INI HANYA BAYANGKU

INI HANYA BAYANGKU
Bayangan VS Reza


__ADS_3

 


Sesampai di apartemen Zi, Arra langsung memeluk Zi yang menunggunya. Hatinya masih berkecamuk tak menentu, dia masih bingung dengan keputusan yang akan dia jalani


 


Setelah Arra tenang Zi mulai berbicara “Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan, Kakak tau kamu sulit menerima semua ini, tapi apa yang sedang kau lakukan sekarang ini sedikit salah"


"Kenapa kakak tidak pernah memberitahu Arra tentang Mama"


"Jika Kakak memeberi taukan semuanya, apa kau akan baik-baik saja, bahkan kejadian sekarang ini sangat jauh dari bayanganku, Kakak tidak menyangka kamu akan seperti ini"


Arra menangis lagi "Selama ini aku bertahan dirumah itu karana aku tidak ingin meninggalkan Mama sendirian, walaupu Mama sering menyiksaku, tapi aku percaya suatu saat nanati Mama akan menyayangiku, tapi mendengar kanyataan Mama bukan ibu kandungku, seakan bom meledak di tubuhku, Arra tak percaya semua ini, Arra sangat ingin menentang kenyataan pahit ini"


"Terimalah kenyataan ini, jalani hidupmu dengan baik, sakarang kau sudah bersama Kakak"


"Tapi orang yang mengenalku selama ini, aku sudah membohongi mereka, aku tidak sangggup bertemu dengan mereka lagi"


"Jadi apa rencanamu selanjutnya" tanya Zi kemudian


"Kirimkan aku ke tempat yang jauh, tempat tidak ada orang yang mengenalku sebelumnya" ucap Arra


"Kamu yakin dengan itu, kau tidak akan menyesalinya, bagai mana dengan Kiki, Reza dan teman-temanmu yang lain, apa kau sanggup jauh dari mereka"


"Aku lebih tak sanggup bertatap muka dengan mereka lagi Ka, tolong kirimkan aku ke tempat yang jauh"


"Jika itu keputusanmu, akan Kakak lakukan"


"Terimakasih Ka"


Keesokan harinya Arra telah sampai di kampus, ia diantar sopir Zi, bertepatan dengan kedatang Reza, saat keluar mobil, Reza hanya menatap Arra sekilas, kemudian pergi meninggalkan parkiran, hati Arra sangat sakit melihat sikap Reza padanya, tapi apa yang sanggup ia lakukan, itu semua akibat ucapan menyakitkan yang telah ia lontarkan pada Reza


Hari ini pembicaraan mengenai Arra belum berhenti, mahasiswa yang lain mulai mengerumuninya, menanyakan perihal yang terjadi, anak-anak yang sering memukulinya kini menghindarinya.


Di kantin, kelas perpustakaan dan di tempat lain topik yang diperbincangkan adalah Arra si raja telat kini telah menjadi konglo merat.


Untuk menghindari topik panas itu, Reza memutuskan untuk menyendiri di ujung taman yang jauh dari kerumunan, ia asik membaca tanpa ada orang yang mengganggunya. Begitu juga dengan Arra yang memilih menjauh dari orang-orang.


Tidak jauh dari tempatnya duduk ia melihat Reza yang asik membaca. Matanya tidak lepas dari laki-laki itu


Di sudut taman yang berbeda terlihat Kiki dan Faki yang sedang berbicara “Apa yang terjadi dengan Arra, kenapa dia berubah seperti itu"


"Aku juga tidak tau datailnya, yang pasti Arra mengetahui jika Mama yang dia kenal selama ini ternya bukan Ibu kandungnya"


"Apa !"


"Ya, Mama yang selalu menyiksanya ternyata Adik dari Ibu kandungnya, yang menjadi pengganti setelah Ibu kandungnya meninggal"


"Tapi kenapa dia jadi seperti itu, sikapnya juga berubah, tidak seperti Arra yang kukenal"


"Aku juga tidak tau apa yang sedang dia pikirkan sekarang"


"Ini pasti terlalu sulit untuknya"

__ADS_1


"Iya, itu pasti sulit"


Keheningan menyelimuti mereka, sebenarnya dari minggu kemaren Kiki sangat ingin menanyakan sesuatu pada Faki tapi belum ada waktu yang tepat


"Boleh aku bertanya sesuatu” tanya Kiki sedikit ragu


"Mmm, mau nanya apa"


"Apa kau yang meminta Arra untuk melukis bunga sewaktu di Bali"


Faki terlonjak kaget mendengar perkataan Kiki, ia sangat gugup untuk menjawab pertanyaan sederhana itu


"Apa itu kau" tanya Kiki mengulangi


"Bagaimana kau bisa tahu"


"Aku juga anak seni, jadi aku junga mengerti pola abstrak yang ditulis Arra"


