
Sia menghembuskan nafasnya kasar. Gadis itu masih penasaran dengan bosnya yang baru. Sia sangat yakin jika pria itu adalah Arch, teman yang selama dua bulan ini tinggal di rumahnya. Gadis itu tampak duduk sendirian di rooftop gedung Dreamaker. Tempat favoritnya saat makan siang datang. Hari ini, dia bisa makan siang di tempat ini. Namun besok dan lusa tidak bisa. Ada event yang harus Sia kerjakan.
Tanpa Sia tahu, Arch tengah menatap gadis itu dari ruang kerjanya. Berada di lantai yang sama, membuat Arch bisa leluasa memandang wajah Sia. Kesenduan dan kesedihan jelas tergambar di wajah gadis cantik itu.
"Maafkan aku Si. Aku tidak punya nyali untuk menemuimu." Arch bergumam sendiri. Tanpa dia tahu, Rissa mengetahui hal itu. Gadis itu sangat kesal. Kenapa juga Arch masih menyukai Sia, si gadis miskin itu. Apa kurangnya dia coba? Cantik, seksi dan kaya. Semua hal itu Rissa punya. Tapi kenapa Arch menolak dirinya. Bahkan sejak pertama kali mereka dijodohkan.
Rissa ingin masuk ke ruangan Arch tapi satu tangan menariknya keluar dari sana. "Apaan sih, Kak? Aku mau bicara sama Arch."
Jika Arch menolak dan tidak punya daya untuk melawan keluarganya. Maka satu-satunya cara untuk menggagalkan perjodohan ini adalah membuat Rissa mundur dari rencana ini. Dan Aro akan melakukan apapun untuk sang adik tercinta. Aro akan membuat Rissa jatuh cinta padanya.
"Jangan mengganggunya dulu. Dia sedang kesal. Apa kamu tidak melihatnya. Yang ada nanti kamu kena semprot. Tahu sendiri Arch kalau marah seperti apa."
Rissa terdiam mendengar perkataan Aro. Sementara mata Aro menatap rooftop di mana Sia tengah menghabiskan makan siangnya dengan Veni. Tanpa orang lain tahu, Aro menyukai Rissa. Selain Aro yang menyukai Rissa. Ada hal lain yang membuat pria itu merasa berhutang pada sang adik.
Aro berhutang nyawa pada Arch. Jika bukan karena donor sumsum tulang belakang dari Arch, Aro mungkin sudah meninggal karena leukimia yang dia derita. Beruntung sumsum tulang belakang keduanya cocok, dan Arch bersedia menjadi pendonor bagi sang kakak. Hingga Aro bisa hidup sampai detik ini.
Aro menggandeng tangan Rissa menjauh dari ruangan Arch. Membiarkan sang adik puas menatap Sia. Aro tahu Arch tidak banyak menuntut dalam hidupnya. Meski Arch susah diatur tapi pria itu jarang membuat onar. Arch hanya mengikuti kata hatinya.
Malam menjelang, Sia melambaikan tangan pada Veni dan Aldo, Sia turun lebih dulu dari bus. Seulas senyum yang tadi Sia perlihatkan pada dua temannya, langsung memudar saat gadis itu membalikkan badannya. Masuk ke lorong menuju rumahnya.
Langkah Sia tampak berat. Jika kemarin dia masih berharap kalau Arch akan pulang. Namun hari ini, semua harapan itu pupus. Bak orang patah hati, hati Sia sungguh sakit saat mendengar Arch menyangkal pertemanan mereka. Air mata itu kembali turun. Sedih rasanya kehilangan seorang teman, seorang sahabat.
"Aku pulang." Ucap Sia lirih. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Tanpa melepas sepatu, tanpa mengganti baju. Gadis itu menatap langit-langit ruang tamu miliknya. "Baik jika kamu bilang tidak kenal padaku. Mari kita lakukan itu. Aku juga tidak mengenalmu. Archie Aodra Wijaya." Sia menutup matanya. Lelah hati dan fisik mendera gadis itu. Hingga tak lama Sia terlelap. Sia jenis yang memejamkan mata bablas langsung tidur.
Tanpa dia tahu, seorang pria masuk ke rumah Sia. Pergi membawa kunci rumah Sia, membawa keuntungan tersendiri pada Arch. Ya, yang masuk ke rumah Sia adalah Arch. Pria itu bisa keluar masuk rumah Sia dengan leluasa.
"Dasar gadis ceroboh!" gerutu Arch. Melihat Sia yang tidak melepas sepatunya. Bahkan sling bag kesayangan Sia pun belum dilepas dari pundak gadis itu.
"Aku tidak pernah tahu bagaimana kamu menjalani kehidupanmu sebelum aku datang, tapi aku berharap kamu akan hidup lebih baik setelah kedatanganku. Maaf Si, aku belum bisa mengakui siapa aku. Aku takut papa melakukan hal buruk pada kamu. Seperti yang mereka lakukan pada kekasih kak Ae sebelumnya. Aku tidak mau melihatmu pergi. Cukup bagiku bisa melihatmu diam-diam. Asal kamu baik-baik saja, itu cukup bagiku."
