
Matahari kembali menyapa seperti hari-hari sebelumnya, tapi bagi Arra pagi ini sanngat jauh berbeda dengan hari biasanya selama tiga tahun ini. Kini sudah ada yang meneriaki namanya untuk segera bangun. Kini sudah ada yang memasak makanan untuknya, kini sudah ada orang yang kesal padanya karena memiliki lebih banyak porsi darinya. “Ternyata seperti ini lebih baik” batin Arra
Di meja makan Ka Zi sudah rapi akan berangkat ke kantor, sedangkan aku dan Arul masih dengan muka kusut sambil memakan sup cream, karena Arul masuk siang jadi dia masih ingin melanjutkan tidurnya setelah makan, sedangkan aku memang tidak ada rencana hari ini
“Kudengar, dua bulan lalu kau bertemu dengan Mama” tanya Zi sambil menyantap sup cream yang ada di depannya
“Mmm”
“Apakah sekarang sudah lebih baik”
“Mmm”
“Kau tidak mau tinggal di sini saja, jika tetap disana kau mungkin akan teringat masa itu lagi, kau sendirian disana”
“Tidak ka, aku sudah lebih baik, lagi pula aku tidak sendiri, aku berencana mengajak Kiki dan orang tuanya tinggal denganku”
“Kau yakin” yanya Zi memastikan
“Mmm”
“Baiklah, kakak yakin kau sudah memikirkannya matang matang”
Setelah sarapan selesai Zi langsung berangkat ke kantor, sedangkan Arul menuju kamarnya untuk melanjutkan tidur yang tadi di paksa bangun oleh Ka Zi, dan aku sendiri di ruang tamu menonton acara TV. Tidak ada yang akan kulakukan hari ini
Tatapan Arra langsung baralih dari TV menatap ponselnya yang berdenting mendapatkan sebuah pesan
Pesan grub, di dalam grup itu ada Arra, Kiki, Faki, Riki dan juga Reza
“Aku ingin bertemu denganmu” pesan dari Kiki.
“Hei, kau sudah pulang” sambung Riki
“Iya, aku sudah pulang, ayuk kita bertemu” balas Arra
“Kita makan siang barang, semua bisa kan” sambung Faki
“Bisa” Kiki
“Ok” Riki
“Reza gimana” kembali Kiki memberi pertanyaan
“Dia sepertinya sedang sibuk, kalau gitu kita makan siang di kantornya saja” sambung Faki
“Sebaiknya kita jangan mengganggunya” Balasku
“Tidak apa, dia pasti sangat senang jika kita datang kesana” Faki
“Yasudah, ada yang bisa menjemputku di apartemen ka Zi” balasku kemudian
__ADS_1
“Aku akan menjemputmu”jawab Riki
“Ok, aku tunggu”
Aku melihat jam, kemudian segera mandi dan bersiap-siap sebelum Riki datang menjemput dan jangan sampai dia menunggu terlalu lama. Tepat setelah Arra selesai menghias diri, Riki mengirim pesan bahwa di sudah berada di bawah. Arra segera turun dan menemui Riki
“Kau sangat berbeda, kupikir tadi kau orang lain” ucap Riki setelah Arra masuk kedalam mobil”
“kau berharap orang yang masuk kemobilmu ini gadis kumal yang selalu telat ke kampus”
“Bukan begit, hanya saja Rambut pendekmu, dan kulit gelapmu membuatmu sangat berbeda”
“Apakah lebih cantik”
“Kau dari dulu tetap cantik”
“Bohong, dulu kau sering menghinaku”
Riki terdiam sesaat, menyadari perkataan Arra memang benar “lupakan perkataanku dulu, aku mengaku salah” sambung Riki
Arra tertawa mendengarnya, selama perjalanan mereka terus bercerita hingga mereka sampai di kantor Reza.
