Inikah Cinta

Inikah Cinta
79


__ADS_3

"Lelah sekali" keluh Desi sambil merebahkan dirinya di kasur di kamar Nita.


"Hemm baru nganggur dua hari dah ngeluh capek aja,padahal cuma ke sini. Memangnya kamu jalan kaki? kok lama banget sih.?!" selidik Nita.


"Nganggur juga butuh energi kali untuk menguatkan hati dan fisik pengangguran ini. Makanya kak,kamu yang kerja tapi bohongan sini pijitin kaki ku aja deh biar kelihatan kerjanya."


"Hah?? maksudmu?? ogah ah" ucap Nita sambil memasuki kamar mandi.


"Hei,kak! mau kemana??"


"Kamu gak lihat aku masuk kamar mandi? masih tanya." jawab Nita jutek.


"Ih,inget umur kak,kalau jutek terus nanti cowok takut mendekat lho." goda Desi.


"Nih,handuk aja buatmu!" ucap Nita sambil melempar handuk yang dipegangnya ke wajah Desi.


"Aw,!! Yee galak amat Mak?? gitu aja marah,nanti cepet tua lho."


"Huft,Desi..mau kamu apa sih?! tadi ngatain aku suruh ingat umur, sekarang ngatain aku pemarah dan cepet tua. Kamu tu menguji kesabaran banget lho." omel Nita yang mengurungkan niat mandi dan mengambil duduk di kursi sebelah ranjang.


"Yahh,berhubung sekarang kita sesama pengangguran please deh kak jangan cepat marah gitu,baiknya kita saling menghibur aja kan biar nyaman." tutur Desi.


"Hem" jawab Nita singkat.


Suasana hening sejenak sebelum Desi melanjutkan ucapannya.


"Kak," panggil Desi.


"Ya" jawab Nita,ia tahu saat ini Desi tengah sedih namun belum siap menceritakan nya. Pasalnya dari awal mereka bertemu Desi terus memanggilnya dengan sebutan kakak. Bisanya dia akan memanggil Nita dengan nama atau apapun semaunya. Ini menandakan Desi saat ini sedang ingin ada sandaran untuknya mengeluh dan mencurahkan kesedihannya.


"Emm" Desi terlihat berpikir untuk mengatakan niatnya.


"Aku sudah tahu,kamu tidak tahu harus berkata apa pada ayahmu nanti kan? tidak usah khawatir nanti kita bisa buka usaha bersama di Indonesia,rejeki sudah ada tuhan yang mengatur. Termasuk sehat,nasib baik,nasib buruk bahkan umur dan jodoh. Jadi kalau kamu khawatir pacarmu disini akan selingkuh ya kami doakan aja dia setia. Allah pasti mengabulkan doamu kok. Yang penting kita tetap berusaha melakukan yang terbaik dalam semua hal. Beres kan?" jelas Nita.


"Wah?? kak??" ekspresi Desi yang terlihat takjub dengan apa yang dikatakan Nita barusan.


"Kenapa lagi? kamu heran kenapa aku bisa tahu pikiranmu? aku punya indera keenam. Jadi sekarang kau bisa tenang." ucap Nita lagi yang kemudian berdiri dari duduknya.


"Hah? serius kak? kamu punya indera keenam? masa sih? kok aku baru tahu sih? sejak kapan kamu tahu kemampuanmu itu kak?" tanya Desi mencecar Nita karena dia sangat penasaran dengan pengakuan Nita barusan.


"Astaga,anak ini. Katamu tadi aku kerja tapi bohongan,ya sudah pasti yang ku ucapkan tadi juga bohong dong.Wee" ledek Nita.


"Cih,kamu tuh. Padahal aku serius kepikiran lho kak. Nasibku bagaimana? Memang semua yang kakak katakan itu benar,tapi tak semudah itu untuk melakukan yang terbaik kak. Huft, seandainya saja kau tahu kak, aku tu sebenarnya gak salah lho. Aku gak tau kenapa bisa aku yang disalahkan sih,padahal kan aku beru sebentar kerja disini. Belum puas jalan-jalan di jeju.hiks" keluh Desi lagi sambil mencekal tangan Nita.


