Inikah Cinta

Inikah Cinta
105


__ADS_3

Pukul 06.00 pagi, Juan telah duduk di meja makan. Di hadapan nya sudah tersedia roti panggang dan nasi goreng buatannya. Dia sengaja sudah menyiapkan nya sejak pagi. Ia tak mau melewatkan pagi itu tanpa sarapan bersama Nita.


"Ku telfon atau aku kirim pesan saja atau ku ketuk pintu kamarnya ya? Hemm" gumam Juan yang sedang duduk sambil melihat ponsel yang dipegang nya sedari tadi. Ia ragu untuk menghubungi Nita terlebih dahulu,tapi mungkin Nita tak akan menghubungi nya dulu. Mengingat kejadian kemarin.


"Ah,biar aku ke kamar nya saja." gumam Juan yang kemudian beranjak dari duduknya berniat ke ke kamar Nita. Namun, ketika ia membalikkan badannya ternyata Nita sudah berada di hadapan nya.


"Selamat pagi" sapa Juan pada Nita dengan pandangan tajamnya tertuju pada tas besar yang dibawa Nita.


"Selamat pagi" jawab Nita datar.


"Ayo, sarapan dulu. Aku sudah menyiapkan nya." ucap Juan mencoba santai, walaupun dalam hatinya ia sudah tahu maksud Nita membawa tas besar itu. Ya,itu adalah tas yang sama yang dibawa Nita saat kabur darinya sebelumnya. Baik saat itu maupun kali ini, ia tak akan pernah membiarkan Nita pergi dari sisi nya. Apalagi jika harus melepaskan nya untuk Niko.


"Terima kasih" jawab Nita,lalu mengambil duduk di hadapan Juan. Tak mau berlama-lama,ia mengambil segelas susu hangat yang sudah disiapkan oleh Juan lalu meminumnya setengah. Setelah nya ia mulai berbicara, sesuai dengan niat nya duduk di sana.


"Juan, yang kemarin." ucap Nita.


"Ya,aku tahu. Makan lah dulu,kita bicarakan setelah makan." jawab Juan tenang namun tegas.


"Ehem, baiklah." Jawab Nita.


Meski agak kecewa,namun tak ada salahnya ucapan Juan. Ia butuh asupan energi untuk hari ini,di kondisi badannya yang sebenarnya terasa kurang sehat dari dini hari tadi.


"huk" baru satu sendok makan nasi goreng yang masuk ke mulutnya,namun Nita merasa agak mual.


"Kenapa?" tanya Juan khawatir namun tetap tenang. Meski ia melihat raut wajah Nita terlihat agak lesu.


"Tidak apa-apa" jawab Nita.


Di saat yang sama bel berbunyi.


"Biar ku buka. Kau makan saja." ucap Juan langsung beranjak dari tempat duduknya.


**


"Surprise!!!!" ucap Yuri girang begitu Juan membuka pintu.


"Hem,mau apa kemari?" tanya Juan dengan nada jutek.


"iiiih, mulai lagi deh juteknya. Biarkan aku masuk." jawab Yuri cuek lalu menyerobot masuk.


"Hei!!" ucap Juan tak suka dengan tindakan Yuri. Namun tak dihiraukan oleh Yuri. Ia tetap berjalan masuk.


"Waaah,apa ini?? Kau sedang sarapan sayang?? Wah,ini pasti nasi goreng buatanmu kan?" ucap Yuri heboh kemudian mengambil duduk di sebelah kursi milik Juan. Seolah sengaja pamer pada Nita yang masih sedang duduk di sana dengan sengaja mengucapkan kata 'sayang' dengan penekanan. Seharusnya Nita tahu maksud Yuri mengucapkan itu adalah untuk menegaskan hubungan spesial nya dengan Juan.


"Aku hanya menyiapkan itu untuk dua orang." ucap Juan datar,lalu duduk di tempatnya lagi. Di sebelah Yuri.


"Wah, sayang? terima kasih lho. Padahal aku tidak memberi tahu mu kalau aku akan datang pagi ini kan? Seperti nya chemistry kita memang sudah sehati ya." ucap Yuri sambil memegang tangan Juan. Meski kemudian Juan langsung menepisnya.


"Cih" gumam Nita yang tak suka melihat tingkah Yuri. Baginya, tingkah Yuri terlihat jelas seperti wanita yang tidak tahu malu. Siapapun yang melihat tindakan dan ekspresi Juan pasti akan bisa menilai bahwa Juan sangat tidak nyaman dengan Yuri.


