Inikah Cinta

Inikah Cinta
101


__ADS_3

"pst.. pst...tuan Ju, apa ini benar? seperti nya pesta ini sangat tidak cocok dengan ku deh." bisik Nita pada Juan begitu turun dari mobil.


Juan menghembuskan nafasnya mencoba tetap sabar dengan wanita di belakang nya saat ini.


"Kamu boleh pulang jalan kaki sekarang" jawab Juan tegas.


"Hah?? kau yakin? aku boleh pulang saja?" tanya Nita dengan wajah sumringah.


"Hemm" jawab Juan masih dengan acuhnya lalu berjalan meninggalkan Nita.


Saat itu Nita baru menyadari kalau ia tidak membawa uang. Tas dan bajunya ada di toko baju tadi. Seketika ia menepuk jidatnya karena menyadari kebodohannya. Akhirnya mau tak mau ia memilih mengejar Juan yang baru saja masuk ke dalam gedung itu.


"Tuan Ju!!" panggil Nita pada Juan setelah ia berhasil meraih pergelangan tangan Juan untuk menghentikan langkahnya.


"Hemm" jawab Juan dengan lirikan acuhnya.


"Hehe,boleh pinjam uang untuk ongkos pulang?" ucap Nita dengan sedikit berbisik.


"Aku tidak yakin kamu bisa mengembalikan begitu sampai di rumah. Tas mu ada di butik kan?" jawab Juan.


"hehe,kok tau? jadi, mana uangnya?" tana Nita sambil menyodorkan tangannya layaknya anak kecil yang sedang minta uang.


"TIDAK" jawab Juan kemudian menyunggingkan senyum meledek Nita.


"Juan!!" Teriak Nita dengan keras karena sudah kesal dengan Juan.


Seketika semua media dan semua orang yang ada disana pun terdiam dan mengarahkan pandangan padanya. Nita pun merasa kikuk dan terpojok tak nyaman karena menjadi pusat perhatian.


"Oh..my..god..aku ingin menutup wajahku sekarang,uhh.. gara-gara pria menyebalkan itu.ugh tunggu pembalasanku nanti." gumam Nita dalam hati.


Juan yang sedang menyapa rekan bisnisnya hanya menatapnya tanpa sepatah kata pun.


"Eh,Juan suamiku! Tunggu aku!" lanjut Nita sambil menyunggingkan senyumnya pada semua orang yang tengah menatapnya,sambil berjalan mendekati Juan lalu melingkar kan tangannya pada lengan Juan.


"ehem,,suamiku sayang. Jangan berjalan terlalu cepat, aku susah menyesuaikan langkahku denganmu." ucap Nita sambil bersikap manja pada Juan.


"Wah,nyonya Juan? mungkin pak direktur masih canggung dengan kita. Tapi, kita sangat senang pak direktur Ju kali ini tidak datang sendiri. Senang bertemu dengan anda nyonya." ucap salah satu kolega Juan.


"He,iya tuan. Suamiku memang sangat kaku di luar, berbeda dengan dirumah. Suamiku ini saaangat romantis, bahkan inginnya mengikuti ku kemanapun. Bukan begitu sayang? haha" jawab Nita sambil menoleh pada Juan.


"Tentu sayang, aku bukan tipe pria yang suka menunjukkan kemesraan di depan umum. Namun aku tidak keberatan jika kau menginginkan nya,istriku." Jawab Juan yang tiba-tiba menggeser tangan Nita dan memindahkan melingkar pada pinggang Juan.

__ADS_1


Nita terkejut, karena itu terlalu dekat. Sama saja ia sedang memeluk Juan. Sangat terasa lingkar pinggang Juan di tangannya. Dia ingin melepaskan nya. Namun Juan justru balik melingkar kan tangannya di pinggang Nita dengan erat, sehingga ia makin menempel pada Juan.


"Wahh,,sungguh ini benar-benar pemandangan yang sangat langka dari direktur Ju. Ternyata anda bisa bersikap lembut seperti ini." Ucap kolega yang lain.


"Benar, dibalik ketegasan direktur Ju,tersimpan sisi lemah lembut pada orang yang dicintai. Aku sangat senang menjalin kerjasama dengan anda."


"Anda terlalu memuji." Jawab Juan dengan senyum ramah yang selama ini tidak pernah ditunjukkan pada rekan kerjanya.


"Semoga anda bahagia dan segera diberi keturunan. Selamat nyonya, anda beruntung menikah dengan tuan Ju yang sangat kompeten dalam bisnis dan ternyata juga penyayang." ucap kolega lain lagi sambil menjabat tangan Nita."


"He,,terima kasih tuan. Terima kasih nyonya." Jawab Nita sambil menjabat tangan para kolega Juan dengan terpaksa tersenyum walau ia merasa canggung dan aneh. Ia menoleh pada Juan dengan memberikan kode kedipan mata karena bingung dengan situasi nya. Ia meminta Juan untuk membantu nya menjawab. Namun Juan hanya tersenyum,dan membalas kedipan mata Nita dengan mengedipkan sebelah matanya genit seolah sepihak dengan apa yang dikatakan para koleganya.


"Aoww" seru Juan yang kaget karena Nita mencubit pinggangnya.


"Rasakan!" bisik Nita puas.


"Hehe,hanya nyonya Ju yang bisa santai mencubit direktur Ju." ledek nyonya Choi sambil sedikit terkekeh.


"Hehe" respon Nita,


"Istriku sedikit pemalu namun manja nyonya, dia biasa mencubit pinggang kalau sedang menginginkan sesuatu." jawab Juan sambil melemparkan senyum pada Nita.


