
“Kiki, kau masih tidak mau bangun” Arra yang baru keluar dari kamar mandi kembali membangukan Kiki untuk yang kesekian kalinya
“Kiki !” Seru Arra melihat Kiki yang masih betah di tempat tidur
“Mmmmmmmm” lenguh Kiki panjang, menggeliat di atas kasur. Matanya tetap kukuh terpejam.
“Kau bilang ingin bertemu Customer pagi ini”
“Sebentar lagi, aku masih ngantuk, memang ini sudah jam berapa” tetap pada posisinya.
“Sudah jam tujuh”
“Jam tujuh” terkejut dengan perkatan Arra, kali ini Kiki sudah bangun dari tidurnya.
“Mandi sana”
“Kamu bangun cepat ?, tidak seperti dulu !” Kiki meraih handuknya menuju kamar mandi.
“Aku sudah terbiasa bangun cepat selama aku pergi” ucap Arra, sembari mematut diri dengan baju yang sedang dia kenakan.
***
Arra sudah berada di sebuah kafe, matanya mengitari penjuru ruangan mencari sosok yang akan dia temui. Di pinggir jendela kaca Arra melihat seorang pria bertopi bucket hat yang selalu menghiasi kepalanya. topi itu seperti sebuah ciri khas untuknya.
Lelaki itu melambaikan tangannya di saat mata mereka saling bertemu. Arra langsung melangkahkan kakinya kearah Lelaki itu.
“Maaf, kau sudah lam menunggu ?” tanya Arra sesampai di depan lelaki itu.
“Aku juga baru sampai” balasnya “Silahkan duduk, kau mau pesan apa”
“Aku pesan Lychee Mojito saja” ucap Arra setelah memeriksa daftar menu.
Lelali itu memanggil pelayan kemudian memesan dua Lychee mojito.
Awalnya mereka berbincang-bincang sebentar. Mengingat pertemuan mereka kemudian menceritakan kegiatan masing-masing beberapa waktu terkhir.
“Jadi, sudah berapa banyak lukisan yang sudah kamu selesaikan” tanya pemilik galeri mulai bertanya pada tujuan pertemuan mereka.
“Aku tidak tahu pasti” berpikir sejenak “ Tapi aku sudah memotret beberapa untuk menjadi pertimbangamu” Arra meyerahkan ponselnya. Menunjukkan lukisan yang dia potret tadi malam.
Pemilik galery itu memeriksa ponsel Arra. Senyumnya semakin mengembang di setiap dia melihat lukisan-lukisan Arra. “Aku memang tidak salah memilhmu” Komentarnya di slide akhir lukisan.
“Kau suka ?” Tanya Arra melihat reaksi lelaki itu.
“Tentu saja, aku sangat menyukainya” menatap Arra penuh kekaguman “Kau bisa mengirim lukisan yang ingin kamu pamerkan ke galeriku. Nanti kita akan kurasikan lukisan terbaih untuk di pamerkan, kemudian dari sekarang kamu bisa memikirkan tema dari pertunjukan pameren. Aku juga akan melakukannya. Di pertemuan berikutnya akan kita bahas” jelas lelaki itu panjang lebar.
Arra mengangguk setuju “ Baik” kemudian Arra teringat akan sesuatu “Boleh aku tahu namamu, selama ini aku hanya memanggilmu kamu atau kau. Karena kita akan bekerja sama untuk memerapa bulan terakhir akan sangat aneh jika aku tidak mengetahui namamu”
“Oh, ya. Aku belum memperkenalkan diri. Kita sudah berbicara panjang lebar tapi perihal nama saja kita tidak saling mengetahui”
__ADS_1
Lelaki itu merogoh tasnya, meraih sebuah domper kemudian mengeluarkan carik kertas kartu nama “ini, kamu bisa lihat sendiri, alamat galeri juga ada di sana, kamu bisa langsung mengirim lukisanmu ke alamat itu”
Arra menerima kartu nama yang diberikan pemilik galery, disana tertera nama Rama Adilla “Boleh aku panggil Rama ?” Tanya Arra kemudian.
Lelaki bernama Rama itu hanya diam, tetapi dari sorot matanya seperti mengharapkan sesuatu, Rama terus memandangi Arra Intes.
“Kenapa ?” Arra menyadari tatapan itu. sedikit canggung dibuatnya .
“Kamu tidak mengenalku”
“Ha” Arra tidak mengerti
“Kamu benar-benar tidak tahu siapa aku”
“Pemilik Galery, tempat karyaku akan di pamerkan” jawab Arra bingung.
“Aku seniormu di Kampus UNH” Rama melontarkan kalimat yang dari tadi ingin dia katakan.