"Kenapa?!" tanya Yuri angkuh pada Nita, dengan ekspresi sebal nya.


"Tidak apa-apa. Lanjutkan saja. Aku akan pergi." Jawab Nita,lalu beranjak dari duduknya.


"Duduk!!" perintah Juan tegas.


"Saya pamit." ucap Nita lagi sambil sedikit membungkuk kan badannya.


"Aku belum mengijinkan mu pergi. Jadi duduklah!!" jawab Juan tak mau di bantah.


"Sayang,,dia sudah bilang mau pergi. Jadi biarkan saja." ucap Yuri menyela Juan, dengan tangan bergelayutan di pundak Juan.


"Jangan ikut campur!!" jawab Juan.


"Ha? baiklah." jawab Yuri terpaksa,Karena Juan menatap nya tajam.


Disingkirkan nya tangan Yuri dari pundaknya.


"Kau makan saja dengan tenang." Perintah Juan pada Yuri dengan tegas. Tak ada penolakan dari Yuri.


"Baiklah,jangan lupa. Aku disini karena sudah sangat merindukan mu. Aku ingin memeluk mu hari ini." ucap Yuri manja pada Juan,lalu mencium pipi Juan. Namun Juan langsung mengusapnya dengan kasar.


"Terserah apa katamu,aku tak peduli!! Dan lagi,jangan sentuh aku seenaknya mulai saat ini.!!" ucap Juan lantang penuh penekanan.


"Ayo!" Juan langsung berdiri dan menarik pergelangan tangan Nita untuk mengikuti nya.


"Tunggu!!! kalian mau kemana??" tanya Yuri mencegah Juan.


"Mau ke kamar. Kau makan saja dengan nyaman.!" jawab Juan mengabaikan Yuri. Disisi lain,Nita pun berusaha melepaskan tangan nya dari Juan.


"Kalian pikir nenek Kim belum tahu kalau kalian bersandiwara hah?" ucap Yuri keras, menghentikan langkah Juan dan Nita.


Juan sangat marah mendengar ucapan Yuri,itu sangat terasa dari Nita yang merasa kesakitan di pergelangan tangan nya karena genggaman tangan Juan makin erat.


"Lepas Juan,sakit." pinta Nita yang berusaha melepaskan diri.


Juan pun melepaskan nya kasar,ia membalikkan badannya berjalan menuju Yuri lalu meraih rahangnya kasar.


"Apa kau bilang?!" ucap Juan penuh amarah pada Yuri.


"Cih,,sayang. Aku sudah bilang kalau aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan mu. Jadi,semakin kamu menghindar,maka aku akan semakin menginginkan mu." Yuri masih bisa menjawab Juan dengan centilnya,namun terlihat kelicikan di matanya.

__ADS_1


"Kau gila!!" ucap Juan dengan tatapan matanya yang tajam dan memerah.


"Ya,kau benar. Aku sudah gila. Gila karena aku sudah sadar akan cintaku padamu. Bukankah kau sudah sangat lama memujaku? sekarang aku pun begitu." jawab Yuri.


Brakkk


Seseorang yang masuk secara tiba-tiba ke rumah itu membuat Nita kaget.


"Nenek??" ucap Nita terkejut melihat sosok di hadapan nya. Begitu pula Juan yang mendengar nya. Langsung melepaskan Yuri kasar.


"Ne..nenek?" ucap Juan terkejut. Namun ia langsung tersadar dan berjalan ke arah nenek Kim bermaksud akan menjelaskan situasi.


"Tetap ditempat mu.!" ucap nenek Kim tegas. Begitu juga dengan pandangan tajam kakek Kim yang kompak dengan istrinya. Pasangan kakek dan nenek yang sangat solid.


"Yuri,bisa tinggalkan kami?" ucap nenek Kim.


"Ah,tentu. Kalau begitu aku pamit dulu. Sampai jumpa lagi nanti sayang." ucap Yuri sambil dengan centilnya mengedipkan matanya pada Juan.


Juan melihat nya pun sangat risih dan makin emosi dibuatnya.


"Bagaimana kalau kita bicarakan sambil sarapan?" ucap nenek Kim yang langsung berjalan bersama kakek Kim yang menuntun nya.


Dengan sigap,Juan menyiapkan kursi untuk mereka. Namun nenek Kim menolaknya.


"Aku ingin duduk disini, singkirkan saja piring wanita itu." ucap nenek Kim yang mengambil duduk di tempat duduk Yuri tadi. Tak mau tinggal diam,Nita pun mengambil piring nasi goreng milik Juan.


