Inikah Cinta

Inikah Cinta
115


__ADS_3

Nita tengah duduk di beranda bersama dengan seorang ibu asuh. Hati nya tak menyangka seorang Juan bisa menemukan tempat ini.


"Silahkan diminum mbak." ucap seorang wanita yang baru saja meletakkan secangkir teh di hadapannya.


"Eh,iya terima kasih Bu." jawab Nita dengan ramah.


"Tidak perlu sungkan mbak,anggap saja rumah sendiri. Tempat ini sudah menjadi milik Pak Juan kok." jelas ibu asuh yang tengah duduk di hadapannya.


"Eh,apa maksudnya Bu?" tanya Nita.


"Bunda Asih,panggil saja saya seperti itu." sambil memegang tangan Nita dengan keibuan.


"Baik Bunda Asih." jawab Nita.


"Sebenarnya sampai setahun lalu,kami hampir terusir dari tempat ini karena suatu hal. Kemudian secara tidak sengaja kami bertemu dengan Pak Juan yang saat itu sedang mencari istrinya. Jadi ada seseorang yang dengan tega menjual tempat ini pada sebuah agen properti dan akan menjadikan tempat ini menjadi rumah yang dipesan oleh seorang pengusaha asing.Dan ternyata beliau adalah Pak Juan. Awalnya kami mengira beliau adalah orang yang jahat karena tega mengusir kami,namun setelah bermediasi ternyata beliau juga adalah korban penipuan dari agen properti yang sebenarnya masih dibilang orang yang dekat dengan Pak Juan. Hingga akhirnya,pak Juan memutuskan untuk memberikan tempat ini pada kami, mengijinkan kami tetap tinggal tanpa biaya sewa,bahkan memenuhi kebutuhan makan kami setiap bulannya. Anak-anak sangat senang karena tidak perlu khawatir akan terlantar. Kami betul-betul tidak menyangka kalau bapak orang yang sebaik itu. Entah bagaimana kita bisa membalas kebaikan beliau,hanya berharap semoga beliau bahagia dan segera menemukan istrinya."


"Istri" batin Nita,tapi ia tak mau terlalu percaya diri. Bisa jadi memang Juan sangat gemar berkata istri.


"Mbak,sudah lama kenal bapak?" tanya Bu asih.


"eh,ah? itu,belum lama juga Bu. Sebenarnya saya juga cuma mantan pegawai nya saja dulu ketika merantau ke Korea.". jawab Nita.


"Ooh begitu. Menurut mbak,pak Juan gimana?"


"Gimana ya? ya begitu Bu. Baik sesuai penilaian bunda.hehe" Nita Canggung menjawab nya.


"Apa pak Juan sering kesini Bun?" tanya Nita yang mulai penasaran.


"Oh,gak mba. Beliau baru tiga kali ini kesini. Pertama ketika kita mediasi,kedua ketika beliau menyerahkan tempat ini pada kami dan ketiga ya sekarang ini mba. Tapi, asistennya si pak Soni selalu meninjau kemari sebulan sekali sambil mengantar bahan makanan dan kebutuhan kami. Dan juga mengajari keterampilan pada kami sehingga kami bisa mandiri membuka usaha sendiri bersama anak-anak. Halaman belakang kita jadikan kebun untuk menanam buah dan sayuran, dan sebagian kolam ikan. Sehingga kita berharap tidak terlalu banyak menerima sumbangan bapak setiap bulannya. Sungguh, beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya." cerita Bu asih panjang lebar pada Nita. Sehingga membuat Nita pun ikut terbawa dalam angannya mengagumi Juan.


"Apa saya mengganggu?" tanya Juan yang tiba-tiba duduk di sebelah Nita.


"eh,ga kok." jawab Nita yang sedikit terkejut.


"Mohon maaf pak,kita sedang membicarakan bapak, tentang kenapa bapak sampai tahu tempat ini." jelas bunda Asih.


"Ooh,itu. Tak apa Bun, lanjutkan saja ceritanya." ucap Juan sambil meraih cangkir teh nya lalu menyesap tehnya.


"Sepertinya sudah terlalu siang Bun,kita mau pamit pulang dulu." ucap Nita.


"Siapa yang mau pulang?" tanya Juan dengan santai nya.


"eh,siapa? Kita kan? aku dan kamu, siapa lagi?" jawab Nita


"Bagaimana kalau kita menginap di sini saja? kita bisa bermain dengan anak-anak disini sampai besok."


"Hah?" ini orang seenaknya banget sih? batin Nita.


