
Tok..tok..tok..
"siapa?" tanya Nita dari balik selimutnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Apa kau sudah bangun?" jawab orang dari luar kamarnya saat ini.
Dengan mata yang masih sulit untuk dibuka dan badan yang terasa masih lemas Nita berusaha beranjak dari tempat tidur nya.
"Yaa..aku sudah banguunn" ucap Nita sambil membuka pintu kamarnya dan masih sedikit menguap.
"Ternyata ini wajah bangun tidur mu?" ucap Niko dengan sedikit tawa kecilnya karena melihat Nita yang menurutnya lucu.
"hah? Ni..ko?" Nita terkejut saat ia melihat Niko di hadapannya.
"Ya,ini aku. Selamat pagi Nita, apa kau tidur nyenyak?" tanya Niko.
"Bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Nita dengan bingung. Sementara Niko kembali tertawa kecil mendengar pertanyaan Nita sebelum ia menjawab.
"Hei,apa kau masih tidur? ini rumah kak Jiwo jadi wajar ada aku di sini kan?" jawab Niko.
"Rumah kak Jiwo? astaga!! aku baru ingat sekarang" gumam Nita dengan menepuk jidatnya sendiri karena merasa ia begitu pelupa.
"Syukurlah, sepertinya kau tidur nyenyak sekali hingga kau masih bermimpi sekarang.hehe" timpal Niko.
"Hehe,, maaf. Tadi aku sempat mengira aku masih di apartemen Juan jadi aku kaget begitu melihatmu disini, karena aku khawatir Juan akan marah kalau tahu. Tapi syukurlah." jelas Nita.
"Kalau begitu lebih baik kau mandi sekarang,kita tunggu di ruang makan. Kita sarapan bersama." tutur Niko.
"hah? sarapan pagi? memang jam berapa sekarang?" tanya Nita yang belum menyadari kalau hari sudah pagi dan matahari sudah mulai menelusup kan cahayanya ke dalam rumah itu.
"Astaga,aku kesiangan!" gumam Nita sambil merutuki dirinya sendiri,kala ia melihat keluar jendela yang ada di sisi kamarnya. Seketika ia pun langsung menutup pintu kamarnya dan mengambil langkah seribu menuju kamar mandi. Meninggalkan Niko yang masih berada di depan pintu kamarnya,Niko masih tersenyum kecil melihat tingkah Nita. Ia senang melihat Nita yang terlihat tenang tanpa beban yang terlihat di wajahnya.
"Syukurlah,semoga kau selalu bahagia Nita" gumam Niko dalam hati,kemudian ia berjalan menuju ruang makan.
*
"Mana Nita?" tanya kak Jiwo dan Kak Yunu.
"Dia sedang mandi kak" jawab Niko sambil menarik kursinya dan menduduki nya.
"Sepertinya kau sedang bahagia sekarang?" tanya kak Jiwo yang melihat seutas senyum diwajah Niko.
"hah? hehe. Bagaimana kakak tahu?" jawab Niko.
" Terlihat jelas di wajahmu" jawab kak Jiwo.
"Hehe, terima kasih kak." jawab Niko.
"Pelayan,tolong siap kan bekal sarapan untukku dan Yunu,kita akan makan di kantor saja." pinta kak Jiwo pada asisten rumah tangga di rumah itu.
"Hah? kakak buru-buru sekali? kenapa kita tidak sarapan bersama saja." tanya Niko.
__ADS_1
"Haish,kita tidak mau merusak suasana,benar kan sayang?" jawab kak Jiwo sambil menoleh pada suaminya yaitu kak Yunu.
"Tepat." jawab kak Yunu.
"Maksudnya? suasana apa?" tanya Niko yang masih belum mengerti maksud dari kak Jiwo dan Kak Yunu.
"Astaga,adikku ini memang belum peka. Haruskah kakak bilang kalau kita sedang memberimu waktu agar kamu bisa punya waktu berdua dengan Nita lebih banyak? huft kau ini." jawab kak Jiwo yang mulai sedikit heran dengan ketidak pekaan Niko.
