
"Apakah ini tidak apa-apa?" tanya Nita pada Niko.
"Percayalah,semua akan baik-baik saja." jawab Niko dengan menggenggam tangan Nita untuk meyakinkannya.
(Kenapa perasaan ku gak enak ya? huft,mungkin cuma perasaan ku saja) pikir Nita dengan raut wajah khawatir.
"Hemm,semua penumpang pesawat ini sudah turun,tinggal kita lho. Apa kau akan tetap duduk disini? lihat lah pramugara itu sudah menunggu kita." ucap Niko sambil mengarahkan pandangan pada pramugari yang sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum pada Niko dan Nita.
"Astaga,ayo cepat kota turun!" kali ini Nita yang bersemangat karena sudah tersadar dari lamunannya,ia langsung berlari meninggalkan Niko tanpa peduli dengan tasnya.
"Hei,tunggu aku. Ini tas mu.!" teriak Niko sambil berlari mengikuti Nita.
*
"Akhirnya,aku bisa menghirup udara segar Jeju lagi." gumam Nita yang sedang berdiri di depan pintu keluar bandara sambil sedikit merentangkan tangannya dan menghirup udara di sana yang terasa melegakan baginya.
"Ayo,kita nikmati semua yang ada di sini.!" ajak Niko dengan menggenggam tangan Nita dan menariknya agar mengikuti langkahnya. Nita pun menyambutnya dengan senyum bahagia. Ia merasa lega tak berada di dekat Juan saat ini. Ia ingin melupakan kejadian yang baru saja dialaminya di Seoul.
"Kita mau kemana?" tanya Nita ditengah perjalanan mereka.
"Emm,apa kau ingin makan sesuatu?" tawar Niko.
"Tepat sekali.!" jawab Nita dengan cepat.
"Maksudmu?" tanya Niko yang sedang mengendarai mobilnya.
"Maksudnya,ajakan mu tepat sekali. Karena aku sudah laaapar sedari tadi. Berasa cacing dalam perutku sudah mulai protes minta diisi.hehe" jelas Nita dengan wajah sumringah nya.
"Ok,kita ke restoran." jawab Niko.
"Restoran mana?" tanya Nita.
"em,pastinya yang terdekat dsn yang terenak. Supaya kita bisa lekas menangani cacing dalam perutmu.haha"
"Apa Delicious Resto masih buka?" tanya Nita dengan ragu.
"Hari biasanya masih buka. Tapi hari ini aku meminta yang lain untuk istirahat dan mengambil liburan mereka. Apa kau rindu dengan yang lain?" tanya Niko.
"Bukan,lebih tepatnya aku ingin makan di sana. Eh,tapi tidak sekarang tidak apa-apa,aku bisa kesana besok dan membantu yang lain lagi.he"
"Ok,kalau begitu kita ke sana sekarang." jawab Niko dengan senyum manisnya.
"Ah,apa tidak apa-apa?" tanya Nita lagi.
"Kenapa tidak? dan lagi. Kau kan lusa akan pulang ke Indonesia,jadi besok tidak usah membantu di restoran. Aku khawatir Juan akan sadar kalau kau akan pulang,dan dia mencari mu ke sana. Dan lagi,mungkin lebih baik kalau kau juga tidak usah pulang ke rumah keluarga Kim. Bukan apa-apa, menurut ku itu juga bukan tempat yang aman untuk mu menghindar saat ini. Untuk dia hari ini kau bisa tinggal di rumahku, dan kau bisa menemui Desi di luar. Ah,Ka..kau tidak perlu khawatir aku akan tidur di restoran sementara,jadi kau bisa nyaman di rumahku. Bagaimana?" jelas Niko dengan sedikit gugup karena melihat ekspresi Nita yang seolah bertanya-tanya dengan ucapannya barusan.
"Maksudmu kau akan tidur di ruang kerjamu?" tanya Nita.
"Ya,tidak usah khawatir. Bukankah aku biasa tidur di sana.he"
"Emm,lehermu bisa sakit kalau tidur di kursi. Dan mungkin akan terasa sangat dingin karena pemanas ruangannya sedang rusak kan?"
"Ah,tidak masalah. Aku bawa baju hangat kok."
__ADS_1
"Di rumahmu ada siapa saja?" tanya Nita lagi.
