Inikah Cinta

Inikah Cinta
116


__ADS_3

"Nita...itu nak Satya sudah nunggu kamu di depan. Kamu dah siap belum?" tanya ibu Nita dari depan pintu kamar Nita.


"Iya Bu, sebentar lagi." jawab Nita sambil bersiap-siap.


"Duuh,,malah jadi gugup gini kan? lagian mau jemput orang kok mendadak gini,gak kasi tahu juga ini sih kepagian banget. Huft, kalau bukan karena ibu mah ogah." gumam Nita yang sedikit kesal karena dibuat terburu-buru.


Beberapa saat kemudian,ia selesai dan menuju ruang tamu rumahnya dimana ada Satya yang sudah duduk rapi dengan stelan jas nya.


"Pagi" sapa Satya.


"Pagi juga." jawab Nita dengan ekspresi datar nya melihat penampilan Satya. "Mau cari simpati camer nih,biar keliatan rapi dan menawan. Tapi aku dah biasa lihat penampilan begitu tuh. Malah,Juan lebih baik." batin Nita. Namun seketika ia terkejut dengan dirinya,"Ups,kenapa mendadak ingat manusia es itu sih?" Nit menampik pikiran nya sendiri.


"Mau berangkat sekarang?" tanya Satya.


"Ayo,kamu dah siap juga kan." Nita berjalan ke dalam rumah sambil memanggil ibunya untuk berpamitan.


"Buuk,,Nita berangkat sama Satya ya."


"Iya Nit,Nak Satya, hati-hati ya." jawab ibu Nita, ekspresi bahagia tak bisa ditutupi dari wajahnya.


"Alhamdulillah, akhirnya anak ku mau membuka hatinya. Lancarkan hubungan mereka ya Allah,aku sudah tidak sabar menimang cucu.hihi" gumam ibu Nita setelah Nita dan Satya pergi.


Di dalam mobil,


"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Satya mencoba membuka obrolan.


"Menurut mu?" jawab Nita balik bertanya.


"Apa mungkin kamu belum sempat sarapan?" Satya terlihat merasa bersalah.


"Eh,kenapa belum sempat sarapan? Ku pikir kamu sudah siap sejak pagi. Aku bawa sandwich untuk sarapan. Makanlah." ucap Satya, sambil menyerahkan papper bag berisi sebuah kotak makan di dalamnya.


"ah, makasih." jawab Nita.


"Apa kamu sengaja menyiapkan bekal ini?" tanya Nita sambil memakan sandwich itu.


"Iya,itu sarapanku. Karena setiap hari aku hanya meminum segelas jus organik sebelum berangkat,dan akan makan bekal di kantor nanti." jelas Satya sambil mengemudi.


Seketika makanan yang tengah ditelan Nita berasa nyangkut di tenggorokan.


"Ups,lalu bagaimana dengan mu nanti kalau ini sudah ku makan?" tanya Nita yang tak enak telah memakan jatah bekal sarapan orang lain.


"Bagus dong,jadi nanti kamu harus menemani aku di saat jam makan siang. Oke.!" jawab Satya percaya diri,seolah rencananya telah berhasil.


"Hah??" Nita tercengang, ternyata pria di hadapannya tengah menyusun modus untuk bisa dekat dengan nya. Sedangkan Satya hanya tersenyum menunjukan deretan giginya yang rapi.


Di sisi lain,tanpa sepengetahuan Nita dan Satya. Juan tengah mengikuti mobil mereka. Juan sudah menduga kalau Satya akan terus mendekati Nita. Setelah malam sebelumnya,begitu sampai di rumah,Juan langsung meminta Soni untuk mencari tahu tentang Satya.


Kenyataan mencengangkan telah ia ketahui, ternyata Satya seorang gay. Namun karena orang tua nya mengancam tidak akan mewariskan hartanya pada Satya jika ia tak segera menikah,maka dengan terpaksa Satya menuruti kemauan orang tua nya untuk dijodohkan dengan Nita. Ia juga tidak mau mengambil resiko hidup miskin jika orang tua nya mengetahui tentang dirinya yang penyuka sesama jenis.

__ADS_1


"Tin..tin..tiiiinnn..." Juan terus membunyikan klakson mobilnya. Membuat Satya dan Nita menengok ke belakang dan bertanya-tanya siapa pengemudi di dalam mobil itu.