"Ehem,biar ku buatkan nasi goreng lagi untuk kalian." ucap Nita.


"Tentu. Terima kasih banyak Nita." ucap Kakek Kim.


Nita pun bergegas membuatnya, sedangkan Juan yang duduk berhadapan dengan nenek Kim hanya bisa terdiam menerima pandangan tajam kakek dan neneknya. Seolah mereka sedang mengintimidasinya.


"Biar ku buatkan jus untuk kalian." ucap Juan.


"Tidak perlu,Cucuku Nita akan membuatkan susu untuk kami." jawab nenek Kim, menunjukkan dengan jelas penolakannya.


"Kakek kan biasanya minum kopi di pagi hari,biar ku buatkan kopi." ucap Juan lagi.


"Tidak perlu,kali ini aku hanya akan minum segelas susu buatan Nita cucuku." Jawab kakek Kim.


Nita yang mendengar nya pun ikut merasa tidak nyaman. Ia paham kalau kakek dan nenek Kim sedang menunjukkan kemarahan nya pada Juan. Namun ia memilih diam,biarkan mereka mengurus urusan keluarga sendiri. Ia hanya perlu menyiapkan apa yang mereka minta dengan segera.


Untuk beberapa saat,mereka bertiga hanya duduk diam dengan Juan yang tertunduk dalam duduknya yang tegap karena mendapat tatapan tajam yang sedari tadi diarahkan padanya oleh dua orang dihadapan nya. Bukan Juan takut,tapi karena sayangnya pada kakek dan neneknya membuat nya tak mampu melawan mereka. Ya,sosok Juan yang garang itu hanya bisa ditaklukkan oleh neneknya, terlebih kalau neneknya sudah marah dalam diam.


"Nasi goreng nya sudah siap." ucap Nita sambil menyajikan di hadapan kakek,nenek Kim dan juga Juan. Beserta segelas susu yang mereka minta. Setelah itu ia mengambil duduk di tempat nya semula.


"Terima kasih cucuku." ucap nenek Kim.


"Kau tidak mengganti makanan mu? seperti nya itu sudah dingin. Ini,tukar dengan punya nenek." ucap nenek Kim.


"Ah,tidak usah nek. Ini masih bisa dimakan kok,dan tadi juga aku sedang memakannya, jadi tidak apa-apa." jawab Nita berusaha seramah mungkin,walau sebenarnya ia sangat canggung karena sedari tadi seolah hanya dia yang diajak bicara oleh kakek dan nenek Kim.


"Biar tukar dengan punya ku." ucap Juan sambil menggeser piringnya ke hadapan Nita.


"Tidak perlu" ucap Nita sambil mengambil lagi piringnya dari hadapan Juan,lalu langsung memakannya.


Mereka pun akhirnya makan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya dentang sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring. Lebih tepatnya suasana terasa sangat canggung. Membuat Nita terasa kesulitan untuk menelan setiap suap yang dimakannya.


"Sampai kapan kalian akan membohongi kami?" ucap nenek Kim.


"Uhuk..uhuk.." Nita yang mendengar nya pun tersedak.


Dengan sigap,Juan meraih air putih dan meminumkannya pada Nita dengan tangan kirinya menepuk pelan punggung Nita.


"ehem,maaf." ucap Nita setelahnya.


Suasana kembali hening sejenak. Tak ada lagi aktivitas makan di ruangan itu. Satu sama lain saling diam,menunggu penjelasan.


"Biar ku jelaskan" ucap Juan memecah keheningan.


"Tidak perlu.! Kami sudah tahu." potong kakek Kim.


"Tapi kek,biarkan aku menjelaskan nya dulu. Ini tak seperti yang kalian ketahui." jelas Juan. Namun lagi-lagi mereka seolah tak mau dengar apa-apa lagi dari Juan.


"Dengar kan kami bocah nakal.!" ucap nenek Kim.


"Baik" jawab Juan terpaksa.


"Kami membesarkan mu dengan tulus,dengan penuh kasih sayang. Kamu adalah satu-satunya cucu yang kami miliki. Kami menjagamu sepanjang waktu. Kami memastikan semua kebutuhan mu tercukupi. Semua keinginan mu terpenuhi. Kami tak butuh kekayaan mu untuk membahagiakan kami. Kami tak butuh gelar dan prestasi mu untuk membahagiakan kami. Yang kami mau hanya cinta kasih dari mu untuk kami,orang tua renta ini tak akan lama lagi hidup di dunia ini. Kami hanya ingin melihat kebahagiaan mu, kami ingin melihat keluarga cucu bahagia dengan menimang cucu buyut yang selama ini kami nantikan. Walaupun tangan tua renta keriput ini sudah mulai gemetar dan mungkin tak mampu lagi untuk menggendong nya." ucap nenek Kim yang kemudian meneteskan air mata. Sedangkan kakek Kim hanya diam, membiarkan istrinya meluapkan segala yang ingin disampaikan nya.


