
Sia menatap jengah pada pria yang berdiri di hadapannya. Apa lagi yang pria itu inginkan? Kenapa pria itu datang lagi padanya? Begitu banyak tanya di kepala Sia soal Aska. Ya, yang memanggil Sia adalah Aska. Kekasih Cherry, mantan Sia.
"Sia, bisa kita bicara?" pinta Aska.
Ekspresi wajah Sia begitu dingin mendengar permintaan Aska. Bagi Sia, sekali ada yang menyakiti hatinya. Nama itu akan diblacklist dari kehidupannya. Tidak peduli apa alasan mereka melakukan hal itu.
"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan," Sia menyahut cepat. Gadis itu berlalu dari hadapan Aska. Namun pria itu menahan tangan Sia. "Lepas!" desis Sia penuh peringatan.
Aska mengangkat tangannya, tidak akan melakukannya lagi. "Sia, maafkan aku soal hari itu," ucap Aska ragu. Melihat bagaimana kerasnya watak Sia, seharusnya Aska sadar kalau usahanya untuk minta maaf akan sulit.
"Soal apa?" tantang Sia.
"Soal....soal kejadian waktu itu. Soal kita putus." Aska benar-benar tidak berkutik di hadapan Sia. Sia yang sekarang begitu tegas, tidak lagi lemah lembut seperti dulu.
"Tidak masalah. Seharusnya aku berterima kasih karena kita berpisah. Sebab sekarang aku bisa menertawakanmu. Kau pikir enak menghadapi Cherry. Makan tu Cherry. Harusnya, dengan kapasitasmu kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku atau Cherry. Tapi kau malah memilih Cherry. Selamat kau dapat jack pot," ledek Sia.
Sungguh Aska ingin menangis, Sia sekarang bisa berkata pedas padanya. "Sia, maafkan aku. Aku menyesal. Aku bersalah padamu," Aska lagi-lagi memohon pada Sia. Pria itu ingin kembali pada Sia.
"Terlambat! Sudah tidak ada gunanya kau minta maaf padaku. Dan kalau kau berpikir untuk kembali padaku, no..no...no turning back, Ka. Aku tidak akan mengambil sesuatu yang sudah kubuang. Terutama setelah kau melakukan hal menjijikkan itu dengan Cherry. Sorry, aku tidak terima barang bekas."
Aska melongo mendengar sindiran tajam dari Sia. Dia sungguh tidak menyangka kalau Sia bisa mengatakan hal yang begitu menusuk hatinya. Terlebih gadis itu tahu kalau dia dan Cherry sering melewatkan malam bersama. Satu hal yang membuat Aska memilih Cherry, wanita itu dengan sukarela menyerahkan tubuhnya pada Aska. Pria itu sekarang menyesal dengan keputusannya. Dia bersalah pada Sia, dia ingin memperbaiki kesalahannya. Namun sepertinya, Sia tidak mau memberinya kesempatan.
"Satu lagi, aku benci pengkhianat. Kau mencuri design-ku, dan memberikannya pada Cherry. Itu kesalahan terbesarmu. Nikmati saja hukumanmu dengan menikahi wanita itu."
Sekali lagi, Aska dibuat menganga dengan perkataan Sia. Pria itu bungkam seribu bahasa tanpa bisa membalas satu patah kata pun.
"That's my girl!" satu suara membuat Aska berjengit kaget. Arch muncul tiba-tiba di belakang Aska. Tadi Arch mengikuti Sia. Sampai di halte pria itu melihat Aska yang menemui Sia. Bermaksud ingin menolong, Arch justru dibuat tersenyum, mendengar bagaimana Sia bisa menyemburkan bisa pada Aska. Membalas tiap permohonan maaf Aska dengan kata-kata yang begitu pedas.
__ADS_1
"Si...Si...bayarin," Arch hampir berteriak. Pria itu mengikuti Sia yang masuk ke bus. Namun Arch tidak punya uang koin, si supir menolak uang lembaran dari Arch.
Sia berdecih pelan, saat kembali ke tempat duduknya. "Turun depan sana!" kata Sia.
"Idih ogah!" tolak Arch tegas.