"Bren**ek!!! siapa sih?!!!!" maki Satya sambil memukul kemudinya berkali-kali karena tersulut emosi oleh tindakan Juan.


Cekiiiiittttttt


Satya menghentikan mobilnya tiba-tiba saat Juan dengan tiba-tiba menghentikan mobilnya di depan mobil Satya.


Nita pun hampir terbentur kepalanya karena kejadian itu.


Belum sempat Satya membuka pintu mobilnya, Juan sudah terlebih dulu turun dari mobilnya. Ia berjalan dengan langkah cepat namun tetap tenang dan elegan. Raut wajahnya yang serius dengan pandangan mata tajam menatap lurus ke Satya. Nita yang melihat nya pun hanya bisa terpaku dengan sosok Juan di hadapannya itu. Mungkin itu sosok Juan yang penuh amarah dalam diam nya yang baru pernah dilihat oleh Nita.


Nita pikir,Juan akan menghampiri nya dan menyeretnya keluar dari mobil itu. Namun dugaannya ternyata salah. Juan justru menghampiri Satya, memintanya membuka jendela mobilnya,kemudian Juan sedikit membungkukkan badannya,dengan wajah tanpa ekspresi namun mata tajamnya beralih menatap Nita,ia berkata.


"Dia,wanitaku" dengan tegas dan penuh penekanan.


Entah sihir apa yang dipakainya,sehingga Satya tak berkata apa-apa. Ia hanya terpaku menatap Juan. Seolah sedang mengamati secara rinci wajah tampan Juan.


Tak mau berlama-lama,Juan segera berjalan memutari mobil Satya. Membuka pintu penumpang,dan menarik Nita keluar dari sana. Membawanya berjalan mengikuti langkah cepatnya untuk masuk ke mobilnya. Dengan tertatih Nita mengikuti langkah Juan yang lebat itu. Cengkeraman tangan Juan di pergelangan tangan nya sangat kuat. Sama seperti yang dia rasakan ketika ia bertemu dengan Niko dulu.


Nita terlarut dalam pikiran nya ketika Juan sudah melajukan mobilnya dengan kencang.


Nita dibawa ke kilasan kejadian yang telah lalu dengan perilaku Juan saat ini.


"Mungkinkah Juan cemburu?" batin Nita,sambil sesekali melirik ke arah Juan yang tengah serius mengemudi tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Seketika mata Nita memerah dan berkaca-kaca, buliran air mata serasa ingin jatuh dari sudut mata nya. Namun ia menahan nya. Ditariknya nafas nya dalam-dalam lalu menghembuskan nya untuk menenangkan diri nya. Itu dilakukan nya karena ia tak mau berspekulasi sendiri. Ia cukup sadar diri posisinya untuk Juan. Ia hanya sebatas kerja,tak lebih dari itu.


"Emm,apa kamu sedang ada masalah?" Nita kembali bertanya namun lagi-lagi tak direspon oleh Juan.


"Maaf,aku tidak tahu apa masalah mu. Tapi, bisakah jangan libatkan aku? aku tidak tahu harus bagaimana.."


Ckiitttt


Juan menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dengan gerakan cepat,ia melepaskan sabuk pengaman nya lalu mengunci Nita yang tengah duduk di sebelah nya.


"Apa kamu benar-benar tidak tahu kenapa aku begini?" tanya Juan tepat di depan wajah Nita,dengan tatapan tajamnya lurus pada Nita.


Belum sempat Nita menjawab,Juan kembali memberondong my dengan berbagai pertanyaan dan ungkapan.


"Apa kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan?", "Apa kamu tahu betapa marahnya aku ketika melihat mu dengan sengaja bersama atau pergi dengan pria lain hah?!", "Ini karena kamu.!"


"Hah?" seolah Nita tidak percaya dengan perkataan Juan. Namun Juan langsung meraih tengkuk Nita dan mencium bibir nya. Sadar dengan tindakan Juan,Nita pun berusaha melepaskan diri nya.


"Juan!!" teriak Nita dengan nafas tersengal karena telah berusaha melepaskan diri dari Juan.


Juan masih diam di depan Nita, dengan sorot mata yang masih intens menatap Nita.


Beberapa saat dalam hening, hingga Nita membuka suara.

