Inikah Cinta

Inikah Cinta
111


__ADS_3

"Nit,kamu langsung masuk lewat pintu samping ya. Bilang aja kamu temanku. Itu sepupunya suami ku dah nunggu di sana.Oke." pinta Desi pada Nita.


"Iya..iya..sabar dong. Ini aku masih nunggu Toni buat gantiin aku. Lagian kamu kenapa mendadak banget sih? kemarin di pertunangan bilangnya nikahnya masih 7 bulan lagi. Lha ini bukan 7 bulan namanya buk?? tapi 7 hari.!" ucap Nita.


"Yah,itu masih tetap Nit. Cuma itu untuk resepsi nya. Hari ini hanya akad. Karena neneknya suamiku gak mau nunggu 7 bulan lagi buat lihat kita nikah. Takut gak bisa menyaksikan katanya. Karena beliaunya kan sedang sakit. Jadi ini acara cuma untuk keluarga kok. Termasuk kamu, pokoknya aku bakal marah kalau kamu gak datang.titik!!" jelas Desi.


"Tetep aja Des,aku kan bukan wanita kaya yang gak perlu cari duit. Gak enak juga sama bos aku kalau mendadak ijin begini. Kasihan Toni juga tuh."


"Yee,cari duit itu penting tapi sempat kan juga buat cari jodoh dong. Sapa tahu nanti di nikahan aku ada cowok yang nyantol ke kamu kan? hihi."


"Dah ah, lama-lama ngaco. Aku tutup dulu telepon nya. Bye." Nita mengakhiri sambungan telepon nya dengan Desi,bersamaan dengan seorang pelanggan yang datang di minimarket itu.


"Selamat datang dan selamat berbelanja." sapa Nita dengan sopan pada nya.Walau biasa diacuhkan oleh mereka tapi itu lah aturan yang berlaku di minimarket tempat nya bekerja,agar menyambut calon pembeli dengan ramah.


Sesaat kemudian pak Yudi juga datang. Nita pun langsung menghampirinya nya dan mohon ijin untuk pulang lebih awal karena mau menghadiri acara pernikahan.


"Terima kasih banyak pak Yudi." ucap Nita.


"Iya sama-sama." "ehm,Nit tunggu.!" cegah pak Yudi saat Nita akan kembali ke tempat nya kerja yaitu meja kasir.


"Ya pak." jawabnya.


"Jadi begini, sebelum nya saya minta maaf kalau saya lancang. Em,jadi ada saudara saya yang waktu itu lihat kamu di sini. Kebetulan dia masih lajang. Dan seperti nya dia agak tertarik untuk mengenal kamu lebih dekat. Jika tidak keberatan dan jika kamu belum ada calon atau pacar,tolong luangkan waktu untuk sekedar berkenalan dulu dengannya ya. Saya tidak bermaksud menjodohkan kok,ini karena saya sudah janji menyampaikan niatnya ke kamu jadi saya jawab akan saya sampaikan." jelas pak Yudi. Nita terdiam sejenak dan akhirnya merespon dengan ramah dan tersenyum.


"Ah gapapa kok pak. Justru saya yang berterima kasih banyak atas niat baik bapak. Silaturahmi itu memang baik dan memang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Tapi,mohon maaf pak. Bukan saya langsung menolak atau terkesan mengacuhkan,tapi di usia saya seperti nya tidak pantas jika bertemu lawan jenis hanya untuk sekedar berkenalan. Rasanya kurang pantas. Dan saya juga tidak mau terkesan memberikan harapan. Jadi,mohon maaf pak, seperti nya saya tidak bisa." jawab Nita.


"Oh,, begitu ya? tapi apa gak mau dipertimbangkan dulu.? ah,jangan terburu-buru memutuskan. Kamu pikir-pikir lagi nanti di rumah ya. Ya sudah kamu bisa langsung pergi. Biar toko saya yang jaga. Toni juga sebentar lagi sampai kok."


"Baik pak,terima kasih." Nita kembali ke meja kasir bertepatan dengan pelanggan yang tadi datang akan membayar belanjaan nya yang hanya sebotol minuman ringan.


***


Beberapa saat kemudian Nita sudah sedang berjalan kaki menuju halte bus terdekat untuk pergi ke rumah Desi. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan nya dan membawanya berjalan mengikutinya.


"eh,siapa??!! kamu siapa?!!! lepas!!" Nita berontak,namun pria itu tak bergeming.


"Lepas atau saya teriak.!! tolo..hemp" teriakan Nita tercekat oleh pria itu yang tiba-tiba berbalik dan menutup mulutnya.


