In My Dream

In My Dream
Terima Kasih


__ADS_3

Saat Arch dan Alicia tengah memulai ritual penyempurna untuk sebuah pernikahan alias unboxing. Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya Elyos dan Amethyst. Tugas mereka selesai. Menyatukan Arch dan Sia atau Alicia adalah tujuan akhir mereka, sebelum benar-benar lepas atas kehidupan keduanya.


Layar tancap di depan keduanya menghilang setelah Arch dan Alicia masuk ke kamar pengantin. "Selesai," seru Amethyst girang. Wanita itu terlihat bahagia. Dengan Elyos mengulas senyum tipis seperti biasa. Tidak banyak yang berubah dari Elyos setelah keduanya menikah. Pria itu masih pendiam seperti dulu, meski kadang kalau otaknya tengah konslet, bibirnya jadi suka berucap hal yang berbau mesum.


"Senang?" tanya Elyos sambil merebahkan tubuhnya di kasur besar yang beratapkan langit malam. Pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan jugah tidur panjang yang sedikit mengekspose dada bidangnya.


"Banget!" Amethyst menyusul naik ke atas ranjang, lalu merebahkan kepalanya di atas dada Elyos. Manja, itulah kata yang tepat untuk Amethyst sekarang.


"Sudah lepaskan mereka. Biarkan mereka menjalani kehidupannya sesuai takdir si botak." Kumat, otaknya Elyos. Menyebut dewa takdir dengan sebutan botak.


"Iya, tapi Abby sama Rei bagaimana?" Amethyst mengungkapkan keraguannya soal Rei dan Abby.


"Kan memang mereka jodoh. Cuma ada halangan untuk mereka sebelum bersatu. Kalau Arch dan Alicia, cobaannya dari kemarin. Nah Rei dan Abby cobaannya baru datang sekarang."


"Aisshhh, kenapa sih Destiny mengirimkan nyonya rubah untuk jadi halangan buat mereka." Protes Amethyst, sambil memainkan jarinya di dada Elyos.


"Baru dikirim nyonya rubah, belum dikirim Seth, kelabakan nanti."


Seth, apa kabar pria itu sekarang? Amethyst tampak berpikir. "Sudah jangan dipikirkan lagi. Yang penting tugas kita sudah selesai. Sekarang urusi hidup kita, oke?"


Amethyst tersenyum lantas mendongak, melihat ke arah Elyos. Detik berikutnya sebuah kecupan melandas di bibir Elyos, bermaksud hanya ingin memberi kecupan selamat malam, siapa sangka jika Elyos menahan tengkuk Amethyst. Pria itu memperdalam ciumannya pada sang istri, hingga tak berapa lama, hasrat keduanya mulai merangkak naik.


Elyos sudah mulai mencumbu tubuh Amethyst, saat panggilan dari En memaksa Elyos menghentikan aksinya.


"Ada apa?" Amethyst bertanya cemas, saat Elyos turun dari atas kasurnya, lantas merentangkan dua tangannya, hingga jubah tidur itu terpasang kembali di tubuh kekar sang pegasus. Tirai kelambu langsung muncul di sekeliling Amethyst untuk melindungi dewi itu dari pandangan En.


"En memanggil, sepertinya penting." Elyos berjalan lurus hingga nampak En yang berdiri di depan Elyos. Sedikit melirik pada kelambu yang sudah tertutup sempurna. Hingga bayangan Amethyst pun tidak terlihat.


"Ada apa?" Tanya Elyos datar. Tidak ada rasa kesal dalam suara pria penjaga kristal mimpi itu.


"Gawat! Dunia Langit mengalami bencana!" En melapor cepat.


Tak berapa lama En dan Elyos sudah muncul di istana langit di mana tangis Luna terdengar menyambut kedatangan En dan Elyos.


Hampir semua pejabat tinggi dunia langit berada di sana. Meski kebanyakan adalah teman dekat Yue, si dewa bulan. Kaisar Langit, Ice, Fire, Amor, Wind, Leon, Rain.


"Ada apa?" Elyos bertanya pada Yue yang tampak menatap putus asa padanya.

__ADS_1


"Mi'er, Mi'er-ku hilang." Kata ayah dua anak itu melow.


"Bagaimana bisa?" tanya En tidak percaya. Sejak Seth dijatuhi hukuman harus mengumpulkan sepuluh ribu kebaikan, penjagaan di istana bulan diperketat. Sebab ada indikasi kalau Seth masih mengincar kristal hitam yang sudah dimurnikan, dan kini menjadi milik Mi'er.


"Aku tidak tahu. Mi'er selalu tidur di paviliun Luna sambil menjaga kristal hitam, tapi malam ini kami mendengar ledakan dari sana. Saat kami periksa Mi'er dan kristal hitam sudah menghilang."


"Seth! Apa ini ada hubungannya dengan dia, si pengendali mimpi."


