
Kring...kring...
Bunyi ponsel Juan yang sedari tadi membangunkan Juan dari tidurnya.
"Halo.." jawab Juan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sayang!! kau sedang apa??!! kamu sudah berjanji akan menemuiku kenapa sampai hari ini kamu belum juga datang?! ugh" celoteh Yuri di seberang telepon.
"Huam...Hemm" jawab Juan singkat sambil masih menguap.
"Apa itu?? kamu menguap? apa kamu masih tidur?? sudah jam berapa ini? biasanya kau sudah di kantor!" omel Yuri.
"Iya." jawab Juan singkat dan mematikan sambungan telepon nya sambil mengerjakan matanya. Duduk untuk mengatur dirinya.
"Huff,berisik sekali.! huamm" gumam Juan dengan sesekali menguap.
Dilihatnya ranjang di hadapannya, Nita tak lagi berada di sana.
"Cih,wanita itu benar-benar tidak bisa menjaga kesehatan nya. Baru saja kemarin aku menemukan nya yang terlihat hampir mati, harusnya hari ini dia tidur saja. Huft, sudahlah mungkin dia sedang di kamarnya. Lebih baik aku bersiap." gumam Juan.
Baru saja beranjak, telepon nya kembali berdering. Terlihat Liem di layar ponselnya.
"Hem," jawab Juan setelah mengangkat telepon nya.
"Hei!! dimana kau?!" tanya Liem yang terdengar kesal.
"Dirumah,kenapa?"
"Kau masih tanya kenapa?? astaga, jam berapa sekarang??!! kau lupa hari ini ada rapat pemegang saham? oh tuhan, cepatlah kesini.!! Waktu mu 15 menit lagi.!" omel Liem.
"Mundurkan saja satu jam lagi." jawab Juan santai.
"apa?? Ingat siapa yang bilang tidak akan pernah mengubah jadwal kalau itu berkaitan dengan rapat direksi hah?? Duh kau ini sungguh membuat ku ingin memukulmu.!"
Tut...
Juan memutuskan panggilan telepon dari Liem dan langsung pergi bersiap.
Disisi lain, Nita sudah berada di sebuah minimarket. Sudah 2 hari ini ia melakukan pekerjaan sambilan di minimarket itu.
__ADS_1
"Selamat siang" sapa Nita pada pelanggan yang baru masuk ke minimarket itu.
"Nita??" ucap Niko yang terkejut melihat nya.
"Ah,Niko. Hai? he he" jawab Nita dengan sedikit salah tingkah karena Niko mengetahui ia bekerja disana
"Kenapa kau disini?" tanya Niko.
"Yah, seperti yang kau lihat. Aku bekerja di sini.Ah, hanya pekerja part time kok. hehe" jawab Nita.
"Hei,apa yang ingin kau beli?!" tanya pemilik minimarket itu.
"Ah,iya saya akan membeli minuman" jawab Niko,lalu pergi mengambil beberapa makanan dan minuman ringan. Lalu membayar nya.
"Aku akan menunggu di depan." ucap Niko sambil keluar dari minimarket.Dan Nita hanya menjawab nya dengan menganggukkan kepalanya.
***
"Kenapa harus bekerja disini?" tanya Niko pada Nita. Saat ini mereka tengah duduk di depan mini market. Niko sudah menunggu beberapa jam hingga Nita berganti sift dengan rekannya jam 8 malam tadi.
"Em,karena aku ingin saja si. He" jawab Nita sambil mengalihkan pandangan nya karena tidak nyaman dengan pandangan Niko yang terkesan sedang mencecar nya.
"Ada apa?" tanya Niko lagi.
"Apa suami kaya mu itu tahu?"
"Hem? suami? Juan? hissh, ayolah Nik. Kamu kan juga tahu yang sebenarnya.Aku dan dia kan tidak bisa dikatakan begitu. Jadi jangan berlebihan deh,masa aku harus mengatakan semua yang aku lakukan? cih,lucu sekali." jawab Nita.
"Huft,aku tahu. Tapi,apa bayaran darinya tidak cukup? dibandingkan dengan pekerjaan ini? Kurasa kamu tak perlu lagi bekerja sambilan, kamu tinggal melakukan hal lain di tempat lain yang lebih nyaman,tidak capek dan." jelas Niko yang masih tak senang melihat Nita bekerja hingga malam.