"Nek.." ucap Juan. Namun lagi-lagi nenek Kim menunjukkan telapak tangan nya,tanda tak menginginkan Juan untuk menyela.


"Namun, sepertinya keinginan kami terlalu tinggi. Tuhan tidak ingin mengabulkan doa kami. Hanya bisa berdoa semoga tuhan mengampuni dosa cucu kami. Dan,mulai saat ini jangan anggap kami kakek dan nenek mu lagi. Kami tak mau memiliki cucu yang suka berbohong sepertimu." Jelas nenek Kim dengan Isak tangisnya. Juan pun tak mampu berkata-kata lagi karena memang ini salahnya.


"Dan kamu Nita,kami menganggap mu seperti cucu kami sendiri. Kami tahu kamu anak yang baik. Kamu tidak bersalah. Mulai saat ini kamu bebas melakukan apapun yang kamu inginkan. Tidak ada lagi kontrak nikah atau apapun itu. Kami akan mengurus semuanya. Kami pastikan pria ini tak akan lagi mengganggu mu. Walau sebenarnya kami sedikit kecewa karena kamu tak menjadi cucu menantu kami,tapi kamu tetap cucu kami. Siapapun yang menjadi suamimu tetap akan menjadi cucu kami juga. Kamu berhak bahagia dengan orang yang kamu cintai dan mencintai mu juga." jelas nenek Kim.


"Terima kasih nek,kek. Saya sangat sangat berterima kasih kalian sudah berbaik hati padaku sejak pertama kali bertemu. Saya sangat bersyukur karena bisa bertemu dan memiliki kakek dan nenek seperti kalian. Sekali lagi saya mohon ma....af,hiks" ucap Nita yang juga tak kuasa meneteskan air mata nya. Namun tiba-tiba ia merasakan keanehan dengan tubuhnya. Terasa panas,detak jantung nya berdetak dengan cepat, tangannya gemetar.


Prangggg...


Gelas yang dicoba diraih nya terjatuh dan pecah.

__ADS_1


Nenek dan kakek Kim serta Juan pun dibuat terkejut dengan sikap Nita.


"Kau tidak apa-apa nak?" ucap Kakek dan nenek Kim bersamaan.


"Kau kenapa?" Juan yang duduk disebelah Nita pun sontak panik.


Wajah Nita terlihat pucat panik, matanya memerah, keringat mulai keluar di keningnya. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan lidahnya kelu seolah tak bisa berkata-kata. Tak hanya itu, badannya pun terasa sulit digerakkan.


Dengan cepat,kakek Kim menghubungi dokter pribadi keluarga nya. Karena kondisi nenek Kim yang belum begitu pulih menyebabkan dokter harus selalu mengawasinya. Dan untuk hari ini,kakek Kim sudah menyiapkan segala nya termasuk dokter untuk mengikuti mereka dari kejauhan karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada nenek Kim. Mengingat mungkin emosinya akan sulit dikontrol karena masalah Juan. Namun yang terjadi malah sebaliknya.


"Biar ku bawa ke kamar" Ucap Juan yang langsung menggendong Nita. Membawanya ke kamar diikuti oleh kakek dan nenek Kim.


Nita makin panik dan ketakutan menjalar di dirinya. Darah dalam tubuh nya terasa mengalir deras begitu Juan menyentuh kulit nya.


"Ya Allah,kenapa ini? apakah aku sedang sekarat sekarang? tapi kenapa tiba-tiba?" gumam Nita dalam hatinya.


Juan membaringkan tubuh Nita di ranjang, menutupi nya dengan selimut hingga ke dada. Dipegangnya dahi Nita dengan telapak tangan nya,terasa panas dan wajahnya pucat.


"Biar ku ambil kan air es untuk mengompres." ucap Juan,lalu bergegas ke luar.


"Biar kami menunggu nya" ucap nenek Kim yang duduk di samping Nita dan memegang tangan nya dengan perasaan khawatir.


"Tenanglah nek,dokter park sebentar lagi datang." ucap Kakek Kim menenangkan.


**


"Mohon maaf saya terlambat" ucap dokter park yang baru saja memasuki kamar itu bersama dua orang asistennya.


