
Ibu sedang sibuk mempersiapkan pesta perayaan masuk rumah dengan Kiki, di tambah dengan Faki yang sudah datang. Tadi sore Kiki dan Faki sudah belanja bahan makanan. Ibu sedang sibuk membersihkan dan menata makanan. Faki sedang menyalakan api untuk memanggang bahan barbeque. Sedangkan Kiki sedang menata kursi, piring dan yang lainnya. Pekarangan belakan rumah Arra kini telah di sulap menjadi tempat pesta malam ini.
Sedari tadi Arra belum kelihatan. Dia masih sibuk di kamarnya merapihkan beberapa lukisan yang dia buat tiga tahun ini.
“Arra masih belum turun” tanya Ibu yang sedari tadi belum melihat Arra
“Tadi aku sudah menyuruhnya turun, sebentar lagi dia juga akan datang” jawab Kiki
“Ternyata di sini” terlihat Arra yang baru datang “Aku cari di dapur tidak ada, ternyata kita makan di sini. Tepi kenapa ini banyak sekali” melihat bahan barbeque yang ada di atas meja “Eh, kenapa kau ada di sini” terkejut melihat keberadaan Faki.
“Kan mau ngerayain kepindahan kita, jadi Ibu mengundang Faki” jelas Kiki “Sebentar lagi keluarga Reza juga akan datang” tambah Kiki.
“Benarkah” Arra terkejut “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku” melihat baju ang dia kenakan untuk memastikan penampilannya.
“Aku sudah mengatakannya, kau saja yang tidak memperdulikan setiap ucapanku” ucap Kiki kesal mengingat sejak tadi pagi Arra selalu mengabaikannya.
Flasback
Semenjak barang pindahan di turunkan dari truk tadi pagi
“Ra ini mau taruh dimana” tanya Kiki membawa sebuah barang.
“Terserah kamu saja” sahut Arra tetap fokus pada pekerjaannya.
“Aku taruh di sini ya”
“Mmm”
Beberapa saat kemudian
“Ra, aku pakai kamar itu ya”
“Mmm”
---
“Ra, barangmu aku taruh di sini ya”
“Mmm”
---
“Ra, tadi ada Reza di depan rumah”
“Mmm”
---
“Ra, semua alat lukisnya aku taruh di sana ya”
“Mmm”
---
“Kamu lagi sibuk ya”
“Mmm”
“Tidak bisa di ganggu”
__ADS_1
“Mmm”
Hanya “Mmm” jawaban yang Kiki dapatkan dari setiap pertanyaan yang dia lontarkan.
Sama saat dia mengatakan pesta yang akan diadakan malam ini.
“Ra, Nanti kita akan ada perayaan pindahan, Ibu mengundang Faki dan juga keluarga Reza, tidak apa-apa kan”
“Mmm”
“Yasudah, kau cepat turun”
“Mmm”
Flasback and
“Ka Fia” Sarah yang baru datang segera menghambur ke pelukan Arra.
“Sarah !” tersenyum hangat pada Sarah “Sudah pada datang” sambungnya melihat Mama Sarah di susul Reza di belakangnya.
Mama memeluk Arra sebentar, kemudian mulai bercakap-cakap dengan Ibu. Terlihat keakrapan di antara mereka.
Reza mendekati Faki yang kini sedang memanggang beberapa daging, “Kau sudah lama di sini” tanya Reza setelah berada di samping Faki.
“Dari tadi sore”
“Ooo” jawab Reza sekilas.kemudian pandangannya di alihkan pada Arra yang sedang tertawa dengan Sarah dan Kiki.
Faki melihat Tingkah Reza itu “pergi sana, biar aku saja yang di sini”
“Aku di sini saja” Ikut memanggang beberapa Sosis.
Reza tidak perduli, membalik Sosis yang terlihat mulai matang.
Semua makanan telah dihidangkan, kini mereka semua sudah duduk di meja yang dipenuhi makanan.
Arra duduk tepat di depan Reza. Mata Reza tak lepas dari Arra, hal itu membuat Arra gerogi dan salah tingkah. Meskipun dia asik ngobrol dengan Kiki dan Sarah tapi pikirannya terarah pada Reza yang terus menatapnya.
“Ki, tolong ambilkan Minum di dapur, tadi Ibu lupa bawa” Suruh Ibu menyadari ada yang kurang di menja makan.
Mendengar itu Arra langsung berdiri, berniat ingin membantu Kiki.
Mama menepuk pundak Reza, miminta anaknya itu membantu Arra membawa minum. Pada akhirnya yang mengambil minun di dapur adalah Arra dan Reza.
