
Arra keluar dari bandara, disaat Arra akan menghentikan taxi tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya, kaca di buka dan terlihat Reza yang sedang mengemudi mobilnya
"Masuklah" ucap Reza yang melihat Arra hanya berdiri seperti patung
"Ah, ya’’ tersadar dan segera masuk kedalam mobil, dalam perjalanan meraka hanya diam seribu bahasa, karena merasa tidak nyaman dengan keadan yang meliputi mereka didalam mobil, akhirnya Arra memecah kesunyian
"Aku pikir kamu tidak datang"
"Kenapa aku tidak datang ?, bukankah Jasmin akan pergi"
"Iya, kamu memang sudah seharusnya datang, tapi kupirkir kau masih marah padaku"
"Iya, aku masih marah padamu"
"Tapi kenapa kau mengijinkanku manaiki mobilmu"
"Kalau gitu turunlah" ucap Reza akan tetapi tarus melajukan mobil
Arra terdiam sesaat "Maaf soal kemarin"
"Apa kau merasa bersalah"
Arra terdiam kembali, kemudian ia berbicara "Tentang perkataanmu kemarin ,setelah kupukir-pikir tidak ada salahnya untuk mencoba"
__ADS_1
"Apa maksutmu"
"Ayo kita coba untuk berpacaran seperti yang kau katakan, kita akan coba berpacaran"
Reza tersenyum mendengar penuturan Arra, Arra yang melihat senyuman Reza sedikit lega
"Untuk hari pertama kita pacaran, bagaimana kalau kita kencan hari ini, dimulai dengan belanja, ah, bajumu sangat mengusik mataku, kemudian kita kesalon untuk merapikan wajahmu, lalu kita makan, setelah kenyang kita akan jalan-jalan, bagaimana bukankah itu menyenangkan
"Tapi kata-katamu keterlaluan sekalai, bagaimana kau bisa mengatakan kalau bajuku mengusik matamu, dan tega sekali kau mengatakan merapikan wajahku" ucap Arra sedikit jengkel
Reza hanya tertawa melihat tingkah Arra.
sesampai dibutik Arra mencoba beberapa pakaian yang dipilih Reza tapi semuanya tidak ada yang cocok dengan Arra
Arra kesal mendengar perkataan Reza sedangkan penjaga butik yang berada di dekat merek tersenyum melihat tingkah pasangan baru tersebut
Arra akhinya memilih bajunya sendiri, Arra memilih dress pink dengan motif bunga sakura di bawahnya, kerah yang besar melingkari di leher dan lengan yang menutupi sepertiga lengan yang dapat ditarik sehingga berkerut, sedangkan di bagian depan dada renda-renda yang cantik membaluti kain ditambak mutiara yang menghiasi bagian baju.
Reza masih asik dengan mencari yang cocok dengan Arra sedangkan Arra mencoba baju yang ia pilih sendir, setelah merasa pas Arra keluar dari ruang ganti. Arra memanggil Reza yang masih asik memilih
"Bagaimana dengan yang ini"
Reza terpaku melihat penampilan Arra, sesaat Reza terhipnotis, kemudian ia tersadar dengan tingkahnya, mereka sepakat membeli baju yang Arra kenakan, kemudian memilih sepatu untuk Arra kali ini Reza tidak ikut campur lagi, karena ia sadar pilihannya yang selalu tak cocok untuk Arra. Arra memilih sepatu pangsus putih dengan bunga ping kecil di sampingnya, Reza sempat protes dengan Arra
__ADS_1
"Kenapa memakai pengsus itu high hailsnya bagus, pakai itu saja, bukankah kamu juga tertarik dengan itu"
"Jika memakai itu nanti kakiku akan terasa sakit, bukankah nanti kita akan jalan-jalan, memang kamu mau mnggendongku dan memijit kakiku"
"Benar juga, ya sudah pakai itu saja";putus Reza
Berikutnya mereka ke salon, disana mereka sempat berdebat soal rambut Arra yang akan dimodel seprti apa, Reza menginginkan rambut Arra dibuat kriting bergelombang terurai indah, tapi Arra tidak mau, dia ingin rambutnya diikan sesuai keinginannya
"Inikan rambutku kenapa kamu yang mengatur, liahat saja nanti aku jamin kau tidak akan kecewa, sudah baca majalah sana" suruh Arra kesal
Reza akhirnya pasrah
Sekian lama menunggu akhirnya Arra selesai dirias, Reza semakin terpukau melihan penampilan Arra yang sederhana tapi terlihat elegan
"Bagaiman" tanya Arra kemudian
"Kau benar-benar terlihat cantik kali ini"
Arra tersnyum mendengar ucapan Reza, dalam mobil menuju restoran Reza kembali mengomentari penampilan Arra
"Hari ini aku melihat bebek yang berubah menjadi angsa seperti yang di TV, tapi angsaku terlihat sederhana dan elegan aku sangat menyukainya, kesederhanaan tampa berlebihan penampilanmu sangat menakjubkan"
"Pujianmu sangat berlebihan"
__ADS_1
"Tidak, itu tulus"