"Sayangnya,aku tinggal sendiri selama ini." Jawab Niko,membuat Nita kembali terdiam beberapa saat. Terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ok,kita langsung pulang ke rumahmu saja. Mampir mini market sebentar beli bahan masakan dan kita makan di rumah saja. Bagaimana?" ucap Nita yang malah gantian membuat Niko terpaku.
"Niko?" panggil Nita menyadarkan Niko.
"Ah,i..iya..Ok." jawab Niko.
Entah,ada rasa bahagia dalam hati Niko,ia merasa mendapat lampu hijau dari Nita. Ia berharap hubungannya dengan Nita tak hanya sebatas teman. Karena ia tahu,Nita pasti punya rasa yang sama dengan nya Ia yakin dengan perasaannya saat ini. Bahwa hatinya sudah memilih Nita untuk menggantikan Hyeji.
Niko melajukan mobilnya cepat,membelah dinginnya malam di Jeju saat itu. Hingga beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah Niko.
"Waah,rumahmu nyaman sekali. Bersih,rapi dan bagus. Nuansa monokrom dengan pemilihan perabot yang pas penataan yang memberi kesan manis.Yah,ini si pas banget dengan kepribadian mu yang ramah dan lembut." puji Nita begitu ia memasuki rumah itu.
"Yah, tidak usah berlebihan. Ini cuma rumah seorang pria single yang lama terkurung dengan kesedihan karena ditinggal kekasih." timpal Niko dengan membuat raut wajah yang seolah-olah sedang sedih.
"Hei,jangan buat ekspresi seperti itu. Aku tahu kau sedang pura-pura sedih.Wee" ejek Nita.
"Haha,apa terlihat sangat jelas?" tanya Niko tak percaya.
"Yah,kau bukan Niko yang beberapa bulan lalu ku temui di toko bunga. Sekarang kau jauh berbeda,kau terlihat lebih segar dan bersemangat. Sekarang saja,aku tahu kau lelah tapi tak terlihat jelas tuh ada ekspresi lelah di wajahmu. Yang ada malah ekspresi..emm.." Nita sengaja menghentikan ucapannya untuk membuat Niko penasaran.
"Apa? ekspresi apa?" tanya Niko tak sabar.
"Lapar.." jawab Nita.
"Haha,iya. Kau menunjukan ekspresi kelaparan saya ini." jawab Nita dengan tertawa dan mengejek Niko.
"Haishh kau ini. Ya sudah lebih baik kau mandi saja dulu,biar aku yang masak. Ah,Kamarmu ada di lantai atas. Sedangkan kamarku ada di sudut sebelah sana. Jadi kau aman kan? setidaknya kau bisa mempercayai aku karena kamarmu ada di lantai atas dan aku di bawah. Iya kan?" ucap Niko sambil menunjukan letak kamarnya.
"Emm,baiklah. Aku ke kamar dulu. Tolong buatkan makanan yang enak ya,,Terima kasih..Cheff.." ucap Nita sambil berjalan menuju kamarnya.
"Ok,chef Niko selalu siap memasak untuk tuan putri Nita." ucap Niko dengan gaya ala pengawal putri.
"Hahaha" tawa Nita yang melihat tingkah Niko dari tangga.
"Syukurlah,sejauh ini seperti nya semua aman dan berjalan sesuai rencana. Nita, percayalah aku tidak akan membiarkan mu menderita,apa lagi harus menikah dengan pria yang tak kau cintai." gumam Niko sambil mengeratkan kepalan tangannya mengingat tindakan Juan pada Nita.
*
Di sisi lain, Juan masih di sibukkan dengan pekerjaan nya. Dia masih berkutat dengan dokumen yang harus ia cek dan tanda tangani. Ia terpaksa harus ekstra lembur untuk malam ini,karena besok nenek Kim memintanya mengosongkan jadwalnya. Padahal kemarin malam ia sama sekali tak tidur,pandangan matanya sudah mulai berputar karena kantuk. Dan kepalanya sudah mulai terasa berat. Namun sekretaris Liem kembali memberikan informasi bahwa dia mencium adanya kebohongan dalam K group. Hal itu memicu Juan untuk segera menemukan siapa yang sedang mencoba menusuknya dari belakang. Sehingga rasa lelah dan kantuk pun sudah tak terasa baginya.
"Liem,apa masih banyak?" tanya Juan pada sekretaris Liem.
"Ini baru 50% kan Ju." jawab sekretaris Liem yang juga tengah membantu Juan.