Arra mencari gelas di sekitar dapur. Di tempat dia biasa meletakkan gelas kini telah di isi mangkuk-mangkuk kecil. Karena tadi siang dia tidak ikut merapihkan rumah jadi Arra tidak tahu tempat gelas di letakkan. Reza ikut membantu Arra mencari Gelas.
“Di sini” seru Reza menemukan gelas di lemari atas paling pojok dapur, itulak kalimat pertama yang keluar dari mulur Reza pada Arra sejak dia memasuki rumah itu.
Arra segera berjalan mendekati Reza “Ternyata di sini”gumam Arra.
“Kenapa kamu bisa tidak tahu tempatnya” tanya Reza.
“Tadi aku sibuk beres-beres di kamar, tidak ikut beres-beresin rumah”Jelas Arra.
Reza menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Arra.
“Mmm” Arra ingin mengeatakan sesuatu, tapi ada keraguan dalam dirinya.
“Kenapa”
__ADS_1
“Mmm” masih ragu “Mmm, soal yang kemarin, aku minta maaf” akhirnya kalimat itu lolos dari mulut Arra
“Soal apa” Reza pura-pura tidak tahu, padahal hatinya sangat senang Arra mau membahas hal itu.
“Kamu jangan pura-pura tidak tahu” ucap Arra karena tidak mau membahas hal itu lagi “Jadi gimana, kamu mau memaafkanku”
“Ok, aku akan memafkamu, tapi ada satu syarat”
“Apa”
“Belum tahu, nanti aku pikirkan, tapi kau harus mau, apapun yang kukatakan”
“Tidak masalah, asalkan bukan permintaan yang aneh-aneh”
“Aku jamin tidak akan ada permintaan aneh”
“Ok !”
“Apa yang akan kamu lakukan besok” Tanya Reza kemudian.
“Rencananya besok aku mau ke galery menemui seseorang”
“Galery ?”
“Mmm, tiga bulan lagi aku akan mengadakan pameran tunggal, tahun lalu aku bertemu seseorang pemilih Galery, kemudian dia menawarkanku untuk membuat sebuah pemeran di Galerinya jika aku sudah pulang ke Indosedia” jelas Arra.
“Wah, hebat” komenatar Reza “Mau aku antar ke sana” tawar Reza kemudian.
“Tidak usah, aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu. Lagi pula itu akan membutuhkan waktu lama, lain kali jika aku butuh tumpangan aku akan menghubungimu” canda Arra tersenyum manis.
“Baiklah” gumam Reza sedikit kecewa.
Setelah Arra menaruh gelas ke sebuah nanpan dan ceret yang berisi air sudah terisi penuh mereka kembali ke dalam pesta.
“Kenapa kalian lama sekali” bisik Kiki, setelah Arra duduk di sampingnya. Dia yakin pasti terjadi sesuatu saat Arra dan Reza bersama.
“Tadi harus nyari Gelas dulu”
“Hanya itu !, kamu dan Reza belum bicara” Kiki tampak kecewa.
“Sudah, tadi aku sudah minta maaf pada Reza”
“Benarkah” seru Kiki masih dengan suara kecil.
Arra mengangguk menanggapi perkataan Kiki, kemudian saat matanya terarah ke depan tak sengaja matanya dan Reza saling bertemu. Keduanya saling membalas dengan senyuman.
Pesta berjalan dengan baik, kebahagiaan terlihat pada wajah setiap orang yang hadir. Arra memandangi mereka satu persatu, setsenyum bahagia atas keputusannya untuk pulang. Sebenarnya memutuskan untuk pulang merupakan hal yang rumit untuknya, banyak ketakutan yang terus mendatanginya. Ketakutan orang-orang akan memandangnya berbeda dari sebelumnya. takut orang-orang disekitarnya akan berubah. Tapi ternyata ketakutan itu hanya sebuah ketakutan, karena apa yang dia takutkan tidak terjadi sama sekali.
“Riki mana” tanya Arra menyadari Riki yang tidak ada di antara mereka “Kalian tidak memberi tahunya, apa kalian merundungnya”
“Jangan asal bicara. Orang yang kamu bilang kami rundung itu sedang berbahagia dengan tunangannya”
“Tunangan ?”
“Iya, Riki sudah tunangan dan tunangannya itu sedang kuliah di luar negeri. Hari ini Riki menghabiskan waktu dengannya yang baru datang karena sedang libur”
“Aku pikir dia masih jomlo sampai sekarang. eh, ternyata dia malah sudah tunangan” komentar Arra.
“Begitulah”
__ADS_1
“Ternyata banyak hal yang sudah kulewatkan tiga tahun ini, sudah banyak hal yang tidak aku ketahui tentang teman-temanku” batin Arra kembali menikmati pesta.