In My Dream

In My Dream
Aro Dan Rissa


__ADS_3

"Tidak bisakah lain kali kamu bersikap lebih ramah pada klien?"


Sia menendang kaleng soda yang ada dihadapannya. Kesal, itulah yang gadis itu rasakan saat mengingat ucapan Arch padanya. Terlebih pria itu mengucapkannya di depan banyak orang, termasuk Cherry dan Aska. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Sia. Serta senyum puas Cherry melihat wajah malu Sia.


"Bisa gak sih kalau negur jangan di depan banyak orang. Malu tahu!" Gerutu Sia kemudian.


Di tempat Arch. Pria itu baru saja selesai menandatangani satu berkas yang diantarkan oleh sekretarisnya. Di sofa nampak En yang mulai mempelajari pekerjaannya.


"Dia marah padamu." Kata En tanpa melihat Arch.


"Aku tahu. Tapi begitu rule-nya."


"Peraturan apanya. Jika kamu terus seperti itu. Kau hanya akan menyakitinya." Kata En tegas.


"Aturan agar ayahku tidak curiga." Jawab Arch. Kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sesekali Arch melihat Sia yang terlihat tengah menumpahkan kekesalannya. Gadis itu nampak berteriak, meski Arch tidak tahu apa yang Sia katakan. Yang jelas, itu pasti umpatan untuknya.


"Ya...ya mengumpatnya sesuka hatimu." Gumam Arch lirih. Di tempat duduknya, En tersenyum mendengar gumaman lirih Arch. Itu lebih baik menurut Arch daripada dia melihat Sia kecewa seperti kemarin. Tak berapa lama, Sia sudah tidak terlihat lagi. Makan siang selesai dan Sia punya shcedule di venue pernikahan. Bisa dipastikan jika gadis itu akan pulang malam.


"En....."


Sebuah deheman menjadi jawaban. Pria itu tengah dalam mode serius mempelajari berkas di tangannya. "Bagaimana jika aku pindahkan Sia ke divisi sebelah."


"Design maksudmu?" Arch mengangguk mendengar tanggapan En.


"Bilang aja modus, supaya kau bisa lebih dekat kalau mau ketemu."


"True!" Kekeh Arch. En mendengus kesal. Ada-ada saja akal Arch untuk dekat dengan Sia. Namun pria itu kemudian teringat soal Cherry. Pacar mantan Sia itu bisa saja terus mengganggu Sia, jika tetap jadi freelancer.


Sementara di sisi lain. Aro sedang menahan Rissa yang ingin menemui Arch. Pria itu akan menghalangi tiap Rissa ingin menemui Arch.


"Temani aku makan siang dulu. Arch sangat sibuk akhir-akhir ini. Dia akan marah jika kamu menganggunya."


"Lalu kapan aku bisa bertemu dengannya." Rengek Rissa. Rissa adalah adik kelas Aro. Usianya sama dengan Arch. Pertemuan Aro dan Rissa bermula saat Aro baru saja move on dari Ayla. Gadis yang disukainya, tapi tiba-tiba pergi begitu saja. Tanpa Aro tahu, Ayla memilih meneruskan studinya di luar negeri setelah ayah Aro memberikan bantuan dana padanya. Ayla memang matre, maka Irwan mengirimnya jauh ke luar negeri. Saat ini Ayla tengah menjalani profesinya menjadi Doctors Without Borders di negara Turki. Wilayah yang baru-baru ini terkena dampak dari gempa bumi hebat yang menimpa wilayah itu. Ayla menjadi sukarelawan di sana melalui perkumpulan Doctors Without Borders.


"Nanti ya, kalau dia sudah tidak sibuk. Aku bawa kamu bertemu Arch."

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Rissa sumringah. Gadis itu langsung melingkarkan tangannya di lengan Aro. Sejatinya, Rissa sangat nyaman bersama Aro. Bersama Arch, hanya seperti bersama kulkas berjalan. Keduanya berjalan menuju ke mobil Aro, tak lama pria itu mulai melajukan mobilnya keluar kantor.



Aro dan Rissa


"Kenapa kamu berhenti dari sana?" Aro membuka obrolan. Rissa tersenyum. Dia sangat menyukai sifat Aro yang lembut padanya. Rissa lantas menceritakan kalau sebenarnya dia tidak mau berhenti dari Dreamaker, terlebih itu bisa mendekatkannya dengan Arch. Namun sang ayah, ingin Rissa mengambil alih perusahaan keluarganya. Karena dia anak sulung, jadi Rissa tidak bisa menolak.


Rissa juga tidak suka pada Sia. Gadis itu adalah ancaman untuk Rissa. Namun kemarin, saat Arch menyangkal mengenal Sia. Rissa merasa kalau Arch tidak punya perasaan apa-apa pada Sia.


