Inikah Cinta

Inikah Cinta
113


__ADS_3

"Turunkan aku di pertigaan depan." ucap Nita dengan pandangan lurus ke depan tanpa menoleh sedikitpun pada Juan.


"Rumahmu masih jauh,lagi pula tidak akan ada kendaraan umum yang lewat hari ini." jawab Juan dengan datar juga.


"Kata siapa rumah ku masih jauh? Sudah dekat sini kok." timpal Nita yang tak mau kalah.


Juan yang melihat tingkah Nita pun sontak mengembangkan senyumnya karena menurutnya Nita makin terlihat menggemaskan saat sedang kesal. Mungkin baru kali ini ia melihat Nita yang dengan jelas menunjukkan ekspresi tak mau mengalah.


"Eh..eh.. kelewatan!! stop!! stop!!" seru Nita berusaha meminta Juan menghentikan mobilnya. Namun itu sia-sia, karena Juan sama sekali tidak mengurangi laju kecepatan kendaraan nya.


"Huft, harus kah aku berteriak agar semua orang yang mendengar itu mengira aku sedang diculik oleh mu,tuan Juan? Aa..." Nita makin kesal pada Juan, berniat berteriak minta tolong.


Srettt


Namun Juan langsung menghentikan mobilnya tiba-tiba, hingga membuat Nita tercekat terdiam dengan jantung yang berdetak sangat cepat. Belum selesai sampai disitu,ia dibuat makin tak bisa berkata-kata lagi saat Juan dengan cepat sudah mengungkung nya, berbicara sangat dekat dengan wajahnya. Tatapan mata Juan yang hanya berjarak beberapa senti dari Nita pun membuat Nita tak mampu mengedipkan matanya. Seolah berhenti bernafas dan mati rasa sejenak.


"Jika aku tak menginginkan hatimu, mungkin akan lebih baik jika aku langsung menculik mu dan membawa mu ke negara ku lagi, tapi... sekarang aku tak berdaya dengan diri ini, yang hanya menginginkan mu seutuhnya, hingga maut memisahkan kita." ucap Juan dengan intonasi yang sangat jelas dan mantap dengan tatapan matanya fokus pada Nita. Hembusan nafas Juan yang menyapu wajah nya juga sukses membuat Nita merasa seolah berhenti bernafas.


Juan mengakhiri ucapan nya dengan menyunggingkan sekilas senyum penuh percaya diri nya. Kemudian mengarahkan pandangan nya pada bibir Nita yang terlihat sangat menggoda nya. Tapi ia tak mau gegabah, yang hanya akan menggangu rencana nya merebut hati Nita.


cup.....


Juan mengecup pipi Nita, yang sudah pasti membuat nya terkejut.


"A..apa-apaan kau ini!"


"sssssttttt" Juan menaruh jari telunjuk nya di bibir Nita seraya meminta nya untuk diam. Entah kenapa Nita mengikuti nya, ternyata ia masih luluh dengan tatapan tajam Juan yang tenang dan mengintimidasi itu.


"Jangan buat aku melakukan yang lebih dari ini,kumohon! Karena aku tidak yakin bisa mengendalikan diri ku jika kau terus bertingkah imut seperti ini." Nita hanya mengedipkan mata dan menganggukkan kepalanya sekali, karena ia takut dengan pikirannya yang tidak-tidak yang mungkin bisa terjadi padanya saat ini.


"Pintar" ucap Juan sambil tersenyum dan mengusap pucuk kepala Nita lalu kembali ke posisi duduknya semula.


"Baiklah, sekarang kita lanjutkan perjalanan. Aku akan mengantarmu pulang,bukan begitu 'istriku?". Juan lalu melajukan lagi mobilnya. Barulah Nita merasa jantungnya kembali berdetak dan bisa bernafas lega. Namun ada yang aneh dengan Juan menurut nya. Panggilan istri untuk nya dengan raut wajah Juan yang sumringah itu terkesan begitu enteng diucapkannya.


"Aku tidak mau berpikir berlebihan." batin Nita, kemudian memilih diam selama perjalanan.


***


"Turunkan aku di pertigaan itu saja. Rumahku tak jauh dari sana." pinta Nita.


"Baiklah." jawab Juan dengan santai.


"Nurut banget? apa dia sudah percaya kalau aku tinggal disini?" batin Nita.


Juan pun menepikan mobilnya di tempat yang diminta Nita.


"Terima kasih" ucap Nita lalu bergegas turun dari mobil tanpa membiarkan Juan berkata apa-apa lagi padanya. Nita langsung berjalan menuju rumahnya,dan Juan pun langsung melajukan lagi mobilnya meninggal kan Nita.