"Sudahlah sayang,sekarang dia pasti sudah mengerti." jawab kak Yunu yang menoleh pada Niko sambil menunjukan senyum mencurigakan nya,sehingga sukses membuat Niko salah tingkah karena ketidak pekaan nya.
"Ya sudah,ayo sayang. Lebih baik kita cepat berangkat." ajak kak Yunu pada kak Jiwo sambil beranjak dari duduknya.
"Baiklah." jawab kak Jiwo yang kemudian mengikuti kak Yunu.
"Ah,hei ku harap kau bisa memanfaatkan kesempatan ini. Mengerti?!" ucap kak Jiwo pada Niko sebelum ia berjalan pergi meninggalkan Niko.
"Hem" jawab Niko.
Sesaat jantungnya berdetak cepat karena ia gugup, ia bahagia dengan pengertian kakaknya namun juga jadi sedikit ragu dengan dirinya sendiri.
"Kau pasti bisa Niko,kau harus segera memperjelas hubungan mu dengan Nita. Kau harus segera mendapatkan jawaban darinya." gumam Niko sambil menyemangati dirinya sendiri, seraya merilekskan dirinya.
Ini bukan pertama kalinya ia jatuh cinta pada seorang wanita,namun entah kenapa saat ini ia merasa kurang percaya pada dirinya,karena ia belum sepenuhnya yakin bahwa Nita juga mencintainya. Kedekatan nya selama ini masih hanya sebatas teman yang akrab karena Nita yang berkepribadian ramah,mudah bergaul dan baik. Namun disisi lain, terkadang ia melihat Nita yang tersipu saat ia mendekati nya. Terlihat dari wajahnya yang merona, tapi harusnya saat ia menyatakan perasaannya seharusnya Nita bisa langsung membalasnya,namun kenapa ia malah tak memberikan jawaban apapun dan terkesan tak mengerti dengan pernyataan cinta Niko. Ah mungkin karena Nita masih terikat beban pekerjaan dengan Juan yang terlalu disiplin hingga ia belum memikirkan hal pribadi. Mungkin setelah perjanjian nya dengan Juan selesai maka Nita bisa fokus memikirkan hal pribadinya dan bisa memberi jawaban atas pernyataan cinta Niko. Inilah yang sedang dipikirkan Niko saat ini. Hingga lamunannya terhenti saat Nita sudah duduk di hadapannya.
"Woy,,bagaimana bisa tuan muda pagi-pagi sudah melamun." ucap Nita yang mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Niko untuk menyadarkan nya dari lamunannya.
"Eh,ya? siapa yang melamun. Enak saja.", jawab Niko membela diri.
"Hemm,bilangnya aja gak melamun tapi dari tadi aku menyapa 'selamat pagi' hingga aku sudah duduk di depan mu saja kau tak menyadari. Hati-hati kalau pagi-pagi sudah melamun tak jelas bisa-bisa rejekimu diambil orang lhoo." jelas Nita.
"Yee,ya sudah kalau gak percaya."
"Sudah, sekarang kita makan saja. Aku sudah lapar."ucap Niko.
"Eh,kak Jiwo dan Kak Yunu mana?" tanya Nita yang tak melihat keberadaan kak Jiwo dan Kak Yunu disana.
"Mereka sudah pergi ke kantor. Mereka ada rapat pagi sehingga tak bisa sarapan bersama kita." jelas Niko.
"Oh begitu. Sayang sekali,padahal aku belum berterima kasih pada mereka. Maaf juga karena aku bangun kesiangan. Padahal aku sudah memasang alarm tapi mungkin alarmnya rusak.huft" ucap Nita.
"Sudahlah,makan saja yang banyak. Dan sepertinya bukan alarmnya yang rusak tapi memang kamu tidur sangat pulas. Kau tak tahu kan kalau aku yang mematikan bunyi alarm ponselmu?" ucap Niko.
"Hah? ma..masa sih?" tanya Nita tak percaya.
