
Esok harinya, Arra terlambat bangun dan seperti biasa, ia berlari menuju ruangan class the art, kali ini ia sangat terlambat dan korban yang di taprak lumayan banyak hari ini , dan kerna keterlambatannya, Arra tidak diperbolehkan memasuki ruangan, saat ia berjalan menuju galeri, orang-oranng yang di tabraknya tadi telah berbaris di hadapannya
"He, berapa kali lagi kau mau menabrakku,
Kalau tidak mau terlambat cepat bangun jangan tidur seperti kelelawar"
"Kau menantangku"
"He, berengsek"
"Kau tidak punya mata, sehingga setiap hari kau harus menabrak kami"
Arra bersiap lari mendengarkan ocehan orang-orang yang di tabraknya, akan tetapi langkahnya langsung terhenti ketika mendengar panggilan
"Hei, kau mau lari ke mana"
Arra menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil menatap orang-orang itu,
satu persatu dari mereka mulai mendekati Arra dan salah satu dari mereka mendorong Arra dengan kasar hingga terjatuh , disusul dengan yang lain yang sengaja menendang kaki Arra saat meninggalkan tampat
Arra hanya terdiam benerima perlakuan dari orang-orang tersebut, saat semuanya telah pergi, Arra mulai berdiri, sekuat tenaga ia berusaha berdiri, sejenak ia melihat kakinya yang lebam, kemudian ia mulai berjalan menuju galeri dan disana ia melukis dengan santai seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya, tak berapa lama Kiki datang menghampirinya
"Kau benar-benar terlambat hari ini" ucap Kiki saat sudah berada di depan Arra
"Sepertinya begitu"
"Bagai mana dengan yang kamu tabrak, aku rasa hari ini cukup banyak yang menjadi korban"
__ADS_1
"Tidak terjadi apa-apa, hanya telingaku yang terasa gatal" menggaruk telinganya untuk meyakinkan Kiki
Kiki tarsenyum kemudian bersiap untuk melukis, setelah beberapa lama Arra mengeluh, "Ki, kita makan yu, aku lapar, tadi tidak sempat sarapan"
"Baik, tapi kamu duluan ke kantin, aku mau ke toilet sebentar"
Arra meng ia kan kemudian pergi meninggalkan Kiki dengan tertatih tatih, Kiki yang melihatnya langsung bertanya
"Ada apa dengan kakimu"
"Oh, tadi mereka sangat kesal jadi mereka menendang kakiku, aku pergi" menghindari pertanyaan Kiki selanjutnya
"Aish, benar-benar" gerutu Kiki kesal
Di tengah jalan Arra tak sengaja meliha Reza, ia segera berlari mendekati Reza, berusaha terlihat normal
"Hei cowok dingin, bagaiman dengan bajumu kemarin, apa catnya bisa hilang" berdiri disamping Reza‘
"Cowok ini benar-benar dingin, menyebalkan sekali, apa ada cewek yang menyukaimu dengan sikap dingin seperti ini, mmmmm aku rasa tida, walau ada aku yakin tidak akan bertahan lama, cewek itu akan memutuskanmu‘’ ucap Arra panjang lebar
Reza langsung menatap Arra mendengar ocehan tersebut "ucapanmu terlalu berlebihan, kalau kau menyukaiku tidak perlu mengatakan hal memalukan seperti itu"
"Aishhhh, kamu PD sekali mengatakan itu, siapa yang menyukai cowok dingi sepertimu" balas Arra
Reza menatap Arra, Arra gugup mendapat tatapan Reza, Arra salah tingkah di buatnya
"Hehhhh, bahkan kau masih menempalkan ini di wajah mu" menekan perban yang tertempel di wajah Arra
__ADS_1
Arra meringis kesakitan, kemudian ia tertawa, "Ha...ha...ketahuan" Arra memegang wajahnya yang terasa nyeri
Reza langsung meninggalkan Arra dengan senyum mengejek "memalukan" bisiknya ditelinga Arra dan mulai meninggalkan Arra
Bertepatan dengan kedatangan Kiki
"Tarnyata kamu di sini, aku sudah mencarimu kemana-mana" keluh Kiki
Arra tersenyum pada Kiki sambil terus memegangi wajahnya
Kiki tarsadar bahwa luka di wajah Arra mengeluarkan darah ia langsung membawa Arra ke klinik kampus, di sana Arra di nasehati dokter
"Sepertinya ini bukan luka jatuh, tapi sayatan pisau dan ini bisa infeksi jika hanya di perban seperti ini, tunggu sebentar saya akan membersihkan lukamu, tak usah khawatir lukamu akan cepat sembuh hanya butuh 2 minggu, setelah lukanya benar-benar pulih pakailah ini untuk menghilangkan bekas dan saya sarankan jangan di tekan lagi, jika lukamu mengeluarkan darah lagi itu membutuhkan waktu cukup lama untuk penyembuhan" ucap dokter menasehati Arra
Mendengar itu Arra langsung berkata ‘’Ribet bangat, padahal hanya luka kecil seperti ini aku pikir 1-2 hari akan sembuh"
Dokter tersenyu mendengarnya, mereka keluar dari klinik, diluar Arra langsung minta makan "Hahh, lapar bangat
"Ayo !" ajak kiki menggandeng tangn Arra ke kantin
"Kenapa lukamu bisa berdarah, kalau terus seperti ini bagai mana kita akan pergi jalan-jalan menghilangkan setres, bukankah kata pak darwin kita akan pergi setelah lukamu sembuh" ucap Kiki agar Arra menjaga dirinya
"Ahh yaaa, aku lupa. Asih, kalu begini trus kita tidak akan bisa pergi"
"Kamu mau pesan apa"
"Gado-gado lontong yang pedas ya bude,
__ADS_1
Ra besok kamu bisa ikut menjual lukisan kita kan" tanya Kiki kemudian setelah memesan makan
"Bisa, besokkan tidak ada jam kuliah, jadi aku bisa ikut tanpa diketahui Mama"