INI HANYA BAYANGKU

INI HANYA BAYANGKU
Sarah VS Jalan-Jalan


__ADS_3

Jiak matahari yang terbit di ufuk barat adalah tanda awal dari dimulainya hari. Maka saat Reza membuka mata pagi ini setelah tidur lelapnya adalah pertanda awal mula dari usahanya untuk mendapatkan hati Arra kembali.


Sebenarnya dia tidak tahu, apakah usahanya ini akan berhasil atau tidak. Meskipun dulu dia sudah pernah berhubungan atau lebih tepatnya pacaran dengan Arra, tapi semua itu tidak Reza dapatkan dengan usaha apapun. Dia hanya menerima apa yang Arra berikan padanya saat itu.


Kali ini Reza ingin semua itu berbalik, dia ingin, dirinyalah yang memberikan janji kebahagiaan untuk Arra. Janji yang mungkin akan terasa sulit namun akan dia usahakan.


Ditambah saat ini Arra yang akan dia hadapi bukanlah Arra yang polos seperti dulu, kini Arra yang dihadapannya adalah Arra yang telah menemukan jati dirinya. Diri Arra yang sesunguhnya.


Reza menuruni anak tangga, sesampai diujung anak tangga bawah pandangan Reza tertuju pada Mama yang sedang memasak di dapur.


“Pagi Ma” sapa Reza pada Mama yang tampak sibuk memotong wortel.


“Pagi, kamu sudah bangun, mau Mama siapkan Kopi” tanya Mama melihat Reza yang mendekatinya.


Reza menganbil gelas “Tidak usah ma, biar Reza sendiri yang buat” Reza menuangkan satu sendok Kopi Gayo khas Aceh, kedalam Gelas ditambah dengan satu sendok teh gula, kemudian Reza menyeduhnya dengan Air panas yang tadi sempat di panaskan oleh Mama.


“Sarah mana Ma ?” tanya Reza sembari mengaduk kopi sampai gula larut.


“Di teras belakang”


“Aku ke sana ya” ucap Reza pada Mama, sambil membawa kopi buatannya.


“Tumben pagi-pagi gini sudah bangun” Sarah menyadari kedatangan Kakaknya “Ada angin apa, bangun pagi dengan wajah cerah seperti itu” tambah Sarah yang melihat Kakaknya dengan wajah berseri.


Reza tidak menanggapi perkataan Sarah, dia duduk di kursi yang tak jauh dari sarah yang sedang melukis, menghirup aroma kopi beberapa kali kemudian menyeruput kopi itu sedikit demi sedikit.


Sarah yang merasa tidak di tanggapi oleh Kakaknya kembali melanjutkan aktifitas melukis, tidak ingin ambil pusing dengan sikap Reza.


“Sedang melukis apa, kamu ada tugas” tanya Reza tak lama kemudian pada Sarah.


Kali ini Sarah membalas perlakuan yang Reza lakukan tadi, Sarah sengaja tidak menanggapi perkataan Reza.


“Mmm” Reza menganggukan kepala mengerti, menyadari Adiknya itu akan balas tidak akan menanggapi perkataannya “Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi”.


Reza memejamkan mata, menghirup udara pagi, dan menikmati suasana teras belakang rumah yang telah di sulap Mama menjadi apotek hidup yang ditanami berbagai tanaman rempah rampah.

__ADS_1


Alhasil Reza dan Sarah melakukan aktifitas masing-masing tanpa menegur satu sama lain meski meraka berada di tempat yang sama, kesunyian menyelimuti mereka.


“Ada yang mau sarapan” Mama memecahkan keheningan yang tecipta di teras belakang.


“Reza sarapan nanti saja” ucap Reza melihat kedatangan Mama.


“Sarah juga” sarah menimpali


“Idih, ikut-ikutan”


“Siap yang ikut-ikutan” Sarah tidak terima


“Kamu”


“Ngga”


“Iya”


“Ngga” balas Reza ingin semakin menggoda Adik perempuannya itu.


“Sudah-sudah, masalah gitu saja kok berantam” Mama menghentikan kegaduhan itu “Kalau mau makan, Mama sudah siapkan di dapur, sehabis makan jangan lupa cuci piring sendiri. Mama mau siap-siap untuk pergi, ada janji dengan teman sebentar lagi” Ucap Mama panjang lebar sebelum meninggalkan kedua anaknya itu.