"Eh,beneran lho dia diam saja begitu? dia tak mengatakan apapun lagi dan tak mencegahku? wah, benar-benar aneh. Ah, biarkan saja lah. Yang penting aku sudah sampai rumah dengan aman. Semoga besok aku tak harus berurusan dengan nya lagi." Gumam Nita selanjutnya ia berjalan kaki menuju rumahnya.


***


Keesokan harinya, seperti biasa setelah bersiap,Nita pun pergi bekerja di minimarket dengan menaiki kendaraan umum. Pagi yang sedikit mendung namun tak turun hujan hingga ia sampai di minimarket.


"Selamat pagi semuanya." sapa Nita pada pak Yudi dan Toni saat ia masuk minimarket.


"Pagi Nita." jawab pak Yudi.


"Selamat pagi" jawab pria lain yang jelas itu bukan suara Toni. Seketika Nita pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara. Dilihatnya seorang pria berseragam minimarketnya,memakai masker. Dari postur nya itu bukan postur tubuh Toni yang ia kenal. "Siapa dia? apa karyawan baru?" batin Nita. Namun ia curiga,dari suaranya itu sangat familiar dan bahkan hafal karena belum lama ia mendengar nya.


"Juan? tapi apakah mungkin?" Nita Bertanya-tanya sambil mengamati wajah siapa dibalik masker itu.

__ADS_1


"Nita, kenalkan. Ini karyawan baru di sini. Namanya Juna. Kebetulan Toni minta cuti per hari ini karena ibunya sakit,jadi dia mau merawat nya dulu hingga satu minggu ke depan. Kamu tolong bantu dia ya. Nah Juna, ini Nita. senior kamu." jelas pak Yudi pada Nita.


"Halo,salam kenal senior. Nama saya Juna." ucapnya sambil melepas masker yang dipakai nya dan menunjukkan senyum menawannya yang sukses membuat Nita melongo pagi itu.


"Hah??? Juna????" ucap Nita tak percaya.


Juna mengedipkan sebelah matanya menggoda Nita.


"Astaga" Nita makin heran dengan pria ini. Apa sih maunya sebenarnya,kenapa mengikutinya terus.


"Nita!" panggil pak Yudi.


"Ah,ya pak. Apa? eh,gimana?"


"Kamu bantu arahkan Juna ya, lumayan lho dia tampan begini,pasti bakal banyak orang yang belanja kemari." ucap pak Yudi sumringah. begitu juga dengan Juna yang terus tersenyum genit pada Nita.


"Huft" Nita memijat pelipisnya yang Mulai terasa pusing karenanya.


"Ya sudah, kalian kerja yang rajin ya. Saya tinggal dulu. Selamat Juna." ucap pak Yudi yang langsung pergi.


"Pagi sayang" ucap Juan di telinga Nita tiba-tiba.


"Astaga! apa sih mau mu sebenarnya? ngapain pakai nyamar jadi Juna dan kerja di sini segala. Emangnya kamu dah jatuh miskin apa? huft." omel Nita pada Juan yang menyamar sebagai Juna.


"Em, sederhana saja,ini karena aku ingin selalu bersama mu." jawab Juan dengan santai nya.


"Haish,memang apa untungnya selalu bersamaku? Tahu gak,aku tuh gak nyaman kalau kamu selalu di hadapan ku. Rasanya seketika ruangan ini jadi sesak dan sulit untuk bernafas." Nita merasa kesal dengan Juan,lalu meninggalkan nya.


"Aku tidak peduli. Yang penting aku bersamamu kapanpun dan di manapun." jawab Juan sambil dengan santai nya hendak mengusap kepala Nita namun segera ditangkis oleh Nita,dan ia terus mengalihkan dirinya dari Juan dan memilih mengerjakan apapun sambil menunggu pengunjung.


"Aku tidak suka!!" protes Nita yang lama-kelamaan kesal juga karena Juan yang terus mengekornya kesana kemari.


"Tapi aku sangat suka,jadi Mohon kerjasama nya ya." timpal Juan lalu pergi melewati Nita sambil dengan sangat cepat mencuri kecup di pipi Nita.


"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Juan dengan ramah pada pelanggan wanita itu.


"Waaahhh, ganteng bangettt. Mas karyawan sini?" tanya pengunjung yang merupakan seorang wanita muda dengan penampilan rapi layaknya pegawai kantoran.


"Iya." jawab Juan dengan tersenyum ramah.


