
"Duh, dimana ya?, perasaan tadi dah di tas deh.emm,atau ketinggalan di loker ya? ah,tapi kayaknya gak deh." gumam Nita yang sedang sibuk mencari ponsel nya sedari tadi.
"Nit,yuk keluar sekarang.!" ajak Desi yang saat ini sudah cantik dengan kebaya modern nya,siap untuk keluar dari ruangan nya menuju aula tempat nya melakukan prosesi ijab qobul.
"Eh,iya." Jawab Nita yang juga sudah mengenakan kebaya sederhana untuk menghadiri acara Desi yang merupakan sahabat nya itu. Ia kemudian bergegas mendekati Desi dan menggandeng nya, berjalan menuju ke aula.
"Kamu cantik Des." ucap Nita.
"Terima kasih Nit,aku agak sedikit gugup nih.Doakan semoga lancar ya." pinta Desi sembari berjalan.
"Pasti dong, insyaallah berjalan lancar semua nya.Aamiin,,dah kamu tenang aja. Percaya sama Kelvin. Okey." ucap Nita, menenangkan Desi,dan ia pun mengangguk sambil tersenyum.
Setelah Desi duduk di kursi sebelah Kelvin, calon suami nya dan semua saksi yang hadir beserta penghulu sudah siap, maka acara ijab qobul pun di mulai.
"Baik bapak dan ibu,di hari yang cerah ini insya Allah mari kita mulai acara ijab qobul nya." Ucap pak penghulu.
Nita menyaksikan dari tempat duduk para tamu undangan di sisi belakang. Acara berlangsung dengan khidmat.
"Sah, Alhamdulillah" ucap semua orang yang hadir di aula itu dengan lantang dan bahagia diiringi tepuk tangan meriah.
"Alhamdulillah" ucap seseorang juga yang tiba-tiba duduk di sebelah Nita. Sontak Nita pun menoleh karena merasa tak asing dengan suara yang ia dengar barusan.
"Deg," Nita terkejut melihat sosok di depannya, spontan menutup mulutnya yang melongo dan matanya membulat dan mengedipkan matanya seolah tak percaya dengan daya penglihatan nya.
"Kamu cantik dengan baju itu." ucap Juan dengan menambahkan senyum santai nya.
"Ba, bagaimana bisa?" ucap Nita.
"Bagaimana bisa aku ada di sini?" timpal Juan yang direspon anggukkan oleh Nita.
"Hem, karena kita berjodoh." jawab Juan mantap dengan tersenyum. Namun tidak dengan respon Nita. Ia menanggapi nya dengan acuh,lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Melihat sepasang pengantin baru yang sedang tersenyum bahagia dengan menunjukkan buku nikah yang baru saja mereka dapatkan.
"Ayo kita menikah lagi." bisik Juan tiba-tiba di dekat telinga Nita.Ia pun menoleh dan menatap Juan. Pria yang selalu menunjukkan ekspresi dingin itu, entah kenapa saat itu enteng sekali menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Nita tak mau berkomentar,ia memilih lebih baik pergi.
"Srettt....ah" pekik Nita terkejut, karena tiba-tiba Juan menarik tangan nya hingga membuat Nita terduduk di pangkuan Juan.
"Waaahhh" gumam semua orang yang melihat nya.
"Ternyata kamu lebih agresif dari dugaan ku ya?" bisik Juan pada Nita, kemudian mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Nita.
Seketika Nita pun merinding karena hembusan nafas Juan mengenai lehernya, wajah nya memerah,panik,dan merasa malu dengan orang yang ada di sana.Ia bergegas turun dari pangkuan Juan dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Maaf..maaf.. ini tidak seperti yang dikira,tadi nggak sengaja terpeleset, mohon maaf sekali lagi." ucap Nita berulang kali sambil beberapa kali membungkuk dan terus berjalan keluar.
Sementara Juan terus memperhatikan Nita dengan intens dan menyeringai puas. Ia telah bertekad akan mendekati Nita secara alami dan ia yakin akan mendapatkan hatinya.
**
"Pak Juan?" batin Desi yang melihat keberadaan Juan di acara pernikahan nya. Ia sendiri sempat terkejut melihat sosok Juan di sana. Bagaimana bisa ia ada di sana,siapa yang memberitahu nya dan siapa yang mengundang nya. Ia juga khawatir jika Juan akan kembali menyakiti Nita. Walaupun dulu ia juga pernah dibutakan oleh uang yang diberikan oleh Juan agar meninggalkan Nita,namun sekarang ia bertekad untuk tidak melakukan nya lagi. Apapun yang terjadi.
"Selamat atas pernikahan kalian." ucap Juan yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Kelvin yang berdiri di sebelah Desi.
__ADS_1
"Terima kasih banyak pak." Jawab Kelvin sambil menjabat tangan Juan.
