keyakinan itu ada dalam hati Arch. Sia akan kembali, untuknya.


Asisten Arch menepuk pundak pria itu, hingga lamunan Arch buyar. Sehari setelah pernikahan Aro, Arch sudah masuk kerja. Dia tidak ingin larut dalam kesedihan karena kehilangan Sia. Pria itu ingin menyibukkan diri, agar bayangan Sia tidak memenuhi benak pria itu.


"Aku rindu padamu Si. Kenapa kau tidak membawaku pergi bersamamu." Hanya kalimat itu yang sering Arch ucapkan saat dia sedang sendirian. Keluarga Arch sungguh mengkhawatirkan keadaan pria itu. Sampai asisten Arch yang kini mengawasi pria itu sewaktu ada di kantor.


Beda di dunia manusia, beda pula di dunia langit. Tanpa menunggu lama, pernikahan Elyos dan Amethyst akan segera dihelat. Awalnya, Elyos dan Amethyst ingin menikah setelah Sia kembali. Namun perintah dari The Lord meminta pernikahan dua orang itu diselenggarakan secepatnya.


Sampai waktunya tiba, istana mimpi berbenah untuk menerima ratu mereka yang baru. Elyos menatap kristal mimpi yang kini tumbuh sangat besar, kubah aula istana mimpi hampir tertutup oleh kristal berwarna keunguan itu. Energi positif tersebar ke seluruh penjuru alam.



Kredit Pinterest.com


"Tugasmu kau jalankan dengan sangat baik." Yue muncul di samping Elyos. Keduanya menatap ke arah yang sama.


"Aku hanya menjalankan bagianku."


Yue mengulum senyumnya. Elyos sungguh pria yang baik. Hingga mungkin langit tengah berbaik hati membalas kebaikan Elyos.Yue berbalik, menghadap Elyos. "Selamat atas pernikahan kalian. Jangan terlalu memikirkan Lazarus. Dia akan menemukan kebahagiaannya. Tidak lama lagi."


Elyos menarik nafasnya dalam. Satu hal itu yang masih mengganjal hatinya. Elyos tidak bisa melawan kehendak langit. Karena itu dia hanya bisa berharap kalau Lazarus akan segera bahagia. Seperti dirinya, mungkin.


"Aku benar-benar berharap kalau kebahagiaanmu akan segera datang." Batin Elyos.

__ADS_1


Hari pernikahan Elyos dan Amethyst tiba. Pria itu mengenakan pakaian serba putih seperti biasa, hanya saja pakaian Elyos berlapis benang emas. Hingga kesan mewah melekat di diri pria itu. Berjalan menuruni tangga di istananya, pria itu disambut sang tangan kanan yang paling setia, En.


"Selamat berbahagia, El." En tersenyum pada sahabat sekaligus tuannya.


"Segeralah menemukan mate-mu." Ucap Elyos saat keduanya sudah berjalan beriringan. Menuju altar pernikahan yang berada di ujung pintu dimensi istana mimpi dan kuil mimpi.


En hanya tersenyum mendengar perkataan Elyos, tidak tahu kenapa pikiran En hanya tertuju pada Abby. Satu-satunya perempuan yang pernah dia kenal dan sentuh. Tidak mungkinkan mate-nya Abby.


"Santai saja, aku akan setia menunggu." Balas En enteng.


Elyos dan En berjalan melewati jembatan sihir yang terbuat dari lempengan es yang terbentuk otomatis saat Elyos dan En melangkah. Bunga-bunga turut bermekaran di kiri kanan jembatan itu. Seiring langkah Elyos dan En melaluinya.


Tak berapa lama, keduanya sampai di sebuah gerbang berbentuk setengah lingkaran bernuansa pink.



Kredit Pinterest.com


Diujung sana tampak Amethyst yang juga baru datang. Untuk sesaat keduanya terdiam, terpana melihat satu sama lain. Cantik, itulah kata pertama yang muncul di benak Elyos. Mengenakan gaun panjang senada dengan Elyos, wanita itu benar-benar terlihat menawan dan mempesona. Rambut panjang Amethyst yang terurai menambah keanggunan wanita itu.


