
Tok...tok...tok...
"Nita,mau sampai kapan kamu mengurung diri dalam kamar mandi?" ucap Juan sambil mengetuk pintu kamar mandi. Pasalnya sudah lebih dari satu jam Nita berada disana sejak kembali dari hotel. Anehnya tidak ada suara air sama sekali.
"Apa kau tidur di dalam?" tambah Juan lagi karena tak ada respon dari Nita dan tak ada bunyi air yang mengalir juga dari sana.
"Kalau kamu tetap diam maka dengan terpaksa aku akan mendobrak pintu ini.Satu...dua...ti.." Juan tengah bersiap untuk mendobrak pintu.
Ceklekkk
Nita membuka pintu itu,dengan ekspresi lesu dan terlihat sepertinya dia belum mandi.
"Hei,hampir dua jam kau di kamar mandi kenapa penampilanmu masih sama sih?! ngapain aja kamu di dalam?? gak mungkin main sabun kan?" Juan merasa aneh dengan Nita.
"Ooh,ya. Aku cuma cuci muka." jawab Nita dengan santai sambil berjalan melewati Juan dengan cuek.
"Hah??? cuci muka dua jam??" pekik Juan.
"Selebihnya aku tidur." jawab Nita lagi yang sudah diambang pintu keluar kamar.
"Astaga!! jadi benar kamu tidur di kamar mandi?? kok bisa sih??" tanya Juan yang penasaran sambil mengikuti Nita di belakangnya.
"Ya bisa lah" masih saja cuek menanggapi Juan.
"Haishh,kau mau kemana?"
"Dapur"
"Mau apa?" tanya Juan lagi yang sudah tak sabar menghadapi ke acuhan Nita.
"Masak,Aku lapar." jawab Nita sambil membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan masakan yang ada di sana. Sementara Juan dibuat melongo heran dengan tingkah dan jawaban Nita sedari tadi.
"Mau masak apa?" tanya Juan dengan berusaha menahan kesabaran nya.
"Tidak tahu" jawab Nita.
__ADS_1
"Apa kau sangat kelaparan?" tanya Juan lagi mencoba memberikan perhatian pada Nita yang terlihat datar,dan ekspresi yang sulit diartikan. Tapi sangat terlihat kalau saat ini Nita hanya ingin menyibukkan dirinya saja dengan memasak.
"Entahlah" jawab Nita setelah sesaat menoleh pada Juan dengan pandangan kosong. Ibarat hidup enggan mati pun tak mau. Kurang lebihnya itu lah kondisi Nita saat ini.
"Kau duduk saja.!" perintah Juan sambil menarik tangan Nita dan mengarahkannya untuk duduk di kursi makan. Nita hanya menurut dan kemudian merebahkan kepalanya di atas meja dengan menjadikan lengan kanannya sebagai bantalan kepalanya.
Juan hanya bisa menghembuskan nafasnya bingung melihat ekspresi dan kelakuan Nita.
"Ini, makan lah." ucap Juan sambil menyodorkan sepiring nasi goreng yang telah ia masak. Ia menaruhnya tepat di hadapan Nita yang tampak memejamkan matanya,namun tidak sedang tidur. Terlihat beberapa kali Nita mengerjapkan matanya dan mendengus lemas.
Juan duduk di hadapan Nita,di ulurkannya tangannya menyentuh dahi Nita,ia tak merasakan suhu panas di sana. Tapi kenapa Nita terlihat lemah tak bersemangat begitu.
"Huft" dengus Nita sambil menyingkirkan tangan Juan dari dahinya dan ia pun membetulkan duduknya. Dengan tak bergairah ia mengambil sendok dan mulai menyendok nasi goreng yang ada di hadapannya. Sungguh terlihat sangat tak bersemangat,bahkan Nita tak meniup nasi goreng yang masih panas itu. Ia seperti mati rasa,lidahnya tak merasakan panas.
"Biar kusuapi!" ucap Juan yang merebut sendok dari tangan Nita. Nita hanya menurut saja.
"Hei,! kami kenapa?" tanya Juan di sela kegitannya menyuapi Nita yang tanpa ekspresi.
"Hem" jawab Nita.
"Kau tahu aku kenapa.Cih" jawab Nita setelah beberapa saat ia menatap mata Juan.
"Apa karena kejadian di hotel tadi?" ucap Juan yang tak dijawab oleh Nita.
"Sudahlah,jangan terlalu dipikirkan." pinta Juan menenangkan Nita.
"Aku,,aku minta maaf. Bukan maksudku memanfaatkan mu atau berniat menyakiti mu. Sungguh,aku benar-benar terpaksa. Aku terdesak, kondisi perusahaan yang mengharuskan ku memiliki kekasih agar aku bisa mengklarifikasi berita yang beredar tentang aku yang pecinta sesama jenis. Dan,Mimi,wanita yang tadi kau tahu di sana. Aku harus menerima nya kalau aku tak ada wanita lain. Sedangkan aku tak mau menjalani pernikahan bisnis dengannya,aku tak mencintainya. Namun aku juga tidak mau nenek sampai terkejut dan sakit jika tahu isu yang beredar tentang aku. Dan...kemarin hanya kamu wanita yang ku kenal,daripada aku harus menerima Mimi maka aku memilih mengakui kamu sebagai calon istriku. Aku bersalah,maaf." jelas Juan.