“Faki dan Kiki belum sampai juga, dan sepertinya Reza belum melihat pesan, sebaiknya kita ke atas dulu menemui dia” ucap Riki setelah memeriksa ponselnya
Arra dan Riki menaiki mobil, beberapa karyawan menyapa Riki yang notabennya sering datang dan kerjasama denag kantor Reza
“Kau terkenal juga” ucap Arra setelah keluar dari Life
Tak jauh dari mereka, Reza terlihat sedang rapat dengan berapa karyawan, dan saat Reza menyadari kedatangan mereka ia langsung menghentikan Rapat. Saat akan keluar ruangan seorang karyawan wanita tampak menguntit Reza dari belakan, tampak jelas dia sedang berusaha mendekati Reza
Arra tersenyum melihatnya, ia mengingat sekapnya dulu hampir sama dengan wanita itu saat mendekati Reza
“Kalian sedang apa disini, kenapa tidak mengabariku” tanya Reza setelah berada didepan Riki dan Arra
“Kau tidak melihat ponselmu”
Reza mencari dan merogoh sakunya dan tidak mendapati ponselnya “Sepertinya ada di dalam kantor, dari pagi kami rapat jadi aku tidak sempat melihat ponsel”
“Jangan terlalu memaksakan diri, bukankah sudah tidak ada yang mengganggu Pikiranmu” sambung Riki, mengisyaratkan bahwa orang yang mengganggu pikiran Reza sudah ada di sampingnya
Reza hanya diam, sedangkan Arra asik memperhatikan suasana kantor Reza dan sedikit canggung saat dia bertatapan dengan Wanita yang ada di samping Reza “Sepertinya dia tidak suka padakau” batin Arra
“Ayo ikut dengan kami kebawah, kita makan, sepertinya Faki dan Kiki sebentar lagi juga sampai” ucap Riki
“Aku ikut” wanita itu kembali mengikuti Reza
“Maaf nona Mia, ini acara reoni kami, orang luar tidak bisa ikut” tolah Riki sedikit menohok
Terlihat wajah kecewa dari wanta yang bernama Mia itu, kemudian dengan terpaksa menjauh dari Reza
__ADS_1
“Sepertinya hidupmu tetap tidak bisa tenang meski aku sudah pergi” Ucap Arra saat mereka masuk kedalam life
“Aku akan senang jika itu kau” gumam Reza yang tidak bisa di dengar Arra tapi bisa di dengar Riki
“Kau ingin Arra mengganggumu seperti dulu lagi” bisik Riki
“Apa yang sedang kalian bicarakan” ucap Arra melihat dari pantulan life Reza dan Riki yang sedag berbisik
“Tidak ada, abaikan saja, yuk keluar”
Disudut rangan terlihat Faki dan Kiki telah menempati meja yang cukup untuk lima orang, Arra, Reza dan Riki menghampiri mereka, pelayan datang memberikan tab menu, merekapun memilih menu kemudian menunggu pesanan datang. Saat tadi merka sampai Kiki langsung memeluk Arra erat, meluapkan segala kerinduannya
“Akhirnya kau pulang juga, aku Pikir kau pergi paling lama hanya satu tahun ternyata kau baru pulang setelah tiga tahun, betah sekali di negeri orang” Kiki mulai mengungkapkan isi hatinya selama ini
“Aku malah tidak menyangka bisa secepat ini” jawan Arra
“Maksutmu kau berencana ingin pergi lebih lama lagi” tanya Faki tak percaya
“Kurasa aku terlalu pengecut untuk bertemu kalian semua”
“Jangan pergi lagi” sambung Reza kemudian yang suskses membuat Arra terkejut
“Iya, aku tidak akan pergi” balas Arra setelah meyakinkan dirinya bahwa Reza hanya sekedar mengatakannya saja tidak bermaksut apa-apa
Riki menyenggol bahu Reza menggoda lelaki itu, senyuman Faki juga terlihat sangat lebar terarah pada Reza, mereka tidak menyangkan sahabat mereka itu akan mengatakan hal seperti itu terus terang, hati sekeras batu dan sedngin Es yang dimiliki Reza dulu sekarang benar-benar telah hanjur, hilang menjadi hati yang rapuh mudah tergoyah karena takut kehilangan
“Ternyata kalian makan disini” Mia tiba-tiba datang ke meja mereka kemudian duduk anggun seakan menjadi orang yang diharapkan di meja itu
“Hai nona Mia, bisa kau pergi tinggalkan kami, kami ingin privasi” Riki angkat suara
“Katanya mau reoni, tapi kalian berempatkan selalu bersama, reoni apaan, hanya orang ini yang bertambah” Mia berkata manja sambil menunjuk Arra sedikit kesal
Melihat tangan Mia menunjuk tepat di wajah Arra mebuat Reza marah “Jaga sikapmu, pergi menjauh tinggalkan kami” Ucap Reza menyingkirkan tangan gadis itu dari hadapan Arra dengan kasar
Dengan kesal Mia meninggalkan meja itu, menuju teman-temannya, tak lupa Mia melempar tatapan tajam pada Arra, menunjukkan dengan jelas ketidaksukaannya atas kehadiran Arra di sekitar Reza
“Kenapa kalian kasar sekali pada gadis itu, kasihan, tidak apa-apa jika dia ingin bergabung bersama kita” ucap Arra setelah kepergian Mia
“Dia hanya akan mengganggu, dan menyusahkan Reza” balas Riki
Arra terdiam memikirkan apa yang telah ia lakukan dulu pada Reza “ Berarti ini yang mereka rasakan dulu saat aku sering mendekati Reza, menganggapku seperti pengganggu diantara mereka” batin Arra
“Apa yang kau pikirkan” ucap Reza sedikit keras menyadari perubahan wajah Arra “jangan samakan dirinya dan dirimu, itu sangat jauh berbeda”
“Aku pasti lebih mengganggu”
“Aku tidak keberatan jika kamu melakukannya lagi” balas Reza
“HA...HA...HA...candaanmu lucu sekali” tawa Arra kikuk mendengar perkataan Reza. Sedangkan Riki dan Faki terlihat terseyum senang melihat perubahan Reza yang lebih terbuka
__ADS_1
“Sudah-sudah, yuk makan kalau, kalau makanannya dibiarkan begitu saja nanti akan dingin dan tidak akan enak lagi” Kiki menegahi perbincangan Arra dam Reza