
Sudah seminggu mereka menempati rumah baru itu,Nita pun sudah merasa pasrah dengan situasi yang dijalani nya saat ini. Pikiran untuk kabur dari Juan sudah mulai membuat nya lelah,sebabnya karena Juan tak membiarkan Nita jauh darinya walau semenit. Hampir waktu siangnya penuh dengan semua kegiatan yang disuruh oleh Juan. Hingga saat malam tiba ia hanya ingin langsung merebahkan dirinya dan secepatnya tidur karena ia harus bersiap untuk esok harinya.
Sedangkan Juan,posisinya di K group sudah sangat aman. Bahkan kakek Kim sudah membuat pengumuman jika begitu ia memiliki cucu dari Juan maka posisi presiden direktur sudah langsung beralih ke Juan. Dan itu sudah disetujui oleh semua dewan direksi,merek mempertimbangkan hasil kerja keras Juan yang mampu menstabilkan K group,bahkan saat ia sedang cuti sekalipun dia masih bisa mengambil keputusan yang tepat dalam setiap proyek yang dihadiri sekretaris Liem sebagai wakilnya. Kakek dan nenek Kim sudah sangat ingin menggendong cucu buyut dari Juan cucu semata wayangnya.
Bukan hidup namanya kalau tidak ada cobaan,ya Nita menganggap ini adalah cobaan. Ia harus melewati dengan baik. Ia harus tetap bersyukur setidaknya ia masih sehat dan selamat,tak mengalami kekerasan secara fisik. Itu yang terpenting,karena ia tak mau ibunya khawatir. Sudah cukup ia berada jauh, asalkan sehat dan baik-baik saja maka ia tak 2kali membuat ibunya mencemaskan nya.
"Hah, Niko,,bagaimana kabarnya ya? aku sungguh merasa bersalah padanya. Tapi, bagaimana caraku menjelaskan padamu yang sesungguhnya? semoga Tuhan memberikan petunjuk." pikir Nita yang saat ini sedang membersihkan kaca jendela rumah itu. Sambil melihat ke luar dan pikirannya jauh mengingat Niko dengan keramahan nya.
Cetakk
"Aoww!! sakit!!!" Rajuk Nita.
"Sakit ya? lagian dari tadi dipanggil tapi kamu malah sedang asyik melamun!" ucap Juan dengan memegang gulungan majalah yang digunakan nya untuk memukul kepala Nita,walau tidak dengan sekuat tenaga namun cukup mengagetkan Nita.
"Tapi kan kau bisa menepuk pundak atau apa gitu,masa mukul kepala! ini sama saja kekerasan lho!!" ucap Nita tak terima.
"Ah sama saja, kemarin aku menepuk pundak mu juga kau langsung berbalik dan siap menendang ku. Memangnya aku penjahat? lebih baik aku gunakan ini,lebih aman dan ampuh." bantah Juan.
"Tetap saja!!"
"Ssstt sudahlah,aku minta maaf. Lebih baik sekarang kau cepat selesaikan itu,karena baru saja para bibi menelfon dan bilang ingin mampir kesini. Huft,mereka itu gemar merusak ketenangan ku." ucap Juan sekaligus mengeluh.
"Bibi? keluarga mu? jam berapa mereka akan datang? apa aku perlu menyiapkan makanan?" tanya Nita.
"Iya,para bibi. Tidak usah masak, seadanya saja. Aku tak ingin mereka berlama-lama dirumah ini. Bila perlu kamu tak usah buatkan minum juga,aku kesal kalau ada mereka." Jawab Juan.
"Hah? mana bisa begitu? mereka itu orang tua dan juga keluarga mu dan tamu di rumah ini. Dalam budaya ku setidaknya tamu itu harus dihormati dan dilayani dengan sebaik dan seramah mungkin." ucap Nita yang tak setuju dengan perkataan Juan.
"Haish, terserah kamu. Tapi jangan sekali-kali meminta bantuan ku untuk mengusir mereka kalau kau sudah kewalahan menghadapi mereka.!" ucap Juan tegas.
"Cihh,dasar jutek. Percuma ganteng tapi jutek nyebelin." gerutu Nita.
"Apa kau bilang??" tanya Juan yang sekilas mendengar umpatan Nita.
"Aahh gak,,bukan apa-apa kok.hehe" jawab Nita.