"Ah, dokter tolong cepat cek kondisi cucuku." ucap nenek Kim.


"Baik nyonya." jawab dokter park yang kemudian mendekati Nita dan mengecek kondisinya.


"Ehem,mohon maaf. Tuan dan nyonya besar,serta tuan muda. Tolong beri kami waktu khusus untuk mengecek nya lebih spesifik,jadi kami butuh sedikit privasi. Sekali lagi mohon maaf." ucap dokter park.


"Baiklah,kami akan menunggu di luar." ucap Kakek dan nenek Kim dengan terpaksa.


"Apa aku juga harus keluar? aku masih suaminya." ucap Juan. Dan dijawab anggukan oleh dokter park.


"Cih,masih berani kau menyebut dirimu suaminya?." ucap Kakek Kim.


Juan hanya menunduk pasrah lalu keluar dari kamar itu.


"Tolong ambilkan makanan terakhir yang dimakannya hari ini." ucap dokter park.


"Ah,ada di meja makan." Jawab Juan.


"Asisten Song,tolong periksa." perintah dokter park.


"Baik" jawab asisten Song,kemudian melaksanakan perintah dokter park.


Sementara menunggu pemeriksaan dokter, Juan berjalan mondar mandir tak sabar menunggu kabar dari dokter park. Begitu juga dengan kakek dan nenek Kim yang duduk di sofa.


"Tenanglah nek,Nita pasti baik-baik saja. Jangan khawatir." ucap Kakek Kim menenangkan.


"Semua ini pasti gara-gara anak nakal ini. Huft,sudah hampir sepuluh menit kenapa dokter park belum keluar juga sih."


"Tuan,nyonya" ucap dokter park. Sontak membuat mereka berdiri dari duduknya dan bergegas menuju dokter park.


"Bagaimana Nita dok??!" ucap Kakek dan nenek Kim bersamaan.


"Bagaimana dengan nya dok?" ucap Juan juga.


"Ehem,jadi kami sudah berusaha semampu kami. Tapi karena ini bukan di rumah sakit dan kita terbatas obatnya, sehingga kami kesulitan menangani nya. Kami hanya bisa memberikan pertolongan pertama pada nyonya agar tidak terjadi kelumpuhan sekunder pada tubuhnya." jelas dokter park.


"Apa??!! kalau begitu kita bawa dia ke rumah sakit sekarang.!" ucap Juan sambil langsung melangkah akan masuk ke kamar berniat membawa Nita ke rumah sakit.


"Tidak bisa!" jawab dokter park.


"Apa??!! apa maksudmu?!!" jawab ketiganya bersamaan. Mereka tak mengerti maksud dokter park.


Tiba-tiba tangis nenek Kim pecah. Dan kakek Kim langsung menenangkan nya.


"Tenang nyonya besar,tidak terjadi sesuatu yang buruk pada nyonya muda. Hanya saja kita harus segera menolongnya. Karena kita tidak punya watu untuk membawanya ke rumah sakit. Sehingga kita harus melakukan nya sekarang.Tuan muda?" jelas dokter park,kemudian mengarahkan pandangan nya pada Juan.


"Dokter,lakukan apapun yang kamu bisa untuk menolong nya.!" ucap Juan sambil mengintimidasi dokter park,penuh dengan penekanan.


"Baik,akan saya lakukan. Jadi,tuan muda hanya anda yang bisa menolong nya." ucap dokter park,kemudian menjelaskan singkat masalah Nita pada Juan.


Mendengar itu,baik Juan ataupun kakek dan nenek Kim malah terlihat bingung. Mereka tak tahu harus bagaimana.


"Kakek,,,nenek?? dengan ataupun tanpa ijin dari kalian. Aku akan tetap melakukan nya." ucap Juan pada kakek dan nenek Kim. Mereka pun dengan terpaksa menjawab dengan menganggukkan kepalanya lemah.


Dokter park dan kedua asistennya pun sudah keluar dari kamar.


"Kami akan menunggu di rumah sakit dan menyiapkan segala sesuatunya jika ada hal yang tak diinginkan terjadi." ucap dokter park,lalu pergi bersama kedua asistennya.


"Kami akan menunggu di hotel dekat sini." ucap Kakek Kim. kemudian, merekapun pergi meninggalkan Juan.


Kini dengan terpaksa Juan masuk ke kamar Nita. Ia tak menyangka harus melakukan nya pada Nita.


"Tenang,ini demi kebaikan nya." gumam Juan dalam hati memantapkan diri nya.

__ADS_1


__ADS_2