"Diam" ucap pria itu dengan tatapan matanya yang tajam pada Nita. Tatapan mata yang tak asing bagi Nita,sontak membuat Nita terbelalak melihat nya.

__ADS_1


"Deg..apakah? apakah aku tidak salah lihat?" batin Nita dengan jantung yang berdetak kencang. Karena ia tidak yakin dengan penilaian nya,kemudian dia mengamati postur tubuh pria yang kemudian membawanya lagi berjalan mengikutinya. Pria dengan mengenakan celana casual dan kaos panjang hitam yang ditarik hingga mendekati siku,ditambah dengan topi hitam dan masker yang sedari tadi menutupi wajahnya. Pria yang sering datang ke minimarket walau hanya sekedar membeli minuman. Tapi bukan itu, kini Nita baru menyadari bahwa dia mengenal postur tubuh pria ini.


"Juan" batin Nita,sambil menggelengkan kepalanya.


"Gak mungkin,ah. jangan-jangan aku mau diculik. Bodoh! kenapa baru sadar? tidak! aku harus kabur." batin Nita,kemudian mencoba melepaskan dirinya dari genggam tangan Juan. Namun,tepat saat itu Juan melepaskan Nita dan memaksa nya masuk ke mobil nya.


"Astaghfirullah,saya mau dibawa kemana??!! tolong lepaskan saya!! saya tidak punya uang! saya anak orang miskin,orang tua saya tidak punya harta warisan,mereka hanya punya banyak hutang. Saya juga sudah punya 6 anak,jika anda mau memperkosa saya juga percuma,saya tidak akan memuaskan anda. Jadi anda pasti akan rugi kalau menculik saya.! tolong lepaskan saya!! tolong!!" perkataan Nita dengan berteriak seolah tak ada gunanya,karena jalan itu sedang sepi. Hingga Nita pun akhirnya terdiam dengan sendirinya ketika Juan sudah masuk ke mobil,duduk di sebelahnya dan langsung membuka topi dan maskernya. Menatap lekat pada Nita,hingga ia tak bisa berkata-kata lagi.Bahkan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan nya.


"Kenapa diam? aku yakin masih banyak yang harus kamu katakan bukan?" ucap Juan datar namun mengandung arti. Itu tersirat dari sorot mata nya.


"Tidak..tidak mungkin" gumam Nita sambil menggelengkan kepalanya,seolah menolak apa yang dilihat di hadapan nya. Sekali lagi, dia benar-benar harus berhadapan dengan orang yang selama ini dengan sekuat tenaga ingin ia lupakan.


"Kau tidak salah. Ini aku, Juan. Apa kabar?" ucap Juan sambil tersenyum dan tangan nya mengusap pucuk kepala Nita yang saat ini masih terlihat tak percaya.


"Senyum itu,wajah itu, mata itu,adalah milik Juan. Pria yang telah menguasai hati dan diriku selama ini." batin Nita.


"Aku merindukan mu." ucap Juan yang saat ini tengah merengkuh Nita dalam pelukannya. Nita hanya terdiam,ia tak tahu harus bagaimana. Ia belum bisa mengontrol diri nya dengan pertemuan yang tiba-tiba dan tak terduga itu.


"Lepas" ucap Nita,yang saat itu tersadar karena mengingat wajah orang tua nya sekilas. Juan pun melepaskan pelukannya. Ia mencoba memahami Nita. Walau ia ingin segera melontarkan banyak pertanyaan padanya kenapa tiba-tiba Nita pergi dan menghindari nya.


Setelah suasana hening beberapa saat,dan Nita sudah bisa mengontrol diri nya.


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja. Walaupun sebenarnya aku sangat kesulitan karena mu." jawab Juan,dengan kembali menatap Nita yang malah memandang ke depan tanpa menghiraukan Juan.


"Syukur lah. Ehm, bagaimana kabar kakek dan nenek Kim? apa mereka baik-baik saja? Bagaimana kondisi nenek? apa penyakitnya masih sering kambuh? apa beliau meminum obatnya dengan teratur? ah,tidak lupa meminum ramuan herbal nya kan?".


"Apa kamu tidak mau bertanya bagaimana kondisiku?" tanya Juan yang memotong banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh Nita.


"Hah? ah,itu. Maaf." jawab Nita yang merasa canggung mengatakan pertanyaan seperti yang diminta Juan. Kemudian ia memilih untuk diam.


