
Sebulan setelah Alice mengajak Arch menikah. Keinginan mereka terwujud. Restu langsung mereka dapatkan dari dua belah pihak keluarga. Baik keluarga Wijaya maupun Alou menerima pernikahan itu dengan tangan terbuka. Bagi dua keluarga itu, pernikahan Alicia dan Arch adalah solusi, jalan keluar dari awan mendung yang menggelayuti keluarga mereka.
Arch dari kesedihannya atas kehilangan Sia, dan Alicia yang akhirnya bisa terbebas dari belenggu Rei. Gadis itu bisa tersenyum lepas sekarang. Tanpa kepura-puraan lagi seperti dulu. Gadis itu juga tidak ragu lagi menunjukkan rasa cintanya pada Arch. Satu hal yang membuat Arch bisa berbahagia.
Terlebih, tanpa seorangpun tahu, sejak Alicia menyatakan cintanya pada Arch, jiwa Sia sudah melebur menjadi satu dalam diri Alicia. Jiwa Sia seketika menyatu bersama milik Alicia. Menjadikan mereka tak terpisahkan. Sia telah benar-benar tiada. Akan tetapi dia sangat puas bisa bersama orang yang dia cinta sampai maut benar-benar memisahkan mereka lagi.
Pernikahan Arch dan Alicia jadi pernikahan paling cepat yang dihelat oleh Dreamaker. Waktu efektif persiapannya hanya sekitar 10 hari. Meliputi undangan, dekorasi, katering, venue. Bagian undanganlah yang paling kelabakan. Proses cetak dan penyebarannya membuat bagian humas Dreamaker bekerja lembur habis-habisan.
Pun dengan Abby. Gaun pengantin Alicia rampung dalam waktu dua minggu, meski Alicia minta yang simple, tapi nyatanya Arch minta detail yang rumit. Abby jelas menggerutu tiada henti. Belum lagi bahan yang Arch minta lumayan susah di dapat. "Yang make aja gak rewel. Kok kamu yang ribet sih." Maki Abby pada Arch. Berdalih sekali seumur hidup, Arch ingin memberikan yang terbaik bagi Alicia.
"Mending payet deh dari pada bordir. Bordir lama apalagi dia minta keduanya. Arch kau buat aku gila." Teriak Abby frustrasi.
*
*
Kredit Pinterest.com
The Wedding Day
Abby mengembangkan senyum melihat bagaimana sempurnanya gaun yang ia buat saat melekat di tubuh Alicia. Sangat cantik. Alicia tersenyum malu saat semua orang menatapnya penuh kekaguman.
Alicia berjalan mendekat ke arah Abby yang langsung memasangkan veil dan tiara ke kepala sang sahabat.
"Kamu cantik dan mulai saat ini berbahagialah. Dia akan mencintaimu selamanya. Aku jamin itu."
"Terima kasih Abby, tanpamu aku tidak bisa terbebas dari Rei. Aku harap kamu juga akan segera berbahagia." Balas Alicia. Abby tersenyum, setidaknya dia bisa melihat kehadiran Sia dalam diri Alicia. "Aku bahagia? Mungkin itu hanya terjadi dalam mimpi." Batin Abby sendu. Meski dia dan Rei mulai menunjukkan kemajuan dalam hubungan mereka. Namun tekanan justru datang dari ibu Rei. Wanita itu terus merongrong rumah tangga Abby dan Rei.
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
Sebuah pelaminan super megah menyambut mata Alicia, saat pintu ballroom dibuka. Hendry Alou tersenyum, menyambut tangan Alicia dari Fex dan Abby yang membawa Alicia turun dari ruang make up. Pria itu tersenyum sambil menatap intens pada sang putri. "Kamu cantik seperti mamamu."
Awalnya Alicia ingin resepsi di gedung sekolah yang baru selesai dibangun, tapi musim hujan jadi penghalang keinginan Alicia. Hingga gadis itu terpaksa menerima konsep indoor yang Arch usulkan.
Alicia dan Hendry berjalan beriringan menuju pelaminan di mana Arch sudah menunggu. Tepuk tangan tak berhenti mengiringi langkah Alicia ke arah Arch. Arch sendiri sejak tadi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Alicia yang masih tersembunyi di balik veil. Bisa Arch bayangkan bagaimana cantiknya Alicia dibalik kain tipis tersebut.