"Niko! ehem,maaf. Aku tahu kamu baik. Kamu mengkhawatirkan aku. Tapi,aku bukan wanita begitu. Aku sudah memutuskan untuk sandiwara ini murni hanya aku ingin membantu nenek. Aku sudah menganggap nya nenek sendiri. Aku juga kasihan dengan kondisi nya. Terlepas dari mungkin Juan memberikan aku sejumlah uang,aku tidak peduli. Selama ini aku tidak pernah berniat memakai uangnya sepeserpun. Jadi, tolong mengerti keputusan ku. Satu bulan,tidak lebih. Juan sudah berjanji akan mengakhiri ini secepatnya." jelas Nita.
"huftt,baiklah." jawab Niko yg menyerah dengan keinginan Nita. Ia benar-benar tidak bisa menolak permintaan Nita.
"Kapan kau pulang? biar ku antar." ucap Niko setelah menyesap teh nya.
"Ah,gak usah repot-repot,aku bisa pu Lang sendiri." Jawab Nita terbata karena tatapan Niko yang mengisyaratkan tidak mau ditolak lagi.
"Ehem, sebentar lagi."
__ADS_1
"Baiklah,aku menunggu mu disini." ucap Niko.
"Iya."
***
"Apa jadwal ku untuk besok penuh? tolong geser di hari lain. Aku ingin sekali istirahat." ucap Juan pada Liem sambil berjalan keluar dari lobi perusahaan nya.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Liem tak percaya.
"Kenapa?"
"Ah,tak apa. Baiklah,akan aku urus jadwalmu besok. Kau bisa istirahat seharian." Ucap Liem,walau dalam hati masih heran. Baru pertama kali ia mendengar seorang Juan meminta waktu hanya untuk istirahat. Padahal biasanya walau sakit pun ia akan tetap bekerja.
"Liem! mobilmu tinggal saja. Tolong antar aku pulang." pinta Juan sambil membuka pintu mobil bagian belakang.
Mendengar itu,Liem makin heran. Ternyata Juan masih manusia. Dia masih bisa merasakan lelah.
"Liem!" panggilan Juan dari dalam mobil menyadarkan Liem dari keheranan nya pada tingkah Juan saat ini.
"Iya,,iya.." jawab Liem sambil bergegas menaiki mobil Juan dan langsung mengemudikan nya menuju umah Juan.
Sepanjang perjalanan,Juan hanya memandang ke luar jendela mobil. Beberapa kali ponselnya berdering,tapi ia tak menghiraukan nya. Rasanya ia ingin cepat pulang,minum teh hangat buatan Nita lalu pergi tidur.
"Ponselmu terus berdering Ju,kau tidak menerimanya?" ucap Liem seraya memberitahu Juan.
"Biarkan saja.Hanya Yuri." jawab Juan malas,lalu menyenderkan kepalaku di sandaran jok nya.
"Hah? kau yakin? itu Yuri lho yang menelfon. Yuri mu,Yuri." ucap Liem menggebu, bermaksud memberi tahu Juan.
"Iya,aku tahu. Aku sudah bilang kan itu Yuri? lalu kenapa? Sudah,kamu fokus nyetir saja! Ah,untuk besok tidak ada yang boleh menggangguku termasuk Yuri. Bilang saja aku dinas luar. Aku sedang tidak ingin diganggu." tutur Juan tegas.
"Ya,aku mengerti." jawab Liem yang langsung kembali fokus pada kemudinya.
Juan kembali melihat keluar jendela,melihat pemandangan luar malam itu. Hingga kemudian ia dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. Dua orang yang ia kenal,Nita dan Niko tengah berjalan bersama di pinggir jalan. Terlihat Nita sesekali tersenyum dengan mata yang berbinar pada Niko. Begitu juga sebaliknya.
Pemandangan itu membuat Juan mengerutkan keningnya dan mengepalkan tangannya.Dadany bergemuruh penuh emosi.
"Tambah kecepatan nya Liem!" perintah Juan pada Liem dengan datar.
__ADS_1
"Hah? apa kamu sedang terburu-buru?" tanya Liem.
Namun Juan hanya diam dan membuang pandangannya ke luar jendela. Karena tak mendapat jawaban Liem melirik dari spion tengah melihat bangku belakangnya,kemudian tanpa menunggu lama ia langsung menambah kecepatan laju mobilnya karena melihat aura menyeramkan dari Juan. Tanda suasana hatinya sedang tidak baik. Liem sudah sangat hafal dengan kelakuan dan karakter Juan,bos dan juga sahabat nya.