"Huft, Des sudahlah. Aku tahu kamu gak salah,ini sudah takdir. Kamu gak harus kerja disini untuk bisa jalan-jalan ke Jeju kan? sesampainya di Indonesia nanti kita bisa cari kerja biar bisa jalan-jalan kesini. Ok.?" tutur Nita,kemudian memeluk Desi untuk menghiburnya.


"Em, bagaimana dengan ayah ku nanti kak?"


"Des,semua orang tua itu pasti sayang dengan anaknya. Ada kalanya mereka keras pada anak,bukan berarti sudah tak peduli. Justru karena mereka sangat sayang dan peduli pada anaknya. Percayalah,ayahmu pasti malah akan menyambut mu dengan suka cita. Kalau masih takut,kan ada aku yang menemani mu. Tenang saja."


"Baiklah, makasih banyak kak." ucap Desi.


"Ya sudah,aku mandi dulu. Oh,tadi Niko bilang katanya kita makan malam di luar aja,sekalian buat perpisahan katanya." jelas Nita.


"Hah? gak salah tuh perpisahan? apa kita dah yakin gak akan kesini lagi? kita gak akan ketemu Niko dan yang lainnya lagi?hiks" keluh Desi sedih.


"Huft,ya sudah ganti bahasa,bukan perpisahan tapi perayaan."


"Perayaan apa? kan kita lagi sedih. Nganggur pula.huft" bantah Desi.


"Perayaan kamu terbebas dari belenggu peraturan star hotel deh. Gimana? puas?" Nita kesal dengan Desi yang terlalu larut dalam kesedihan nya.


"Boleh deh.he" jawab Desi.


***


"Sukses untuk semuanya" seru semua orang yang ada di restoran. Ya saat ini Niko,Nita dan Desi sedang berada di sebuah restoran bersama para staf Delicious Resto,ini adalah makan malam sekaligus perpisahan atas kepulangan Nita ke Indonesia.


"Yah,kita akan merindukan mu nit. Pokoknya kau harus ke Korea lagi,ok.!" ucap Dongmin asisten chef.


"Tentu,aku pasti akan menyempatkan menemui kalian semua." jawab Nita.


"Ya,kalian jangan merepotkan nya,nanti kita adakan liburan ke Indonesia,jadi bisa sekalian reuni kan." ucap Niko yang langsung disambut baik oleh semuanya.


"BALI" seru semua karyawan restoran nya itu.


"Yaaah kurasa itu akan banyak menguras tabunganku,tapi...pasti ku kabulkan doongg.haha" Niko menyambut keinginan mereka dengan suka cita.


"Ayo bersulang,untuk kesuksesan Nita." seru Dongmin lagi.


"Hei,chef itu bukan alkohol.! Nita,Desi kalian juga? ayolah malam ini kita harus bersenang-senang." Dongmin mengajak Niko,Nita dan Desi untuk ikut menikmati alkohol bersama.


"Maaf,mungkin aku lupa bilang kalau aku dan Desi adalah muslim. Kami tidak minum minuman keras. Ini,ada air mineral. Kami cukup dengan ini saja.Okay?" jelas Nita.


"Waah,maaf. Aku tidak tahu. Tapi,chef?" tanya Dongmin mengarahkan pandangan nya pada Niko.


"Aku masih harus menyetir mobil membawa mereka pulang kan?" jelas Niko sambil melirik pada Desi dan Nita yang disambut dengan senyum.


"Oh, baiklah. Kalau begitu,ayo bersulang.!!"


Makan malam dan pesta sederhana yang berlangsung sangat berkesan bagi Nita, ia bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik di negara ini. Walaupun ia juga menyayangkan karena tak bisa berada lebih lama. Namun ini yang terbaik,suatu saat nanti pasti akan bertemu lagi dengan mereka.


