
"Aku lelah sekali.huff" ucap Nita yang nampak berjalan gontai memasuki rumah.
"Kau bisa langsung istirahat,nanti malam kau ikut aku." ucap Juan memberitahu.
"Hah? ikut kemana? apa harus ikut? males ah, aku capek.!" timpal Nita sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tidak ada penolakan! kamu tetap harus ikut. Ini berkaitan dengan perusahaan." jelas Juan.
"Haish, urusan apa sih? lagi pula aku tidak mengerti apapun tentang perusahaanmu itu. Sudahlah,kamu urus sendiri saja, biasanya juga aku gak perlu berurusan." sambil membalikkan badan bersiap meninggalkan Juan.
"Aku punya penawaran bagus, aku yakin kau tidak akan menolaknya." ucap Juan denan suara keras, bermaksud mempengaruhi Nita.
"Tidak akan mempan! tidak ada yang lebih berharga buatku saat ini selain tidur secepatnya." jawab Nita masih tetap dengan pendiriannya,berjalan menuju kamarnya sambil mengibaskan tangannya.
"Paspor, dan semua kartu identitas mu akan aku berikan padamu. Kamu bebas menyimpan nya,dan aku pastikan tak akan mengambilnya lagi." ucap Juan lantang dan jelas.
Nita berhenti sejenak mendengar perkataan Juan. Terdengar sangat meyakinkan dan serius, namun ia tak mau begitu saja percaya apa yang dikatakan Juan. Karena tidak mungkin Juan akan dengan mudah memberikan semua kartu identitasnya.
"Sudahlah, aku tidak akan termakan bualanmu itu.ck."
"Ini.!" ucap Juan sambil melemparkan tas kecil ke arah Nita dan jatuh tepat di hadapan Nita. Sontak Nita pun menghentikan langkahnya, matanya membelalak tak percaya dengan apa yang dia lihat. Tas miliknya, tas tempat ia menyimpan paspor dan semua kartu identitas nya. Reflek ia mengambil tas itu dan membukanya. Benar saja, isinya sama persis dengan apa yang ada dalam pikiran nya.
"Ini?" ucap Nita sambil menoleh pada Juan.
"Ya, aku serius dengan ucapan ku. Kau boleh menyimpannya. Lagi pula itu milikmu." Ucap Juan jelas.
"Hah? Benarkah?" tanya Nita yang masih tak percaya.
"Hem" jawab Juan lagi.
"Yeayyy.." teriak Nita kegirangan.
"Dengan satu syarat!" ucap Juan menghentikan sorak Nita.
"Heh,sudah ku duga. Pasti ini tidak gratis. huft.." keluh Nita.
"Tidak sulit kok." jawab Juan.
"Iya,iya..apa?"
"Jangan coba-coba meninggalkan negara ini sebelum perjanjian kita selesai." ucap Juan.
"Baik. Tapi tidak lebih dari satu bulan.Kalau tidak maka aku akan mengatakan sejujurnya pada kakek dan nenek. Tidak ada penawaran.!"
"Baik. Aku setuju." jawab Juan.
"Ah, dan lagi. Jangan usik urusan pribadi ku. Kalau tidak mau urusan pribadi mu juga akan ku usik. Dan, tidak ada kontak fisik selain bergandengan tangan. Jadi, mulai sekarang kamu wajib menjaga jarak denganku. Terutama di depan umum, ingat hanya boleh bergandengan tangan,alias sentuhan tangan. Tidak yang lain.!" Jelas Nita.
"Cih, memangnya aku se suka itu menyentuh mu hah? ckck." Timpal Juan.
"Pokoknya kalau sampai kamu melanggar maka aku akan membongkar kebohongan mu dan langsung pergi dari sini. Aku tidak peduli lagi dengan nenek atau lainnya.week."
"Baiklah, aku terima semua permintaan mu. Dan itu pun berlaku untukmu. Jangan ganggu urusan pribadi ku dan jangan berani-berani mencoba untuk menyentuh ku tanpa ijin."
"DEAL!" Ucap Nita sambil mengulurkan tangannya bermaksud meminta jabat tangan dengan Juan tanda mereka telah menyepakati perjanjian mereka.
"Ok,DEAL" Ucap Juan dengan menjabat tangan Nita.
"Baiklah,kalau begitu aku tidur dulu." ucap Nita sambil melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
"30 menit lagi akan ku bangunkan." ucap Juan mengingatkan Nita.
"Apa??? yang benar saja.!" protes Nita.
"Tidak ada penawaran, karena ini bukan urusan pribadi. Selamat istirahat." ucap Juan acuh lalu meninggalkan Nita yang tengah kesal.
"Aaarrgghh,Harusnya tadi ku tambah lagi penawaran ku. Sial,bodoh!" ucap Nita sambil menyesali diri sendiri.
