In My Dream

In My Dream
Musuh Bebuyutan


__ADS_3

Satu gelombang kekuatan datang menyerang. Elyos melompat mundur, menghindar. Pria itu menatap tubuh Sia yang terbaring antara dirinya dan Seth. Mata biru Elyos melihat ke arah Seth, pria itu tersenyum. Lagi, Seth mengayunkan pedang hitamnya dan Elyos kini harus bersusah payah menahan serangan Seth. Kekuatan Elyos belum pulih, atau kekuatan Seth yang meningkat pesat. Tekanan yang Seth berikan terasa begitu berat untuk Elyos atasi.


"Mati kau!" geram Seth. Elyos harus dihapuskan sebelum kekuatannya pulih seratus persen. Seth tidak pernah menduga kalau Elyos bisa kembali, setelah dia menikam jantung pria tersebut hari itu.


Elyos memicingkan mata, hingga prisma ungu di dahinya bersinar, Seth mendelik ketika dia terlempar ke belakang oleh serangan Elyos.


"Bedebaahhh!!!" Maki Seth, detik selanjutnya pria dengan pakaian hitam itu kembali menyerang Elyos. Kali ini serangan fisik yang Seth lakukan. Tanpa jeda, Seth mengayunkan pedangnya bertubi-tubi ke arah Elyos. Sementara Elyos sesekali menangkis pedang hitam milik Seth dengan pedang kristal miliknya. Meski begitu, Elyos lebih banyak menghindari serangan Seth.


Sampai satu titik, Elyos terpaksa meladeni serangan Seth, dan pria itu terpojok. Tubuh Elyos terpental ke belakang, menghantam aspal di sisi Sia. Gadis itu masih setia menutup mata. Tapi itu bagus, Elyos tidak ingin Sia melihatnya terluka.


Elyos menahan serangan Seth dengan pedang kristalnya. Tidak! Elyos akan kalah lagi seperti waktu itu. Elyos mulai terdesak, saat lesatan anak panah Yue menghilangkan fokus Seth.


Bruuukkkk


Tubuh Elyos jatuh berlutut. Pria itu jelas kehilangan banyak kekuatan. Menyangga tubuhnya menggunakan pedang miliknya, nafas Elyos nampak tersengal. Di depan sana, Yue yang menggantikannya melawan Seth.


Namun kali ini terlihat sekali jika Seth mendominasi duel tersebut. Yue pun terlihat kewalahan menghadapi tenaga Seth yang meningkat berlipat-lipat.


"Habis kau!" Seth menghunjamkan pedangnya ke arah Yue. Dewa bulan itu terkejut dengan serangan tiba-tiba Seth. Hingga sama seperti Elyos, tubuh Yue pun terpelanting ke samping. Tubuh Yue baru berhenti setelah menghantam bahu jalan.


"Yue, kau tidak apa-apa?" Elyos bertanya. Yue menggeleng pelan. Pria itu terluka dalam, kekuatan Seth melukai Yue, hingga pria itu sulit bergerak.


Seth mengulurkan tangannya dan dua tubuh itu terangkat bersamaan dengan leher serasa tercekik. Seringai puas terlihat di wajah Seth. Dia jelas senang bisa menghabisi dua orang yang selalu menghalangi langkahnya untuk mendapatkan kristal mimpi.


Semakin lama, cekikan di leher Yue dan Elyos kian kuat. Keduanya saling pandang dengan wajah memerah. Mereka mulai kehabisan udara.


Saat itulah kalung Sia berpendar redup. Tubuh Sia perlahan berubah. Rambut hitam Sia berganti dengan warna abu-abu silver, pun dengan penampilan gadis itu. Dengan mata terpejam, tubuh Sia perlahan terbangun. Gaun berwarna biru muda tampak membalut tubuh tinggi Sia. Sebentuk tiara terlihat menghiasi kepala Sia.



Kredit Pinterest.com


Dewi Amethyst


Mata sendu berwarna biru itu perlahan terbuka.

__ADS_1


"Amethyst." Lirih Yue.


Elyos seketika mengikuti arah pandang Yue. Mata Elyos membelalak, melihat sosok dewi yang hanya sekali di temuinya dalam mimpi. Bruukkkk, tubuh Yue dan Elyos jatuh bersimpuh ketika Seth menghentikan serangannya. Pria itu terpana pada sosok Amethyst yang berdiri di hadapannya.


Sepertinya pria itu termakan ucapannya sendiri. Wujud Amethyst telah menarik perhatian Seth. Cantik rupawan dengan binar lembut terpancar dari dua bola mata wanita itu. Pria itu mendekat ke arah Amethyst.


"Amethyst lari!" pekik Yue.


Jika Amethyst berada dalam cengkeraman Seth. Ini akan berbahaya untuk dunia mimpi. Pria itu bisa menggunakan kemampuan kristal amethyst untuk mengendalikan mimpi semua orang.