"Sudah malam,kita pulang dulu. Besok Nita dan Desi akan berangkat pagi. Kalian lanjutkan saja,ok.!" ucap Niko sambil bersiap beranjak dari duduknya.


Mendengar itu,Nita dan Desi pun mengikuti Niko.


"Kalau begitu,aku pamit. Selamat tinggal kawan,semoga suatu saat nanti kita bertemu lagi. Aku akan sangat merindukan kalian." ucap Nita dengan sedih.


"Hei,jangan berpamitan begitu. Aku jadi sedih.hiks" Ucap Suyeon,kemudian menghamburkan dirinya memeluk Nita.


"Ish dasar anak ini. Sudah lepaskan pelukanmu,anggap saja Nita sedang pergi berlibur." Ucap Dongmin sambil menarik Suyeon agar melepaskan pelukannya pada Nita.


"Sudah,kalian pergi saja. Anak ini biar kita yang urus, seperti nya sudah terlalu mabuk. Chef, hati-hati."


"Iya, sampai jumpa lagi. Jangan lupa hubungi kami ya.!" ucap semuanya bersamaan pada Nita.


**


"Apa kau menangis?" tanya Desi pada Nita yang terlihat diam merenung sambil melihat keluar jendela mobil.


"Benarkah?" tanya Niko penasaran sambil melirik Nita yang duduk di sebelahnya.


"Ih apaan sih? aku cuma sedang melihat pemandangan di pinggir jalan saja kok." sanggah Nita.

__ADS_1


"Oh,padahal aku mengira kau akan menangis karena akan meninggalkan ku." ucap Niko,yang sontak membuat Nita terkejut dan langsung menoleh pada Niko dan Desi bergantian. Terlihat eskpresi Desi yang juga terkejut dan menatap Nita mengisyaratkan penjelasan.


"Ish,yang benar saja. Buat apa aku menangisi mu.?"


"Apa kau yakin tidak akan merindukan ku hah?" ucap Niko lagi dengan sangat jelas.


"Hei! ka..kau?" ucap Nita yang tak tahu lagi harus menjawab apa. Karena dia tahu maksud dari perkataan Niko.


"Oh my God,kak? kamu? dan chef? apa kalian?" selidik Desi.


"Bukan! ehem,ini bukan seperti yang kau pikirkan. Hei kau, berhentilah meledek ku. Haishh"


"Hahah" tawa Niko dengan santai melihat ekspresi Nita.


"Malah ketawa sih?! astaga,sudahlah terserah kau saja.huft."


"Jangan memajukan bibir mu begitu,nanti bisa ku ci" ucap Niko terhenti karena Nita langsung menutup mulutnya dengan tangan. Kemudian menoleh pada Desi dan tersenyum menunjukan barisan giginya.


"Bukan apa-apa.he" ucap Nita seolah menjelaskan pada Desi lalu kembali pada posisi duduk nya.


"cie,iya..iya..aku mengerti." ucap Desi sambil cekikikan.


"Chef, seperti nya anda harus lebih agresif lagi. Bersemangat lah." ucap Desi pada Niko,yang direspon setuju olehnya.


"Apa maksudmu? Des? Chef?" selidik Nita yang tak mengerti dengan pembicaraan Niko dan Desi. Namun keduanya hanya menjawab dengan senyuman saja.


Drrrttt


"Eh,Nita. Penerbangan kita ditunda. Lihatlah ini pemberitahuan nya." ucap Desi yang melihat pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.


"Hah? padahal sebentar lagi kita sampai di bandara. Sial." keluh Nita.


"Sampai kapan?" tanya Niko.


"3 jam lagi." jawab Desi.


"Emm apa kita putar balik saja?" tawar Niko.


"Hem,itu hanya melelahkan mu." jawab Nita.


"Apa kita ke restoran terdekat saja dan menunggu disana?" usul Desi.


"Membosankan kalau kita duduk selama 3 jam di restoran."