Arch mencium kening Sia, turun ke hidung gadis itu. Sesaat pria itu menatap wajah sedih Sia. Hingga perlahan Arch merendahkan wajahnya, mencium bibir Sia untuk beberapa waktu.
__ADS_1
"Kamu boleh bilang aku pengecut. Karena aku tidak berani memperjuangkanmu. Tapi percayalah, aku lebih suka melepasmu daripada melihatmu menderita. Aku akan melakukan apa saja. Asal kamu bisa dekat denganku. Selamat malam."
Sekali lagi Arch mencium kening Sia. Lantas berlalu pergi dari hadapan gadis itu. Di luar rumah Sia, Arch menghentikan langkahnya. Melihat sang kakak yang berdiri di sisi mobilnya.
"Mari bicara."
*
*
"Hai Arch, lama tidak bertemu." Sapa seorang pelayan teman Arch dulu. Arch membawa sang kakak ke tempat biasa pria itu makan bersama Sia dan yang lainnya. Juga tempat Arch bekerja paruh waktu sebelum masuk ke Dreamaker.
Arch hanya melambaikan tangan sebagai balasan pada sang teman. Keduanya duduk di tempat Arch dan yang lainnya biasanya duduk.
"Jadi apa yang ingin Kakak bicarakan?"
"Pertahankan dia, dan aku akan membuat Rissa menjauh darimu."
"Maksud Kakak?"
"Aku menyukai Rissa, dan kali ini aku tidak mau menyerah. Sama sepertimu. Jadi mari sedikit bekerjasama."
Kakak adik itu saling pandang untuk beberapa waktu. Sesaat kemudian mereka tahu kalau sedang merencanakan pemberontakan pada sang papa. Namun mereka sepakat untuk satu hal. Pasangan hidup mereka akan mencarinya sendiri.
Sementara itu, seberkas cahaya melesat di langit malam. Berasal dari satu arah di ujung bumi, pendar cahaya putih tersebut tampak menuju kota Sia. Dalam cahaya itu tampak Elyos dalam wujud aslinya. Seekor Pegasus.
Elyos tidak mendatangi mimpi Sia, rumah ternyamannya di bumi. Pria itu mencari satu hal yang membuatnya bisa hidup di luar dunia mimpi. Hal ini bisa mengecoh Seth, hingga pengendali mimpi itu tidak bisa menemukannya.
"Ketemu!" Pegasus Elyos melayang turun ke sebuah rumah mewah. Berikutnya dia sudah berada di sebuah kamar tidur.
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
Kamar dengan paduan warna coklat, hijau dan sedikit sentuhan warna emas itu, terlihat mewah. Elyos yang sudah berubah wujud menjadi manusia, mendekat ke arah ranjang. Di mana seorang pria tengah berbaring di sana. Seorang pria tampan yang sepertinya sudah terlelap.
"Maaf, untuk sementara aku meminjam ragamu. Aku harus menumpang hidup padamu. Sampai ragaku sendiri terbentuk."
Tubuh Elyos menguar menjadi cahaya, lantas masuk ke tubuh pria itu. Tubuh pria itu bergetar sebentar, sampai tiba-tiba mata pria itu terbuka. Manik mata hitam itu kini berubah menjadi biru. Bola mata milik Elyos.
Elyos menatap wajah pria yang dirasukinya di cermin besar di hadapannya. "Sampai bertemu lagi, Sia." Kata Elyos dengan suara pria itu. Elyos harus segera beradaptasi dengan tubuh barunya. Dia hanya akan menggunakan tubuh ini untuk menemui Sia. Selebihnya dia tidak boleh mengacaukan kehidupan pria ini.
*
"Jadi dia masih menemui gadis itu?"
Pria dihadapannya mengangguk. Selanjutnya pria itu juga melaporkan kalau dua putranya bertemu di kafe tempat Arch dulu bekerja. Tidak tahu pasti apa yang dua putranya bicarakan. Namun yang jelas keduanya sangat akrab.
"Biarkan saja. Aku yakin kalau keduanya sedang berusaha menyelamatkan cinta masing-masing. Kali ini aku yakin, kalau putra sulungku akan berusaha mati-matian. Dia pasti tidak mau kejadian Ayla terjadi lagi."
Pria itu tersenyum. Dua putranya sepertinya tengah melakukan percobaan pemberontakan padanya.
"Padahal aku mengirim Ayla sekolah ke luar negeri, tapi dia tidak percaya. Gini amat punya anak cowok dua tukang bikin kepala mumet." Keluh pria itu.
Sang asisten tersenyum tertahan melihat betapa repotnya sang tuan menghadapi dua putranya. Aro dan Arch.
****
Up lagi readers
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****