"Yasudah cepat selesaikan,sebelum pekerjaan mu makin bertambah setelah bibi datang." perintah Juan yang kemudian akan berlalu meninggalkan Nita. Namun saat itu juga terdengar bel berbunyi.
Ting...tong...
Baik Nita maupun Juan sama-sama menoleh ke arah pintu depan dan seketika Juan menepuk jidatnya sambil mengeluh.
"Hufttt,,cepat sekali mereka. Ingat ya! jangan berlaku ramah pada mereka apalagi melayani dengan baik. Kalau kamu tidak mau menyesal.!" Acan Juan sebelum akhirnya ia berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Nita yang penasaran pun akhirnya mengikuti Juan di belakangnya.
"Haloo keponakan ku?? bagaimana kabarmu?" sapa bibi Jeon begitu Juan membuka pintu.
__ADS_1
"Cih,gak usah basa-basi. Langsung saja ada perlu apa?" tanya Juan jutek.
"Ehem,jadi begini." Ucap paman Hyuk yang merupakan suami dari bibi Jeon.
"Sayang,ayo kita masuk dulu. Kita sapa keponakan perempuan kita. Lagi pula kan kita bawa hadiah untuknya. Pasti boleh kan Juan?" ucap bibi Jeon memotong ucapan suaminya.
"Sini biar aku saja yang memberikan nya." pinta Juan sambil meminta hadiah yang dimaksud bibi Jeon.
"Astaga,ini urusan antar wanita jadi maaf ya keponakan ku yang ganteng dan baik,bibi mau memberikannya sendiri. Bibi masuk ya. Nitaa!!" ucap bibi Jeon yang langsung menerobos masuk kedalam rumah melewati Juan yang tak mampu mencegahnya karena bibi Jeon dengan cepat mendorongnya agar memberikan jalan.
Sementara paman Hyuk yang saat ini sedang menggendong putra pertama nya yang sedang tertidur hanya bisa tersenyum sipu karena sudah tahu kelakuan istri dan keponakan nya itu. Akhirnya Juan pun dengan terpaksa mempersilahkan nya masuk.
"Hah?? kenapa si kecil ikut juga??" tanya Juan kaget begitu paman Hyuk menarik troli bayi dimana ada putri keduanya yang masih bayi yang juga tengah tertidur di dalam troli itu.
"Hehehe" paman Hyuk hanya menunjukkan senyumnya.
"Haishh" keluh Juan dengan memijat pangkal hidungnya karena sudah tahu apa yang akan terjadi di rumahnya kalau kedua anak paman dan bibinya terbangun nanti.
Juan tipe pria yang tak suka kebisingan,dia lebih suka menyendiri,kaku dan tak bisa berlaku manis pada anak-anak.
"Selamat datang bibi,paman." Sapa Nita menyambut paman dan bibi nya Juan.
"Waaahh keponakan perempuan ku ramah sekali,,beda sekali dengan keponakan laki-laki ku itu." ucap bibi Jeon sambil memeluk Nita.
"Sudah ketemu Nita kan bi? langsung serahkan saja hadiahnya lalu kalian boleh pergi." ucap Juan.
"Maafkan kami ya Nita kalau kedatangan kami mengganggu kamu dan Juan." ucap paman Hyuk.
"Ya,Kalau begitu cepat lah pergi dari sini. Ini rumah pengantin baru lho." jawab Juan sehingga paman Hyuk langsung terdiam karena merasa tidak nyaman dengan Juan.
"Dasar anak ini,sudah beristri tapi masih aja angkuh." ucap bibi Jeon yang terlihat tak ambil pusing dengan semua yang dikatakan Juan.
"Paman,Bibi,maafkan Juan ya. Aku tidak keberatan kok, kalian sama sekali tidak mengganggu kami. Ah,silahkan duduk paman,bibi." ucap Nita dengan sekilas memberikan pandangan tajam pada Juan agar berhenti berkata kasar pada paman dan bibinya.
"Ah,itu si kecil bisa ditidurkan di kamarku saja paman. Kasihan kalau terus digendong begitu." ucap Nita yang melihat paman Hyuk terlihat lelah menggendong putranya yang tengah tertidur.
"Eh,apa tidak apa-apa?" tanya paman Hyuk.
"Jangan sekali-kali menidurkan nya di kamar kita.!" ucap Juan sambil berlalu pergi dan masuk ke kamarnya.
"Ah,hehe. Sekali lagi maaf ya paman,bibi." ucap Nita.