"Benar juga." jawab Desi lagi.


"Aku tahu." ucap Niko.


"Apa?" tanya Nita dan Desi bersamaan.


"Kita ke hotel terdekat dengan bandara saja. 3 jam sangat lebih dari cukup untuk kalian makan dan beristirahat. Aku akan menunggu di lobi hotel dan mengingatkan kalian kalau sudah waktunya kalian ke bandara. Bagaimana?" tawar Niko.


"Hah? itu si malah buang-buang uang. 3 jam istirahat di hotel dekat bandara? mana ada hotel yang murah di sekitar sini. Kita tunggu di mobil saja lah." usual Nita.


"Ye,kak sekali aja jangan menyusahkan diri sendiri dong,nih menunggu yang gak pasti di mobil selam 3 jam itu sungguh sangat membosankan lho,benar benar kata oppa chef,lebih baik kita ke hotel aja. Bisa rebahan sebentar juga bisa sekalian makan kan? lagian cuma sebentar kan gak akan mengeluarkan banyak uang. Bagaimana?" rayu Desi. Lebih tepatnya karena dia penasaran seperti apa hotel di dekat bandara. Setidaknya untuk kali ini dia bisa merasakan nyaman nya kamar hotel di Korea,bukan cuma membersihkan saja seperti pekerjaan nya sebelumnya.


"Huft,memangnya kamu punya banyak uang buat bayar hah?" tanya Nita.


"Astaga,Desi.." gumam Nita.


"Desi benar kok. Kan aku masih bosmu. Ah aku tahu hotel terdekat. Bagaimana kalau hotel itu?" tanya Niko sambil menunjuk bangunan tinggi tak jauh dari jalan dimana mobil yang mereka tumpangi berada .


"Waaaahhh" takjub Desi. Hotel yang ditunjuk oleh Niko adalah salah satu anak cabang STAR HOTEL. Dalam benak Desi,ternyata tiba juga saatnya dia menjadi penyewa kamar di star hotel.


"Haish,anak ini. Maafkan kami merepotkan mu Nik." ucap Nita.


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan tuh. Justru aku senang,waktu bersama kita masih ada perpanjangan.hehe" jawab Niko.


"Hemm" jawab Nita ragu.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di hotel yang dimaksud. Nita dan Desi sudah berada di kamar mereka,begitupun Niko yang berada di kamar sebelahnya.


"Waaaahhh, kamarnya bagus sekali." gumam Desi yang terpukau dengan dekorasi kamarnya.


"Hei, hati-hati jangan terhanyut dengan kenyamanan hotel,kita hanya sebentar disini,jangan sampai kau tidur terlalu nyenyak kalau tidak mau ku tingga.Ok!" ucap Nita memperingati Desi.


"Iya..iya.."


"Kak,senang ya kalau bisa punya banyak uang. Kita gak perlu capek-capek kerja keras tapi gajinya ga seberapa. Seandainya hidupku kaya wanita di drama Korea yang kebetulan bertemu dengan direktur muda nan tampan terus diajak nikah olehnya.Ugh senangnya." celoteh Desi mengkhayal.


Cetakk!!


"Auww!! kak!! sakit!!" pekik Desi.


"Sakit? makanya jangan terlalu tinggi nge halus nya. Jatuh sakit lho!"


"Iya! kamu tu gak ada humoris atau membayangkan yang indah dikit gitu. Bawaannya serius terus. Padahal bagus lho buat kesehatan otak biar bisa segar lagi buat mikir "


"Hei, daripada kamu ngelantur gak jelas gitu. Mending cari di tas mu ada pembalut ga? Sepertinya perutku gak nyaman nih. Jangan-jangan aku mau haid,aku lupa belum beli." ucap Nita.


"Cih,sukanya mengganggu ketenangan orang lagi mengkhayal aja sih. Bentar kucari." jawab Desi.


"Kak, sepertinya ada di koper deh. Kopernya ada di mobil kan. Bagaimana?"