Seketika Desi pun mengerti, ternyata Kelvin mengenal Juan. "Nanti aku harus mencari tahu tentang ini pada Kelvin." Batin Desi.
"Halo,lama tak bertemu. Kamu cantik, selamat atas pernikahan mu. Semoga kalian bahagia selamanya." Ucap Juan juga pada Desi. Namun Desi hanya menjawabnya dengan mengangguk dan sedikit tersenyum.
"Wah,apa bapak pernah bertemu dengan istri saya sebelumnya?" tanya Kelvin penasaran.
"Apa istri mu belum pernah cerita kalau dia pernah bekerja di Korea?" jawab Juan.
"Oh,sudah. Jangan-jangan bapak atasannya juga? Sungguh kebetulan yang mengejutkan sekali." timpal Kelvin.
"Ah,saya sudah siapkan hadiah untuk kalian melalui sekretaris saya.Semoga kalian menyukai nya." ucap Juan dengan ramah dan tersenyum, ekspresi ramah dan murah senyum yang baru pernah dilihat oleh Desi selama ini. Hingga membuat ia seolah tak percaya kalau pria di hadapannya adalah Juan,seorang yang dikenal dingin, disiplin dan tak ramah sama sekali.
"Terima kasih banyak pak,pasti kami akan menyukainya. Sungguh,kami berterima kasih sekali pak." jawab Kelvin.
"Iya, terima kasih banyak pak." ucap Desi juga.
"Sama-sama. Ah, saya ada janji. Maaf,saya tidak bisa lebih lama lagi disini. Dan, di acara resepsi pernikahan kalian mungkin aku sedang ada di Korea,jadi maaf Kelvin." jelas Juan,sambil menepuk pundak Kelvin.
"Tidak apa-apa pak,anda berkenan hadir hari ini pun sudah suatu kehormatan terbesar bagi kami. Mohon maaf jika penyambutan kami kurang berkenan."
"Aish,tidak ada. Kalau begitu saya pergi dulu." Juan berpamitan dan langsung keluar dari ruangan itu. Sesekali,ia melirik ke beberapa arah berharap menemukan sosok Nita di sana. Namun,entah kemana perginya wanita itu.
Ia kembali menyunggingkan senyum nya saat teringat ekspresi wajah Nita tadi saat terduduk di pangkuan nya. Tubuh nya yang kecil masih sama seperti terakhir kali ia merengkuh nya. Sungguh,rasanya tak sabar ingin memeluk nya erat dalam dekapannya.
Bayangan hidup bersama dengan Nita memenuhi isi kepala Juan saat ini. Sambil mengemudikan mobilnya,ia sengaja membuka kaca jendela mobilnya. Dibiarkan nya angin masuk menyapu wajah tampannya yang benar-benar rupawan. Dihirupnya udara yang masuk dengan perlahan dan penuh penghayatan.
**
"Huft, susah banget sih pakai baju ginian. Aw!!" gumam Nita yang tengah berjalan kaki menuju ke rumah nya dengan masih memakai kebaya dan heels,hingga ia tiba-tiba keseleo. Lalu ia memutuskan duduk di halte di sana. Dibuka nya heels yang ia pakai. Ia tak sempat membawa papper bag yang bersisi baju gantinya yang tak sempat ia pakai tadi karena terburu-buru pergi dari aula itu,Karena ia tak mau bertemu lagi dengan Juan. Namun akibat nya adalah jari kaki dan tumitnya lecet karena tak terbiasa menggunakan heels terlalu lama.
"Ponsel ku dimana ya?" gumam Nita sambil merogoh isi tas selempang nya.
"Astaghfirullah,kok bisa gini sih? dasar kamu ceroboh banget sih Nit.huft". Nita mengeluh kan diri sendiri. Merasa makin apes karena entah kenapa ia tak melihat ada bus yang lewat meski sudah menunggu cukup lama. Namun akhirnya ia pasrah, karena hari sudah makin larut ia memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki tanpa memakai alas kaki.
"Tiiiin.." seseorang membunyikan klakson mobil dan berhenti tepat di sebelah nya. Sontak Nita menoleh, dan mendapati sepertinya itu mobil yang ia kenal.
"Hai, sedang apa?" tanya Davin saat ia membuka kaca jendela mobilnya.
"Eh,Vin. Dari mana?" Nita balik tanya.
"Yee, ditanya malah balik tanya. Yuk naik,biar ku antar pulang. Seperti nya ga akan ada kendaraan umum yang lewat. Tadi sore ada berita kalau ada demo para supir kendaraan umum." jelas Davin.
"Oh begitu ya,em tapi apa gak merepotkan?" Nita merasa tak enak karena Davin tinggal di desa sebelum desa tempat nya tinggal. Terlebih, ia akan sangat tidak nyaman jika ada orang yang melihat dan melaporkan pada ibunya Davin yang sangat disiplin dan sedikit tidak menyukai nya. Tapi, apakah ia akan pulang dengan berjalan kaki ke rumah nya yang cukup jauh?
