In My Dream

In My Dream
Surprise


__ADS_3

Abby menatap Alicia dengan pandangan yang sulit diartikan. Wanita itu tidak mampu berkata-kata, melihat Alicia yang begitu mirip dengan Sia. Bak pinang dibelah dua, peribahasa itu benar adanya. Sia dan Alicia, sama persis, nyaris tidak ada perbedaan di antar keduanya.


"Berhenti menatapnya seperti itu. Kau membuatnya tidak nyaman." Satu cuitan dari Arch membuat Abby menghentikan aksi konyolnya. Abby menggumamkan kata maaf lirih, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jadi suaminya mirip En dan istrinya persis Sia. Lelucon macam apa ini?" Batin Abby, merasa yang dia hadapi sekarang tidak masuk akal.


"Dan suaminya baru saja bercinta denganmu."


Abby seketika mengumpat kesal, saat satu bisikan masuk ke telinganya. Itu cuma kesalahan, aku tidak berniat melakukannya, aku khilaf. Batin Abby berperang sendiri.


Di depan Abby, tampak Alicia yang makan dengan kikuk. Arch memang nampak acuh, tapi Abby. Wanita itu sejak tadi menatapnya penuh minat. Seperti ada hal yang sangat menarik di mata Abby pada dirinya.


"Pacar orang ini aneh. Dari tadi ngeliatin aku kayak pengen makan aku. Dia normal kan?" Batin Alicia, sambil menyuapkan satu sendok penuh nasi dan lauknya. Hanya saat makan di luarlah Alicia bebas memakan apapun yang dia mau. Saat makan pagi dan malam adalah waktu makan paling menyiksa bagi gadis itu.


"Makan nasi yang nasi yang banyak. Kau tidak perlu diet lagi." Arch berucap sambil mengambilkan satu sendok nasi merah ke piring Alicia. Gadis itu ingin protes, dia bukan orang kelaparan yang bisa makan nasi satu bakul penuh.


"Aku sudah kenyang." Alicia menolak. Perutnya jelas tidak bisa menampung makanan lagi. Arch menarik nafasnya. Berarti yang dikatakan dokternya benar. Alicia sedang menjalani diet.


"Kamu gak perlu diet. Bodi sudah oke begitu. Mau diapain lagi." Abby mulai membiasakan diri dengan kehadiran Alicia. Bukankah ini bagus, ada orang yang mirip Alicia. Setidaknya itu bisa mengobati rindu Abby pada sang sahabat. Tanpa maksud untuk melupakan temannya itu.


"Ini bukan soal diet." Alicia menjawab sendu. Perlahan Alicia sadari, dirinya merasa nyaman saat berada di antara Arch dan Abby. Seolah mereka telah mengenal lama. Hingga Alicia tidak perlu menyembunyikan apapun dari dua orang itu.


"Kalau begitu jangan kekang dirimu soal makanan. Walau makan banyak...Sia tidak akan bisa gemuk."


Arch dan Alicia seketika melihat ke arah Abby yang makan dengan santai. Tidak sadar dengan apa yang baru saja dia katakan.


"Jangan dipikirkan." Satu kode dari Arch, Alicia tangkap. Selanjutnya dua orang itu mulai terlibat dengan diskusi seru soal design milik Alicia. Dengan Abby yang memandang Alicia dengan mata berkaca-kaca. "Setidaknya ada orang yang bisa aku lihat sebagai dirimu, Si. Aku merindukanmu."


*

__ADS_1


*


Alicia menatap laptopnya dengan pandangan tidak percaya. "Jadi ini tunangan Arch." Gumam Alicia. Wanita itu beberapa kali mengedipkan mata, berusaha mempercayai kemiripan antara dirinya dan Sia.


"Benar-benar mirip." Lagi, Alicia bicara lirih. Selain Arch, Alicia juga mendapati kalau Sia sangat dekat dengan Abby. "Pantas saja dia melihatku seperti itu."


Alicia menghentikan kegiatannya saat mendengar suara di ruang sebelah. Ruang kerja Rei. Wanita itu berjalan menuju pintu, baru saja memegang handle pintu, Alicia dibuat tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Jadi dengannya kau bisa melakukannya?"


"Dokter Ariyo...." gumam Alicia. Wanita itu tahu soal Ariyo yang menjadi konsultan dalam permasalahan seksualll Rei.