"Huft,sia.!" keluh Nita.


"Baiklah,akan ku ambil." ucap Desi sambil berjalan pergi.


"Tunggu! maksudnya kamu mau ambil di mobil? berarti kamu harus minta tolong Niko membuka bagasi mobilnya kan? terus kamu mau bilang kalau kamu mau ambil pembalut wanita?" tanya Nita.


"Ya iya lah Nit. Masa mau gue congkel tuh bagasi mobil? mana mungkin lah." jawab Desi.


"Astaga Desi,daripada kamu mengambilnya di mobil lebih baik kamu beli di minimarket terdekat deh." pinta Nita.


"Kak,yang benar saja. Aku ke minimarket? sendirian? kalau gitu judulnya aku gak jadi istirahat dong? kenapa gak besok J sih haidnya Nut. Nyusahin aja.huft." keluh Desi.


"Ayolah Des,nanti ku traktir deh kalau sudah di Indonesia. Kamu minta apa pasti ku belikan. Bagaimana?"


"Yakin?" tanya Desi menegaskan.


"Sangat yakin." jawab Nita.


"Apapun?" tanya Desi lagi.

__ADS_1


"Please jangan menguji kesabaran ku Des,iya iya apapun asalkan masih dalam kemampuan ku." jawab Nita.


"Baiklah,ponsel baru merek X tipe X. Ok? Fiks! Aku pergi ke minimarket,dadah." ucap Desi dengan cepat dan langsung meninggalkan Nita tanpa menunggu jawaban darinya.


"Dasar anak licik menyebalkan." gumam Nita kesal dengan tingkah Desi.


Kemudian Nita masuk kamar mandi untuk mandi dan mengganti bajunya dengan kimono hotel sementara sambil menunggu Desi.


Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar mandi. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang tengah berbaring santai di atas kasur di kamar itu.


"Hah? Ju..Juan??" gumam Nita tak percaya dengan penglihatan nya.


Juan mendudukkan dirinya bersandar di sandaran tempat tidur itu dengan senyum yang sulit diartikan.


"Halo,apa kabar?" sapa Juan masih dengan senyuman yang terlihat ramah namun tidak dengan sorot matanya.


"Ap..apa..ah, bukan. Kenapa kamu ada disini?" tanya Nita gugup. Dalam hatinya (bagaimana bisa manusia ini ada disini? oh Tuhan,tolong bantu aku jalan pintas untuk kabur secepat mungkin dari hadapan manusia menyebalkan ini).


"Sedang apa lagi? aku sedang bersantai. Kau lihat,wah kasurnya nyaman sekali bukan? sini duduklah." ucap Juan sambil menepuk kasur di sebelah nya duduk.


Nita hanya diam tak merespon Juan. Raganya seolah melemas seketika melihat Juan yang tiba-tiba ada di hadapannya di tengah prosesnya melarikan diri darinya. Nita takut hingga tak bisa menyembunyikan ketakutan itu. Nita yakin,Juan pasti sudah tahu kalau Nita akan kabur dari nya.


Tiririt..


Bunyi pintu terbuka,Nita mengira yang masuk pasti Desi. Dengan cepat ia melangkah melihat ke arah pintu.


"Des...i..???" seketika lidah Nita kelu untuk berucap. Bukan Desi yang masuk kamar itu melainkan Nenek dan Kakek Kim. Melihat mereka seketika wajah Nita memucat,terkejut dan bingung. Bagaimana bisa mereka semua ada di sini sekarang? dan ini di kamar ini. Ups ada Juan di dalam.


"Wah,Nita cucuku. Bagaimana liburannya? apa kau senang?" sapa nenek Kim yang sudah berada di hadapannya.


"Ah,ne..nenek. Ba,bagaimana kalian bisa ada disini?" tanya Nita.


"Bukankah kamu yang meminta kami kemari? Apa kau terkejut kami sampai secepat ini? yah,orang tua ini sudah tak sabar ingin kesini begitu menerima pesan darimu. Kami sangat bahagia. Ah,mana Juan?" tanya kakek Kim.


