
Pagi menjelang,Nita mulai membuka matanya perlahan. Masih dirasakannya pusing di kepalanya membuatnya mengerjakan matanya beberapa kali,karena pandangannya terasa sedikit berputar.
Dilihatnya langit-langit kamar itu, sangat tidak ia kenal. Sedikit kekhawatiran muncul dalam dirinya namun sekilas ia teringat kalau terakhir ia sedang bersama Juan di mobilnya.
Dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar,disana ada seorang pria yang tengah berdiri menghadap ke luar jendela. Menggunakan kaos berwarna hitam, terlihat jelas punggung lebar yang kokoh. Sungguh pemandangan pagi yang begitu menyegarkan mata, namun sayang itu tak berlaku bagi Nita. Untuk sekian detik memang ia sempat terpukau dengan penampilan fisik pria itu,namun ia tahu kalua pemilik fisik yang sempurna itu adalah orang yang cukup menyebalkan. Ya siapa lagi kalau bukan Juan. Pria berkepribadian ganda menurut Nita,bukan tanpa sebab. Itu karena moodnya yang mudah berubah-ubah, dari senang kemudian sedetik kemudian marah-marah. Untung fisiknya sempurna dan tampan bonus kaya, sehingga banyak wanita yang terpesona olehnya,yah setidaknya dia tidak akan kesulitan mencari pasangan.
"Astaghfirullah pagi-pagi pemandangan nya bikin mata pegel" gumam Nita masih dalam posisi berbaring dan sedikit memijat pelipisnya yang pusing.
Mendengar gumaman Nita,Juan pun menoleh padanya.
"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaan mu?" tanya Juan masih berdiri di depan jendela dengan kedua tangan yang masuk ke saku celananya.
"Ya,aku baik-baik saja. Kita ada diman sekarang?" tanya Nita.
"Rumah sakit, kemarin kamu pingsan" jawab Juan.
"Ah iya,lain kali jangan ngebut begitu bawa mobilnya. Sayang sedikit dengan fisikmu yang sempurna itu. Apalagi wajahmu itu kan aset yang sangat berharga" tutur Nita sambil beranjak dari tempat tidur nya.
"Haishh,mau keman kau?" tanya Juan yang melihat pergerakan Nita.
"Mau ke kamar mandi. Kenapa? mau ikut?" jawab Nita dengan acuh.
"Ya,aku ikut" jawab Juan cepat dengan langsung memegang lengan Nita seraya bersiap memapahnya. Sontak Nita pun menoleh pada Juan yang saat ini sudah di sebelah nya.
"Gak usah aneh-aneh deh. Aku bisa sendiri. Gak usah mau dipapah segala."
"Gak usah rewel terus,kamu pasien sekarang." timpal Juan dengan tegas.
"Huft, iya iya" jawab Nita yang akhirnya pasrah mengikuti kemauan Juan.
Begitu kakinya menapak di lantai dan tubuhnya berdiri,seketika kepalanya terasa lebih pusing dan pandangannya gelap. Tubuhnya terhuyung dan dengan cepat diraih oleh Juan sehingga Nita tak sempat terjatuh.
"Nah,loh. Tadi ada yang ketusnya bilang bisa sendiri. Sekarang baru turun dari ranjang saja sudah akan terjatuh kan? makanya jangan nakal, jadilah penurut untuk saat ini. Karena sekali lagi aku ingatkan,bahwa kamu sekarang adalah pa.si.en. Paham?" omel Juan pada Nita yang sebenarnya adalah tanda kekhawatiran nya.
"Huft,iyaaa. Tolong bantu aku ke kamar mandi dong,pak Dirut yang baik hati." pinta Nita pada Juan.
"Gak usah bilang,aku juga sudah tahu. Ayok" jawab Juan dengan mulai membantu Nita menuju kamar mandi.
"Jangan ditutup pintunya!" perintah Juan pada Nita setelah ia sampai di kamar mandi.
"apa? yang benar saja. Kau lupa kalau aku perempuan?" sanggah Nita dengan kesal.
"Aku tahu kamu perempuan,tapi kondisimu saat ini sedang tidak sehat. Kalau terjadi apa-apa denganmu di kamar mandi yang terkunci gimana? tentunya butuh waktu untuk ku mendobrak pintunya agar aku bisa masuk dan menyelamatkan mu kan? Sedetik saja ku telat kan bisa jadi berbahaya." jelas Juan tak kalah galak dari Nita.
__ADS_1
"Astaga, sudahlah. Gak usah mikir macam-macam. Kau tenang saja. Aku baik-baik saja." BRAKKK. Jawab Nita yang kemudian langsung menutup pintu kamar mandi itu.
"Haish" Juan kesal dan hanya bisa memijit pangkal hidungnya untuk sedikit meredakan pusingnya juga. Pusing karena dini hari tadi ia tiba-tiba terjaga dari tidurnya karena mendengar Nita mengigau.
Ting
sebuah pesan masuk di ponselnya dari sekretaris Liem.
"Anda ada rapat pukul 07.00 nanti." pesan Liem mengingat Juan akan jadwalnya.
"Cancel semua jadwalku hari ini dan 3 hari kedepan." balas Juan.
"Yang benar saja,kau tahu jadwal mu sepadat apa kan?" balas Liem yang terkejut dengan perintah Juan.
"Aku bosnya" jawab Juan.
"Arrgh, baiklah." jawab Liem.