Aska terbengong melihat Sia dan pria yang Aska tahu sebagai pemilik Dreamaker naik bus bersama. Terlebih Aska teringat pada ucapan Arch yang menyebut Sia gadisnya.
Di dalam bus, dua orang itu terus berdebat. Sia hanya membayar ongkos bus Arch sampai tiga perhentian bus setelah Dreamaker, sebab uang koinnya tinggal segitu. Sampai di perhentian bus ketiga Arch disuruh turun. Namun pria itu dengan licik menyeret Sia ikut turun. Bisa dibayangkan bagaimana marahnya Sia. Aturan dia masih bisa tidur 15 menit sampai halte dekat rumahnya. Lumayan, mengurangi rasa kantuk Sia.
"Kau ini apa-apaan sih. Kalau mau susah jangan ngajak-ngajak." Maki Sia langsung begitu bus menutup pintu lantas melaju meninggalkan dua orang itu di halte bus tersebut.
"Siapa juga yang mau ngajak kamu susah," sangkal Arch. Arch pikir setelah berhasil menghadapi sang papa malam itu. Dia pasti juga bisa menghadapi sang papa lagi, kalau singa keluarga Wijaya itu kembali mengamuk karena dia menemui Sia lagi.
"Lalu ngapain kita kamu nyeret aku turun di sini?" cecar Sia penuh emosi.
"Tu....lihat itu...makan itu baru ngamuk. Full power." Arch membalikkan tubuh Sia. Hingga gadis itu bisa melihat penjual mi di tepi jalan. Kesukaan gadis itu.
"Lagi?" Arch bertanya dengan raut wajah tidak percaya.
"Gak ah. Kenyang," balas Sia cepat. Arch tersenyum melihat tingkah Sia. Mana ada gadis yang mau diajak makan di tempat beginian kalau mereka selevel dengan Arch. Hanya Sia, gadis yang fleksibel, jet set sat set, kere oke.
"Cepetan!" kejar Sia, melihat Arch yang malah terdiam. Tidak melanjutkan makannya.
"Kenyang," jawab Arch. Sia seketika memicingkan mata. Hanya Arch-nya yang tidak pernah menghabiskan makanannya kalau sudah di atas jam 7 malam.
Sia cemberut begitu keluar dari kedai penjual mi tersebut. Dia harus naik taksi untuk pulang ke rumahnya. Ongkos lagi, biaya lagi. Keluh Sia dalam hati.
__ADS_1
"Kau mengacaukan budget-ku."
"Alahai, tabunganmu kan banyak...." ledek Arch.
Gadis itu mendengus kesal. Keduanya berjalan menuju jalan raya. Agak jauh dari tempat mereka makan tadi. Entah kenapa, malam itu terasa lain. Hawa dingin dan angin yang bertiup tidak seperti biasanya.
"Ada yang aneh? Kau rasa tidak?" guman Sia pelan. Ada rasa takut dalam diri gadis itu. Arch mengiyakan ucapan Sia. Di sisi Arch, Elyos seketika membuka mata. Jiwanya yang tidur dalam tubuh Arch mulai terbangun. Pria itu menajamkan inderanya. Satu hal buruk kemungkinan sedang menuju ke arah mereka.
"Tenang saja, ada aku," kata Arch berusaha tenang. Jiwa Elyos mulai memperingatkan Arch untuk waspada. Keduanya berjalan beriringan. Sampai tiba-tiba, Arch menarik tubuh Sia dalam pelukannya ketika sebuah ledakan terjadi di hadapan mereka.
Booom
Duaaarrr
Aaarrgghh
Sia menjerit, tubuh Sia dan Arch jatuh membentur aspal yang keras. Dalam hitungan detik, wujud Elyos muncul menggantikan tubuh Arch. Bagaimanapun juga, Elyos harus melindungi raga sementaranya. Pria itu cukup khawatir saat menyadari Sia pingsan dalam pelukannya.
Elyos berbalik dan mendapati sesosok pria muncul di antara kepulan asap yang menguar di tengah jalan. Dalam hitungan detik, Elyos bisa mengenali wujud itu.
"Berani kau muncul di sini, Seth."
Seth menyeringai mendengar sambutan dari Elyos.
****
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****