
Arra sudah membulatkan tekat untuk mengajak Kiki dan Ibunya tinggal bersamanya, agar rencananya tercapai Arra harus membujuk Ibu terlebih dahulu, jika Ibu sudah setuju Arra yakin juga akan setuju. Arra sengaja menemui Ibu terlebih dahulu sebelum Kiki, karena dia yakin Kiki akan menolak ajakannya. Oleh sebab itu Arra menemui Ibu terlebih dahulu.
Kini Arra sudah berada di depan rumah Kiki, dia cukup lama berdiri di depan rumah sebelum mengetuk pintu. Tidak menunggu lama, pintu rumahpun terbuk dan Arra mendapatkan pelukan hangat yang sudah lama dia rindukan.
“Anakku, akhirnya kamu pulang juga” peluk Ibu Kiki erat melepas rindu.
Arra membalas pelukan itu tak kalah erat “Aku sangat merindukan Ibu”.
“Kalau rindu, kenapa tidak pulang cepat. Orang tua ini sampai bosan mendengar jawaban Kiki yang tidak tahu keberadaanmu, Ibu pikir kamu sudah lupa jalan pulang”.
Arra memeluk ibu semakin erat “Ini aku pulang sekarang” ucap Arra, kemudian mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya “Ini untuk Ibu” menyerahkan kotak.
“Apa ini” membuka kotak dengan hati-hati, Ibu mengernyitkan dahi melihat isi dalam kotak.
“Itu oleh-oleh untuk Ibu, selendang pasmina dengan bawan wol dari Kashmir, India”.
Ibu menganggukkan kepalanya seolah mengerti, memperhatikan selendang itu dengan seksama kemudian mencobanya “Bagaimana, apakah cocok untuk Ibu” Ibu meminta pendapat Arra.
“Ibu terlihat semakin cantik”.
“Kamu bisa saja” melepas selendang kemudian melipatnya kembali “Kamu datang ke sini hanya untuk memberikan selendang ini” Tanya Ibu kemudian.
“Mmm” Arra menggelengkan kepalanya, jelas dia datang menemui Ibu bukan hanya untuk memberikan selendang “Arra ingin mengajak Ibu dan Kiki untuk tinggal bersama” jelas Arra kemudian.
“Tinggal bersama ?, disini ?”
Arra kembali menggelengkan kepala “Bukan Bu, tapi di rumah Arra, Aku sudah sejak lama ingin mengajak Ibu dan Kiki tinggal bersama, tapi belum ada kesempatan. Karena sekarang Mama sudah tinggal di Jepang, dan Arul juga lebih memilih bersama Ka Zi, jadi Arra hanya sendiri di rumah”.
“Kamu sebaiknya tinggal bersama Kakakmu saja, tidak baik sendiri. Ibu tidak bisa menerima ajakan Arra, lagi pula Kiki tidak akan setuju”.
“Rumah itu adalah tempat aku dibesarkan dari kecil, banyak kenangan di sana, Arra tidak bisa meninggalkan rumah itu begitu saja, Arra ingin merawat rumah itu sendiri” .
“Tapi Ra---“.
“Ibu masih menganggapku keluargakan, keluarga akan selalu bersama, saling menjaga satu sama lain. Arra ingin terus bersama Ibu dan Kiki, hidup seperti sebuah keluarga bahagia di rumah dan tempat yang sama” bujuk Arra “Atau Ibu memang tega membiarkanku di rumah itu sendiri”.
“Ibu akan memikirkannya, dan meminta pendapat Kiki juga”.
Arra menahan Ibu untuk kembali mendengarnya “Buuu, Ibu mau tinggal bersamaku ya, ayolah bu, aku sangat mengharapkannya” Arra semakin memelas, berusah sampai Ibu setuju dan jangan sampai di saat Ibu masih ragu, Ibu malah bertanya pada Kiki.
“Aku takut sendiri” ucap Arra sebagai bujukan pamungkas.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Ibu menyetujui “yasudah, kalau itu keinginanmu”.
“Dua-tiga hari ini rumah masih harus dibersihkan petugas kebersihan, jadi Ibu bisa beres-beres mulai hari ini. Minggu depan baru kita akan pindah” jelas Arra bersemangat.
Arra mulai membantu Ibu memsak di dapur, kemudian mereka makan siang. Arra cukup lama bersama Ibu hingga jam menunjukkan pukul 5.
Dering ponsel Arra mengalihkannya dari buku yang sedang dibacanya, tertera nama Reza di layar ponsel “Iya, halo”.
“kamu ada di mana, apa kamu sedang sibuk”.
__ADS_1
“Aku sedang di rumah Kiki, da tidak lagi sibuk” menjawab dua pertanyaan Reza.
“Bisa kita bertemu”
“Sekarang ?”
“Iya, ada yang ingin aku bicarakan”
“bicara sekarang saja”
Reza diam, tidak menanggapi perkataan Arra
“ Baiklah, mau bertemu di mana” ucap Arra kemudian karena Reza masih tetap diam
“aku kan menjemputmu”
“Kesini !, sekarang !”
