
Arra merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, memikirkan perdedatannya tadi dengan Reza “Apakah aku keterlaluan, seharusnya aku tidak mengatakan hal bodoh seperti itu” menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Setelah membersihkan diri Arra masih memikirkan Reza, rasa bersalah masih membelenggu hatinya “Aku tidak mengatakan hal yang salah, tapi kenapa aku merasa sangat bersalah padanya” lirih Arra, melihat pemandangan kota saat malam hari dari apartemen.
“Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya, tapi kenapa masih terasa sesak” menekan dadanya yang terasa berat.
“Ini tidak bisa dibiarkan” ucap Arra kemudian meraih ponsel di atas meja, mencari nama Kiki di layar ponselnya, kemudian menghubungi Kiki, sambungan terdengar.
“Kiki” ucap Arra setelah ponselnya tersambung pada Kiki.
“Apa yang kamu katakan pada Ibu, kenapa Ibu mengatakan ingin pindah ke rumahmu” tanya Kiki pada Arra, tanpa memberi jeda.
Kiki memang ingin menghubungi Arra setelah mendengar ucapan Ibunya tadi. Tapi ternyata Arra lebih dulu menghubunginya.
“Bisa kita bicarakan itu nanti saja” Arra tidak menanggapi perkataan Kiki, dia tidak ingin membicarakan hal lain saat ini, urusan hatinya yang sesak ini harus diselesaikan sekarang.
“Kamu kenapa” tanya Kiki menurunkan intonasi suaranya.
“Tadi aku bertemu Reza”
“Kalian bertemu lagi hari ini” seru Kiki senang, berbeda dengan Arra yang terdengar lesu “Tapi kenapa suaramu seperti itu” tanya Kiki kemudian.
“Kami tadi sempat berdebat”
“Berdebat !, kenapa ?, apa kamu membuat masalah”
“Kenapa aku ?” tanya Arra karena Kiki terdengar menyalahkannya.
“Karena Reza tidak mungkin melakukan hal itu”
“Kamu bilang Reza tidak mungkin melakukan hal itu” Arra tidak percaya mendengar perkataan Kiki “Kamu lupa dulu dia sering sekali mencari masalah dengaku” protes Arra.
“Itu kan dulu, sekarang tidak mungkin melakukan hal yang akan menyakitimu”
Arra mengernyitkan dahinya mendengar pekataan Kiki “Maksurtu apa”
“Lupakan” tidak menjawab pertanyaan Arra “Jadi apa yang kalian perdebatkan” tanya Kiki.
Arra menceritakan perdebatannya dengan Reza dari awal hingga akhir “Aku memang sedikit kasar mengatakan hal itu padanya tapi itu memang benar” sambung Arra di ujung ceritanya.
“Astaga !” tak percaya dengan pemikiran Arra “Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, dulu dia memang pernah pergi sebelum masuk ke rumah, tapi dia tidak berniat meninggalkan rumah karena jijik tapi memag haus menjemput adiknya waktu itu”.
“Bagaiman kau bisa tahu”
“Faki yang mengatakannya dan Reza sudah beberapa kali datang kerumahku selama kau pergi” jelas Kiki.
“Tidak mungkin” Arra tidak percaya.
__ADS_1
“Terserah mau percaya atau tidak. Tapi aku bingung, kenapa kau tidak senang mendengar ucapanku. Seharusnya kau senang karena itu tandanya Reza tidak pernah melupakanmu”.
“Jangan bicara sembarangan, aku sudah melupakannya, jangan ungkit lagi masalah yang dulu”.
“Benarkah, kau sungguh sudah tidak memiliki perasaan pedanya”.
“Tentu saja, jika perasaan itu masih ada, aku tidak mungkin ada di sini sekarang”.
“Kamu serius” Kiki tidak yakin dengan perkataan Arra.
“Iya, aku seris” Arra meyakinkan.
“Huhhh” menghembuskan napas berat “Itu pilihanmu, aku akan mendukung apa pun keputusanmu”.
“Termasuk pindah kerumahku” ucap Arra mengambil kesempatan dari perkataan Kiki.
“Itu beda cerita” tolak Kiki “Aku dan Ibu tidak akan pindah”.
“Kenapa”
“Aku tidak ingin menyusahkanmu, aku tidak ingin kau merasa bertangng jawab atas aku dan Ibu”.
“Aku sendiri sekarang, Ibu di Jepang, Kakak dan Arul lebih memilih di apartemen. Hanya aku satu\-satunya yang mau tinggal di rumah. Rumah seluas itu tidak mungkin dihuni oleh satu orang”.
