
Di sisi Seth, kekuatan pria itu semakin kuat. Kristal hitam miliknya tumbuh semakin besar. Pria itu tidak lagi berada di dalam gua. Namun di sebuah daratan dengan lapisan salju tebal menutupi permukaan tanah. Orang bumi menyebutnya kutub utara. Satu tempat di mana manusia jarang berkunjung. Meski beberapa tempat menjadi spot wisata yang dibuka untuk umum.
Seth sendiri memilih membangun istananya di tempat paling terpencil di kutub utara. Medan magnet yang besar, menjadi salah satu alasan Seth menjatuhkan pilihannya ke tempat itu. Medan magnet bisa menjadi benteng tambahan untuk Seth, sebab kekuatan itu bisa mengacaukan radar. Hingga orang lain akan sulit menemukannya. Dalam hal ini Yue tentunya.
"Tempat yang mengagumkan." Gumam Seth sambil menatap aurora yang menari-nari di langit malam kutub utara. Aurora Borealis, kilatan cahaya yang terlihat di langit kutub utara. Seth sangat menyukai tempat itu.
Kredit Pinterest.com
Aurora Borealis, aurora di kutub utara
Pria itu menoleh ke belakang, di mana kepingan kristal hitam mulai tumbuh. Mencuat ke atas, semakin lama semakin besar dan tinggi. Menggambarkan berapa besar kekuatan yang telah Seth kumpulkan.
Senyum Seth mengembang, jika keadaan ini berlangsung tiap hari. Maka tidak perlu waktu lama baginya untuk menguasai dunia manusia. Saat itu tiba, Seth mampu menguasai kristal mimpi. Mengubahnya menjadi kristal hitam. Dengan begitu dunia mimpi akan jadi miliknya.
Di dimensi lain, Elyos yang baru saja terbebas dari kotak es yang menguncinya, terlihat begitu lemah. Dia perlu energi dari mimpi indah manusia. Atau dari rumahnya. Mimpi Sia, tapi Elyos mengurungkan niatnya untuk kembali ke mimpi Sia. Kembali ke tempat itu sama saja memancing bahaya datang pada Sia. Elyos tidak mau melakukannya. Pria itu tidak mau hal buruk terjadi pada Sia.
"Jika begini caranya. Aku harus mencari raga baru." Keluh Elyos, menatap ke arah hamparan langit berwarna gelap tanpa bintang maupun bulan yang menjadi sumber kehidupannya.
Dengan jantungnya yang berhasil dihancurkan oleh Seth, Elyos kehilangan hampir seluruh kekuatannya. Pria itu harus mulai dari awal untuk memulihkan kekuatannya. Dan hal itu belum bisa dia lakukan sekarang. Elyos masih terlalu lemah untuk meninggalkan tempat itu. Pria itu perlu bermeditasi untuk beberapa waktu. Meningkatkan kekuatan agar bisa pergi dari tempat itu. Perlahan Elyos menutup mata. Berusaha fokus pada peningkatan kekuatannya.
"Tunggu aku datang, Sia."
*
*
__ADS_1
Aaarrgghh, hah...hah...hah....
Sia terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba. Gadis itu tampak berkeringat dengan nafas terengah-engah. Peluh bercucuran di kening dan sekujur tubuh Sia.
"Elyos...." Gumam Sia lirih. Gadis itu buru-buru pergi ke kamar mandi. Membersihkan diri. Sadar dirinya kesiangan, Sia asal mematut diri. Setelah memakai seragam dan mengikat rambut panjangnya, Sia keluar dari kamarnya.
"Arch, kenapa kamu tidak membangunkan aku." Protes Sia pada rekan serumahnya. Namun saat Sia keluar, gadis itu tidak menemukan siapapun di rumahnya.
"Arch....Arch....Arch...."
Sia berteriak memanggil Arch. Namun tidak ada jawaban. Gadis itu terdiam. Apa Arch sudah berangkat lebih dulu karena dirinya kesiangan? Batin Sia penuh tanya. Gadis itu melihat ke arah meja makan. Kosong, bahkan Arch pergi bekerja tanpa sarapan.
Begitu kata bekerja terlintas di kepalanya. Sia bergegas keluar rumah. Jika tidak, dia bisa benar-benar terlambat. Hari ini dia tidak pergi ke kantor. Karena ada satu kliennya yang akan melaksanakan pernikahannya hari ini. Jadi dia akan langsung ke venue pernikahan.