"Ya,aku masuk ke kamarmu dan mematikan bunyi alarm di ponselmu tepat pukul 4 pagi tadi. Ku rasa kau juga terlalu menaikkan volume alarm mu itu." jelas Niko sambil memakan makanannya.
"Hah??? Ma..maaf.hehe" hanya itu yang bisa diucapkan Nita dengan wajah malu dan tak enak hati karena mungkin bunyi alarmnya sudah mengganggu ketenangan rumah ini.
"Tidak masalah. Justru aku senang kau bisa tidur nyenyak. Berarti kau dalam kondisi tenang,nyaman dan tak ada beban."
"TEPAT SEKALI.!" Jawab Nita mantap.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Niko,kau sudah membawaku kemari. Ugh benar-benar aku merasa saaaangat lega karena tak ingat ada Juan berada serumah denganku. Manusia es itu sungguh membuat aura seisi rumah juga ikut dingin,belum lagi kalau dia mulai membuka suara. Beuh bikin merinding,dan sangat menyakitkan telinga. Aku sampai gemetar ketakutan karenanya. Tapi anehnya kadang dia bisa juga lho baik dan ramah,tapi itu saaaangat jarang. Karena ia akan dengan cepat berubah kepribadian. Ku rasa dia punya kepribadian ganda deh." ucap Nita panjang lebar,yang sesaat sempat membuat Niko merasa ada yang aneh dengan apa yang di dengarnya.
Niko melihat wajah Nita yang bereskpresi tak suka dengan Juan dan kepribadian nya. Ia tak melihat ada perasaan cinta pada Juan pada diri Nita. Tapi Niko tak suka mendengar apa yang disampaikan Nita. Ia tak suka wanita yang disukai nya menceritakan pria lain dengan antusias dan ekspresif di hadapannya.
"Ehem,apa rencanamu hari ini?" tanya Niko mengalihkan pembicaraan Nita.
"Emm,belum tahu. Kenapa?" tanya Nita.
"Kau tak ada rencana kembali ke apartemen Juan ataupun kembali ke rumah utama kakek dan nenek Kim?" tanya Niko lagi memperjelas.
"Hemm seperti nya kalau ke apartemen Juan tidak. Karena Juan saja ada di rumah utama,jadi aku tidak mungkin akan menyiapkan makanan untuknya kan? terlebih sejak aku sakit kemarin bukannya aku yang masak malah dia yang memasak untukku. Tapi kalau ke rumah utama mungkin aku akan mengunjungi mereka nanti sore. Aku ingin melihat bagaimana keadaan nenek Kim. Kemarin ia sempat tidak enak badan dan aku tak sempat berpamitan langsung saat pulang." jelas Nita
"Ok" jawab Niko singkat.
"Hanya itu?" tanya Nita yang merasa heran dengan respon Niko.
(aneh,apa dia marah? tapi wajahnya biasa saja. Tapi kenapa singkat sekali jawabnya? apa dia sedang sakit gigi? seperti nya tidak juga,dia terlihat mengunyah makanannya dengan baik tuh. Ah biarlah) gumam Nita dalam hatinya. Lalu melanjutkan makannya.
***
Di kantor K group, Juan tengah dihadapkan dengan para dewan perusahaan dan para pemegang saham. Mereka tengah meminta kejelasan pada nya lantaran berita yang baru saja beredar. Tanpa disadari ada seorang wartawan yang memotret kedekatan nya dengan sekretaris Liem secara diam-diam,kemudian menyebabkan berita yang mengarah pada pewaris K grup memilihi hubungan khusus dengan sekretaris nya sehingga sampai saat ini ia belum juga menikah. Ditambah kabar yang berhembus kalau tuan Aichi yang merupakan saah satu pemegang saham terbesar di K group telah mengumumkan keinginannya menikahkan putrinya dengan Juan namun belum ada konfirmasi berikutnya dari kedua belah pihak. Hal ini berimbas pada tertundanya launching produk baru dari perusahaan tersebut lantaran dirasa konsumen dipastikan lebih tertarik dengan cerita produsen daripada produknya. Sehingga jika memaksa launching akan ada kemungkinan mengalami kerugian dalam penjualan. Tapi disisi lain,mereka tidak bisa menunda launching terlalu lama karena biaya produksi yang sudah dikeluarkan dan kepercayaan para investor juga dipertaruhkan.