"Kalau begitu Bun, seperti nya pak Juan masih betah disini,jadi saya saja yang pulang duluan. Saya takut orang tua saya khawatir kalau pulang terlalu larut." ucap Nita sambil bersiap beranjak dari tempat duduk nya,lalu menjabat tangan bunda Asih dan dibalas dengan pelukan juga dari bunda asih untuk Nita.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya nak. Lain kali kamu boleh datang kemari kapanpun yang kamu inginkan nak." ucap Bunda Asih.


Nita kemudian melangkah pergi keluar ruangan itu dengan melewati Juan yang duduk di sebelah nya dengan acuh dan sedikit kesel karena tingkah Juan. Nita menggerutu dalam hati nya.


"Huh,siapa juga yang minta dianterin kesini, bisa-bisa nya dia dengan cueknya bilang mau menginap dan membiarkan aku pulang sendiri. Awas aja nanti,akan ku balas kamu.Huh"


"Tiiiin...tiiiiiiinnn...."

__ADS_1


tiba-tiba bunyi klakson terdengar dari arah belakang Nita yang tengah berjalan kaki sudah hampir sampai di gerbang panti asuhan.


"Iih,apaan sih?!!!" omel Nita sambil menoleh ke sumber suara.


"Ayo naik."ucap Juan dari dalam mobilnya bersamaan dengan kaca jendela mobil diturunkan.


Nita yang melihat nya pun hanya bisa memutar kedua bola matanya saking ia merasa kesal dengan Juan. Dan seperti nya ia tak. merasa bersalah.


"Huft,dah anda jalan saja duluan pak. Saya masih mau menikmati perjalanan ini dengan berjalan kaki. Apa lagi langit masih cerah seperti ini."


"Yakin? bukannya tadi ada yang bilang takut dicari orang tua kalau pulang terlalu larut ya?" goda Juan,membuat Nita pun menyingkirkan ego nya dan memilih masuk ke mobil. Juan pun hanya menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Nita yang mengerucutkan bibirnya karena kesal.


*****


Dalam perjalanan,


"Apa lusa kamu ada waktu?" tanya Juan, namun tak dijawab oleh Nita. ia sedari tadi tengah fokus dengan ponselnya.


"ehm..ehm..hei!" Juan menepuk bahu Nita.


"eh? ya? kenapa?" respon Nita yang baru saja menyadari sapaan Juan.


"Sedari tadi kamu sedang berkirim pesan dengan siapa si? serius amat." keluh Juan sambil mendengus.


"Ooh,bukan apa-apa kok. Eh,nanti tolong turunkan aku di persimpangan depan ya." pinta Nita seolah mengabaikan pertanyaan Juan.


"Mau kemana? katanya mau pulang."


"Gak papa,cuma mau mampir sebentar."


"Mampir kemana? biar ku antar." Juan merasa curiga dengan gelagat Nita.


Terlihat jelas kalau Nita sedang menyembunyikan sesuatu. Juan menelisik dari raut wajah dan pandangan Nita. Kemudian hanya mengiyakan permintaan Nita.


"Oke,stop stop stop." Nita mengingat Juan saat mendekati persimpangan yang dimaksud nya sehingga Juan pun menepikan mobilnya. Tanpa berpamitan,Nita langsung keluar dari mobil dan bergegas berjalan meninggalkan mobil Juan.


Bukan Juan kalau tidak mencari tahu tentang kecurigaan nya pada sesuatu. Kemudian ia melajukan mobilnya,untuk mencari jawaban atas kecurigaan nya itu.


Sedangkan beberapa saat kemudian Nita sudah sampai di mall yang di maksud. Ia berjalan menyusuri mall itu, namun entah apa tujuannya ia datang ke tempat itu. Hingga akhirnya ia duduk di sebuah kedai kopi lalu memesan sebuah ice kopi dan beberapa camilan. Ia menikmati kesendirian nya sambil melihat para pengunjung yang berlalu lalang di luar kios itu, lantaran ia mengambil tempat duduk di bagian tepi kedai tersebut.


"Huft,aku harus bagaimana lagi?" gumam Nita sambil menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki. Terlihat jelas ia tengah tak bersemangat dan terkesan acuh tak acuh. Setelah beberapa saat ia duduk di sana, akhirnya ia memutuskan untuk pulang.


***


"Assalamualaikum" ucap Nita saat ia memasuki ruang tamu rumahnya.


"Waalaikumusalam" jawab semua orang yang ada di ruangan itu.


Sesaat Nita terpaku melihat suasana di rumahnya itu.


"Ehm,maaf sudah membuat kalian semua menunggu,Karena ada janji jadi saya pulang terlambat." jelas Nita, kemudian ia mengambil duduk di sebelah ibunya.


