INI HANYA BAYANGKU

INI HANYA BAYANGKU
Arra = Perjalanan


__ADS_3

Usai pesta, dan menghantar para tamu, Arra kembali ke kamarnya. Begitu juga dengan Kiki dan Ibu masuk ke kamar masing-masing. kamar Ibu ada di lantai bawah. sedangkan Kiki di lantai dua samping kamar Arra.


Arra sedang memeriksa ponselnya. Mencari kontak Kakak dan Adiknya. Arra ingin protes karena mereka berdua tidak datang.


“Kakak di mana” tanya Arra setelah Zi menerima panggilan dari Arra


“Kakak sedang ada di luar kota bertemu klien, ada apa”


“Kakak lupa, hari ini kan Arra pindah kerumah”


“Kakak ingat ko, kenapa memang”


“Kakak tanya kenapa, orang lain saja ikut merayakan kepindahanku, masa Kakak dan Adikku sendiri tidak datang”


“Kan Kakak sedang ada perkerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, lagipula kakak sudah memberitahumu sebelumnya. sedangkan Arul, kau tahu sendiri, Dia masih canggung setiap bersamamu” jelas Zi memberi pengertian pada Adiknya itu “setelah pulang, Kakak akan mengunjungimu”


“Benar ya !, aku tunggu”


“Iya”


“Ya sudah Kakak tutup dulu, tidak enak meninggalkan orang-orang terlalu lama”


“Sampai jumpa Kak”


“Sampai jumpa”


Setelah Arra meutuskan sambungan , terdengar ketukan dari balik pintu di susul suara Kiki yang meminta izin untuk masuk


“Aku boleh masuk”


“Masuk aja”


Muncul wajah Kiki dari belik pintu. kakinya berlahan mendekat pada Arra, kemudian mendaratkan pantatnya di kasur.


“Aku tidur di sini” ucap Kiki kemudian merebahkan tubuhnya.


Arra mendorong tubuh Kiki agar bangun dari tempat duduknya “Kau kan punya kamar sendiri”


“Dulu, setiap aku datang dan menginap di rumah ini, aku selalu tidur bersamamu. Rasanya sedikit aneh jika aku tidur sendiri di kamar yang berbeda sekarang” Kiki meraih sebuah bantal dan kembali merebahkan tubuhnya “Aku mau tidur di sini malam ini”


“Ya sudah, terserah kamu saja” Arra hanya bisa pasrah, karena dia tahu bagaimana sulitnya mengubah keinginan Kiki.

__ADS_1


“Kau sedang apa” tanya Kiki, melihat Arra sedang memisahkan beberapa lukisan, kemudian memotretnya.


“Besok aku ingin bertemu dengan pemilik galery yang aku katakan kemaren, untuk memberikan beberapa gambaran dari lukisan yang aku buat, aku ingin menunjukkan beberapa lukisanku padanya” jelas Arra, masih sibuk dengan kegiatannya.


“Di mana kau bertemu dengannya”


“Pertama kali aku bertemu dengannya di Islandia of Skye di Skotlandia. Awalnya kami hanya berbincang-bincang kecil sembari dia memperhatikanku yang sedang melukis” ingatan Arra kembali pada pertemuan pertamanya dengan pemilik Galery “Kemudian tak di sengaja dua tahun kemudian, kami kembali bertemu di Gurun Namib Di Afrika Selatan. Karena dia tahu beberapa bulan lagi aku akan kembali ke Indonesia, dia menawarkanku untuk membuat pameran di Galerynya”


Kiki menganggukkan kepala mendengar setiap cerita yang di samaikan Arra. Kemudia Kiki tersadar bahwa perjalanan Arra Yang sedikit aneh “Kemana saja kau selama ini ?” tanya Kiki kemudian.


