
Arra dan Kiki sudah tiba di bandara soekarno, mereka menunggu Faki yang tadi di beri tahu Arra bahwa mereka pulang hari ini dan minta tolong untuk di jemput di bandara, sekian lama mencari-cari akhirnya Faki muncul juga, Arra yang memakai tongkat memanggil Faki, Kiki sedikit heran kenapa Faki bisa ada di sana
"Kenapa dia ada di sini" tanya Kiki
"Aku yang memberi taunya kalau kita pulang hari ini"
"Kenapa harus memanggilnya, kan kita bisa naik taksi"
"Biar gratis, memang kenapa sih, sepertinya kamu kesal sekali padanya"
"Bagaimana tidak kesal, kamu tahu sendiri bagaimana sikap teman-temannya padamu, aku tidak suka jika melihatmu dekat-dekat dengan mereka"
"Itu kan temannya, Faki berbeda" bela Arra
Faki tiba di hadapan mereka "Kamu kenapa?, Apa yang terjadi padamu?,kenapa kamu memakai tongkat?"
"Ah, aku tergelincir, ini hanya luka biasa, besok juga sembuh, mana mobilmu ?"
"Selau saja seperti itu" gerutu Kiki
Faki hanya tersenyum, "Di sana, ayo" Faki membawa barang bawaan Arra dan Kiki "Tapi---"
"Ini aku saja yang bawa" potong Kiki, mengambil lukisan yang diberikan Arra sewaktu di Bali
"Itu bunga dari seseorang" ucap Arra sambil melangkah terlebih dahulu
Faki melihat lukisan yang di tangan Kiki, kemudin tersenyum
Disaat mereka sudah sampai di dekat mobil, jendela mobil terbuka dan disana terlihat Reza dan Riki yang sedari tedi menunggu mereka, Arra terkejut melihat Reza dan Riki sedangkan Kiki memperlihatkan wajah tidak sukanya pada mereka
__ADS_1
"Tadi kami baru pulang kantor Papa, jadi sekalian ke sini sama mereka" ucap Faki menjelaskan
Reza yang duduk di bangku depan tetap fokus pada gemesnya, sedangkan Riki langsung nyerocos melihat Arra dan Kiki
"Hai kau, katanya mau jemput seseorang, kenapa malah cewek-cewek aneh ini" tanya Riki pada Faki"
Emang kamu fikir kami bukan orang" balas Kiki
"Kalian di belakang ya, Riki geser"
"Apa ?, mereka mau duduk disini"
"Jadi mau di mana lagi, kalau kamu tidak suka, kamu turun saja"
Riki dengan wajah kesalnya bergeser memberikan tempat duduk pada Arra dan Kiki
Arra dan Kiki masuk ke mobil, sesaat hening kemudian Riki memecahkan keheningan tersebut
"Bukan urusanmu" balas Kiki
"Aku tidak bertnya padamu"
"Aku tahu, tapi dia temanku jadi terserahku"
"Omong kosong"
"Terserah kamu mau bilang apa"
"Hei kalin bisa diam tidak" ucap Reza dingin
__ADS_1
"Tidak" ucap Kiki kesal
"Sialan"
"Apa"
"Ki, diamlah aku ngantuk" ucap Arra melerai perkelahian mereka
"Ahhh, tidurlah"
Arra memejamkan matanya, suasana di mobil itu jadi hening kembali, Kiki yang merasa bosan ikutan memejamkan matanya, sedangkan Riki mengotak atik ponselnya, Faki yang menyetir sesekali melihat Kiki dari kaca spion dan ternyata Reza juga melakukan hal yang sama, ia terus melirik Arra yang tertidur
Sekitar 15 menit kemudian Arra membuka matanya, ternyata dia haya memejamkan mata, karena merasa bosan juga, ia mengambil buku sketsa dari dalam tasnya, saat Arra sedang asik menggambar tiba-tiba Kiki yang terlelap menyenggol kaki Arra dengan keras
"Au, ah’’ rintih Arra
Faki yang mendengar rintihan Arra khawatir, ia langsung membangunkan Kiki yang masih bernostalgia dengan mimpinya
"Bagaimana ini, kita harus membawanya ke rumah sakit" ucap Kiki menyadari apa yang telah ia lakukan
"Tidak perlu, hanya tersenggol sedikit"
"Tapi kakimu berdarah, teriak Kiki kesal dengan sikap Arra"
Reza yang duduk di depan masih tetap bersikap tidak peduli walau keributan terjadi di dalam mobil
Arra yang sedari tadi hanya diam dan berusaha tidak perduli dengan keberadaan Reza, akhirnnya buka suara untuk membuat Reza kesal
"Baik aku akan ke rumah sakit, tapi aku hanya mau ke rumah sakit Medika" ucap Arra sambil menatap Reza datar
__ADS_1
"Bruk" Reza langsung membanting ponselnya mendengar perkataan Arra
Arra seolah tidak perduli menyandarkan tubuknya kembali dan memejamkan mata