Inikah Cinta

Inikah Cinta
81


__ADS_3

"Tuan,benarkah anda sudah menikah?"


"Kenapa pernikahan anda dilaksanakan tertutup tuan?"


"Dimana pelaksanaan pestanya tuan?"


"Apakah ini istri anda tuan?"


"Seperti apa sosok istri anda tuan?"


"Apakah benar anda telah menikah dengan nona Mimi putri dari tuan Aichi?"


"Berikan penjelasan anda tuan?"


Tanya beberapa wartawan yang langsung mencecar Juan begitu dia turun dari mobil. Namun Nita hanya menutupi wajahnya dengan telapak tangannya dsn juga masker yang diberikan Juan tadi sebelum turun dari mobil. Ia sangat tidak nyaman dengan keramaian,apa lagi dengan banyaknya kilatan cahaya kamera yang terus mengambil gambar mereka.


"Seperti yang kalian lihat,saat ini saya sedang dengan seorang wanita,ya inilah istri saya. Maaf,karena saya melakukan acara pernikahan secara tertutup,hanya sebatas keluarga saja yang hadir. Ini karena saya ingin pernikahan yang lebih terkesan sakral,ditambah istri saya dari kalangan biasa dan dia agak pemalu. Jadi mohon pengertian nya." Jelas Juan dengan tenang dan senyum ramahnya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Nita.


"Bisakah kita cepat pergi dari sini?" bisik Nita pada Juan,yang dijawab hanya dengan lirikan sekilasnya.


"Dasar pria bren*sek, bisa-bisa nya dia dengan santainya berbohong kalau sudah menikah. Kamu lebih cocok nikah sama kerjaan atau selain wanita." batin Nita.


"Tuan,siapa nama istri anda? benarkah dia wanita dari Indonesia yang beberapa waktu lalu sempat di beritakan?" tanya salah satu wartawan lagi.


"Ni wartawan kok tanya terus sih? memangnya berita yang beredar di media seperti apa sih? kok mereka sampai menyebut kan wanita Indonesia.?" Nita berkutat dengan pikirannya.


"Ah, teman-teman media semuanya. Mohon maaf karena untuk saat ini saya belum bisa menjelaskan lebih jauh. Karena saya tidak mau mengusik ketenangan privasi istri saya yang pemalu ini. Bukan begitu sayang?" ucap Juan dengan menoleh pada Nita dan menarik Nita masuk dalam pelukannya begitu dia melihat ada seorang wartawan yang berusaha meraih masker yang dikenakan Nita.


"Ini terlalu dekat." batin Nita yang merasa tak nyaman berada di pelukan Juan hingga ia bisa mendengar detak jantungnya.


"Dan mohon maaf sekali lagi,karena kami harus segera pergi. Permisi?" ucap Juan sambil berusaha menembus kerumunan wartawan itu.


"Anda mau kemana tuan? bisa minta waktunya sebentar lagi?" tanya wartawan lagi.


"Apa anda akan menghambat perjalanan pengantin baru yang sudah jelas akan pergi kemana setelah pernikahan nya?" tanya Juan dengan sorot mata tajam pada wartawan.


"Ah,maafkan kami tuan. Silahkan lanjutkan perjalanan anda. Selamat berbulan madu tuan,semoga berita baik akan kami terima lagi setelah kepulangan kalian." ucap wartawan yang mengira Juan dan Nita akan pergi berbulan madu. Dan mereka memberikan jalan pada Juan dan Nita untuk lewat.


"Hah? ap-apa maksudnya tadi? Juan mengakui ku sebagai istri nya? wah,gak bisa dibiarkan,ini pasti salah." pikir Nita.


"Ju.." ucap Nita terhenti karena Juan langsung memberikan isyarat agar ia diam.


"Diam lah,kalau kamu mau keluar dari kejaran wartawan itu." bisik Juan.


Nita hanya mengangguk mengerti.


"Hah, Alhamdulillah leganya. Akhirnya bebas juga dari serbuan para wartawan itu." gumam Nita yang saat ini sudah duduk di kursi pesawat dimana Juan duduk di sebelahnya juga.

__ADS_1


"Kita mau kemana?" tanya Nita.


"Pulang." jawab Juan yang tengah asyik memainkan ponselnya.


"Pulang? kemana?" tanya nita lagi yg masih belum mengerti dengan Juan.