"Huft,apa kau tahu? aku sangat frustasi karena mu. Kamu yang tiba-tiba pergi meninggalkanku bahkan dengan sengaja tak memberikan kesempatan untuk ku menemukan mu. Itu membuat ku sangat-sangat tak berdaya. Apa karena kejadian itu? sungguh,aku minta maaf untuk itu. Aku benar-benar minta maaf. Tapi,kau bilang tak apa,kau bilang kau mengerti,tapi kenapa? kenapa harus butuh setahun untuk ku bisa menemukan mu lagi? kenapa? Bisa kah kamu menjelaskan nya padaku sekarang?" ucap Juan dengan penuh penekanan,hingga Nita pun sangat merasakan seperti apa kecewa dan bingung serta sakit hatinya Juan.


"itu.maaf. Aku hanya bisa meminta maaf. Aku yang salah,bukan kamu. Jadi, aku minta maaf." jawab Nita,yang justru makin membuat Juan bingung. Dan merasa pasti ada yang disembunyikan darinya.


"ehm,tolong sampaikan salam ku untuk kakek dan nenek. Saya ada janji,jadi saya pergi dulu." ucap Nita,lalu mencoba membuka pintu mobil itu namun Juan malah mengunci pintunya.


Dengan cepat Juan mendekati Nita,memasang sabuk pengaman padanya tanpa berkata apa-apa.


"Deg.." jantung Nita makin berdetak dengan cepat saat Juan mendekati nya. Aroma pria yang sangat ia kenal dan sebenarnya sangat ia rindukan. Pria yang selalu memenuhi isi kepala nya,namun ia harus melupakan nya. Juan bergegas melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Mau kemana? tolong turunkan aku disini saja. Saya ada janji dengan teman.!" pinta Nita.


"Apa kau lupa janjimu padaku? aku menuntut kamu menepati janji mu juga sekarang." jawab Juan tegas dengan tetap fokus mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi.


"Berhenti!!!" teriak Nita,Juan pun terpaksa menghentikan laju mobil nya.


"Maaf" ucap Nita.


"Bukan itu yang ingin ku dengar." jawab Juan.


"Apa lagi? tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Seperti yang aku katakan di awal tadi, aku sudah punya anak dengan suamiku, jadi tolong anda mengerti." ucap Nita.


"Baiklah,akan aku cari tahu sendiri. Sebagai gantinya,jangan menghindari ku atau pergi lagi." Nita tak menjawab nya.


"Tolong buka pintu nya. Aku sudah terlambat." ucap Nita.


"Baik. Yang harus kamu ingat adalah tidak ada kata menyerah dalam hidupku." ucap Juan tegas seolah memperingatkan Nita,kemudian keluar dari mobilnya. Berjalan mengitari depan mobil dan membuka pintu di sebelah Nita duduk.


"Mau ku antar?" ucap Juan lagi.


"Tidak,terima kasih." jawab Nita ketus,namun Juan menarik tangan nya membuat Nita berada tepat dalam pelukan Juan.


Lagi-lagi Nita yang terkejut hanya bisa terdiam,dan reflek untuk nya melepaskan diri dari Juan pun terlambat. Tapi,Juan dengan senang hati melepaskan pelukannya.


Setelah nya,Nita bergegas pergi meninggalkan Juan tanpa berkata apapun. Dan tanpa ia sadari bahwa Juan telah mengambil ponselnya saat ia memeluk nita tadi. Senyum puas dari bibir tipis nan manis pun mengembang di wajah Juan,senyum penuh kemenangan buatnya.


"Lihatlah nek, aku tidak akan gagal membawa pulang cucu menantu mu ke rumah,dan ku pastikan akan memberimu cucu buyut tahun ini." gumam Juan sambil memainkan ponsel Nita yang di pegang nya, dan memandang punggung Nita yang berjalan cepat meninggalkan nya tanpa menoleh sekalipun padanya.


"Kau tak perlu menoleh untuk melihat ku, karena sebentar lagi akan ku pastikan hanya aku yang akan kau lihat di depanmu." ucap Juan sebelum ia kembali berjalan masuk ke mobilnya.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil bersiul merayakan kemenangan nya. Hari yang tiba-tiba menjadi cerah dan sejuk untuknya. Karena ia, sedang sangat bahagia seolah bunga sakura bertaburan padanya.


****************************************


TOLONG TINGGALKAN JEJAK LIKE DAN KOMENTAR POSITIF NYA KALAU KALIAN SUKA CERITA NYA. KARENA ITU SUMBER SEMANGATKU.


SEHAT SELALU SEMUANYA...


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2