Amethyst hanya melirik ke arah Yue dan Elyos. Jantung Elyos berdebar kencang. Dia sangat mengkhawatirkan dewi itu. Meski begitu, Elyos sama terpukaunya dengan Seth.


"Ikut denganku, dan jadilah milikku." Pinta Seth sembari mengulurkan tangannya.


Helaian rambut Amethyst beterbangan, dengan tubuh diselimuti sinar berwarna putih. Wanita itu telah menyihir dua pria yang berhubungan dengan dunia mimpi dengan pesonanya.


"Aku Amethyst, bukan milik siapa-siapa. Aku milik dunia mimpi. Karena aku adalah penjaga kuil mimpi." Suara dewi itu terdengar begitu lembut. Tanpa emosi, tanpa ada perasaan yang tersirat di dalamnya, tapi ada keyakinan di dalamnya.


Pernyataan tegas Amethyst membuat Seth menggeram marah. "Kau menolakku?!" tanya Seth.


"Tidak ada jodoh di antara kita. Jadi buat apa kau memaksa. Itu hanya akan membuatmu menderita."


Pria itu berkata sambil mengangkat pedangnya. Sayang sekali jika dewi secantik itu di lenyapkan. Namun kemarahan Seth akan penolakan Amethyst membuatnya murka.


Elyos dan Yue yang sama-sama lemah seketika membulatkan mata. Mereka tidak menyangka jika Seth akan bertindak gegabah.


"Jangan lakukan Seth, kau yang akan kalah." Yue memperingatkan


Lagi-lagi Seth tidak peduli. Pria itu bersiap menyerang, sementara Amethyst justru memejamkan mata. Seolah bersiap menerima kematiannya.


"Jadi milikku atau mati." Seth kembali bertanya.


Tidak ada jawaban. Seth langsung mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh. Yue dan Elyos tentu terkejut. Keduanya berteriak meminta Amethyst untuk lari. Namun yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan.


Serangan Seth tidak mampu melukai dewi cantik tersebut. Justru sebaliknya, tubuh Sethlah yang terpental jauh ke belakang. Seth langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya.

__ADS_1


Amethyst membuka matanya perlahan. Melihat Seth yang langsung tidak sadarkan diri. Angin berhembus kencang. Membersihkan sisa-sisa pertarungan yang ada. Yue dan Elyos hanya bisa saling pandang saat satu kekuatan turut menyembuhkan luka mereka. Meski setelahnya, dua pria itu langsung berlari ke arah Amethyst yang sudah berubah menjadi Sia kembali.


"Si....Sia...." Elyos mengangkat kepala Sia, berusaha membangunkan gadis itu. Namun sepertinya gadis itu belum mau bangun.


*


*


Sia mengerjapkan matanya perlahan. Tubuhnya terasa lemah. Meski begitu, Sia berusaha membuka mata. Teriakan melengking seketika membuat satu sosok di sampingnya bangun karena terkejut.


"Busyet dah, toa mana nih yang bunyi," celetuk suara itu. Keduanya langsung melotot satu sama lain. Tak lama perdebatan pun terdengar. Hal itu membuat Yue dan Elyos yang berada di balkon apartemen Arch saling pandang.


"Kau yakin mengikatkan benang merah itu pada mereka?" Elyos bertanya.


"Kau tidak masalah jika mereka bersama?" Yue balik bertanya. Raga transparan Yue tampak begitu ringkih. Namun ketenangan wajah pangeran mimpi itu terlihat jelas.


"Aku sudah cukup bersyukur dengan apa yang langit berikan padaku. Aku tidak akan mengambil yang bukan milikku." Sebuah jawaban yang membuat Yue tertegun.


Seberapa bersih hati Elyos, hingga mampu menepis rasa cinta yang dia miliki untuk seorang wanita. Bahkan jika mau, Elyos bisa memintanya mengubah takdir jodoh antara Sia dan Arch, tapi Elyos tidak menginginkannya.


"Lalu bagaimana dengan Amethyst? Dia hidup di jiwa Sia. Apa kamu tidak terpengaruh dengan hal itu? Maksudku bukan Amethyst yang kau cinta."


"Aku tidak tahu, yang kulihat adalah sosok Sia, bukan Amethyst."


Yue terdiam. Bagaimana bisa ada Amethyst dalam diri Sia? Pasti ada penjelasan dan alasan soal hal ini. Dan dia harus mencari tahu.


Yang terjadi kemudian adalah Elyos dan Yue yang memejamkan mata, mendengar pertengkaran Sia dan Arch.


"Mereka benar-benar seperti musuh bebuyutan."


"Mungkin saja." Dua pria itu lantas tersenyum samar. Melihat bulan yang bersinar terang di malam itu.


***


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


*****


__ADS_2