"Astaga pria ini benar-benar minta dipukul kepalanya." batin Nita.


"Ini nyonya." ucap asisten Wang sambil memberikan papperbag hitam mewah pada nyonya Choi.


"Direktur Ju, aku memang sudah tidak muda lagi. Tapi saya cukup berpengalaman untuk hal ini. Karena tahu anda akan hadir dengan nyonya Ju, saya secara khusus menyiapkan ini untuk hadiah istimewa pernikahan anda. Nyonya Ju, terimalah. Aku yakin anda akan sangat menyukai nya." Jelas nyonya Choi.


"Ah,saya sangat berterima kasih nyonya." jawab Nita sambil menerima nya.


"Kalau begitu, mari kita masuk. Acara akan segera dimulai." ajak nyonya Choi.


Sudah satu jam lebih Nita berada di dalam ruangan tempat acara berlangsung. Duduk di sebelah Juan membuat nya sangat canggung dan tidak nyaman. Ia harus selalu tersenyum agar terlihat mesra. Belum lagi Juan yang terus menggenggam tangan nya layaknya sudah rekat dengan lem.


"Apa harus terus berpegangan tangan begini? aku tidak nyaman." bisik Nita.


"Kau lupa? berkat ulah siapa sehingga aku harus mengumbar keromantisan hah??" jawab Juan menyalahkan Nita.


"Iya,,Karena aku. Tapi ini kapan selesainya sih? aku dingin. Baju ini kurang tebal di musim yang masih dingin ketika malam. Dan kenapa juga masih ditambah dengan pendingin ruangan disini yang dingin,apa mereka pada gak kedingingan?Ha.. Hachih!!" ucap Nita yang tiba-tiba bersin karena dingin. Ia tak bisa hanya mengenakan dres selutut dengan lengan pendek dan lingkar leher yang sedikit lebar. Sungguh,ini bukan penampilan dirinya yang sebenarnya.


Mengetahui itu, Juan pun melepas genggaman tangan nya pada Nita, lalu melepas jas nya dan memberikannya pada Nita dengan langsung memakaikannya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita pulang." ucap Juan yang langsung beranjak dari duduknya.


"Sekertaris Liem, gantikan aku disini." ucap Juan melalui sambungan telepon nya.


Setelah itu, Juan dan Nita pun pergi dari sana setelah berkomunikasi dengan Liem dan beberapa kolega lainnya.


"Hachih!" Nita kembali bersin beberapa kali hingga berada di mobil.


"Kau baik-baik saja?" tanya Juan pada Nita yang terlihat duduk sambil menyender kan kepalanya di kaca jendela mobil sebelahnya.


"Iya, aku baik-baik saja. Tapi,apakah kamu bisa menambah laju mobil ini? aku ingin cepat sampai di rumah. eh jam berapa sekarang?" ucap Nita.


"jam 9, aku nyalakan penghangat nya." Ucap Juan.


"Huft,aku pasti sudah sangat telat." gumam Nita seraya berekspresi kecewa.


Juan yang mendengar nya pun mengerutkan alisnya.


"Kenapa?


"Huft,aku sudah ada janji dengan Niko untuk bertemu sore tadi. Tapi sepertinya aku mengingkari janjiku. Gak mungkin dia mau menunggu selama dua jam kan?" paparnya pada Juan.


"Baguslah " jawab Juan dengan acuh. Ia tak senang mendengar Nita membuat janji dengan Niko seenaknya, padahal ia yang tinggal serumah, ia yang suaminya pun tak pernah diajak janjian bertemu atau pergi ke suatu tempat. Selalu Juan lah yang meminta Nita untuk pergi dengannya.


"Hem,,semoga Niko sudah pulang." gumam Nita lagi.


Mendengar itu, membuat Juan makin tidak senang. Ia menambah lagi kecepatan laju mobilnya.


"Wuaow!! hai apa kau mau mati hah??!! pelankan laju mobilnya!" teriak Nita.


"Cekiiitttt..." seketika Juan langsung menginjak rem dengan tiba-tiba, sehingga membuat kening Nita hampir terbentur.


"Hahh" Nita yang terkejut bercampur dah Dig dug hanya bisa membulatkan matanya tanpa bisa berkata-kata lagi. Ditengoknya Juan di samping nya, namun wajah Juan tampak datar. Tak sedetikpun menoleh pada Nita untuk melihat keadaannya nya,ataupun menanyakan kondisinya,apalagi meminta maaf sudah membuat Nita mual dan ketakutan.


"Kau?"


"Lampu merah" ucap Juan menghentikan perkataan Nita.


"Astaga.." gumam Nita sambil mengatur nafas dan dirinya. Agak kesal dengan Juan,tapi mungkin dia yang belum terbiasa dengan gaya berkendara Juan yang suka ngebut dan ngerem mendadak. Yah, setidaknya tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Tapi, tak dipungkiri ia merasa mual,mungkin mabuk kendaraan gara-gara Juan.


Karena malas berurusan dengan Juan malam ini, maka ia memilih diam dan menahan diri hingga sampai ke rumah.

__ADS_1


"Ibu,semoga anakmu ini selamat dan sehat selalu,karena menjadi penumpang seorang supir pembalap." gumam Nita yang sengaja diucapkan agak keras, saat Juan mulai melajukan lagi mobilnya.


"Ibu,anakmu itu kelewat tidak peka dengan perubahan sikap pria disebelahnya ini" ucap Juan dalam hatinya.


__ADS_2