"Tidak masalah dengan launching produk hari ini juga, saya yakin tetap akan berhasil karena kualitas produk kita tidak pernah mengecewakan. Dan masalah pribadiku aku akan menyelesaikan dengan cepat." jelas Juan di forum itu.
Namun jawaban Juan tak mudah untuk diterima begitu saja oleh forum. Hingga akhirnya sebagian besar dari mereka sepakat untuk meminta Juan memberikan konfirmasi pada publik bersamaan dengan acara launching produk baru K grup. Karena itu dirasa jalan yang paling tepat,jika memang Juan dan sekretaris Liem memang tidak ada hubungan spesial dan Juan adalah pria normal.
Terdengar mudah memang,tapi itu sulit untuk Juan. Ia bukanlah tipe pria yang dengan mudah menerima kehadiran wanita di kehidupannya,apa lagi bukan wanita yang dicintainya. Ia hanya mau dekat dengan wanita yang dicintai nya saja. Bahkan hanya untuk berteman ia memilih tak banyak bertemu dalam berinteraksi dan ia juga membatasi komunikasi,hanya sekedar nya saja. Tapi berbeda dengan sesama jenis. Ia akan bersikap layaknya sahabat,sama seperti dengan Liem.
Juan memang sahabat yang baik,tapi hanya Liem dan beberapa orang yang tahu hal itu. Lantaran dari kepribadian Juan yang memang terlihat dingin sehingga membuat orang enggan untuk mengajaknya berteman. Sejak kecil hingga saat ini,hanya beberapa orang saja yang menjadi sahabatnya. Baginya tidak ada pertemanan antara laki-laki dan wanita, tidak mungkin saah satunya tidak memendam perasaan suka,hal itu pasti ada. Itu membuat Juan tak nyaman. Apalagi sejak ia menaruh hati pada Yuri. Ia tak mau Yuri cemburu jika ia dekat dengan wanita lain,lantaran ia belum bisa mengungkapkan perasaannya secara jelas pada Yuri.
"Aaarggghh,,Yuri kamu dimana? Seandainya dari dulu aku mampu mengungkapkan perasaanku pasti aku tidak akan dihadapkan dengan situasi yang memaksaku harus menikah dengan wanita yang tak ku sukai. Bodoh kau Juan." ucap Juan dengan emosi dan mengepalkan yg tangannya seraya menahan amarah sambil berdiri menghadap keluar jendela ruang kerjanya. Ia memandang jauh mengingat kebersamaan dengannya dan Yuri terasa bahagia sekali saat itu, namun kenapa sekarang seolah Juan hanya sekedar sedang mengingat kejadian masa lalu tanpa ada rasa ingin memiliki Yuri ataupun terlintas bayangan hidup menua bersama dengannya.
Drrrt Drrrt
"Ya" jawab Juan.
"Tuan,nona Nita tidak ada di apartemen. Dan sepertinya ia tidak pulang ke apartemen semalam." lapor asisten Song.
"Hem" jawab Juan singkat.
"Ada yang anda inginkan tuan?" tanya asisten Song lagi.
"Kau siapkan saja konfirmasi ku dan Liem ke media nanti malam." ucap Juan.
"Baik tuan." jawab asisten Song kemudahan mematikan telefon nya.
"Liem, Ke ruangan ku sekarang" pinta Juan melalui sambungan internal di perusahaan itu.
"Baik" jawab Liem.
***
__ADS_1
AUTHOR
SELAMAT MEMBACA,SEMOGA KALIAN MEMBACA DENGAN HATI BAHAGIA DAN DENGAN CINTA.,SEMOGA KALIAN BAHAGIA SELALU.AMIN..🤗🙏❤️❤️🌻