Hari itu Sia berusaha fokus pada pekerjaannya. Mencoba menghilangkan pertanyaan kenapa Arch tidak terlihat pagi ini. Makan siang tiba, Sia mencuri waktu menghubungi Veni, yang Sia tahu stand by di kantor. Dari bibir Veni, didapat jawaban kalau Arch juga tidak ada di kantor. Sia semakin mengerutkan dahi. Setahu Sia, Arch tidak punya schedule eksekusi di venue pernikahan. "Ke mana dia?" batin Sia cemas.
Yang tidak bisa dia lakukan adalah membantu para lighting man. "Maaf ya, urusan setrum menyetrum saya gak bisa bantu. Takut malah meledak." Kekeh Sia pada tukang lampu dan tukang sound. Tawa meledak di bagian penerangan dan tata suara.
Gadis itu melangkah gontai setelah sedikit membantu pekerjaan cleaning service, sebelum pihak keluarga ingin bertemu dengannya. Sebuah ucapan terima kasih Sia terima dari keluarga kliennya. Sia tentu sangat menyukainya. Melihat senyum kebahagiaan terlihat di wajah kliennya merupakan kepuasan tersendiri bagi Sia.
"Kami harap kamu akan menemukan pasanganmu. Dan menikah dengan suasana seperti ini. Sangat membahagiakan." Kata si pengantin wanita.
"Menikah?" Sia bergumam lirih mengingat ucapan kliennya. Gadis itu berpikir, kata menikah masih jauh dari dirinya. Sia masuk ke dalam rumahnya yang masih gelap. Biasanya jika Arch pulang lebih dulu, pria itu akan menghidupkan semua lampu. Lantas menyambutnya di depan pintu.
"Aku pulang." Kata Sia lirih. Bayangan Arch yang membalas ucapannya menguar. Pria itu tidak ada di rumah. Sia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Arch tidak ada di kantor, tidak juga di rumah. Ke mana pria itu pergi?" pertanyaan itu kembali menyeruak di benak Sia.
Sia masuk ke kamar Arch, kamar tamu yang ditempati pria itu. Kosong, tidak ada pria itu yang selalu bermalas-malasan di kasur setelah pulang bekerja. Sia menjatuhkan dirinya di kasur Arch. Memandang langit-langit kamar pria yang sudah dua bulan ini tinggal di rumahnya.
__ADS_1
"Kamu ke mana Arch?" lirih Sia sebelum mata gadis itu terpejam, saking lelahnya.
Sementara itu, seorang pria tampak masuk ke sebuah ambulans yang membawa seorang wanita. Keadaan wanita itu terlihat parah. Masker oksiden sudah terpasang di hidung si pasien. Infus pun terlihat menggantung di sisi kiri dengan selang sudah terhubung ke punggung tangan kiri wanita itu.
"Kau tidak menghubunginya dulu." Suara seorang pria terdengar mengingatkan.
"Besok saja. Sekarang yang penting keadaan mama." Balas pria yang lain. Tak lama ambulans itu meluncur keluar dari sebuah hunian mewah. Diikuti sebuah mobil mengekor di belakang ambulans . "Apa yang terjadi dengannya? Kenapa kau bisa membawanya pulang dengan cepat?"
"Kita bicarakan itu nanti, Pa." Balas Aro.
Ya, pria yang berada dalam ambulans adalah Arch. Sementara wanita yang tengah tidak sadarkan diri itu adalah Maya Ahmad Wijaya, ibu Arch. Tangan wanita itu berada dalam genggaman tangan Arch. "Maafkan aku Ma, maafkan Arch yang bandel dan selalu membangkang pada perintah mama." Lirih Arch.
Arch sungguh menyesal telah lari dari rumah. Memilih kabur dari pada bicara baik-baik pada sang mama. Semalam, Arch dijemput oleh Aro ke rumah Sia. Berbekal alamat rumah Sia, Aro mencari gadis itu untuk bertanya di mana Arch tinggal. Tanpa diduga justru Arch-lah yang membuka pintu rumah Sia.
Kontan saja Aro langsung menarik tangan Arch, memaksanya masuk ke dalam mobil. Awalnya Arch menolak. Namun setelah satu kalimat dari Aro terucap, Arch kicep seketika. Selain menurut, tidak ada hal lain yang bisa Arch lakukan. Arch tentu tidak ingin keadaan mamanya semakin memburuk.
"Mama drop, keadaannya cukup parah. Dia ingin kau pulang."
"Maafkan aku Sia. Tidak berpamitan padamu dengan baik." Lirih Arch. Dia tahu setelah ini, tidak akan ada waktu untuk dirinya bisa melarikan diri dari pengawasan sang ayah.
"Aku masuk penjara lagi." Batin Arch sedih.
***
Up lagi readers
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
*****