"Aku disini." jawab Juan yang sudah berada di belakang Nita.


"Wah..wah..wah..anak nakal ini." ucap kakek Kim sambil menggelengkan kepalanya begitu melihat Juan.


"Seharusnya kalian tidak masuk sembarangan.! huft," ucap Juan kesal.


"Hah? ap..apa maksudnya?" ucap Nita sambil menoleh ke belakang bermaksud bertanya pada Juan. Namun betapa makin terkejut nya ia saat melihat penampilan Juan yang hanya menggunakan handuk yang melilit di perut hingga lututnya,dengan badan dan rambutnya yang terlihat basah.


Nita hanya bisa melongo dan membulatkan matanya melihat penampilan Juan. Sontak dia menutup mulutnya yang melongo saking terkejutnya.


Sekarang Nita baru mengerti apa yang sedang dipikirkan nenek dan kakek Kim yang melihat penampilan Juan yang seperti itu ditambah Nita yang saat ini hanya menggunakan kimono dengan rambut yang diikat Cepol asal.


DEG...


(Ya Allah,apa lagi ini? tolong jauhkan hamba dari fitnah.)


Seketika Nita merasakan dingin di tangannya,belum reda terkejutlah nya karena tiba-tiba melihat Juan yang ada di kamar nya, sekarang masih ditambah dengan situasi yang pati akan membuat kakek dan nenek kim berpikir nita dan juan telah melakukan sesuatu yang intim di kamar itu.


"Kek, ini.. ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Ak.. aku bisa jelaskan kek,nek." ucap nita terbata karena kebingungan nya.


"Tidak apa-apa sayang, lagi pula kalian akan segera menikah. Ini wajar untuk pasangan kekasih. " ucap nenek kok sambil mengelus pipi nita lembut.


"Hah?? " Nota makin dibuat bingung dengan situasi ini.


"Tapi seharusnya kau bisa bersabar sebentar dong. Dasar!! " omel nenek ada Juan.


"Usah jangan salahkan aku. Bukankah kalian pernah muda." tampak Juan.


"Tunggu.. ini, maksudnya apa si? Juan tolong jelaskan." pinta Nita dengan wajah yang terlihat makin pucat dan bingung.


Namun bukannya menjelaskan malah Juan mengucapkan kata-kata yang makin tak dimengerti oleh Nita.


"Nota, katakan pada mereka apa aku kasar.?"


"Apa?? Maksud.. " ucapan Nita terhenti saat terdengar pintu kembali terbuka.


"Nita.. " ucapan Sesi terhenti saat melihat ada kakek dan nenek kok beserta Juan ada di sana. Sesi terkejut dengan yang dilihatnya. Belum lagi penampilan Nita yang mengenakan handuk kimono sedang Juan juga hanya mengenakan handuk yang melilit di perutnya.


"Des, ini ini tidak seperti yang kau lihat. Aku bisa jelaskan." belum selesai Nota berucap, ia kembali dikejutkan dengan Niko yang muncul di belakang Desi.


Bagai disambar petir bahkan lebih, entah apa perumpamaan yang bisa menggambar kan kondisi Nita saat ini. Kaget, bingung, gugup dan entah apa. Yang pasti situasi ini terlalu membuatnya rumit.


"Nik,ini." nita mencoba menjelaskan pada Niko, namun dengan tiba-tiba Juan melingkar kan tangannya di pinggang Nita. Sontak nita menoleh dan akan melepaskan tangan Juan dari sana, namun Juan kembali menjatuhkan batu di kepala nya dengan kata-kata nya yang membuat semua orang yang mendengarnya mengerti maksud dari perkataan itu.


"Seharusnya kau bilang padaku kalau ini pertama buatmu sayang, sehingga kau tak sampai berdarah begini." ucap Juan sambil melirik ke bawah.