"Aku bahkan tidak percaya, aku bisa melakukannya lebih dari satu jam."


Tersirat nada puas dan bahagia dalam suara Rei. Alicia memundurkan langkah, menjauh dari tempat itu. Karena yang terdengar selanjutnya adalah cerita Rei soal malam panas pertamanya dengan seorang wanita yang tidak Rei sebutkan.


"Kalau dia sudah menemukan wanita itu. Aku bisa minta cerai darinya." Tekad Alicia, setelah berpikir beberapa lama. Ya, dia akan keluar dari penjara ini. Dia ingin mencari kebebasannya sendiri. Dia ingin mencari cintanya sendiri. Saat memikirkan soal cinta, tiba-tiba wajah Arch terlintas di benak Alicia.


Arch, pria itu jelas masih memiliki rasa pada sang tunangan. Namun Alicia mampu melihat kalau ada perhatian lebih yang Arch berikan padanya. "Itu hanya karena aku mirip tunangannya yang sudah meninggal." Gerutu Alicia sambil memulai sesi mandinya.


Tanpa gadis itu tahu, sang suami melihat penuh nafsuu pada tubuh polos Alicia. Pria itu mengusap pusakanya yang mulai menegang. Namun yang keluar dari bibir Rei adalah nama Abby. Yang dia lihat tubuh Alicia, tapi yang dia bayangkan adalah tubuh Abby. Rei mulai terobsesi pada Abby sepertinya. Hanya wanita itu yang mampu memuaskannya.


*


*


Abby sedang berjalan-jalan di deretan ruko yang tengah disewakan. Sesuai perkiraannya, Arch dengan mudah memberinya dukungan finansial saat Abby berkata ingin punya butik sendiri. Karena itulah hari ini Abby akan memulai semuanya. Dimulai dari mencari tempat yang strategis untuk membuka butiknya. Beberapa teman di tempat bekerjanya bersedia bergabung dengan Abby jika butik Abby siap beroperasi.

__ADS_1


Wanita itu saat ini tengah nego dengan pihak penyewa ruko. Meski Arch memberikan dukungan dana tanpa batas. Tetap saja, Abby harus memperhitungkan semua dengan matang. Semua harus didiskusikan sampai level harga terendah yang bisa mereka sepakati.


"Ini sudah sudah murah lah, cantik. Eike jamin tempat ini akan ramai dalam dua bulan ke depan. You lihat, mall depan itu akan buka bulan depan. Hotel yang itu...itu....dalam enam bulan akan siap proses renovasinya. Harga segitu worth it lah sama benefit yang bakal you dapat."


Beuuhhh, si penyewa ruko benar-benar ahli dalam membujuk calon penyewa. Mulut pria dengan aksen wanita itu lemes sekali. Hampir saja Abby mengiyakan dengan harga yang ditawarkan oleh wanita itu.


Abby mulai berjalan mengelilingi ruangan. Tempatnya cukup luas, memang sepadan dengan harga yang ditawarkan oleh penyewa ruko. Kebetulan tinggal tempat itu dan sebelahnya yang masih kosong. Yang lain sudah dibooking orang.


"Potongan lima persen lagi ya cikkk cantik."


Abby tahu benar membujuk pria jadi-jadian itu. Sementara si pria mendengus kesal dengan sikap Abby, meski wajahnya terlihat senang. Potongan lima persen, dengan raut wajah seperti itu, menandakan kalau si pemilik sudah dapat untung.


"Haisshh, kau ini pandai kali lah merayu. Eike jadi heran, berapa banyak korban you." Kekeh si penyewa sembari menyiapkan berkas yang akan ditandatangani Abby. Yesss, deal.


"Aku tak pandai nak rayu oranglah, cik cantiikk," Abby berbalik, kembali mengamati tempat itu sembari menunggu berkas siap untuk dia tanda tangani. Sebenarnya akan lebih untung jika dia bisa menyewa dua slot sekaligus. Pasti harganya lebih murah dan jelas menguntungkan. Impian Abby yang ingin membuka butik sekaligus aksesoris memang perlu ruang yang luas. Ahh, tapi untuk sementara ini dulu. Abby memupus angannya.


Abby masih menjelajah, sampai satu suara membuat wanita itu terkejut.


"Kami akan beli dua slot ini sekaligus."


"Surprise."


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2