‘Mmm, aku tidak terlalu ingat pestinya. Aku hanya mencari tempat kemana saja dengan pemandangan indah serta harga tiket yang murah”


“Sebenarnya apa yang kamu pikirkan saat meninggalkaan tempat ini. kenapa tiba-tiba kau memutuskan untuk pergi dan parahnya kau tidak memberi tahu siapapun sebelumnya dan lebih, lebiah, lebih parahnya lagi kau tidak pernah memeri kabar pada siapapu. Bahkan kepada Ka Zi”


Arra diam seperti memikirkan sebuah alasan dari apa yang dia lakukan selama ini “Aku hanya tidak ingin bertemu dengan siapa pun setelah kejadin itu, dalam pikiranku, aku hanya ingin kabur, menghilang dari semua orang. Karena itu aku memilih untuk pergi”


“Apa kamu sudah menetapkan hatimu untuk menetap disini dan tidak akan pergi lagi”


“Aku tidak tahu, selama ini aku terus memikirkannya. Dan sebenarnya aku belum menemukan jawaban dari semua yang aku pikirkan selama ini. pada akhirnya aku kembali kesini sebenarnya karena berpikir jawaban yang kucari itu ada di sini, bukan di tempat lain”


“Masalah berawal di sini, jawabannya juga sudah pasti di sini” celetuk Kiki


“Ngomong-ngomong dari tadi kamu terus bilang pemilik galery, kau tidak pernah menyebutkan namanya, kalau boleh tau namanya siap. Aku juga ingin tahu dan mengenalnya. Siapa tahu lukisanku juga bisa di pamerkan di galerinya”


“Mmm” Arra tampak berpikir “Aku tidak tahu”


“Ya !” bagaimana bisa kamu tidak tahu, jangan-jangan kau sedang di tipu. Bisa-bisanya kau percaya begitu saja pada orang lain”


“Aku rasa dia bukan penipu”


“Terus bagaimana kalian berkomunikasi selama ini”


“Terakhir kami bertemu dia memberikan nomor kontaknya padaku. Kemudian setiba aku di Indonesia aku langsung memberitahunya jika aku sudah ada di sini”


“Bukan itu maksutku” mengacak rambutnya sendiri “Bagaimana cara kalian saling memanggil”


“Dia memanggilku Arra karena sudah pernah melihat lukisanku. Sedangkan aku memanggilnya kau” jawab Arra santai seakan tidak ada masalah.


“Kau ini benar-benar ?, tidak adakah kecurigaan sedikitpun. Jangan-jangan dia seorang penipu”


“Sudah kukatakan itu tidak mungkin”

__ADS_1


“Besok aku harus bertemu customer jadi tidak bisa menemanimu” Kiki terus bergumam tidak perduli dengan perkataan Arra “Apa aku minta tolong Reza untuk menemanimu besok”


Arra menghela napas berat melihat tingkah temannya itu “Ki, sudah aku katakan tidak akan terjadi apa-apa, pemilik galery itu bukan seorang penipu. Dan jangan katakan pada Reza, aku tidak ingin menyusahkan siapapun, terutama dia” tegas Arra menghentikan gumaman Kiki.


“Bagaimana kalau terjadi apa-apa”


“Tidak akan”


“Kau sendirian, perempuan” Kiki menekankan


“Semua akan baik-baik saja” Arra tak kalah menekankan


“Kalau kamu seyakin itu, aku bisa apa” Akhirnya Kiki menyerah.


Arra sudah menyelesaikan kegiatannya, dia menaiki kasur kemudian membaringkan tubuhnya di samping Kiki “Sudah lama kita tidak tidur barang”


“Apa kita satu kamar aja” usul Kiki


“Kamar ini terlalu sempit untuk kita berdua. jika lukisanmu dan lukisanku di gabung itu akan sangat menumpuk. Jadi kita tidur di kamar masing-masing saja. Lagipula dulu kan kamu sangat ingin punya kamar sendiri”


“Itu kan dulu, sekarang beda”


“Itu sama saja” Ucap Arra, berusaha memeluk Kiki


Kiki segera menghindari pelukan Arra “Menjauh dariku”


“Jika kamu ingin satu kamar denganku, kau harus mau kupelu” goda Arra


“Kalau begitu besok aku akan tidur di kamarku”


“Bagus” menjauhkan tubuhnya dari Kiki


Mereka terdiam. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran masing masing. Kemudian menoleh kesamping. Saling bertatapan kemudian saling melempar senyum.


“Aku ngantuk sekali, seharian mengangkat barang, itu sangat melelahkan” ucap Kiki


“yuk kita tidur, jangan sampai kita telat bangun besok”


“Itu tidak lucu” Kiki mengingat Arra dulu yang selalu telat ke kampus “Jangan bawa kebiasaan lamamu sampai sekarang”


Arra hanya tersenyum menanggapi perkataan Kiki. Kemudian dia mulai memejamkan matanya untuk menjemput mimpi indahnya.

__ADS_1


__ADS_2