
Setelah Riki dan Faki keluar, Kiki langsung mendekati Arra, "Sekarang kamu mengertikan perasaanku, memang mereka menghinamu, tapi secara tidak langsung sejujurnya mereka menghinaku, itu lebih sakit dari pada yang kamu rasakan saat ini, aku mendengar temanku di hina yang sebenarnya adalah diriku sendiri, apa aku salah jika marah mendengar mereka mengatakan hal-hal yang menyakitkan yang kamu terima selama ini"
"Ya, aku mengerti sekarang, maafkan aku yang tak pernah mau mengerti perasaanmu, aku hanya memikirkan perasaanku saja" mameluk Kiki
"Sudah-sudah lupakan masalah tadi, ayo kita makan bawan, Ibu tadi sempat masak sedikit, ayo duduk"
"Ibu" ucap Arra langsung menghambur di sampin Ibu Kiki
Kiki yang melihatnya langsung cemberut ‘’Ibu kenapa mau punya anak nakal seprti dia‘’ ucap Kiki duduk di samping Ibunya
"Kalian berdua adalah anak-anak ibu yang sangat ibu sayangi, tidak ada di antara kalian yang nakal, dua-duanya baik" ucap Ibu Kiki memeluk Kiki dan Arra dengan kasih sayang
"Aku merindukan pelukan seperti ini dari Mama" ucap Arra lirih
Kiki sadar Mama siapa yang ia maksut
Ibu Kiki membelai rambut Arra, kemudian berkata ‘’Bukankah sudah ada Ibu yang menggantikannya, jadi Arra tidak perlu sedih seperti ini"
"Aku juga mau" ucap Kiki ingin di belai juga
"Bu dia cemburu pada anak nakal ini" ucap Arra tersenyum
Kebahagiaan merekah di rumah sederhana itu, canda tawa menyelimuti mereka
Keesokan harinya seperti biasa Arra terlambat masuk ke kampus, kakinya dengan cepat terus melangkah, orang-orang yang berada di depan Arra segera memberi jalan untuk menghindari Arra, dari kejauhan Reza melihat Arra yang terus berlari dan sesekali menyenggol orang yang tak sempet menghindar, Reza tersenyum mengejek sekilas, kemudian melanjutkan langkahnya kembali
"Za kamu kamana kemarin, kenapa cepat sekali pulang" tanya Faki
__ADS_1
"Tiba-tiba Sarah minta di jemput ke sekolahnya"
"Za kamu benar-benar kehilangn momen penting kemarin, asal kamu tau, cewek aneh itu sangat mengerikan kalau marah, dari tatapannya sepertinya dia mau menelan kami hidup-hidup"
"Memang kenapa"
"Tidak tau juga, mungkin saja dia merasa terhina akibat ulahku"
"Tentu saja dia marah melihat kamu yang ragu-ragu meminum minuman yang dia hidangkan" ucap Faki
"Baru pertama kali aku melihat di semerah itu, biasanya kalau kita menghinanya dia tak pernah marah, bahkan orang-orang mendorong, memukul, memperlakukannya dengan kasar dia tidak marah sedikitpun, masa hanya kerena aku ragu-ragu dia langsung meminum minumanku kemudian marah dengan wajah garangnya"
Reza mendengar penuturan temannya acuh tak acuh
Di kelas the art sang Dosen sedang mengusulkan di mana tempat yang paling cocok untuk menghilangkan setres
"Ia Pak di Bali saja"
"Membayangkan Bali saja rasanya setres ini hilang, apa lagi pergi ke sana"
"Ia pak, ke Bali aja ya"
"Baiklah karena kalian memilih ke Bali, besok kita akan pergi ke Bali"
"Besok !" Para mahasiswa memastikan perkataan dosen
"Cepat sekali pak, kami kan belum mempersiapkan apapun"
__ADS_1
"Perlengkapanku belum di siapkan pak"
"Saya ada acara besok pak"
"Kalau kalian tidak mau ya sudah, yang jelas besok kita pergi ke Bali, Bapak tidak mau tau, Arra data taman-tamanmu yang mau ikut"
"Siap pak"
"Ra kamu ikut tidak" Tanya Kiki
Arra mengangguk senang
"Ibumu ?"
"Ibu tadi pergi ke Jepang, seminggu lagi akan kembali ke Indonesia, ada urusan memdadak dan tidak mungkin pulang sebelum kita kembal dari Bali"
"Kiki terlihat senang mendengar penjelasan Arra"
Sepulang kuliah Arra dan Kiki pergi ke mall untuk mempersiapkan keperluan untuk ke Bali
"Ki kamu tidak punya baju renangkan" menarik Kiki ke perlengkapan baju renang
"Ra tidak usah, aku pakai baju biasa saja"
"Tidak bisa, bajumu harus terlihat bagus" memcocokkan baju yang pas untuk Kiki
Kiki terlihat ogah-ogahan mendapat perhatian dari Arra
__ADS_1