Satu jam kemudian
"Bangun!!!" teriak Juan sambil menarik selimut Nita. Namun Nita terlihat masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur nya. Ia malah menutup telinga nya dengan bantal.
Juan sudah mulai tak sabar melihat Nita, pasalnya sudah 20 menit ia mengetuk pintu kamar Nita namun tak ada respon,hingga terpaksa ia masuk ke kamar itu dan membangunkan Nita bagaimanapun caranya.
"Jangan salahkan aku jika aku menggunakan cara kasar.! hitungan ke tiga tidak bangun maka rasakan hukuman ku.!" ucap Juan memperingatkan.
"heeemm" respon Nita yang tak peduli pada Juan. Baginya saat ini ia benar-benar ingin tidur.
"Satu....dua...." Juan mulai menghitung dan berhenti di hitungan ke 2 sambil melihat pergerakan Nita.
"Tetap tidak mau bangun?! Oke, Tiga.!!" Juan menyelesaikan hitungannya dan tanpa menunggu lama,ia langsung bergerak. Di buka nya bantal penutup kepala Nita, dan langsung mengangkat Nita di pundaknya.
"Hei,apa yang kau lakukan??!! Jua, turunkan aku!! mau dibawa kemana aku?!! lepas!!" teriak Nita sambil meronta, memukul punggung Juan. Namun Juan tak bergeming. Ia tetap membawa Nita hingga masuk ke kamar mandi. Menurunkan Nita di bathup dan menyalakan kran hingga mengguyur Nita.
Nita yang tak ada kesempatan meloloskan diri pun hanya bisa kesal dan memaki Juan karena tindakannya.
"Juaaann!!!!!" teriak Nita, dengan mata yang penuh amarah.
"Cepat mandi!" ucap Juan sambil berjalan keluar kamar mandi tanpa sedikitpun ekspresi menyesal dengan perbuatannya.
Berbeda dengan Nita yang sangat kesal dan marah. Nafas amarahnya memburu seolah harimau yang siap menerkam mangsanya, namun apalah dayanya. Bajunya sudah basah, tak mungkin ia keluar memberi perhitungan pada Juan saat ini. Akhirnya ia mencoba menenangkan dirinya.
"Sabar Nita...sabar...tarik nafas dalam...hufttt" ucap Nita sambil beberapa kali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan untuk menenangkan diri. Setelahnya ia berjalan mengunci pintu kamar mandi dan kemudian mandi.
Untuk sesaat pemandangan itu cukup membuat Nita terkesima. Penampilan Juan yang rapi dengan setelan jas berwarna hitam, dengan gayanya yang duduk tenang dengan pandangan fokus pada tablet terlihat sangat elegan. Tapi sayang, pria itu memiliki karakter yang sangat bertolak belakang dengan wajah tampan dan proporsi fisiknya yang bagus. Kejeniusan nya tak mampu membuat Nita jatuh hati padanya.
"Kalau aku tak tahu kepribadian mu mungkin aku akan sama dengan wanita lain yang tergila-gila padamu." gumam Nita dalam hati.
"Aku sudah siap." ucap Nita, menghentikan aktivitas Juan.
Juan pun beranjak dari duduknya dan melihat pada Nita.
"Huft..." Juan menghembuskan nafas kesal nya melihat penampilan Nita yang mengenakan sweater dan celana panjang. Lebih mirip akan pergi olahraga ketimbang pergi menemani nya untuk urusan perusahaan.
"Bukankah aku sudah bilang kalau kita akan pergi untuk urusan perusahaan." ucap Juan.
"Iya, aku masih ingat kok. Ayo berangkat." jawab Nita santai.
"Penampilan mu itu sangat tidak cocok untuk pergi ke acara perusahaan, belum lagi rambut mu itu.hah"
"Hei,! menurut ku ini sangat cocok kok. Kau tahu,udara malam itu dingin. Sangat tidak baik untuk kesehatan. Belum lagi pasti akan ada banyak orang, jadi lebih baik aku pakai baju tertutup. Bukankah ini sangat sopan? Hem?" jelas Nita dengan polos dan santainya.
Juan hanya bisa memijat pangkal hidung nya yang mulai terasa kencang. Tanpa ingin berkata-kata lagi, ia segera menyeret Nita dan membawanya berjalan cepat menuju mobilnya. Hingga masuk ke daam mobil, Nita hanya diam mengikuti Juan sambil sesekali masih menguap karena masih merasa sedikit ngantuk.
Juan melajukan mobilnya kencang hingga tiba di sebuah butik.
"Turun!" perintah Juan dengan nada datar,jelas namun penuh penekanan. Nita pun menuruti dengan sedikit takut melihat ekspresi wajah Juan.