Namun bukan hal itu saja yang membuat pertemuan sebelum pernikahan itu jadi menarik. Di samping Amethyst, berdiri seorang wanita yang jelas adalah asisten dewi tersebut. Yang membuat Elyos langsung melihat En adalah wajah wanita itu mirip dengan Abby. En sendiri sampai melongo saat tahu kemiripan itu.


"Aku pikir mate-mu sudah datang." Gumam Elyos pada En, yang reflek mengangguk.


"Aku pikir juga iya." En menyahut tanpa sadar. Sudut bibir En tertarik membentuk sebuah senyuman.


"Terima kasih ya dewa, mate-ku akhirnya publish juga."


Elyos dan Amethyst, keduanya naik ke altar. Tangan Elyos terulur pada Amethyst. Wanita itu langsung menyambut uluran tangan Elyos. Keduanya tersenyum satu sam lain. Mata biru Elyos menatap lembut pada dewi cantik berambut panjang dengan wajah bersinar bak sinar bulan yang selalu menerangi dunia mimpi. Elyos bisa merasakan desir halus yang perlahan merayap masuk ke hatinya.

__ADS_1


"Dalam hidupku aku hanya akan mencintai satu wanita, dan itu adalah kau."


Senyum Amethyst mengembang saat Elyos mengucapkan kalimat yang sudah ribuan tahun dia tunggu. Penantiannya tidak sia-sia. Meski Amethyst harus mengultimatum, penguasa tertinggi tiga dunia.


"Aku juga...."


"Kamu sudah membuktikannya. Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Maaf sudah banyak membuatmu menderita. Mulai hari ini, aku Elyos berjanji akan mencintai, hanya akan mencintai Amethyst seumur hidupku. Selamanya. Langit jadi saksiku."


Sebuah janji pernikahan sederhana namun sangat indah bagi Amethyst mengudara di tempat itu. Tanpa keduanya sadari, pernikahan itu disaksikan live streaming oleh semua orang yang hadir di aula istana langit. Yue jelas jadi orang yang paling terharu dengan pernikahan Elyos dan Amethyst.


Mata bulat Amethyst berkaca-kaca mendengar perkataan Elyos, selanjutnya sebuah kalimat yang hampir sama juga terucap dari bibir Amethyst. Benang merah di jari manis keduanya, perlahan berubah menjadi sebuah lingkaran kuat menyerupai cincin, yang langsung menjerat keduanya dalam sebuah ikatan sakral bernama pernikahan.


Tanda kristal di dahi keduanya turut berubah, saat untuk pertama kalinya, Elyos mencium bibir Amethyst. Sebuah ciuman yang merupakan salah satu cara untuk menandai mate masing-masing. Karena saat itu aura keduanya akan melebur menjadi satu, menyatakan kepemilikan masing-masing.


Hanya dalam hitungan detik, tubuh keduanya sudah berpindah tempat. Keduanya kini berada di kamar Elyos, sebuah ruangan tanpa dinding dengan ranjang besar langsung menghadap langit malam.


"Kau membuatku malu." Amethyst sesaat terkejut melihat peraduan Elyos.


"Tidak suka? Kita bisa mengubahnya.....tapi nanti."


Kata Elyos, tanpa basa-basi kembali mencium bibir Amethyst, dengan wanita itu langsung menyambut permainan bibir sang suami. Keduanya mulai mencumbu satu sama lain, seolah pasangan yang sudah lama saling mengenal. Tidak ada keraguan dalam diri Elyos maupun Amethyst saat keduanya mulai melucuti pakaian masing-masing, hingga penyatuan itu terjadi.


Malam itu menjadi malam panas pertama bagi Elyos dan Amethyst setelah menunggu sekian lama untuk disatukan oleh langit. Elyos sungguh tidak menyangka, dewi cantik yang seharusnya menjadi tuannya, kini adalah istrinya. Dan wanita itu hanya akan jadi miliknya, selamanya.


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2