Ini pernikahan kedua bagi Alicia dan dua-duanya digelar mewah. Arch meminta Alicia untuk tidak memikirkan ulasan media soal pernikahan mereka. Sebab keluarga Wijaya memang merencanakan pernikahan Arch akan sama mewahnya dengan pernikahan Aro dan Rissa. Mengingat kakak beradik itu dulu merancang untuk menikah bersama. Namun keadaan tidak mengizinkan.
Satu pelukan penuh haru Arch terima dari Hendry saat menyerahkan Alicia. "Bahagiakan putriku. Aku hanya meminta itu. Jangan biarkan dia menangis." Bisik Hendry.
"Aku berjanji akan membahagiakannya." Balas Arch mantap. Baginya Alicia adalah penyembuh luka, pengobat rindu juga penutup dari segala penantian Arch soal dua kata, bahagia dan cinta.
Suara tepuk tangan dan taburan conveti berjatuhan saat janji setia pernikahan selesai diucapkan. Tukar cincin juga sudah dilakukan. Arch tersenyum saat membuka veil Alicia, pun dengan Alicia yang tampak malu di ditatap seperti itu oleh Arch.
"Weehhh, dia malu sekarang. Kemarin yang minta nikah siapa." Ledek Arch.
Tawa seketika pecah di tempat itu, hanya keluarga dan teman terdekat yang hadir dalam sesi pemberkatan itu, sementara resepsi akan dihelat satu jam lagi. Tak menunggu lama, Arch mencium bibir Alicia di hadapan semua orang yang hadir. Tidak lama karena Arch tahu, Alicia tidak suka bersikap mesra di depan banyak orang. Malu yang jelas.
"Dah, syarat doang. Full session nanti di atas. Tertutup untuk umum."
"Kampret lu!" Teriak Aro yang langsung dikeplak sang istri. Pasalnya Aro berteriak sambil menggendong bayi mereka yang berusia sepuluh bulan.
"Apaan sih?!" Balas Arch tidak kalah keras.
Tawa kembali meledak di tempat itu. Suasana bahagia jelas terlihat di wajah semua anggota keluarga. Kecuali satu orang. Rei, pria itu sejak tadi menekuk wajahnya. Dia sebenarnya tidak suka berada di sini. Namun dia tidak mau membiarkan Abby pergi ke pesta Arch dan Alicia sendirian. Selain akan ada gosip panas dari para penggosip, Rei jelas tidak mau Abby dekat-dekat dengan Arch.
*
*
__ADS_1
Hampir tengah malam saat Alicia melemparkan diri ke atas kasur bertabur kelopak mawar. Lengkap dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuh mungilnya. Lelah jelas terlihat di wajah Alicia. Belum lagi dengan rasa pegal di kaki dan seluruh tubuhnya. Tidak! Alicia tidak sanggup membuka mata, meski hanya sekedar mengganti gaun atau membersihkan diri. Mata Alicia sudah terpejam rapat, siap mengarungi alam mimpi.
Sampai pelukan dari sepasang tangan membuat Alicia membuka matanya kembali. "Gak mau ganti baju dulu." Nafas Arch terasa hangat di telinga Alicia.
"Ngantuk, capek. Eh kamu ngapain di sini?" tanya Alicia melihat Arch yang berada di depannya, bingung.
"Lupa ya? Kita kan sudah menikah." Balas Arch sambil menyingkirkan tiara dan veil Alicia. Mengurai sanggul kecil di kepala sang istri.
Ha? Menikah? Astaga! Alicia seketika merasa lupa ingatan. Iya, dia dan Arch sudah menikah. What? Menikah? Kalau sudah menikah, berarti mereka boleh melakukan.....anu.
Bola mata Alicia membulat. Menatap Arch yang berbaring di depannya. "Kenapa?" Arch bertanya melihat perubahan ekspresi wajah Alicia.
"Menikah? Lalu apa kita mau...mau...." Alicia tidak melanjutkan ucapannya.
"Mau belah duren! Bilang aja gitu."
"Mana tahu aku sudah tidak perawan lagi." Kata Alicia sendu.
"Ya kalau begitu markitbuk." Sahut Arch sambil menaikkan alisnya. Penuh kode.
"Markitbuk? Apa itu?" Kepo Alicia.
"Mari kita buktikan." Arch langsung mencium bibir Alicia yang sejak tadi sudah menggodanya.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****
__ADS_1