
"Mau kemana kamu?!" tanya Juan tegas,tepat di depan pintu lift yang hendak tertutup.
DEG
"Apess!! kenapa harus ketahuan lagi sih?? hiks.." keluh Nita dalam hati,mendapati Juan berdiri di hadapannya.
"E...itu,aku mau pergi jalan-jalan.Ku lihat tadi sepertinya kamu masih tertidur lelap jadi aku tidak berani membangunkanmu.hehe" jawab Nita mencoba mencari alasan.
Juan mengarahkan pandangannya pada tas punggung yang dibawa Nita.
"Dengan membawa tas itu? Bukankah itu berisi bajumu?"
"Ah,,ini? oh,,ini karena..karena tas kecilku kan masih ada padamu jadi terpaksa aku bawa ini. Sekalian aku tidak perlu kesulitan mencari baju ganti kalau nanti diperlukan." jelas Nita.
"Ka,kalau begitu aku pergi dulu." pamit Nita, mencoba menjauh dari Juan secepatnya. Dengan cekatan ia memencet tombol tutup pada pintu lift dan menekannya lagi ke lantai dasar.
"Hahhhh,,astaga. Aku bisa jantungan kalau terlalu lama begini. Huft, syukurlah dia tidak curiga dan tidak mengikuti ku." ucap Nita di dalam lift itu karena merasa lega Juan tak mencegahnya.
Merasa aman karen Juan tak mengejar,ia pun bergegas keluar dari hotel dan menghentikan taksi yang melintas di depan jalannya.
"where are you going miss?" tanya sang supir.
"Go first sir, I'm still thinking about the address." jawab Nita.
"Ok"
Lima menit berada di perjalanan di dalam taksi itu cukup membuat Nita merasa lega.
"Ah,iya. Aku harus menghubungi Niko." gumamnya,lalu mengetik pesan untuk Niko. Tak lama,Niko membalas pesannya dan mengirimkan sebuah alamat pada Nita.
Senyum cerah mengembang di wajah Nita.
"Sir, please take me to this address." pinta Nita sambil menunjukan alamat yang dimaksud pada supir.
"ok, it will take another twenty minutes miss."
"Ok"
Selama perjalan,ia melihat ke luar jendela. Melihat deretan bangunan memenuhi kota,hingga tibalah ia di alamat yang dituju.
"Thank you,sir." ucap Nita setelah menuruni taksi yang ditumpanginya.
Di tatapnya gedung apartemen di hadapannya, angannya berharap semoga langkahnya diberi kemudahan. Ia menghela nafasnya untuk menyemangati dirinya. Kemudian melangkahkan kakinya memasuki apartemen menuju nomor unit yang di berikan oleh Niko via pesan.
Sementara di hotel, Juan tengah meluapkan amarahnya pada staf suruhannya yang ditugaskan untuk mengawasi Nita. Niatnya ingin melihat sejauh mana Nita bisa pergi darinya,ternyata ia malah kecolongan.
Brakkkk!!!
Ia menggebrak kasar meja di hadapannya,hingga sukses membuat stafnya terperanjat dan gemetar ketakutan.
"Temukan dia secepatnya!!" perintah Juan penuh penekanan.
"Baik tuan." jawab para staf.
"Aarrrgggghhhhh,Nita..kau berani menguji kesabaran ku.!" ucap Juan dengan mengeratkan rahangnya.
Juan tak akan se marah ini jika saja 20 menit lalu kakeknya tak menelfon nya dan memintanya untuk kembali ke Korea,lantaran kakek Kim sudah mencium keberadaan Yuri di hotel yang sama dengannya. Entah siapa yang berani menyusup menjadi mata-mata untuk mengawasi nya,hingga kabar Yuri yang memasuki kamarnya sampai ke telinga kakek Kim.
__ADS_1
Drrrtttt
Ponsel Juan kembali berdering,tertera di layar nama si pemanggil yang ternyata adalah Hyun Jo,Pamannya. Agak malas mengangkat telfonnya tapi dia adalah paman yang paling dipercaya oleh kakek Kim. Kakek dan nenek akan mempertimbangkan setiap sarannya jika sedang bimbang. Pria yang selalu jujur dalam hidupnya, ramah dan penyayang,namun saking penyayangnya hingga ia sangat mencintai istrinya dan membuat istrinya hamil setiap tahunnya. Hingga saat ini ia sudah punya 4 orang anak dalam 4 tahun pernikahannya. Pria pendiam di luar namun aktif di kamar. Namun hanya dengan istrinya. Tidak dengan yang lain.
"Ya,halo" jawab Juan.
"Halo Juan,bagaimana kabarmu?" sapa paman Hyun Jo.
