
Arul menuruni tangga, dia sedang memikirkan apa yang baru ia lakukan "Sudah 9 tahun aku tidak pernah memeluknya" gumam Arul tersenyum tipis, tapi saat ia melihat Mama yang berdiri di depan tangga, senyum di wajahnya langsung menghilang
"Ada apa" ucapnya ketus pada Mamanya itu
"Di mana kakakmu, rumah berantakan sekali, debu bertebaran dimana-mana"
"Mana yang berantakan, aku tidak melihat debu, jadi biarkan dia beristirahat"
"Ada apa denganmu" ucap sang Mama heran "Tidak biasanya kamu membelanya"
"Biarkan dia beristirahat untuk saat ini" ulang Arul kemudian meninggalkan sang Mama
Sang Mama naik keatas untuk melihat Arra, tapi di saat ia melihat Arra yang berjalan tertatih-tatih menuju ranjangnya dia urung memanggil Arra
Diluar rumah, Faki dan Riki yang berjalan untuk pulang mengomentari rumah yang bertepatan di samping rumah Reza
"Rumahnya sangat besar dan bersih, bunga-bunganya terawat, aku penasaran siapa pemilik rumah ini yang katanya juga kuliah di kampus kita" ucap Riki
"Suatu saat kamu pasti tahu"
"Coba tebak, bagai mana menurutmu pemilik rumah ini"
"Sederhana, tidak pamer, selalu tersenyum dan dia benar-benar terlihat biasa saja‘’
"Pemikiranmu rendah sekali, bagai mana bisa orang kaya seperti ini sederhana, dia akan datang ke kampus dengan mobil mewah, pakaian modis, baju, sepatu, tas semuanya berkelas, di kerumuni orang-orang yang mengaguminya"
"Ha...ha...ha..." tawa Faki hambar " Bagaimana kalau sebaliknya" ucap Faki kemudian
"Kamu kenapa jadi aneh seperti ini"
"Bagaimana ---- " belum sempat Faki berkata selanjutnya, ponsel yang ada di dalam saku bergetar sebuah panggilan masuk dari Arra
"Kalian sudah pulang"
"Ya"
"Bagaimana, apa menyenangkan"
"Ya"
__ADS_1
"Kamu tidak mengatakan apapunkan"
"Ya"
"Terima kasih"
"Ya"
"Kenapa dari tadi, kamu terus mengatakan ya, ya, ya ’’ ucap Arra kesal
"O, ya, ya, Riki ada di sampingku, apa kau mau bicara dengannya, ehamm ehamm" ucap Faki memberi kode"
"Oh, iya aku mengerti, kalu begitu aku tutup sekarang, semoga kita bertemu besok"
"Iya, cepat sembuh"
"Siapa" tanya Riki setelah Faki mematikan ponselnya
"Irfan"
***
"Kau mau ke mana" tanya Reza pada adiknya itu
"Kerumah ka Fia" langsung lari keluar rumah, sesampai di depan rumah Arra, Sarah langsung menekan bel
Arra yang mendengarnya langsung bangkit dari tempat tidur, tapi saat ia hendak turun ia melihat Arul di bawah
"Biar aku yang membukakan pintu, kau istirahat saja" ucap Arul
Arra masuk lagi ke kamar
Arul segera keluar membuka pagar, saat ia membuka pagar ia melihat Sarah yang tak dikenalnya ‘’Kau siapa" tanya Arul
"Ka Fianya ada"
"Fia" tanya Arul memastikan "Nama yang sudah lama tidak ku dengarnya" batin Arul
"Iya Ka Lutfia El Arra"
__ADS_1
"Ada di dalam, sedang istirahat tidak bisa di ganggu" ucap Arul
Sarah langsung menerobos masuk tanpa memperdulikan perkataan Arul, sesampai di dalam rumah, Sarah bertemu dengan Mama Arra
"Siapa kau berani-beraninya masuk rumah orang" bentak sang Mama
"Maaf Tante, saya mau bertemu dengan Ka Fia" ucap Sarah sedikit takut
"Biarkan dia masuk" ucap Arul dari belakang
"Anak itu mau membuat masalah lagi" gertak sang Mama kesal, kemudian membanting pintu, kembali masuk ke kamarnya
Sarah terkejut dan takut dibuatnya
"Dia ada di atas" ucap Arul kemudian
sarah langsung naik ke kamar Arra dan di sana dia melihat Arra yang sedang melukis,
"Bagai mana kau bisa masuk" tanya Arra heran melihat Sarah yang ada di kamarnya
"Mereka siapa" tanya sarah tanpa memperdulikan pertanyaan Arra
"Mereka Ibu dan Adikku, apa terjadi sesuatu"
"Mengerikan sekali, dia seperti Nenek Lampir"
"Hei !, bagaimana bisa kau mengatakan Mamaku, Nenek Lampir"
"Tapi itu sungguh mengerikan"
"Sudahlah, ayo sini, kakak ajarkan padamu beberapa teknik melukis"
"Benarkah" tanya Sarah sanang
Arra tersenyum
Arra dan Sarah melukis bersama, kemudian Arra berkata " Sebaiknya kau jangan datang kesini lagi ---"
"Tapi aku ingin belajar melukis denga kakak" memotong perkataar Arra
__ADS_1
"Kalau kamu melihat mobil silver, yang ada di bagasi sebaiknya kau jangan masuk, tapi jika mobil itu tidak ada, terserah apa yang ingin kau lakukan di sini"