"Haish,sudah biarkan saja. Anak itu memang kelakuannya dari dulu begitu. Biar Jongmin ditidurkan di sofa saja sayang. Lalu Jongsun biarkan di troli saja." ucap bibi Jeon pada suaminya.
"Wah? kalian punya dua anak? wah senang sekali..pasti ramai kalau mereka sudah bangun." ucap Nita dengan mata berbinar dan melihat Jongmin dan Jongsun yang masih tidur.
__ADS_1
"Tampan dan cantik sekali mereka,lucu,mengemaskan." sambung Nita lagi.
"Kalau begitu,lekaslah kamu punya anak. Supaya bisa merasakan kebahagiaan kami menjadi orang tua. Dan mungkin dengan adanya anak,Juan tak lagi sejutek dan seangkuh itu." ucap bibi Jeon.
"Ehem,hehe. Bibi dan paman doakan saja ya." jawab Nita.
"Pasti. Ah ini hadiah dari kami untukmu. Semoga kamu suka yah." ucap bibi Jeon sambil memberikan sebuah bingkisan untuk Nita.
"Wah,aku pasti sangat menyukainya Bu. Ini hadiah pertamaku.Terima kasih paman,bibi." ucap Nita.
"Hah? apa maksudmu dengan hadiah pertama? apa Juan sendiri tidak memberikan hadiah untukmu?" tanya bibi Jeon.
"oh,bukan,bukan begitu. Maksudmu ini hadiah pertama dari kalian.hehe" jawab Nita.
"Ah, kalian mau minum apa? biar ku ambilkan dulu." tawar Nita.
"Ah,tidak usah repot-repot Nita. Ehem,jadi sebenarnya kami ini ada sebuah janji reuni di sebuah hotel di dekat sini. Tapi pengasuh Jongmin dan Jongsun hari ini sedang sakit. Jadi kami tidak tega memintanya menjaga mereka. Itu,kalau.." ucapan bibi Jeon terhenti sambil memandang Nita.
"A..ah..biar mereka disini saja dulu bi. Kebetulan aku dan Juan tidak ada acara kemana-mana. Kami bisa menjaga Jongmin dan Jongsun untuk kalian. Lagipula mereka terlihat sangat lucu dan menggemaskan,aku suka." ucap Nita menjawab maksud dari bibi Jeon.
"Ah, syukurlah. Terima kasih sayang. Kami titip mereka yah,kami tidak lama kok. Hanya sekitar dua jam. Iya kan sayang?" ucap bibi Jeon yang dijawab anggukan oleh suaminya.
"Kalau begitu,kami langsung pergi ya Nita ? oh iya itu perlengkapan Jongmin dan Jongsun ada di tas itu yah. Em,mungkin kamu akan sedikit kerepotan kalau mereka berdua sudah bangun karena si kakak Jongmin baru belajar berjalan,usianya baru satu tahun 3 bulan. Sedangkan Jongsun baru 3 bulan. Jadi,tolong kau bujuk Juan untuk membantumu yah.?" jelas bibi Jeon sambil memeluk Nita.
"Iya Bi,kalian tidak perlu khawatir. Kita akan menjaga mereka dengan baik. Dan iya,sekali lagi terima kasih hadiahnya BI. Akan ku buka nanti." ucap Nita dengan senyum ramah pada paman dan bibi Jeon. Hingga mereka pun pergi meninggalkan kedua anak mereka pada Nita.
Beberapa saat kemudian.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Juan pda nita yang terlihat sedang menyiapkan sesuatu di dapur.
"Oh,sudah dari tadi." jawab Nita.
"Syukurlah." gumam Juan yang merasa lega.
Oweeeekkkk
"Hah?! Suara apa itu?!!" Jun terkejut mendengarnya.
Oweeeekkkk,,eaaak
"Wah,sepertinya Jongmin dan Jongsun sudah bangun." ucap Nita sambil berlari menuju sumber suara. Sementara Juan terpaku saking terkejutnya. Seketika kepalanya terasa pusing mendengar suara tangisan Jongmin dan Jongsun.
"Tidaaaaaaaaaakkkkkkkk" Teriak Juan dalam pikirannya.
******
__ADS_1
AUTHOR
SELAMAT MEMBACA EPISODE INI YAH,SEMOGA MAMPU MENGOBATI KARINDUAN KALIAN SEMUA DENGAN KELANJUTAN KISAH JUAN DAN NITA.🙏🙏🙏🌻🌻🌻