
"Maafkan aku,bodohnya aku yang membiarkan mu mengalami kesulitan ini. Seandainya saat itu aku tak langsung membuat kesimpulan sendiri dan tidak egois pasti kamu tak akan begini.Aku menyesal." ungkap Niko yang saat ini sedang duduk bersama dengan Nita di tepian ranjang rawat nya.
"Apaan sih? gak usah pasang wajah sedih begitu. Aku gak papa kok Nik, sudahlah. Lagi pula ini akan segera berakhir dalam tiga bulan,emm.. tapi bisa jadi lebih cepat karena sudah ada Yuri.he" jawab Nita dengan santai,tak mau Niko bersedih.
"Hei,kenapa menatapku begitu?" tegur Nita pada Niko yang terlihat melamun menurutnya.
"Ah,maaf. Aku hanya sedang berpikir." jawab Niko.
"Ish, orang sakit tidak boleh banyak pikiran. Seharusnya kamu cukup bersantai dan beristirahat saja,fokus dengan kesembuhan mu. Jangan buat aku panik lagi seperti tadi,aku sampai mengira kamu akan mati dengan suaramu yang terdengar begitu lemah.huft" keluh Nita.
"Apa kamu sebegitu mengkhawatirkan ku?" tanya Niko.
"Pertanyaan macam apa itu? tidak mungkin aku tidak khawatir,kau pria tampan terbaik yang ku kenal di negara ini.Hu" jawab Nita.
"Bagaimana dengan kakek dan nenek Kim?" tanyanya lagi.
"Mereka juga orang baik. Sama seperti mu. Aku sungguh sangat beruntung dan berhutang budi pada kalian semua." jawab Nita dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Dengan begitu kamu tidak mau menyakiti dan mengecewakan mereka?"
"Tepat sekali. Apa lagi mereka orang tua,di usia mereka yang sudah tua tak ada anak yang menemani. Hanya cucu nakal yang menyebalkan itu.huh"
"Apa kamu juga begitu padaku?"
"Tidak perlu kau tanyakan lagi. Kamu juga sama. Aku tidak mau kamu bersedih,ataupun terjadi sesuatu padamu. Kamu harus bahagia,sehat dan selamat. Hanya itu yang ingin ku tahu dan ku dengar tentang mu." Jelas Nita.
"Kalau begitu, menikah lah denganku." ucap Niko tegas dengan menatap tajam pada Nita, sehingga siapapun yang melihatnya pasti akan tahu kalau ucapan nya benar-benar serius.
"Ha?"
"Kamu dengar,menikahlah denganku. Agar aku bahagia,agar aku tak bersedih,agar aku sehat. Seperti katamu tadi,jadi ayo kita menikah." ucap Niko.
Nita terpaku,melihat dalam pada manik mata Niko,tak ada kebohongan di sana. Dengan ekspresi wajah nya juga tersirat keseriusan namun terlihat ada emosi di sana.
"Nita!" panggil Niko.
"Eh,ya? ya aku dengar. Maaf." jawab Nita.
"Bagaimana? kamu mau kan?" tanya Niko lagi yang terlihat ingin segera mendapatkan persetujuan dari Nita.
"Eh..he..he..apa kamu serius? jangan bercanda di situasi seperti ini. Ini membuat ku bingung. Kamu pintar bercanda ya.he" jawab Nita sekena nya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku yakin kamu tahu kalau aku serius atau tidak." jawab Niko.
__ADS_1
"Ehem,itu,,em..iya aku tahu. Aku tahu kamu serius. Tapi ini membuat ku bingung. Belum sebulan lalu aku dikejutkan dengan pernyataan aku yang sudah menikah dengan Juan. Tapi aku sendiri tak menyadari kapan dan dimana aku menikah dengannya,namun entah bagaimana juga publik percaya dengan berita itu. Hingga aku kesulitan keluar rumah dan terperangkap tidak bisa pulang ke negaraku. Lalu sekarang tiba-tiba kamu mengajakku menikah. Aku harus bagaimana? Aku merasa seperti aku bukan manusia,aku hanya barang terlantar yang bisa bebas di akui kepemilikan nya oleh orang yang menginginkan. Huft."
"Maaf,aku sama sekali tidak menganggap mu sebagai barang. Aku hanya tidak ingin melihat mu dalam kesulitan dan kesedihan. Dan kau pun tahu aku mencintaimu, sudah pasti aku tidak mau kau dimiliki pria lain. Jadi ayo menikahlah denganku. Aku berjanji akan membahagiakan mu dan tak akan mengecewakanmu." mohon Niko.
Nita terdiam mendengar penjelasan Niko.
"Apa kamu yakin?" tanya Nita memastikan.
"Aku selalu yakin dengan perasaan ku. Karena aku tulus mencintaimu." jawab Niko.
"Kenapa kamu se yakin itu?"