“Iya, aku jalan sekarang”
“Kamu tidak kerja”
“Ini sudah jam pulang kantor”
“Ooo, ok” jawab Arra pada akhirnya
“Arra sudah mau pergi” tanya ibu keluar dari kamar, sepertinya ibu mendengar percakapanku tadi dengan Reza
“Tadi pagi, Kiki kasih tau Ibu kalau dia mau bertemu Klain di luar kota sama Faki, jadi dia akan pulang malaman”.
“Ibu tau Kiki dan Faki---“ tidak melanjutkan kalimatnya.
Ibu tersenyum, duduk di samping Arra “Tentu saja, sebelum pacaran Faki datang ke sini untuk minta Izin” jawab Ibu membelai rambut Arra, masih tersirat kerinduan dari belaian dan tatapan Ibu.
Arra memeluk ibu sayang “Arra sangat senang Ibu dan Kiki akan tinggal bersamaku”.
“Ibu juga” membalas pelukan Arra “Kamu anak yang baik, Ibu bersyukur, Kiki bisa mendapatkan teman seperti kamu”.
“Seharusnya Arra yang mengatakan itu, berkat Kiki, Arra bisa mendapatkan Ibu yang sangat menyayangiku”.
Arra melihat jam yang tertempel di dinding, sebentar lagi Reza akan sampai, dia meraih ponselnya kemudian mengirim pesan pada Reza “Aku akan menunggumu di gang rumah” meraih tas, kemudian pamit pada Ibu.
“Arra pergi dulu ya Bu”
“Hati-hati”
Aku memeluk Ibu untuk terakhir kalinya sebelum aku benar-benar pergi.
Menunggu Reza yang belum sampai di depan gang, sepertinya dia terjebak macet, memeriksa layar ponsel melihat jam, hampir 10 menit Arra menunggu mobil Reza baru terlihat mendekatinya.
“Maaf, kamu sudah lama menunggu” tanya Reza sambil membukakan pintu untuk Arra.
__ADS_1
“Tidak, aku baru sampai di sini” jawab Arra berbohong.
“Kita mau ke mana” tanya Arra setelah mobil berjalan meninggalkan gang.
“Nanti kamu akan tahu”
Arra mengalihkan pandangannya pada Reza, merasa aneh dengan nada bicara Reza yang terasa ganjil “Kamu kenapa” tanya Arra, mendapati wajah Reza yang terlihat bukan seperti orang yang ingin mengajak bicara.
Reza diam, tetap fokus mengendarai mobil.
“Kenapa dia sering sekali tidak menanggapi pertanyaanku” batin Arra sedikit kesal “Kau tidak mau jawab” Ucap Arra ikut memasang wajah ketus.
“Kenapa kamu menungguku di gang ?”
“Hah !” Arra tidak mengeti pertanyaan Reza.
“kamu bisa menunggu di rumah, kenapa harus menunggu di gang”
“Aku hanya tidak ingin---“ diam tidak melanjutkan perkataannya.
“Apa karena kejadian waktu itu ?”
Arra tidak menjawab.
“Ternyata benar, jadi kamu berpikir aku akan merasa jijik jika datang ke rumah itu”.
Arra masih diam, dia memang memikirkan hal itu. Karena tidak ingin Reza memaksakan diri datang ke rumah makanya Arra meminta bertemu di gang.
“Apakah menurutmu aku sehina itu”.
Masih tetap diam.
“Arra !, aku tidak pernah merasa jijik datang kesana---“
“Kau mengatakan itu, mungkin karena kau sudah tau aku yang sekarang, jika aku masih Arra yang dulu mungkin kamu tidak akan disini, kamu sudah bersama dengan orang lain, atau mungkin bersama Mia”.
Reza menatap Arra tak percaya “Bisa-bisanya kau mengatakan kal seperti itu”.
“Apakah aku salah, sedari awal kau memang menganggapku hina, hubungan kita juga hanya sebuah percobaan”.
Reza menepikan mobil, semakin tak percaya dengan perkataan Arra “Kau anggap aku ini apa” sedikit meninggikan suaranya.
“jiak kau tidak keberatan, mungkin teman atau teman Kampus”.
“Kenapa kau sangat jauh berubah sekarang”reza mengacak rambutnya dengan jari.
“Apa yang kau harapkan, aku memang seperti ini, sudah jelas aku katakan orang yang dulu kau kenal hanya bayangan” Arra diam sesaat “Sejak kita bertemu lagi aku terus mengatakan tantang perubahanku, aku yang sudah jauh berubah. Aku tidak berubah, inilah aku yang sebenarnya, jadi mulai sekarang buang saja Arra yang dulu”.
Reza diam memejamkan mata,menahan sesuatu yang ingin meluat dari hatinya, sangat sesak menengar setiap perkataan Arra “Hal yang ingin aku bicarakan kita tunda saja, aku akan mengantarmu pulang” ucap Reza setelah menenangkan hatinya.
Kesunyian menyelimuti mereka beruda setelah perdebatan sunyi itu, tidak ada yang bicara, mereka berdua sibuk dengan pikiran masing masing.
__ADS_1
Sesampai di depan apartemen Zi, Arra turun dari mobil, kemudian pergi meninggalkan Reza, mereka tetap bertahan mengunci mulut masing-masing hingga akhir.