"Ya ampun,mas beneran deh. Aku berasa lagi ketemu artis Korea aja." Wanita itu terlihat makin senang dan terlihat mulai centil.


"Saya belum lama ini datang dari Korea." jawab Juan lagi yang makin membuat wanita itu mendekati Juan dan meminta foto bersama nya.


Nita yang melihat nya pun dibuat risih,kesal dan memilih pergi meninggalkan mereka dan mengambil beberapa barang di gudang.


"Ugh, kepedean banget jadi orang. Sok ganteng,tebar pesona." gerutu Nita sambil memilih dus berisi barang yang dicarinya.


"Eh,kan emang dia ganteng sih. Jadi wajar aja si banyak cewek yang langsung melirik. Ah,kamu kenapa si Nit? kok malah mikirin dia. Huh,biarin aja lah." gumam Nita lagi,lalu kembali lagi sambil membawa barang yang sudah ditentukan nya.


Saat masuk ke dalam minimarket, lagi-lagi ia melihat kehebohan yang dibuat Juan di sana. Banyak pelanggan yang antre di kasir untuk membayar belanjaan nya dan sekaligus meminta foto selfy bersama Juan. Betapa terkejutnya Nita,saat melihat antrian itu mengular hingga ke luar minimarket.


"Astaghfirullah,kenapa jadi begini?" gumam Nita sambil menepuk jidatnya yang merasa bingung bagaimana mengatasi situasi ini.


"Hei.! sini cepat bantu aku." panggil Juan pada Nita. Dan ia pun bergegas menuju meja kasir sebelah Juan untuk membantu nya. Namun,apa yang terjadi? para pembeli tak mau berpindah antrian ke meja kasir yang dijaga nya. Seolah sia-sia saja ia di sana.


"Huft,kalau gitu kamu urus aja semua ini sendiri. Toh ini ulah mu,aku ke gudang beresin barang." ucap Nita pada Juan yang tengah melayani pembeli itu.


"eh,mau kemana?" cegah Juan dengan menarik tangan Nita,dan Nita hanya memutar kedua mata nya sembarang untuk mengekspresikan kekesalan nya.


"Di sini saja,bantu aku mengemas barang dan mengelap keringat ku. Gak bagus kalau di foto sampai terlihat berkeringat." Pinta Juan dengan santai namun bernada seolah tak mau ada penolakan. Sebenarnya Nita malas mengikuti permintaan Juan,namun ketika ia menoleh keluar dan melihat antrian masih panjang maka mau tak mau ia menuruti permintaan Juan. Karen ia tak mau mengganggu ketertiban di area itu jika antrian makin panjang lagi.

__ADS_1


"Baiklah,apa boleh buat." jawab Nita,lalu membantu Juan mengemas barang belanjaan pembeli dan sesekali mengelap keringat di wajah Juan,bahkan memberikan nya minum. Mereka kompak menangani pembeli hari itu hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore,antrian sudah tak ada lagi karena di luar sedang turun hujan.


"Huft, akhirnya aku bisa bernafas juga." kesah Nita sambil duduk di lantai di samping meja kasir dengan meluruskan kedua kakinya. Ia terlihat lemas dan lelah. Tak berbeda dengan Juan pasti nya. Tapi pria itu tak terlihat mengeluh kelelahan sama sekali,walaupun keringat nya sempat membasahi wajahnya.


"Ini,minumlah." ucap Juan sambil menyodorkan sebotol air mineral pada Nita.


"Terima kasih." jawab Nita sambil meraih minuman itu lalu meminumnya. Juan hanya memperhatikan Nita yang tengah meneguk minumannya.


"Kita keluar beli makan yuk?" ajak Juan pada Nita.


"Kamu saja. Aku tidak ingin." jawab Nita,lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju gudang.


"Hei,apa kamu gak lapar? kamu dari pagi belum makan kan." ucap Juan sambil berjalan mengikuti Nita.


"Belum begitu lapar kok. Kamu saja,aku akan menunggu di sini sambil menata kembali barang-barang yang sudah habis di etalase." jawab Nita sambil fokus nya tertuju pada pekerjaan menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan nya untuk diletakkan di rak pajang.


"Kita pesan antar saja ya, kamu mau makan apa?" tawar Juan lagi, tak mau menyerah mengajak Nita.


"Ini orang kenapa sih,ngikutin Mulu" batin Nita.


"Gak usah,aku sedang diet. Belum pengen makan apa-apa". jawab Nita.