"Yah,kemana lagi kalau bukan ke rumah." jawab Juan yang tengah menutup matanya dengan duduk bersender di kursinya.


"Maksudku,rumah mana? kok pake naik pesawat segala." ucap Nita sebal.


"Kau sudah sangat hafal dimana rumahku kan.?" timpal Juan.


"Ooh,,tunggu! maksudmu kita ke Seoul? terus setelah itu aku pulang ke Indonesia kan?"


"Kemana lagi,karena selain di Jeju,rumahku hanya ada di Seoul." Jawab Juan.


"Ooh syukurlah,kalau begitu."


"Jangan senang dulu nyonya Ju,karena kau tidak akan bisa pulang ke Indonesia tanpa seijin ku. Terlebih kita baru saja menikah,bukankah akan lebih menyenangkan kalau kita bersama? Hem?" ucap Juan dengan seringai liciknya membuat aura di sekitar Nita seketika berubah mendung.


"Hahaha,maaf. Ku pikir kau sedang mimpi berjalan ya? apa tadi kau bilang? kita sudah menikah? cih,yang benar saja. Sampai detik ini aku sama sekali tidak merasa telah melakukan prosesi pernikahan denganmu. Jadi tolong bangunlah dari tidur mu tu.an Ju."


"Lihat saja nanti,kau akan sangat terkejut begitu turun dari pesawat. Karena semua itu bisa saja terjadi." jelas Juan.


"Cih,terserah kau saja lah. Aku capek." ucap Nita yang langsung menyandarkan kepalanya kemudian memejamkan matanya bermaksud akan tidur.


"Sial.!! bagaimana bisa rencanaku gagal. argh!" ucap nyonya Shin dengan membanting gelas yang tengah dipegangnya.


"Maafkan kami nyonya. Kami teledor,mungkin ketika kami menerima pesan dari anda tuan muda Juan ada di dekat kami nyonya,sehingga dia mengetahui rencana kita." jelas salah seorang dari orang suruhan nyonya Shin untuk membawa pergi Nita.


"Keluar kalian!" bentak nyonya Shin.


"Baik nyonya."


"Aku tidak akan membiarkan rencanamu berjalan lancar,dasar bocah sial*an, berani-beraninya bermain dengan Kim Shin Hye." ucap nyonya Shin sambil mengeratkan kepalan tangannya,menumpukan amarahnya disana.


Berita pernikahan Juan dan Nita sudah tersebar di semua media,walaupun wajah sang pengantin di rahasiakan tapi itu tidak menyurutkan rasa penasaran semua orang untuk mengetahui seperti apa sosok wanita pilihan Juan.


Inisial D menjadi perbincangan hangat saat ini. Juan pun tersenyum puas dengan respon dari berita yang sengaja di sebarnya. Dengan begini setidaknya cap gay pada dirinya sudah terhapus,sehingga tidak akan jadi masalah dengan kedudukannya di perusahaan dan kelangsungan perusahaan nya.


Berita itupun sangat mengejutkan bagi Niko,ia tak percaya dengan berita yang beredar. Tidak mungkin pernikahan itu berlangsung begitu cepat. Pasalnya baru beberapa jam lalu dia meninggalkan hotel dimana Nita berada. Ia pergi dari sana dengan perasaan kacau,antara cemburu melihat ada pria lain di kamar Nita,dan juga sakit hati yang tak bisa ia tahan. Untuk sesaat logikanya seolah tak bekerja,ia menerima begitu saja dengan apa yang dilihatnya. Ketika ia mengingat kembali ekspresi wajah Nita saat itu,terlihat jelas kalau Nita berusaha menjelaskan situasi yang sebenarnya,namun entah kenapa Niko memilih mengabaikan itu.


Niko meraih ponselnya yang ditaruh di nakkas,dilihatnya beberapa jejak telepon dari Nita yang tak diangkatnya,dan ada juga beberapa pesan. Betapa terkejutnya ia saat ia membaca pesan itu satu persatu.


"Niko,tolong aku. Bantu aku keluar dari hotel ini. Aku tidak mau dipaksa menikah dengan nya. Kumohon,aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku tidak tau bagaimana dia bisa ada di kamarku. Aku bisa jelaskan,tidak ada yang terjadi di kamar itu antara aku dengan nya. Percayalah. Waktu ku tidak banyak,ku mohon untuk kali ini saja percayalah padaku. Sungguh,aku tidak tahu apa yang sedang di rencanakan nya." Membaca pesan ini sontak Niko merasa lemas dan frustasi, ia merasa bersalah karena telah mengabaikan Nita. Bagaimana bisa dia yang kemarin menyatakan cinta pada Nita malah tak memperdulikan dan mempercayainya? Dia merasa begitu bodoh,ia menyesal. Seandainya ia tak tersulut emosi dan cemburu,pasti tidak akan ada berita pernikahan ini. Ia menangis dalam diam nya.