"Huft lebih baik jalan kaki daripada Davin dimarahi ibunya." batin Nita.
"Ah,maaf Vin. Sebenarnya aku sudah menghubungi teman ku. Dan dia sedang dalam perjalanan menjemput ku. Ini karena aku bosan nunggu di halte,jadi aku sambil berjalan santai aja,aku dah bilang ke teman ku kok." jelas Nita, berusaha beralasan untuk menolak. Namun Davin tetaplah Davin,pria itu sangat paham dengan Nita.
"Hei,kamu tidak pandai berbohong di depan ku. Aku tahu kamu tidak punya teman dekat sekelas pacar yang seperti itu kan? ayo naik saja biar ku antar!" pinta Davin tak mau di bantah. Bahkan ia langsung turun dari mobil nya dan mendekati Nita,menarik tangan Nita dan mengarahkan nya untuk masuk ke mobilnya.
__ADS_1
"Ah,ga usah Vin.Benar,aku dah menghubungi temanku kok." ucap Nita sambil berusaha melepaskan tangan nya dari Davin.
"Tin..tin.." seseorang dari dalam mobil mewah membunyikan klakson mobil nya dan menghentikan mobilnya tepat di depan mobil Davin. Membuat Nita dan Davin menoleh secara bersamaan.
"Sayang,Maaf membuat mu lama menunggu." ucap pria yang mengendarai mobil itu begitu ia turun dari mobil.
"Hah??" Nita terkejut dibuat nya. Begitu juga Davin yang menoleh ke Nita dengan pandangan seolah menanyakan siapa pria itu.
"Juan?" gumam Nita.
"Kamu mengenal nya?" tanya Davin.
"Halo, Saya Juan. Pacar nya Nita." ucap Juan sambil mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.
"Apa? pacar kata nya? Dasar pria aneh." batin Nita.
"Eh,Bu.. Bukan begitu." Nita berusaha membantah namun tak mendapat kesempatan.
"Wah, benar kah? aku baru tahu kalau Nita sudah punya pacar. Aku Davin, teman dekat nya Nita." Jawab David.
"Br*ngsek! berani sekali mengaku teman dekat nya. Tidak ada teman dekat antara pria dan wanita." batin Juan yang tak suka mendengar ucapan Davin.
"Ayo sayang,ku antar pulang." ajak Juan lagi, yang kini telah menggenggam tangan Nita.
"Ah, tidak..itu..anu.." Nita bingung harus bagaimana menolak Juan di depan Davin. Karena ia sama sekali tidak ingin berurusan dengan kedua nya.
"Hup" Juan tiba-tiba menggendong Nita ala bridal membuat Nita makin terkejut.
"Karena kamu gak memakai alas kaki kan? maaf, membuat mu lama menunggu. Hingga kaki mu terluka begini." Nita makin dibuat bingung dengan tindakan Juan. Apa yang harus ia lakukan?.
"Kalau begitu,kami pergi dulu.Ah, aku akan sangat berterima kasih jika teman dekat pacar ku mau membantu membukakan pintu mobil ku." ucap Juan yang langsung membawa Nita ke mobilnya.
"Baik" Jawab Davin, sambil tersenyum sinis karena ucapan Juan. Namun ia tetap melakukan permintaan nya.
"Terima kasih banyak teman dekat pacarku, semoga perjalanan mu menyenangkan." Ucap Juan sambil tersenyum puas pada Davin, karena posisi nya yang sengaja mendekati Nita untuk memasang kan sabuk pengaman. Sementara Nita makin bertambah bingung dengan tingkah Juan di depan Davin. Terlihat jelas dari wajah Nita yang pucat karena tak tahu harus bagaimana.
"Ayo sayang,kita berangkat." ucap Juan setelah sebelumnya tiba-tiba mengusap ujung kepala Nita,dan Davin pun hanya diam melihat nya. Kemudian ia langsung menjalankan mobilnya.
Davin yang sudah masuk ke mobil nya pun hanya bisa memukul stir mobilnya mengingat yang ia lihat tadi. Ia tak percaya kalau Nita sudah mempunyai pacar. Dan lagi,ia merasa levelnya jauh dibawah Juan. Itu terlihat jelas dari mobil yang dikendarai Juan itu adalah mobil mewah yang hanya diproduksi 10 unit di negara ini. Ia tahu itu karena ia bekerja di salah satu perusahaan mobil ternama di kota itu.
Dengan posisi yang masih kesal,Davin pun melajukan mobil nya.
****************************************
HAI,,HAI,,HAI,, SEMUANYA.
NITA DAN JUAN MENUNGGU JEJAK KOMEN DAN LIKE DARI KALIAN SEMUA LHO...
YUK,DI DUKUNG...
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
__ADS_1