“Tetap saja aku tidak mau”
“Ayolah, Ibu sudah setuju”
“Kau baru mengatakan akan menerima semua keputusanku, kau dan Ibu tidak mungkin menjadi beban, aku yang membutuhkan kalian bukan sebaliknya”.
“Raaa” Kiki mencoba menghentikan perkataan Arra yang mulai menggoyahkan pendiriannya.
“Sudah sejak lama kau ingin melakukan ini, tolong terima saja permintaaku” Arra mengutarakan harapannya.
“Kau memang keras kepala, baiklah aku terima tawaranmu, tapi dengan satu syarat, di rumah itu hanya ada kita bertiga”.
“Ok”
“Tidak ada pembantu atau semacamnya, hanya kita bertiga” tegas Kiki melanjutkan ucapannya
“Siapa\-\-\-“
“Kita bertiga, bukankah dulu kau juga melakukannya” potong Kiki mengetahui apa yang akan Arra katakan”.
“Sebenranya aku tidak ingin melakukan itu, aku ingi Ibu benar\-benar istirahat di rumah. Tapi jika hanya itu yang bisa membuat kalian mau bersamaku aku bisa apa”
“Kalau kau setuju, aka dan Ibu akan ke sana minggu ini”
“Iya, aku setuju” ucap Arra, merasa sedikit berat menyetujuinya.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa” Kiki memutuskan sambungan.
***
Reza berjalan dengan wajah memerah karena menahan kesal, orang-orang yang dia lewati merasa heran dengan tinkahnya. Reza tidak perduli, dia terus berjalan pada sebuah ruangan. Tempat untuk meluapkan kekesalannya.
“Sedang apa kau di sini” tanya memilik ruangan saat Reza memasuki ruangannya.
“Aku bertengkar dengan adikmu” ucap Reza pada Zi yang sibuk memeriksa laporan.
Zi menghentikan kegiatannya mendengar perkataan Reza “Masalah apa yang kalian pertengkarkan, dia baru dua hari di sini” Zi tidak percaya.
“Dia memandangku hanyalah seorang ********, orang yang hina, bisa\-bisanya dia menganggapku seperti itu” ucap Reza menggebu\-gebu.
“Pelan\-pelan saja ceritanya” Zi menenangkan “dia tidak akan berpikiran seperti itu”.
“Tapi itu kenyataannya, dulu dia hanya diam saat dihina oleh orang\-orang. Tapi sekarang bahkan aku tak ada niat untuk menghinanya dia sudah menganggapku orang yang menjijikkan” Reza merebahkan tubuhnya di sofa “Dia sangat jauh berubah sekarang” keluah Reza.
“Dia memang sedikit berbada, sekarang dai lebih peduli pada dirinya, lebih membuka hatinya pada orang lain, tidak seperti dulu yang menyembunyikan dirinya di belakang Kiki”.
Reza mendengarkan perkataan Zi yang kini sudah duduk di depannya.
“seperinya disetiap perjalanannya tiga tahun ini banyak memikirkan berbagai hal, hingga dia berubah menjadi Arra yang berbeda, perubahannya itu bahkan dia tegaskan pada penampilannya, penampilan yang menggambarkan kebebasan”.
“Ka, apakah aku sia\-sia menunggunya tiga tahun ini, sepertinya sudah tidak ada perasaan itu pada dirinya” bangan berlahan menatap Zi penuh harap.
Zi mengangkat bahunya tidak tau “itu, hanya bida di jawab oleh Arra sendiri”.
Reza merundukkan kepalanya menatap lantai, kemudian memegangi kepalanya yang tidak pusing.
“sudah, ayo bangun, kau haus pulang, sudah malam” menarik Reza agar keluar dari kantornya.
“Adikmu itu membuatku benar\-benar gila”
“Kalian berdua sama\-sama gila”
“Aku ingin bertemu dengannya”
“Besok, kau harus pulang sekarang”
“Huufff” Reza menghembuskan nafas berat “Baiklah, aku pulang sekarang, Ka Zi juga harus pulang sekarang” ucap Reza meninggalkan Raung Zi. “samapaikan salamku untuknya, katakan aku sangat merindukannya”.
“Apa kau mabuk” heran dengan tingkah Reza “ Suah sana pulang”.
Reza melambaikan tangannya, Zi terus melihat kepergian Reza sampai pintu life tertutup.
__ADS_1