Semua menggeleng pelan, tidak tahu, hanya isak tangis tertahan Luna yang terdengar dalam pelukan Amor. Amor, istri dewa api itu, sebenarnya juga sedang dipusingkan dengan nasib putri sulungnya. Neyza, putri Fire dan Amor, sesuai dengan ketentuan The Lord yang Agung, Neyza akan berjodoh dengan putra sulung Demon, raja iblis saat ini, Eryk. Masalahnya, Fire belum redo dengan ketentuan itu. Dia belum rela berbesan dengan rivalnya.


"Kami sudah mengirim pasukan untuk mencari keberadaan Mi'er. Kita hanya perlu menunggu." Lapor seorang panglima bawahan Fire.


"Bagaimana jika aku yang mencarinya." Usul Elyos. Sebagai pemilik kristal mimpi, Elyos bisa melacak keberadaan kristal hitam. Karena kristal hitam adalah pecahan dari kristal mimpi.


Semua mengangguk setuju. Elyos memejamkan mata, memusatkan pikirannya. Energi dalam Elyos menyebar ke tiga dunia. Beberapa waktu berlalu, hingga Elyos menyebut satu tempat. Lembah Adn, sebuah tempat di mana kebahagiaan akan kekal abadi di sana.


"Kenapa Seth membawa Mi'er ke sana?"


"Itu tidak penting, yang penting aku akan menjemputnya sekarang juga."


Yue menghilang dari pandangan semua orang. Berteleportasi ke lembah Adn. Diikuti Fire, Ice dan juga Leon. Yang lain menjaga istana langit.


"Bukan hanya Seth, tapi Eryk, putra Demon. Dia harus bersusah payah menghadapi Fire yang sama sekali belum rela besanan sama Demon, bapaknya." Kekeh Wind.


"Gini amat punya anak cantik sama ganteng." Seloroh En sambil menggaruk kepalanya.


"Kalian juga akan mengalaminya nanti." Lagi, Wind mengoceh tanpa dosa.


"Ngomong sembarangan aja!"


"Siapa suruh jodohku belum kelihatan hilalnya. Atau masih belum lahir. Anakmu? Anak kalian?"


"Idih.... ogah punya mantu elu!" Semua orang kompak bersuara.


"Ah elah gini amat nasib jadi jomblo. Awas ya gue teror ni dewa jodoh kalau balik dari lembah Adn."


Wind menatap tajam pada Elyos, seolah memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Apa lihat-lihat? Gak akan aku kasih anakku buat jadi istrimu." Salak Elyos galak.


"Kenapa semua orang jadi protektif ya sama anak masing-masing." Gumam Wind.


"Itu wajar o-on!" Wind hanya bisa menggaruk kepalanya. Lagi-lagi dia kena semprot berjamaah dari temannya sendiri.


**


**


Hari baru berganti, Alicia menggeliat pelan, saat sinar matahari menerobos masuk ke kamar hotel mereka. Kamar yang semalam menjadi saksi kalau Alicia belum pernah ditiduri oleh Rei, lebih tepatnya karena Rei tidak bisa. Alicia benar-benar masih perawan.


"Morning, sayang." Bisik Arch merasakan pergerakan Alicia dalam dekapannya.


Alicia tersenyum melihat wajah tampan Arch yang berada di depannya. Tampan dan juga...anu. Alicia menggigit bibir bawahnya, saat kejadian semalam terlintas kembali di benaknya.


"Jadi begitu ya rasanya." Kekeh Alicia dalam hati. Dua tahun menikah dengan Rei tidak pernah dia merasakan yang namanya nikmat bercinta. Namun semalam, Arch berhasil membuatnya jadi wanita paling bahagia di dunia.


"Terima kasih." Arch membuka matanya, menatap penuh cinta pada Alicia. Tangan pria itu terulur mengusap wajah sang istri.


"Untuk?" tanya Alicia, wanita itu merasa nyaman saat berada di dekat Arch.


"Semua. Cinta, kesabaran, kepercayaan. Terima kasih sudah menjaganya untukku." Kata Arch sambil mencium lembut kening Alicia.


Alicia tersenyum, "Aku juga ingin mengatakan hal yang sama. Tapi satu hal yang pasti terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk masuk ke hatimu." Kata Alicia sembari menyentuh dada Arch. Dia tahu dirinya bukan yang pertama untuk sang suami.


"Kamu memang bukan yang pertama untukku. Tapi aku pastikan kamu akan jadi yang terakhir untukku. Aku mencintaimu, Alice. Terima kasih."


Senyum Alicia semakin lebar, meski masih berupa ucapan lisan, belum ada bukti. Tapi Alicia yakin kalau Arch akan melakukan yang terbaik untuk mewujudkan perkataannya.


"Aku juga mencintaimu. Terima kasih, Archie Aodra Wijaya."


END


*****


__ADS_1


Untuk Arch dan Alicia, author akhiri sampai di sini. Terima kasih atas dukungan kalian, readers tercinta. See you di karya author yang lain ya.


****


__ADS_2