Setelah puas menikmati pagi, Reza Melihat jam yang ada di tangannya, sudah jam 9, Reza berniat bersiap-siap untuk pergi bersama Arra, dia harus tampil maksimal saat menemui Arra dan itu butuh waktu lama untuk mempersiapkannya.


“Kamu masuk siang hari ini” Tanya Reza sebelum meninggalkan Sarah.


“Mmm”


“Aku mau keluar sebentar lagi, jadi kamu akan sendirian” Reza ingin memperingatkan Sarah akan sesuatu.


“Kakak mau kemana, bukankah Kakak mengatakan kalau hari ini nggak ke kantor”


“Aku mau jalan-jalan”


“Keman ?, dengan siapa ?, jadi Kakak sengaja lubur hari ini hanya untuk jalan-jalan ?”

__ADS_1


Reza hanya tersenyum, tidak menanggapi pertanyaan bertubi-tubi Sarah.


“Kakak tidak bisa pergi nanti saja”


“Tidak bisa, aku sudah janji” ucap Reza entang, tidak merasa bersalah, padahal dia tahu, adiknya itu takut jika tinggal sendirian di rumah.


Sarah membanting kuas di tangannya karena merasa kesal dan sudah tidak mood melukis lagi “Ihhh, jadi aku gimana dong”


“Kamu di sini saja sampai siang, atau kamu bisa pergi ke kampus sekarang saja”


“Aku masuk jam tiga, masih lama. Aku juga takut sendirian di rumah” Ucap Sarah memelas, berharap Kakaknya akan luluh.


Reza tidak perduli, dia meninggalkan Sarah di teras belakang menuju dapur untuk sarapan. Kemudian pergi ke kamar untuk bersiap-siap.


Selang berapa lama, Reza mematut diri di depan cermin setelah beberapa kali mengganti baju “Sepertinya ini sudah ok” gumam Reza, pada baju yang dia kenakan. pilihan pakaian yang dia kenakan saat ini yaitu celan jeans hitam dipadukan dengan tshirt oversized warna putih ditambah dengan Jacket bomber coklat. Setelah yakin dengan penampilannya, Reza meraih tas pinggang dan ponselnya, beranjak dari kamar.


Reza menuju teras belakang menemui Sarah “Sarahhh, Sarahhh, Sarahhh” panggil Reza tapi tidak ada sahutan.


“Anak itu pergi kemana lagi”gumam Reza mencari Sarah ke penjuru rumah, tapi tetap tidak menemukannya.


Saat Reza menghubungi ponsel Sarah, ternyata Adiknya itu meninggalkannya di kamar, karena yakin adiknya tidak ada di dalam rumah, akhirnya Reza keluar dan mengunci pintu rumah.


Meski sedikit gelisah, Reza masih bisa mengembangkan senyumnya saat sadar bahwa dia dan Arra akan pergi berdua hari ini.


Sebelum menghidupkan mesin mobil Reza mengirim pesan pada Arra terlebih dahulu “Aku akan tunggu di depan rumahmu” tulis Reza kemudian mengirimnya.


Saat mobil Reza akan keluar dari halaman rumah, pesan balasan Arra masuk “Ok, aku datang” senyuman Reza semakin mengembang, dia telah lupa bahwa Sarah tidak tahu di mana sekarang.


Tidak berselang lama, pintu pagar rumah besar itu terbuga, senyum terindahnya Reza kerahkan untuk menyambut Arra. Namun, orang pertama yang keluar dari pagar itu adalah Sarah. Senyuman itu langsur sirna.


“Jadi Kakak mau pergi jalan-jalan bareng ka Fia” melipat tangannya di depan dada mendekati Reza, seakan menantang Kakaknya itu.


“Kenapa kau ada di sini” balas Reza.


“Aku takut sendirian, kupikir kalau datang ke sini akan bisa mai bareng Ka Fia, ehhh, ternyata Ka Fia mau pergi juga”

__ADS_1


Arra yang baru keluar mengusap kepala Sarah sayang “Kami perhi dulu ya” ucap Arra kemudian.


Sarah tersenyum melihat Arra, kemudian menunjukkan wajah kesalnya saat menatap Reza.


__ADS_2