Arra memegang tengkuknya merasa bersalah karena tidak mengingat orang yang mengaku seniornya itu “Aku tidak ingat” ucap Arra kikuk.
“Hahhh, padalah dulu aku adalah ketua Himpunan mahasiswa Jurusan The art”
“Ha...ha...ha...” Arra tertawa hambar karena benar-benar tidak tahu dan tidak ingat.
“Yaudahlah, lupakan saja masalah itu, yang terpenting sekarang kita adalah rekan bisnis”
“Santai saja, panggil seperti biasa saja. atau panggil Rama juga tidak masalah”
Arra tersenyum mendengarnya. Dia bersyukur karena orang yang akan dia hadapi nantinya bukanlah orang yang rumit.
“Sudah jam segini, saya harus pamit, masih ada orang yang harus saya temui” Rama menyadari waktu yang hampir terlewat.
“Menyenangkan bisa bicara denganmu”
Arra kembali tersenyum menjabat tangan Rama “Saya akan mengirim lukisannya segera”
“Ok, kalau gitu saya pergi dulu”
“Iya, sampai jumpa”
Arra melihat kepergian Rama meninggalkan cafe, dia melihat jam tangan sudah lewat jam makan siang. Di cafe ini tidak ada makan berat jadi dia tidak bisa makan di sini. Juga teman-temannya yang pasti sibuk bekerja. Akhirnya Arra memutuskan pergi ke kanto Zi.
Turun dari taksi Arra langsung menuju resepsionis. Senyum hangat seperti biasa menyambutnya.
“Kakak ada” tanya Arra.
“Pak Zi ada, beliau baru sampai”
“Oh ya, Kak Zi ke luar kota, bagaimana aku bisa lupa. Untuk sudah pulang” batin Arra mengingan obrolannya dengan Zi tadi malam, “Terimakasih” ucapnya kemudian berjalan menuju Life.
__ADS_1
Arra menyapa karyawan yang berpapasan dengannya, sesekali mereka mengajak berbicara. Hingga membuat Arra cukup lama agar sampai di ruangan Zi.
Sesampai di depan ruangan, Arra langsung membuka pintu kemudian duduk dan merebahkan tubuhnya di sofa “Kak, aku lapar” tidak memperdulikan Zi yang terkejut atas kedatangannya.
“Kalau lapar kenapa datang ke kantorku, pergi sana ke kantin perusahaan” menyenderkan tubuhnya di kursi.
“Aku ingin makan dengan Kakak”
“Aku sudah makan”
“Kalau gitu, pesan makanan untukku, aku mau makan disini”
“Kau---“ tidak bisa berkata apa-apa melihat Adiknya yang terlihat acuh . Zi kemudian meraih ponselnya kemudian memesan makanan capat saji.
“Terimakasih Kak !” seru Arra setelah Zi menutup telepon.
“Kau habis dari mana”
“Bertemu pemilik galery, tempat lukisan-lukisanku akan di pamerkan”
“Bagaimana hasil pertemuannya”
Arra menaikkan kedua bahunya “yaaah gitu” dengan wajah cuek “Tapi kenapa !, kemanapun aku pergi orang yang aku temui tetaplah orang-orang yang mengenaliku”
“Maksutmu”
“Pemilik galery itu adalah seniorku dulu di kamus, aku tidak habis pikir. Aku sudah pergi jauh untuk menghindar, tapi pada akhirnya aku tetap bertemu dengan orang yang mengenaliku”
“Itu artinya kau tidak perlu pergi jauh-jauh lagi. Disini saja”
“Iya, iya, aku tahu” Arra sedikit kesal dengan perkataan Kakaknya
Zi melihat Arra yang masih rebahan di sofa, bergantian dengan pekerjaan yang ada di hadapannya. Setelah berfikir, Zi meraik telephon dan menghubungi seseorang.
“Datanglah keruanganku” ucap Zi kemudian memutuskan sambungan.
Tak berapa lama seseorang mengetuk pintu. Mendengar hal itu, Arra langsung terbangun dan duduk dengan rapih di sofa. Tapi setelah melihat orang yang memasuki ruangn Zi, wajahnya langsung cemberut.
“Ku kira siapa” kembali membaringkan tubuhnya.
Faki terkejut melihat keberadaan Arra “Kenapa kau ada di sini”
“Memang tidak boleh” ucap Arra ketus.
“Boleh sih” menghentikan ucapannya “Nih” Menyerahkan kantung makanan “pengantar makanan tadi mencarimu”
Arra langsung bangkit demi melihat kantung makanan itu “ Terimakasih” ucapnya langsung menyantap makanan dengan lahap.
Kedua laki-laki yang ada dalam ruangan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Arra.
__ADS_1