"Ah,ini bapak kenalkan dulu nak. Ini pak Burhan dan istrinya Bu Yuli. Pak Burhan ini teman SMA bapak dulu.Kemudian yang ini putranya namanya Satya." jelas ayah Nita. Dan mereka pun saling memperkenalkan diri.


"Wahh,senang rasanya kita bisa kumpul begini. Satya nanti bisa sering-sering main ke sini ya. Kan dekat dengan tempat kerjanya." ucap ibunya Nita. Mereka saling membuka obrolan satu sama lain,namun Nita hanya menanggapinya dengan diam dan sesekali tersenyum. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya karena sudah merasa gak nyaman dengan obrolan para orang tua yang sudah mengarah ke perjodohan.


"Maaf pak Bu,om Tante,Nita ijin mau mandi dulu. Senang bertemu kalian semuanya, permisi." ijin Nita pada semuanya.

__ADS_1


"Oh silahkan nak,kamu juga pasti lelah karena baru pulang." Jawab Bu Yuli dengan ramah.


Nita pun beranjak pergi ke kamarnya. Langsung ke kamar mandi,membasuh wajahnya dengan air lalu untuk sesaat ia memandangi wajahnya di cermin di hadapannya, sebelum ia mandi dan kemudian sholat. Hingga seseorang mengetuk pintu kamar nya.


Tok.. tok.. tok..


"Nita,ini ibu nak. Apa kamu sudah tidur?"


"Belum Bu, sebentar." jawab Nita,lalu melepas mukena yang masih dikenakan nya sebelum membukakan pintu kamarnya untuk ibunya.


"Kenapa Bu?" tanya Nita setelah ia membuka pintu.


"Boleh ibu masuk?"


"Tentu"


Mereka kemudian duduk di tepian ranjang milik Nita.


"Mereka sudah pulang Bu?" tanya Nita.


"Sudah nak, barusan."


"Ah, kalau begitu biar Nita bereskan dulu ya Bu ?"


"Eits,sudah gak usah nak. Sudah dibereskan sama bapak. Kamu duduk sini dulu saja,ibu ingin menyampaikan sesuatu.


"Iya Bu." jawab Nita patuh.


"Jadi gini nak,barusan kedatangan om Burhan dan keluarganya itu bermaksud menjodohkan kamu dengan Satya putranya."


"Iya Bu,Nita sudah tahu. Kan ibu tadi sudah bilang ke Nita melalui pesan singkat." Jawab Nita.


"Iya nak,tapi bapak dan ibu tadi sudah setuju untuk tidak langsung menentukan tanggal pernikahan kalian. Tapi kami ingin kalian saling mengenal dulu satu sama lain. Kebetulan Satya itu hanya satu tahun lebih tua dari kamu. Dia bekerja sebagai pengacara di pengadilan negeri kota ini. Dan sepertinya dia juga orangnya pengertian dan gak terburu-buru. Yah, walaupun ibunya sudah sangat ingin menimang cucu karena dia anak satu-satunya. Tapi,beliau juga mau kalian saling mengenal dulu. Jadi tolong kamu mulai besok luangkan waktu untuk secara pribadi bertemu dengan Satya yah." Jelas ibu sambil memegang tangan Nita.


"Baik Bu." jawab Nita.


"Terima kasih nak." ucap ibu sambil tersenyum sumringah karena jawaban Nita yang akhirnya mau membuka hati untuk pria calon pendampingnya.


Nita hanya mengangguk patuh pada ibunya. Karena ia merasa mungkin sudah waktunya ia mencoba membuka hati. Dan dia akan jujur pada pria yang berniat menjadi pendamping nya dan mau menerimanya.


"Ya sudah nak,kamu istirahat saja gih. Ibu mau langsung bilang ini ke bapak." ucap ibu,lalu ia meninggalkan kamar Nita.


Dengan lesu,Nita membaringkan tubuhnya di kasurnya dan memandangi langit-langit kamarnya sambil memikirkan semoga ia tidak salah mengambil keputusan.


"Huft"


Nita menenangkan pikiran nya,lalu ia memejamkan matanya.


Sementara di sisi lain,Juan tengah marah besar mengetahui perjodohan Nita.


Ya, diam-diam ia membuntuti Nita dan mencari tahu semuanya,hingga ia tahu kalau di rumah Nita sedang ada pertemuan dua keluarga untuk membahas perjodohan Nita.


"Brakkk!!!" Juan melemparkan gelas yang ia pegang dengan kasar.


"Tak akan ku biarkan kamu dimiliki orang lain.!" gumam Juan,sambil mengepalkan tangannya dan gigi yang mengerat karena amarah.


****************************************

__ADS_1


SUDAH KLIK LIKE DAN KOMEN?? YUUUKKKKK 💝💝💝🤗🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2