"Hem,tidak usah basa basi. Aku tahu,paman pasti punya maksud. Karena tidak mungkin paman menelfon ku kalau tak punya tujuan. Benar kan?" jawab Juan dengan kasar.
"Ya,tentu. Karena tidak mungkin aku mengajakmu mengobrol sementara kau terlalu sibuk untuk hanya sekedar mengobrol antar pria." jawab paman Hyun Jo.
"Katakanlah." pinta Juan.
"Baiklah,aku akan langsung mengatakannya. Juan,kakek sudah tahu hubungan mu dengan Yuri dan juga dengan Nita. Namun,ia akan menutup mulutnya pada nenek Kim mengingat kondisi kesehatan nya." jelas paman Hyun Jo.
"Apa??' ucap Juan tak percaya.
"Kau tak bisa berbohong lagi Juan. Tapi,demi nenek. Dia akan menuruti permainanmu. Dengan syarat dalam waktu 2 Minggu kamu harus memutuskan untuk memilih salah satu dari mereka. Jika memang kamu benar-benar hanya mencintai Yuri,maka buatlah kakek dan nenek Kim yakin akan pilihanmu. Selebihnya,biar kakek dan aku yang akan menjelaskan pada nenek Kim."
Juan terdiam sejenak mendengar penjelasan Hyun Jo.
"Baik" jawab Juan.
"Bagus. Kau tau,aku bukan hanya menganggapmu sebagai keponakan,melainkan juga anakku. Aku tidak keberatan berbagi cerita sesama pria denganmu. Jadi,ketika kamu punya masalah,kau bisa bercerita padaku. Kau mengerti kan?"
"Hem." jawab Juan sambil memikirkan sesuatu.
"Ya sudah,aku tutup telepon nya." ucap paman Hyun jo.
"Ah,tunggu!" cegah Juan.
"Em,itu.Ba,bagaimana paman bisa memilih bibi? Kelebihan apa yang dimiliki nya?" tanya Juan yang mulai membuka percakapan mereka walau agak ragu..
"CINTA,ya karena cinta. Cinta hanya bisa dirasakan dalam hati karena itu adalah bagian dalam hati. Saat kau sudah menemukan sebagian hatimu maka kamu akan merasakan. Degup jantung yang tak teratur saat dekat dengannya,rindu saat tak melihat wajahnya,membayangkan wajahnya membuatmu tak bisa menahan untuk tak langsung menemuinya. Aku yakin kau akan memahaminya nanti." jelas Hyun Jo.
"Bagaimana itu dikatakan cinta kalau paman hanya suka membuat bibi selalu hamil? bukannya itu hanya nafsu?" tanya Juan lagi.
"Hei,cinta dan nafsu itu hanya dipisahkan oleh sehelai benang. Jaraknya sangatlah dekat. Namun nafsu yang dilandasi cinta oleh sepasang kekasih tidak akan terasa membebankan. Justru akan membahagiakan. Soal istri ku yang hamil,itu karena kami sepakat tidak akan menghalangi cinta kita yang menggebu. Wanita yang tulus mencintai kita dan baik adalah wanita yang tak hanya mencintai suaminya tapi juga sangat menyayangi anaknya,buah cinta mereka. Dia tidak akan takut fisiknya berubah jelek asalkan ia sudah memastikan anak-anak nya sehat. Dan aku,akan selalu melihat istriku yang tercantik seperti apapun penampilannya. Yah,bibi mu adalah wanita pilihanku,dia yang terbaik daripada yang terbaik." jelas Hyun Jo,dengan antusias diakhir kalimatnya karena baru kali pertama menceritakan kisah cintanya pada Juan yang selalu anti dengan wanita selain Yuri.
Juan diam dan mencerna semua perkataan paman Hyun Jo. Ya,dia sependapat dengan nya. Ia juga ingin bermain bersama anak-anak nya. Sudah cukup lama ia kesepian setelah orang tuanya meninggal.
"Halo, kau masih disana?" tanya paman Hyun Jo,karena tak ada respon dari Juan.
"Maaf paman,aku ada urusan. Ku matikan telepon nya." ucap Juan dan langsung mematikan telepon nya dengan Hyun Jo.
"Bagaimana? Sudah ketemu?" tanya juan pada orang suruhan nya begitu keluar dari kamarnya.
Setelahnya ia bergegas, diraihnya kunci mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju tempat keberadaan Nita.
*
"Kau sudah siap?" tanya Niko pada Nita di depan pintu apartemen nya.
"Iya." Jawab Nita dengan senyum sumringah di wajahnya.
Mereka pergi menuju sebuah restoran tak jauh dari apartemen itu.