"Kak, menurutmu...apa akan Arch akan menyukaiku?" Aro tersenyum. Rissa meski terlihat judes, gadis itu sebenarnya gadis yang baik. Rissa hanya kurang perhatian. Orang tuanya yang sibuk membuat mereka tidak punya waktu untuk Rissa. Hingga Rissa kekurangan perhatian.


"Kamu baik. Semua orang akan menyukaimu."


"Tapi Arch sepertinya tidak." Balas Rissa cepat.


"Benarkah? Menurutmu kenapa dia tidak menyukaimu?" Aro balik bertanya sambil menyerahkan piring berisi steak yang sudah Aro potongkan. Senyum Rissa melebar melihat bagamana manisnya sikap Aro padanya. Sungguh tidak Rissa pungkiri, kalau Aro selalu menjadikan dirinya istimewa.


"Terima kasih." Giliran Aro yang tersenyum melihat tingkah polos Rissa. Hidup dalam pengawasan ketat orang tuanya. Membuat Rissa tidak mengetahui kehidupan sebenarnya di luar sana. Gadis itu tidak punya sahabat. Namun saat kuliah, Rissa bertemu Aro, dan gadis itu mulai berteman dengan pria itu. Pihak keluarga Rissa jelas tidak keberatan dengan pertemanan itu. Terlebih mereka tahu siapa Aro. Putra sulung keluarga Wijaya.


"Bisa jadi." Sahut Aro. Rissa seketika meletakkan garpunya. Marah pada jawaban Aro.


"Kakak! Aku menyukai Arch. Dia tidak boleh menyukai orang lain." Judes Rissa.


"Kenapa begitu. Menyukai orang itu sebuah kebebasan. Kamu bebas menyukai orang. Termasuk Arch. Begitupun Arch. Dia boleh menyukai siapapun yang dia suka. Yang tidak boleh adalah kita tidak bisa memaksa orang lain menyukai kita."


Rissa diam mencerna perkataan Aro. "Kenapa? Aku ingin Arch jadi milkku." Tegas Rissa.


Aro menghela nafasnya. Dia harus ekstra sabar menghadapi sifat manja Rissa.


"Sekarang aku tanya. Kamu bilang tidak suka Sia. Jadi bagaimana rasanya jika aku memaksamu agar kamu menyukai Sia."


"Aku tidak bisa. Aku tidak mau!" jawab Rissa tegas.


"Nah begitu juga dengan Arch. Misalnya dia tidak menyukaimu. Kamu tidak bisa memaksanya untuk melakukan hal tersebut. Itu menyakitkan." Aro menjelaskan sehalus dan sepelan mungkin. Rissa terdiam sejenak.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan membuatnya menyukaiku. Bukankah kakak bilang. Tidak ada yang tidak akan menyukai diriku." Ujar Rissa ceria. Gadis itu kembali melanjutkan makannya. Meninggalkan Aro yang langsung menepuk dahinya sendiri pelan. Bingung dengan sikap Rissa.


"Kuota sabar unlimited, please datanglah." Batin Aro frustrasi.


*


*


Hari sudah berganti malam. Bulan sudah menampakkan wujudnya di tengah gelapnya langit malam. Saat itulah, terlihat pendar sinar berwarna ungu, menyelimuti sesosok tubuh yang tengah berdiri di depan sebuah rumah. Tak lama bola mata berwarna biru itu mulai terbuka. Rambut putih, juga pakaiannya yang berwarna putih menambah kesan berkharisma pada wajah tampan pria itu.


Elyos perlahan masuk ke rumah Sia. Pria itu menembus pintu rumah Sia, dan menemukan tubuh Sia yang terbaring di sofa ruang tamu rumahnya.


"Senang bertemu denganmu lagi, Sia. Rumahku, juga pemegang kunci hidupku." Pria itu mencium lembut kening Sia. Lantas menyentuh kalung Sia yang menjuntai keluar dari balik kemeja gadis itu.


"El....kamu kembali." Lirih Sia dalam tidurnya.


"Iya, aku kembali Si. Karena kamu memanggilku dengan kuncimu."


Kalung Sia bersinar, bersamaan dengan simbol prisma di dahi Sia. Elyos tersenyum. Pria itu tidak pernah menyangka siapa Sia. Sekarang pria itu paham. Kenapa Sia menjadi rumahnya di dunia manusia, di bumi.


"Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan bertemu dirimu di sini, Dewi."


Yue dan En yang berada di halaman rumah Sia seketika saling pandang. Mendengar Elyos, menyebut dewi pada Sia. Keduanya segera melesat ke rumah Sia, begitu merasakan kehadiran Elyos. Pelindung di rumah Sia kembali diaktifkan.


"Dewi? Dewi siapa?" En kepo.


"Hanya ada satu orang yang dipanggil dewi oleh Elyos." Yue menatap tajam pada En.


***


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2