"maafkan aku Nita,maaf." ucap Niko dalam tangisnya.

__ADS_1


*


"Apa ini?!" tanya Nita tak mengerti dengan map kuning yang baru saja diberikan Juan begitu memasuki apartemen nya.


"Peraturan perjanjian pernikahan kita." jawab Juan santai sambil berjalan memasuki ruang tengah apartemen itu. Nita pun mengikuti sambil membuka map itu,melihat isinya.


"Apa??!!" ucap Nita dengan suara tinggi.


"Jangan teriak-teriak di rumah ini. Aku tidak suka keributan." tegur Juan.


"Hei,tolong jelaskan! apa maksudnya ini?? Bagaiman bisa ada peraturan begini? Cih,lagipula aku tidak pernah merasa pernah menikah denganmu. Bagaimana bisa ada peraturan semacam ini? benar-benar tidak masuk akal.huft"


"Terserah kau percaya atau tidak yang jelas kita sudah menikah." jawab Juan acuh.


"Astaga,kau sadar kan? kau tidak sedang bermimpi terobsesi menikah denganku kan? kita sama-sama tahu kalau aku baru mencoba gaun pernikahan itu di hotel,tanpa sekalipun aku keluar ruangan dengan gaun itu,apa lagi menghadiri prosesi dan pesta pernikahan? Bagaimana bisa mencoba gaun pengantin dibilang sudah menikah. Cih,sungguh aneh,aku tak mengerti." tutur Nita dengan menggelengkan kepalanya heran dengan situasi itu.


"Nanti kau akan tahu,tapi bukan sekarang. Karena sekarang aku lelah,aku ingin beristirahat." ucap Juan sambil berjalan memasuki kamarnya.


"Hei,tunggu dulu! kita belum selesai bicara!" teriak Nita mencegah Juan.


Juan pun menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamarnya dan menoleh pada Nita yang beberapa meter di belakangnya.


"Apa kau mau kita lanjutkan pembicaraan kita di ranjang?" tanya Juan.


"Hah? ap-apa??" Nita heran dengan pertanyaan Juan.


"Atau,kau mau menemani suamimu ini untuk tidur? Hem?" tanya Juan lagi dengan mengedipkan sebelah matanya.


Melihat itu Nita hanya bisa membulatkan matanya dan melongo melihat tingkah Juan. Sungguh pria di depannya ini sangat menguji kesabaran nya.


"Aku tunggu di kamar ya is.tri.ku" tambah Juan lagi,lalu masuk ke kamarnya.


"Hah, astaghfirullah,sabar...sabar...sabar..Dasar pria aneh,gila,menyebalkan,manusia kutub,arghh" umpat Nita meluapkan kekesalannya.


"Aku dengar" sahut Juan dari dalam kamar nya.


Nita tak ada niat sedikit pun untuk menghampiri Juan di kamarnya. Awalnya dia berpikir untuk kabur dari apartemen itu,namun ternyata Juan sudah mengganti password pintunya. Dia ingin menghubungi seseorang yang sekiranya bisa dimintai tolong,tapi siapa? hanya Niko,namun dia sudah pasti tak mau menemui nya lagi. Desi? hah anak itu biang kerok dari kemalangan nya ini.


"Eh,dimana ponselku ya?" Nita baru sadar kalau ia tak memegang ponsel sedari tadi. Dia mencari-cari di tas nya namun ia tak menemukannya.


"Aaarggghh,lengkap sudah penderitaan ku." gumam Nita dengan sedih. Lalu dia membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Tidur meringkuk sambil meratapi nasib yang tengah dijalaninya hingga ia tertidur dalam lelahnya.


***


AUTHOR


GAK PERNAH BOSEN AUTHOR SELALU MENGINGATKAN KALIAN BUAT LIKE,VOTE DAN JUGA KOMEN YANG MENDUKUNG BUAT HASIL KARYAKU. AGAR LEBIH BAIK KEDEPANNYA. 🤗❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2