Juan meletakkan ponselnya lagi di meja. Bersamaan dengan Nita yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Apakah ada teh hangat?" tanya Nita.
"Ada" jawab Juan singkat.
"Terima kasih" jawab Nita kemudian berjalan dan duduk di tepian ranjangnya kemudian meraih air putih di nakkas dan meminumnya.
"Lho,tadi kamu minta teh hangat kenapa sekarang minumnya air putih?" tanya Juan yang heran dengan Nita.
"Gapapa aku haus. Oh iya,bajuku ada dimana ya?" tanya Nita,karena ia tahu saat ini sedang menggunakan baju pasien,dan itu berarti ia sedang dirawat di rumah sakit,yang kesimpulan nya salah jangan kelamaan di rumah sakit kalau tidak mau uang tabungannya habis untuk biaya rumah sakit. Sehingga ia bermaksud secepatnya keluar dari rumah sakit.
"Tidak usah khawatir biaya rumah sakit. Aku yang tanggung, sekarang lebih baik kamu patuh dan jangan coba-coba berusaha kabur dari rumah sakit ini tanpa ijin dariku!" ucap juna dengan mengancam.
(Bagaimana bisa pria ini tahu isi hatiku ya? wah,aku harus berhati-hati).
"Aku gak bisa nyenyak tidur kalau di rumah sakit. Jadi aku ingin istirahat di rumah saja.hehe" jelas Nita.
"Rumah? rumah siapa? kak Jiwo? ini Seoul bukan Jeju. Kau tidak punya tempat tinggal di sini. Jadi sekarang bukankah lebih baik kau si sini kan? daripada tidur di pinggir jalan."
"Ya sudah,kalau begitu aku mau pulang ke Jeju saja" jawab Nita.
"Kau sudah lupa apa tujuanmu ke Seoul?" tanya Juan mengingat kan Nita.
"Ah iya,aku lupa. Kalau aku kembali ke Jeju sama saja aku ga bisa mengembalikan restoran pada Niko dan lainnya." ucap Nita dalam benaknya.
__ADS_1
"Hehe,maaf aku lupa. Tapi aku tetap gka mau lama-lama di rumah sakit ini, sungguh sangat tidak nyaman. Bau obat dan yang pasti aku tidak nyaman tidur di rumah sakit. Pulang saja yuk?" pinta Nita dengan memelas.
"Kemana?" tanya Juan.
"Emm,kau bisa bantu Carikan aku kame studio untuk seminggu?" pinta Nita.
"Hhemm, baiklah kalau kamu memaksa. Tunggu sebentar." jawab Juan.
5 menit kemudian asisten Song tiba di kamar itu. Ia membawa beberapa baju untuk Nita dan membawakan teh hangat untuk Nita dan beberapa makanan untuk Nita dan Juan.
"Letakkan di sana" perintah Juan pada asisten Song. Sambil menunjuk meja disisi lain kamar itu.
"Baik tuan" jawab asisten Song dengan sedikit membungkukkan punggungnya.
Juan pun berjalan mengikuti asisten Song dan mengambil segelas teh hangat dan memberikan nya pada Nita.
"Ini,teh hangatnya" ucap Juan sambil menyodorkan nya pada Nita.
"Terima kasih" jawab Nita dan kemudian menerima segelas teh hangat itu dan meminumnya perlahan.
"Asisten Song,nanti kau bantu Liem untuk menghandle jadwalku 3 hari ini. Setelah ini kau bisa langsung ke kantor. Sisanya disini aku bisa urus sendiri." jelas Juan pada asisten Song.
"Baik tuan. Kalau begitu saya undur diri tuan." jawab asisten Song.
"Iya,terima kasih banyak"
Melihat interaksi Juan dan asisten Song yang lebih tua dari Juan,Nita pun menggelengkan kepalanya.
"Benar-benar pria ini adalah makhluk aneh dengan spesies langka di jenisnya. Dibalik sikapnya yang menyebalkan ternyata masih bisa sopan dengan bawahannya yang lebih tua.
"Kau sarapan lah dulu,setelah itu kau boleh bersiap. Di paper bag itu ada baju buatmu. Aku yakin itu sangat pas denganmu. Aku keluar menemui dokter dulu sebentar. Jangan nakal,aku akan segera kembali." jelas Juan yang terus melangkah keluar dari kamar itu tanpa mendengar jawaban dari Nita terlebih dahulu.
"Terima kasih" ucap Nita,yang mengentikan langkah Juan tepat saat ia memegang gagang pintu. Juan pun menoleh dan menjawab Nita dengan singkat.
"Em" jawab Juan,kemudian berlalu pergi dari kamar itu.
"ih,kembali jutek lagi" gumam Nita.
"Baiklah Nita sekarang ayo kita makan kalau kamu tidak mau berlama-lama jadi pasien dan berlama-lama tidur di kasur rumah sakit ini. Kamarnya bagus sih,tapi mana bisa nyenyak tidur kalau ini kamar rumah sakit? bukan kamar hotel yang mewah " gumam Nita yang kemudian meraih makanan dan mulai memakannya sedikit demi. sedikit walau mulutnya terasa tak enak buat makan. Terasa pait dan berasa mual namun ditahannya demi agar saat Juan kembali dia sudah siap dan bisa langsung mengantarnya pulang. Pikir Nita
****
Juan yang berdiri menghadap jendela.
__ADS_1