
Arra yang mendengar teriakan Sarah menyadari sesuatu dan segera menghampiri Sarah
Sarah yang ketakutan terus menutupi wajahnya dengan kengerian
Arra segera membereskan lukisa-likusan itu dan menutup lemari, kemudian ia menghampiri Sarah yang mesih terlihat ketakutan
"Maaf, kamu pasti terkejut, lu----"
"Apa itu" potog Sarah
"Itu, itu, itu" bingung harus mengatakan apa "Itu hanya lukisan biasa"
"Itu terlihat begitu nyata, sangat mengerikan dan lukisan itu tidak hanya satu tapi banyak, bagai mana mungki itu hanya lukisan biasa"
"Sudah aku katakan itu hanya lukisan biasa" bentak Arra meninggikan suaranya
Sarah terkejut mendengarnya "Kakak" ucap Sarah lirih
"Ah, maaf" Arra menyadari apa yang telah ia lakukan
__ADS_1
"Maaf telah membuat Kakak marah, tapi bolehkah aku melihat lukian itu lagi"
"Bukankah tadi kamu sudah melihatnya dan kamu juga takut saat melihat lukisan itu"
"Tidak, tadi aku hanya terkejut, Ka Fia bolehkan aku melihatnya satu kali lagi"
"Baiklah, terserak apa maumu"
Sarah membuka lemari itu lagi dan berlahan-lahan ia melihat lukisan itu lagi, "Ini benar-benar terlihat nyata, mobil yang hancur, tubuk yang terkulai lemah berlumuran darah, dan juga sayatan yang terletak di tubuh ini sangat terlihat nyata dan siapa anak kecil yang berdiri di tepi lukisan ini tanya Sarah pada Arra"
"Itu hanya lukisan"
"Tidak, ini bukan hanya sebuah lukisan tapi banyak lukisan, anak kecil ini terlihat begitu sedih melihat kecelakaan ini dan penyesalan tampak terlihat jelas dari wajahnya bahkan dari cara berdirinya saja tampak terlihat ia sangat terpukul" ucap Sarah tanpa menyadari Arra yang sudah berurai air mata di belakangnya "Kakak"ucap sarah melihat kebelakang
"Kau benar itu tidak hanya sebuah lukisan, orang-orang yang ada di lukisan itu adalah keluargaku Ayah, Nenek , Bibi, Paman. mereka semua meninggal karena aku, aku yang telah membunuh mereka, aku yang telah menyebabkan kecelakaan itu terjadi" rintih Arra terus berurai air mata
"Ka maaf aku telah membuat kakak mengingat kejadian itu, aku benar-benar minta maaf"
Arra terus menangis tanpa henti "Aku yang telah melakukannnya, kau yang telah membunuh mereka" ucap Arra terus menerus
__ADS_1
"Sudah ka, itu bukan salah kakak, itu adalah takdir, Allah sudah menakdirkan kecelakaan itu, jadi itu bukan salah kakak dan bagai mana mungkin kakak membunuh orang yang begitu kakak sayangi, tapi itu hanya sebuah takdir yang di perantarai oleh kakak dan itu sebuah sekenario dari Allah yang harus kakak jalani, jadi bukan kakak yang telah membunuh keluarga kakak, tapi itu kerena keinginan keluarga kakak sendiri yang sudah sangat merindukan Allah dan kakak sudah membantu mereka untuk mewujutkannya"
Berlahan tangis Arra mulai mereda
Sarah memapah Arra ke tempat tidurnya ‘’Kakak istirahat saja dulu, besok aku akan datang ke sini untuk belajar lagi dari kakak dan maaf telah membuat kakak sedih"
Arra tersenyum melihat ketulusan Sarah "Terima kasih"
"Harusnya aku yang berterimakasih pada Kakak yang tetap bersedia mengajariku yang sangat cerewat ini"
Arra tersenyum mendengar kata-kata Sarah
"Kalau begitu aku pulang dulu, Kakak beristirahatlah dengan nyaman" ucap Sarah mulai meninggalkan Arra akan tetapi ia berhenti tepat di depan pintu"
"Mmm, Ka, apa boleh aku membawa satu lukisan itu"
Arra terdiam, tidak menjawab perkataan Sarah
"Ah, lupakan aku hanya bercanda" ucap Sarah melihat ke engganan di wajah Arra dan ia mulai meninggalkan kamar Arra, tapi kakinya terhenti ketika ia mendengar ucapan Arra
__ADS_1
"Kamu boleh mengambilnya"
"Oh, teima kasih ka" ucap sarah, ia mengambil lukisan dan Sarah langsung pergi