__ADS_1
"Terima kasih Niko." ucap Nita,sambil berjalan beriringan dengan Niko yang menggandeng tangannya. Ya mereka memutuskan berjalan kaki menuju restoran yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat mereka memarkirkan mobil. Awalnya Niko sudah memesan tempat di restoran,namun saat berada di depan restoran,Nita merasa tidak nyaman dengan penampilan dan dirinyalah melihat restoran semewah itu menurutnya. Ia menyadari sudah banyak merepotkan Niko. Hingga akhirnya ia meminta Niko untuk mencari makanan di tempat lain yang lebih sederhana dengan alasan ia ingin menjajal makanan tradisional yang dijajakan di food street.
"Tidak perlu berterima kasih,Karena kau kekasihku. Tidak perlu merasa terbebani. Bahkan mintalah semua yang kamu inginkan dariku. Mengerti,?" jawab Niko dengan menunjukkan senyum bahagianya bertemu dengan Nita.
"Tunggu!!" Nita menghentikan langkahnya,sontak Niko pun menghentikan langkahnya juga dan melihat pada Nita,khawatir ada sesuatu."
"Kenapa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Niko khawatir.
"Tidak,aku tidak baik-baik saja." jawab Nita.
"Apa maksudmu?" tanya Niko yang terlihat makin khawatir.
"Bisakah kau mencubit ku?" pinta Nita. Awalnya Niko heran dengan permintaan Nita,namun ia menuruti nya. Dicubitnya pipi kanan Nita.
"Aow.." pekik Nita kesakitan.
"Apa terlalu sakit? maaf." Niko terlihat menyesal menuruti permintaan Nita,lalu mengusap pipi Nita.
Brukk
Nita menghamburkan dirinya pada Niko. "Terima kasih,ternyata aku tidak sedang bermimpi." ucap Nita.
"Aku mencintaimu Nita." ucap Niko,lalu mengarahkan Nita di hadapannya kemudian mengecup keningnya.
"Uluh,oppa ganteng,sepertinya jantungku tidak akan sehat kalau kamu selalu membuat ku dag dig dug tak karuan tiap bersamamu. Jadi kau harus bertanggung jawab." Ancam Nita,yang malah menjadikan niko merasa lega dan senang.
*
"Apakah ini tempat nya?" tanya Juan pada pengawal di belakangnya,dan menjawab nya dengan menganggukkan kepala.
"Hem,baiklah. Cek kebenaran nya." perintah Juan.
"Baik tuan." jawab dua orang pria berperawakan tinggi besar.
Salah satu dari mereka memencet bel di sisi pintu apartemen itu. Beberapa saat menunggu keluarlah seorang wanita paruh baya.
"Permisi,apakah ada wanita ini di rumah ini?" tanya salah satu pengawal pada wanita itu dengan memperlihatkan foto Nita.
"Maaf,saya tidak tahu wanita itu. Saya hanya tinggal berdua dengan suami saya." jawabnya.
"Maaf,kami akan mengecek langsung." ucap pria itu yang langsung menerobos masuk tanpa menunggu ijin dari pemilik rumah.
"Hei,apa yang kalian lakukan?!" tegur wanita itu.
"Maaf nyonya,tenanglah.Kami tidak akan menyakiti anda sedikitpun. Kami hanya akan mengecek sebentar." ucap salah satu pengawal. Karena takut,akhirnya wanita itu pun memilih diam dengan perasaan resah.
Tak lama,pria yang tadi menerima masuk pun keluar dan memberikan laporan pada Juan.
"Tidak ada bos" ucapnya.
Dengan geram,Juan diam dan langsung membalikkan badannya,melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
"Terima kasih atas kerjasama anda nyonya." ucap salah satu pria itu,dan dijawab dengan anggukan oleh wanita itu. Kemudian bergegas masuk ke apartemen dengan tubuh masih gemetar karena takut melihat penampilan tiga pria yang sama-sama tinggi dengan badan tegap dan wajah yang tegang.
****
DERA MY LOVELY READERS
__ADS_1
MOHON MAAF YANG SEDALAM-DALAMNYA ATAS KETERLAMBATAN UPDATE DARI SAYA,KARENA BANYAKNYA KESIBUKAN YANG HARUS DIKERJAKAN BERSAMAAN AKHIRNYA ADA SALAH SATU YANG DIKORBANKAN. NAMUN,KARENA MENULIS ADALAH KESENANGAN SAYA,,DIMANA DENGAN MENULIS SAYA BISA MEMFOKUSKAN PIKIRAN PADA HAL DAN CERITA YANG MENYENANGKAN BAGI SAYA,MAKA SEJAUH APAPUN SAYA MENINGGALKAN PASTI AKAN KEMBALI JUGA. SEMOGA KALIAN SEMUA JUGA SELALU KEMBALI BERSEMANGAT MEMBACA KARYAKU. JANGAN LUPA LIKE DAN FAVORIT NYA YA...THANK YOU..😘😘😘😘😘❤️❤️❤️❤️