Mendengar itu, semua orang yang ada di kamar itu sontak melihat ke arah pandang Juan, yaitu ke lantai dibawa Nita berdiri saat ini. Seketika darah segar baru saja menetes di sana.


Seakan detak jantungnya berhenti berdetak dan nafasnya tak berhembus lagi, aliran darah Nita memenuhi kepalanya, membuat nya terasa berat, pusing dan gemetar, takut, keringat dingin mengalir di dahinya,lidahnya terasa kaku untuk berucap. Badannya terhuyung lemas namun ia berhasil menahan dengan sedikit bersandar di tembok sebelahnya berdiri.


"Maaf, saya mengganggu." ucap niko datar kemudian langsung pergi meninggalkan kamar itu dengan raut wajah yang jelas terlihat kecewa. Begitupun dengan desi yang tak tahu harus bagaimana akhirnya memilih ikut keluar dari kamar itu.


Nita terlalu kaget hingga tak punya tenaga lagi untuk berusaha berlari mengejar mereka untuk menjelaskan semuanya. Mengingat kondisinya yang hanya memakai handuk kimono.


"Kalau begitu, kami juga keluar dulu. Kalian bersihkan diri kalian dulu. Nita, tidak usah malu. Kami mengerti kok, bersiaplah. Kita tunggu di bawah ya." ucap nenek Kok yang kemudian juga keluar dari kamar itu.


Nota tak mampu berkata-kata lagi. Hanya setetes air mata yang tanpa terasa menetes di pipinya. Kepalanya terasa begitu pusing.


"Sekarang kau sudah tahu kan apa yang akan terjadi kalau kau berani berurusan denganku?" ucap Juan tepat di telinga nita,kemudian pergi masuk ke kamar mandi.


Nita tak menjawabnya, ia hanya menatap tajam pada juan dengan matanya yang terlihat memerah dan berkaca-kaca menahan air mata dan marahnya.


Beberapa saat kemudian Juan sudah keluar dari kamar mandi dengan penampilan nya yang sudah rapi mengenakan jas berwarna hitam.


"Bersihkan dirimu dan bersiaplah,aku tunggu di luar. Dan ingat, jangan sekali-sekali kamu mencoba untuk kabur dariku lagi. Kecuali kau ingin hukuman yang lebih dari ini." ucap juan sambil berjalan keluar dari kamar itu.


"Ah iya, kau pasti sudah cukup senang dengan liburan mi kemarin kan? sekarang sudah saatnya kembali ke jalan mu. Kau mengerti kan?" tambah juan lagi dengan penekanan pada akhir katanya. Seolah tersimpan amarah yang begitu besar dalam ucapan nya.


Kini tinggallah nita sendiri dengan perasaan dan pikiran yang begitu rumit, rasanya terasa begitu lemah untuk digerakkan, dengan tangan dan kaki yang masih gemetar karena keterkejutan nya, ia berusaha melangkah kan kakinya menuju kamar mandi,disana dia menyiram tubuhnya dari kepala menggunakan air dingin. Berharap bisa mendinginkan kepala dan pikiran serta perasaannya. Dengan air mata yang tak mampu menetes,dia berusaha menenangkan dirinya agar bisa mencari tahu apa yang direncanakan Juan sebenarnya.


"Juan,manusia es bren*sek,bede*ah!!" gumam nita penuh amarah.


***


AUTHOR


SELAMAT MALAM SEMUANYA, SELAMAT BERMALAM JUM'AT, SELAMAT MEMBACA EPISODE INI. KOMENTAR KALIAN YANG MENBANGUN SANGAT AKU NANTIKAN, DAN KLIK LIKE NYA JIKA KAKIAN MENYUKAI EPISODE INI. KLIK VOTE JUGA BIAR DAPAT NOTIVIKASI YA. KALIAN ADALAH SEMANGAT KU. TERIMA KASIH BANYAK SELALU SETIA MENGUKUTI KARYAKU. IYA LOVR YOU ALL..


🤗

__ADS_1


__ADS_2