"Menurut ku kamu ga masuk kategori harus diet kok, justru seperti nya menambah berat badan mu sedikit akan terlihat lebih bagus,dan makin menggemaskan." ucap Juan sambil tiba-tiba sudah meraih kedua pipi Nita dan siap mencubitnya gemas. Namun Nita menatap nya lekat dengan ekspresi aneh. Keduanya saling bertatapan mata untuk sekian detik dengan perasaan berbeda mereka. Hingga Juan yang terlebih dahulu mendekati wajah Nita, yang langsung membuat Nita membelalakkan matanya.


"Hiks" tiba-tiba saja Nita cegukan karena situasi itu. Dengan segera ia menepis tangan Juan dari kedua pipinya dan memilih menjauh darinya. Ia masuk ke dalam minimarket dan mengambil sebotol minuman dingin dari dalam kulkas dan langsung meminumnya dengan terburu-buru.


"Apa yang terjadi di sini selama aku pergi?" tanya pak Yudi yang merasa terkejut melihat keadaan minimarketnya,dimana banyak rak yang kosong tanpa barang-barang yang berjejer di sana.


"Hup,,uhuk..uhuk..!" Nita yang terkejut pun langsung tersedak air minum dan menumpahkan sisa air dalam botol ke bajunya.


"Maaf pak,kami belum sempat mengisi etalase lagi karena para pembeli baru saja bubar." jawab Juan yang entah sejak kapan sudah berada di sana. Nita hanya mengangguk kan kepala nya tanpa bisa berkata apa-apa lagi karena masih terbatuk-batuk karena tersedak tadi.


"Maksudmu semua barang-barang nya habis karena dibeli orang? bukan karena baru saja dirampok kan?" tanya pak Yudi yang masih tak percaya.


"Iya,betul pak." Jawab Juan. Lalu ia mendekat ke Nita dan menepuk pelan punggung nya agar mengurangi rasa sakit karena tersedak.


"Ya sudah kalau begitu,isi rak nya besok saja. Sekarang kita tutup minimarket nya lebih awal. Kamu bantu Nita, setelah ini kalian boleh pulang. Kalian nikmati uang bonus dariku,beli makanan yang enak atau baju baru.hahaha" ucap pak Yudi dengan rasa puas dan gembira,lalu ia pergi lagi.


Sementara Nita sudah merasa lebih baik,ia duduk di lantai di depan kulkas sambil menyenderkan tubuhnya di sana. Bersama dengan Juan,mereka tengah meminum teh hangat yang dibuat Juan tadi.


"Terima kasih" ucap Nita.


"Hem,, Cepat habiskan tehnya, setelah itu kamu bisa pulang lebih dulu. Baju mu basah tuh,nanti dingin lho." ucap Juan.


"Huft,,Aku masih penasaran. Kenapa sih kamu harus menyamar jadi karyawan disini? untuk apa?" Juan hanya menatap Nita sambil tersenyum tanpa terlihat berniat menjawab pertanyaan nya.


"Hah, sudahlah. Aku bantu menutup minimarket lalu kita bisa pulang." ucap Nita setelah ia meneguk habis teh nya sambil ia beranjak dari duduknya.


"Kamu." ucap Juan, membuat Nita menghentikan langkahnya dan menoleh ke Juan.


"Semua karena kamu. Aku serius dengan perkataan ku. Sungguh.! aku tak bisa tidak bersama mu." ucap Juan dengan tatapan matanya yang serius. Lalu ia beranjak dari duduknya dan berdiri mensejajarkan diri nya dengan Nita di hadapannya.


"Tahukah kamu,selama setahun ini aku sudah mencari mu tanpa sehari pun berhenti? aku akui aku bersalah telah memaksakan kehendak ku,aku bodoh karena tidak mau mengerti perasaan mu,aku egois karena takut mendapat penolakan mu. Aku berlaku kasar padamu,walau aku sangat ingin menunjukkan perasaan ku yang sesungguhnya padamu tapi tak bisa. Aku sungguh menyesal,tolong jangan pergi lagi. Aku melakukan ini benar-benar murni karena kamu." jelas Juan penuh kesungguhan. Nita hanya terdiam menatap Juan. Ia tak bisa berkata lagi. Ia takut salah berucap. Ia lebih memilih diam dan mengabaikan Juan.


Juan pun hanya menatap lekat punggung Nita yang berjalan pergi tanpa berniat mencegahnya nya.


"Aku akan selalu berusaha mendapatkan mu." gumam Juan.


****************************************


HALO..HALO..HALO...🤗🤗

__ADS_1


YUK KLIK LIKE,VOTE DAN KOMENTAR POSITIF NYA UNTUK KU YA. KALIAN PENYEMANGAT KU.


💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓


__ADS_2