"Hah??!! sial.!! bagaimana bisa memberikan pekerjaan sebanyak ini padaku?? hah.." keluh Juan.
"Ehem, haruskah aku menjelaskan semuanya satu persatu? Pak Dirut Kim Ju..An..?" tanya sekretaris Liem seolah sambil menekankan ketidak kesukaannya
"Ah,tidak! tidak perlu. Aku akan cepat menyelesaikan nya." ucap Juan sambil melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Ucapan Liem menyadarkan nya bahwa selama ini yang gila kerja adalah dirinya. Sekretaris sudah sering kali mengingatkannya untuk jangan memunculkan ide secara bersamaan. Sehingga tidak akan repot dan keteter karena harus mengerjakan banyak hal. Namun Juan tetaplah Juan. Dia pria jenius yang pintar,gila kerja dsn penuh ambisi.
"Yah, seperti nya Minggu depan kau dan yang lain perlu pergi liburan. Supaya wajahmu tak cepat keriput." ucap Juan.
"Huft,sudahlah Ju. Aku tahu kau cuma pura-pura kan? tida usah banyak bicara apa lagi janji palsu. Lebih baik kau cepat selesaikan dokumen itu. Agar kita bisa cepat pulang. Aku perlu jaga penampilanku, aku tak mau menjadi pria yang kesulitan mendapatkan pendamping." jelas Liem.
"Em" Juan menjawab dengan singkat padat dan jelas.
"Hah,tapi akan sangat baik kalau tawaranmu tadi itu sungguhan." gumam Liem.
"Kau atur saja lah." timpal Juan.
"Eh,yang benar? apa kali ini kau benar-benar serius menawarkan liburan buatku??" tanya Liem tak sabar.
"Hem,dengan 1 syarat." jawab Juan dengan senyum liciknya.
"Apa?? masih harus pakai syarat? kau benar-benar deh.huft." keluh Liem.
"Setelah aku menikah maka kau ku ijinkan pergi berlibur,tapi tak lebih dari satu minggu. Dan sepulang dari liburanmu, ku harap kau tak lagi mengeluhkan soal wanita karena ulahku. Bagaimana?" tawar Juan.
"Astaga,Ju.!! Haish yang benar saja,mana ada orang cari pacar dalam waktu satu Minggu? kau gila ya??!!"
"Ada" jawab Juan dengan santainya.
"Pasti dia gila." timpal Liem.
"Hati-hati dengan ucapan mu! karena akan aku buktikan,kalau aku tak perlu satu Minggu untuk bisa mendapatkan seorang istri." jawab Juan dengan wajah cool dan senyum licik nya.
"Ya..ya..aku akan percaya kalau kau membuktikan nya." sahut Liem dengan acuh.
"Ya sudah kalau tidak percaya. Liburanmu batal.!!"
"Apa?!! huft,kalau begini mungkin baiknya bulan depan aku resign saja lah." keluh Liem yang sudah putus asa dengan Juan.
"Sayang sekali,padahal aku berencana menaikkan gaji tahunan mu 3x lipat dan memberikan bonus liburan plus uang saku khusus untuk sekretaris ku."
"Ap..apa??! ah,tadi cuma bercanda kok. Aku percaya denganmu. Kau pasti akan mendapatkan istri hanya dalam waktu satu minggu.he..he..he.." jawab Liem.
(Dasar manusia kutub menyebalkan,aku sumpahi kau akan dapat istri yang galak dan kau akan bertekuk lutut dengan istrimu. Dan saat itu aku akan merayu kakak ipar agar tak bersikap manis padamu.hahaha) batin Liem.
"Kita mau lembur sampai kapan?" tanya Liem.
"Jika kau bisa cepat menyelesaikan ini maka sekarang juga kita pulang." jawab Juan.
"Ah? ya,,ya,,baiklah." wajah Liem kembali menjadi lesu. Pasalnya setidaknya mereka akan pulang dini hari nanti.
(Gila,apa dia tak merasa capek? badannya terbuat dari apa sih? jangan-jangan dia punya organ robot,Wahh benar-benar gila kerja. Dia lebih cocok menikah dengan pekerjaan nya bukan dengan seorang wanita.) kembali Liem bergumam dalam hatinya melihat Juan yang tetap stay cool.
***
AUTHOR
HAPPY READING MY READERS..tetap dukung aku ya..🤗🙏
__ADS_1