Belum selesai menutup pintu mobil ternyata Juan sudah berada di depannya dan langsung menarik tangan nya, membawanya masuk ke butik dan melepaskan Nita dengan sedikit kasar.
__ADS_1
"Pilihkan baju yang cocok untuknya!" ucap Juan pada dua orang wanita berseragam yang langsung menghampiri begitu mereka masuk.
"Baik tuan." jawab dua wanita itu.
"Mari nona, ikut kami." ajak merek pada Nita.
Juan duduk di kursi tamu sambil menghembuskan nafas kasar menghilangkan kesalnya.
"Kenapa ju?" tanya seorang wanita cantik dan penampilan seksi yang menghampiri nya sambil meletakkan segelas air dingin di meja di hadapan Juan.
"Huftt, wanita itu benar-benar menguji kesabaran ku." jawab Juan setelah meneguk minuman dingin di hadapannya.
"Cih,sejak kapan kau peduli pada wanita?" tanya wanita itu dengan senyum sinis nya.
"Aku tidak peduli, jika bukan karena nenek, aku tidak akan begini. Berhentilah meledekku kak!" jawab Juan.
"Hem, iya..iya.. ngomong-ngomong kalian mau pergi kemana?"
"Acara sosial perusahaan, tidak mungkin aku kesana sendiri. Walau ini sangat merepotkan ku.cih.." jawab Juan.
"Ooh,begitu. Lalu kenapa kau tidak mengajak Yuri saja?"
"Ayolah kak, jangan pura-pura tidak tahu."
"haha, Juan..Juan.. terserah kamu saja. Aku hanya berharap kebahagiaan yang terbaik untuk mu."
"Kalau begitu, bantulah aku kak. Bujuk nenek dan kakek agar mau merestui hubungan ku dengan Yuri." pinta Juan.
"Asal kau tahu Ju, aku sangat mengerti kakek dan nenekmu. Mereka tidak akan bertindak tanpa ada alasan yang jelas. Dan sampai saat ini aku masih sangat mempercayai mereka. Hemm,mungkin sudah saatnya kamu juga mencari tahu sendiri penyebab kenapa mereka tidak mengijinkan mu berhubungan dengan Yuri. Jika kamu memang tidak mau mengecewakan mereka dan masih menyayangi mereka, ku pikir tidak ada salahnya mencoba mencari tahu." jelas kak Yuna.
"Haish, percuma saja aku minta tolong padamu." jawab Juan.
"Nyonya sudah siap tuan." ucap salah seorang pelayan yang menyela obrolan Juan dan Yuna.
Juan pun menoleh melihat pada Nita yang baru saja masuk. Sesaat Juan terpaku melihat Nita. Penampilan yang sangat bertolak belakang dengan tadi ketika Juan membawanya masuk ke butik.
Yuna yang melihat perubahan ekspresi Juan hanya menyunggingkan senyumnya.
"Ehem,kurasa kalian harus segera berangkat jika tidak ingin terlambat." ucap Yuna menyadarkan Juan.
"Ah, iya. Ayo cepat! gara-gara kamu waktuku jadi berantakan." omel Juan sambil melangkah keluar, meninggalkan Nita begitu saja.
"Eh, tunggu. Juan, bajunya sudah dibayar belum?" teriak Nita namun diacuhkan oleh Juan.
"Tuan Juan sudah membayarnya kok nyonya. Anda jangan khawatir." ucap Yuna pada Nita sambil sedikit tersenyum.
"Hehe,,kalau begitu, saya permisi. Terima kasih banyak atas pelayanan nya nona." ucap Nita sambil membungkuk kan badannya.
"Sama-sama nyonya." jawab Yuna.
"Ah,lain kali saya akan datang lagi kesini." ucap Nita sebelum keluar dari butik.
Dengan hati-hati ia berjalan menuju mobil dimana Juan sudah duduk di kursi kemudi nya dengan tatapan mata yang menatap Nita tajam. "Pria ini sungguh tidak sabaran, bagaimana aku bisa berjalan cepat jika menggunakan sepatu berhak begini." gumam Nita sambil masuk ke mobil.
"Lama sekali!" omel Juan. Namun Nita mengacuhkan nya. Hingga Juan akhirnya diam dan melajukan mobilnya menuju K hotel tempat acara sosial perusahaan nya berlangsung.
******************************************
Halo,, selamat malam...
__ADS_1
Apa kabar pembaca setia IC.? mohon maaf saya haturkan dari lubuk hati yang paling dalam karena baru update setelah sekian lama. Semoga kalian memaklumi, dan tetap setia dengan kisah IC. Selamat membaca, semoga episode ini mampu mengobati penantian kalian. Semoga aku bisa lebih banyak waktu untuk update episode berikutnya. Dan semoga kita selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan.aamiin
happy reading my reader's,.🌻🌻🌻🤗🤗🤗🤗