"Karena wanita yang kucintai adalah Nita. Sama seperti Hyeji,aku pun yakin dengan perasaan ku saat ini padamu." jawab Niko mantap.
Namun entah kenapa,seolah ada yang mengganjal di hati Nita,walau tak dipungkiri ada rasa ketertarikan pada Niko sebelumnya.
"Aku yakin kamu juga mencintai ku kan?" tanya Niko dengan tatapan menelisik pada Nita. Dan Nita pun hanya membalas tatapan itu dengan pikiran yang rumit. Sebelum akhirnya ia menjawab dengan hanya menganggukkan kepalanya ragu.
Niko pun langsung meraih Nita kedalam dadanya. Memeluknya dengan rasa senang karena merasa cintanya terbalaskan.
Sedangkan dalam hati Nita berpikir, "Aku tidak salah kan? dulu bukannya aku juga akan menjawab pernyataan cintanya, jadi sekarang aku sudah benar kan menjawabnya? aku boleh kan berharap sedikit untuk kebahagiaan ku? semoga aku tidak salah."
"Terima kasih" ucap Niko,dan kembali Nita hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Nenek tunggu di ruang tamu!" ucap nenek Kim tegas,kemudian berlalu meninggalkan Juan dan Yuri yang terlihat pucat.
"Bagaimana ini?" tanya Yuri.
"Ehm,tak apa. Ayo kita turun." jawab Juan.
Mereka pun menuju ruang tamu dan duduk berhadapan dengan nenek Kim yang terlihat sangat marah.
Tak mau kesehatan nenek Kim menurun,Juan pun tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk memulai menjelaskan pada nenek Kim. Karena ia tahu,nenek pasti sudah bisa menebak dari raut wajahnya.
Suasana begitu hening dan tegang di ruang tamu itu. Sebelum tiba-tiba suara kedatangan wanita yang juga dicari nenek Kim itu datang.
"Aku pu-lang" ucap Nita, yang tiba-tiba terkejut melihat pemandangan di depannya. Dimana ada nenek Kim, Juan dan juga Yuri. Dengan suasana yang terlihat begitu suram.
"Ehm,ne..nenek. Kapan datang?" tanya Nita sambil langsung meraih tangan nenek hendak menyalaminya seperti biasa. Namun nenek langsung menepis tangannya. Seolah tak mau disentuh oleh Nita. Itu sudah cukup mengisyaratkan bahwa ia sedang marah besar saat ini.
Nita pun hanya bisa berdiri kikuk,tak tahu harus bagaimana. Baru kali ini ia melihat nenek Kim dengan wajah yang terlihat semarah itu.
"Biar ku ambilkan minuman dulu." ucap Nita,berusaha memecah suasana.
__ADS_1
"Tidak perlu!" ucap nenek.
"Eh,? ya. Baiklah." jawab Nita dengan sedikit gemetar merasa bersalah pada nenek Kim. Ia yakin nenek pasti sudah tahu kebohongan Juan dan dirinya,pasti saat ini nenek sangat marah dan kecewa,terlebih ada Yuri di hadapannya saat ini. Satu rumah dengan Juan dan Nita yang pada dasarnya publik tahu kalau mereka baru menikah.
"Duduklah!" perintah nenek pada Nita.
"Baik" jawab Nita.
Kini mereka ber empat sudah sama-sama duduk dengan Nita yang memilih duduk jauh dari Juan yang bersebelahan dengan Yuri.
"Siapa yang akan menjelaskan ini?!" ucap nenek Kim.
"Ehm,nenek ja..jadi ini bukan seperti yang nenek kira. Kebetulan Yuri hanya mampir disini sebentar,aku tahu kok tadi sebelum aku keluar." ucap Nita mencoba menjelaskan.
"Kau masih berani membohongi wanita tua ini Nita?" jawab nenek Kim penuh kekecewaan.
"Ha? ti..tidak nek." Nita tak kuasa lagi melanjutkan kata-katanya karena tak tega melihat wajah nenek Kim yang terlihat sangat sedih namun juga menyimpan kemarahan. Nita takut kondisi kesehatan nenek tiba-tiba menurun.
"Sampai kapan kamu akan tetap diam bocah nakal?" tanya nenek pada Juan.
"Maaf nek." jawab Juan.
"Hanya itu yang bisa kau katakan?" tanya nenek lagi.
"Sekali lagi maafkan aku nek. Aku bersalah telah membohongi semuanya." jawab Juan.
"Baik. Kalau begitu, kamu pilih aku hidup atau mati?" ucap nenek memberikan pilihan pada Juan.
"Maksud nenek?" tanya Juan tak mengerti.
"Kamu tahu maksudku." jawab nenek.
"Baiklah." jawab Juan.
Nenek beranjak dari duduknya lalu berjalan pergi meninggalkan Nita,Juan dan Yuri dalam kediaman masing-masing.
***
AUTHOR
THANK YOU FOR VOTE,LIKE AND FAVORITE.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻❤️🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1