"Benar, itu aku" jawab Faki pasrah pada akahirnya


"Bukankah kau menyukai Arra" tanya Kiki


"Tidak aku tidak menyukai Arra aku menyukaimu"!ucap Faki mengusap wajaknya kasar menyadari perkataan bodohnya


Kiki yang mendengarnya juga ikut gugup, ia langsung meninggalkan Faki tanpa mengatakan apapun


H-1 sebelumkepergian Arra


Hanya ada kesunyian, tidak ada yang memulai pembicaraan


Kemudian terdengar di ujung sana suara Arra “Apa kau punya waktu, bisakah kita bertemu sebentar”


"Tidak, aku sedang sibuk" jawab Reza ketus


"Sebentra saja, ada yang ingin aku bicarakan"


"Katakan saja sekarang"


Mendengar penuturan Reza, Arra terdiam seasat "Aku ingin bertemu denganmu, aku ingin melihatmu, kutunggu di cafe" ucap Arra kemudian memutus panggilan


Di sebuah cafe Arra sudah menunggu Reza, satu jam tapi orang yang ditunggu tidak kunjung datang, saat Arra merasa Reza tidak akan datang, Arra melihat Reza muncul di balik pintu


Reza duduk di hadapan Arra, matanya tak lepas dari Arra begitu juga sebaliknya, dari mata mereka terlihat bahwa mereka saling merindukan, namun hanya pandangan itu yang mereka tunjukkan


"Bagaimana kabarmu" tanya Arra


"Baik"


Arra tersenyum mendengarnya “Maaf selama ini aku ---“ ucapan Arra terpotong mendengar perkataan Reza


"Kau siapa" ucap Reza, matanya masih tidak lepas dari Arra


"Aku...” ragu dengan ucapannya

__ADS_1


"Apakan Arra yang dihadapanku sekarang adalah orang yang kukenal, atau orang asing yang kutemui akhir-akhir ini"


"Aku..." mengalihkan pandangannya dari Reza "Aku, orang asing yang kau temui beberapa hari terakhir ini"


"Mmm" Reza memperbaiki posisi duduknya mendengar perkataan Arra “Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku"


"Aku minta maaf sudah memebohongimu selama ini"


"Kita baru bertemu, tidak ada yang perlu dimaafkan"


"Aku tau kau---“ ucapan Arra terpotong lagi


"Kau orang asing, jangan membahas hal yang tidak ada hubungannya denganmu" ucap Reza dingin


"Iya , aku tau, tapi aku ingin ---"


"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku pergi" ucap Reza kemudian meninggalkan Arra sendirian


Arra menggenggam tangannya erat menahan dirinya agar tidak menahan Reza, iya memaksa dirinya untuk melepaskan Reza, tertunduk lemah menahan air mata agar tidak menggenang di pipinya


Lama tertunduk, tak lama kemudian Kiki dan Faki sampai di kafe mengkampiri meja Arra


“Arra” Kiki memeluk Arra, pelukan hangat dari seorang sahabat yang menenangkan


“Bagaimana kabarmu, kau masih tinggal bersama Ka Zi” tanya Faki kemudian


“Mmm” jawab Arra singkat


“Kenapa memanggil kami ke sini, apa ada yang mau kamu bicarakan dengan kami, katakan saja, kami akan selalu mendukungmu” Kiki memulai percakapan serius


“Aku ingin melihat wajah kalian berdua, anggap saja aku sedang rindu”


“Kata-katamu sangat lucu untuk di dengar, ucapanmu seperti kita tidak akan bertemu lagi, padahal besok, bahkan kapanpun sekarang kita bebas bertemu, tidak ada yang menghalangi seperti dulu lagi, bukankah sekarang kamu sudah bebas” balas Kiki


“Bebas” Arra mengulangi perkataan Kiki


“bisakah aku merasakan kebebasan itu”


“Adapa apa denganmu, kau terlihat berbeda dan aneh” Faki menatap Arra seksama


Arra hanya tersenyum menanggapi, menutup matanya pelan kemudian merik nafas pelan, seperti sedang membuang beban berat yang sangat mengganggu hatinya, kemudian Arra meraik bingkisan yang tadi ia letakkan di samping bangkunya “Bisa kau berikan ini pada Reza”


“Apa ini, kenapa tidak kau saja yang memberikannya” Faki memeriksa bingkasan itu


“lukisan ?” tanya Kiki melihat ukuran bingiksan coklat itu


“Kau tau sendiri, beberapa hari ini Reza sedang marah padaku, dia bahkan tidak mau berbicara denganku, semoga setelah menerima dan melihat likisan ini dia mau memaafkanku”


Kiki menggenggam tangan Arra “Aku yakin dia akan mengerti, dan semuanya akan kembali seperti semuala”


“Benar, aku yakin Reza akan mengerti keadaanmu, kalian akan baik-baik saja”


“Bisakah” ucap Arra lirih

__ADS_1


__ADS_2