"Heh,,lucu sekali. Apa bedanya aku dan Mimi? ini sama saja urusan bisnis kan? bukan pernikahan karena cinta! Dan,kau egois Juan. Kau jahat! kenapa harus aku? tahukah kau,kalau tanpa kau sadari kau sudah menghentikan masa depanku? kau sudah membuat kesalahpahaman yang luar biasa! Hingga membuatku merasa sesak untuk bernafas, membuatku merasa putus asa, kenapa? Karena sudah pasti aku tidak akan mendapatkan jodoh yang sesuai dengan impianku,aku tidak akan mendapatkan pria yang mencintaiku sebagai suamiku. Kau tahu kenapa? Karena kebohongan yang kau sebarkan.! Dan bukan hanya itu,aku merasa aku ini sungguh bukan apa-apa,aku bagaikan boneka yang bisa dengan mudah diatur,dihias,dibuang,dijatuhkan dan dilempar kemana saja semaumu.Sakit Juan..aku merasa sakit disini.!" maki Nita sambil menahan Isak tangisnya,menahan air mata yang tertahan di pelupuk mata nya.
Suasana hening dari keduanya. Juan hanya bisa diam menyadari kesalahannya. Dan Nita melanjutkan makannya yang terlihat seperti pelampiasan amarahnya.
glek..glek..
Nita meminum habis segelas air putih yang sudah disiapkan Juan,dan meletakkan kasar gelasnya di atas meja sambil menghentak nya.
__ADS_1
"Nenek punya penyakit jantung." ucap Juan memecah kebisuan mereka.
"Aku tidak mungkin membiarkan dia mengetahui isu tentang aku. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Sekali lagi aku minta maaf,aku sungguh minta maaf. Kau boleh menolak ini. Walaupun demikian aku tetap akan membantu bisnis keluarga Niko dan akan membantu temanmu Desi. Aku akan mengkonfirmasi pada media juga,namun..namun..aku minta tolong satu hal saja. Tolong jaga dan temani nenek selama aku konfirmasi pada media." jelas Juan terdengar tulus.
"Bagaimana dengan mimi?" tanya Nita.
"Dia wanita yang baik,namun aku hanya menganggapnya adik. Aku tidak mau menikah dengan adikku. Dan,tuan Aichi mungkin sedang merencanakan sesuatu yang tak ku ketahui pada perusahaan,namun aku belum punya bukti. Oleh karena itulah,aku harus mencari wanita lain yang bisa ku ajak berkompromi tentang keinginanku,yang ku kenal,yang bisa ku percaya dan tidak akan berkhianat dan merugikan perusahaan." tambah Juan.
Suasana kembali hening,Nita tak memberikan respon pada Juan.
"Tolong,suka ataupun tidak suka,aku mohon bantuan mu Nita,(Juan menghembuskan nafasnya sejenak),tolong bantu aku,bukan,bukan aku. Tapi bantu nenek dan kakek dari orang yang ingin menjatuhkan mereka,karena hanya mereka lah keluarga yang menyayangiku. Aku tidak mungkin membiarkan mereka dan.." jelas Juan terhenti saat Nita tiba-tiba membuka suaranya lagi.
"Yuri,bagaimana dengan nya?" tanya Nita. Sejenak Juan ragu untuk menjawab nya.
"Huft, sudahlah. Aku sudah tahu." ucap Nita lagi yang meihat ada kebingungan di wajah Juan.
"Maaf" ucap Juan.
"Seperti katamu. Aku hanya melakukan ini untuk nenek." tegas Nita,kemudian dia beranjak dari duduknya.
"Terima kasih" ucap Juan pada Nita yang sudah berada di ambang pintu.
"Hem" jawab Nita,kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Diambilnya air wudhu,ia melaksanakan sholat isya. Dipanjatkan nya do'a dalam sujudnya. Sebenarnya pikiran dan hatinya begitu kacau,namun nuraninya merasa bersalah jika terjadi sesuatu dengan nenek Kim. Tapi disisi lain,bagaimana ia menceritakan pada ibunya. Dan bagaimana ia mempertanggung jawabkan pada Tuhan Nya karena mempermainkan pernikahan dan membohongi orang-orang terutama orang yang disayanginya.
Ingin rasanya menitikkan air mata karena merasa telah dipermainkan jalan hidupnya,namun mungkin ini adalah salah satu ketentuan dari Allah. Air matanya tertahan di pelupuk matanya.
Setelahnya,ia ke kamar mandi dan membiarkan tubuhnya tersiram air dibawah shower,berharap bisa mendinginkan kepalanya. Kemudian setelahnya ia merebahkan tubuhnya di kasur dan berusaha memejamkan matanya, mengistirahatkan diri dan pikirannya. Berharap besok ia akan siap menjalani drama baru dalam kehidupannya.
Sementara diruang kerjanya,Juan juga tengah merenungkan keputusannya. Walau pun malam sudah semakin larut,nyatanya baik Juan maupun Nita sama-sama masih terjaga,mereka tidak bisa memejamkan matanya menuju mimpi. Hingga pagi menjelang,dan alarm ponsel Nita berbunyi menunjukkan waktu sholat subuh.
***
AUTHOR
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA..🤗❤️