__ADS_1


"Tolong, jangan ganggu aku lagi. Sadarlah,kamu dan aku berbeda. Kita dua orang yang jauh berbeda dari segala hal. Kamu sudah ada Yuri di sisimu. Kita hanya sebatas hubungan kerja dan itu sudah lama berakhir. Jadi,ku mohon berhenti mengganggu ku. Kasihanilah orang tua ku yang sudah menaruh banyak harapan untuk ku. Ku mohon." pinta Nita,lalu turun dari mobil Juan tanpa menunggu respon Juan.


Nita berlari dan terus berlari seolah melarikan diri dari Juan. Tanpa disadari nya,air mata nya menetes,dan hatinya terasa perih. Namun pikiran nya menolak kesedihan nya. Ia memaksakan dirinya tertawa di tengah tangis nya.


Hingga ia memutuskan berhenti di sebuah halte dan duduk di sana. Di tatapnya kendaraan yang lalu lalang hingga hari sudah mulai gelap. Dering ponselnya menyadarkan nya dari lamunannya.


"Halo,iya pak.." jawab Nita.


"Nit,dimana kamu? kok belum pulang?" tanya bapak Nita.


"Di rumah teman pak." Jawab Nita sekenanya.


"Nak,tadi pak Burhan telfon. Katanya keluar besarnya akan berkumpul Minggu depan. Mereka akan sekalian mengadakan pertunangan mu dengan Satya sekaligus mengenalkan mu dengan keluarganya. Gimana?"


"Nita ngikut saja pak. Sudah dulu ya."


Setelah merasa lebih tenang,Nita pun beranjak dari duduknya. Melangkah kaki nya untuk pulang. Ia langsung menuju kamarnya tanpa sepatah kata pun pada Ayah dan ibunya yang tengah duduk berdua dengan suaminya.


*****


Seminggu berlalu, tibalah saat Nita harus bertunangan dengan Satya.


"Silahkan kalian bertukar cincin." Ucap di pemandu acara.


"Berhenti!!!' teriak Juan menghentikan prosesi itu.


Tak hanya Nita dan Satya,semua orang di ruangan itu menolehkan pandangannya nya ke sumber suara.


Juan berjalan cepat mendekati Nita.


"Tidak perlu ada pertunangan ataupun pernikahan.!" ucap Juan lantang. Sontak membuat semua orang bertanya-tanya.


"Karena Nita adalah istriku.!"


"Hah??!!" semua orang terkejut, mendengar pengakuan Juan. Tak terkecuali Nita. Namun tak ada yang bisa mengelak ucapan Juan,ketika dengan cepat Juan mengeluarkan buku nikahnya dengan Nita. Tak hanya buku nikah Indonesia,tapi juga Korea.


Nita membelalakkan matanya melihat itu. Ia sama sekali tak percaya dengan tindakan Juan. Lebih tak percaya dengan bukti pernikahan yang ditunjukkan oleh Juan saat ini.


"Kau pengacara bukan? Tentu kau tahu ini asli atau palsu." ucap Juan pada Satya. Dan dia pun langsung mengecek nya.


"Bagaimana? apakah aku berbohong?" tanya Juan lagi,dan hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Satya.


"Be.. benar,,ini asli." ucap Satya terbata. Orang mungkin mengira ia syok karena wanita calon tunangannya ternyata telah memiliki suami. Namun yang sebenarnya adalah ia melihat pasangan sesama jenis nya tengah berdiri di barisan belakang dengan tatapan tajam pada nya.


"Kau tahu siapa orang di barisan belakang itu kan? kau boleh datang padaku jika butuh bantuan. Sekarang aku akan bawa istri ku." bisik Juan di sisi Satya. Kemudian mendekati Nita dan berdiri di hadapan nya.


"Kau bisa tanyakan pada ayahmu yang sebenarnya terjadi. Tapi tidak sekarang." ucap Juan lalu mengangkat Nita ke bahunya dan membawa nya pergi dari ruangan itu. Membiarkan Nita meronta berusaha melepaskan diri. Namun Juan hanya menyunggingkan senyumnya yang lepas,ia merasa puas telah menunjukkan kebenaran. Dengan begini,Nita tak akan lagi pergi darinya.


****************************************

__ADS_1


Mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk kalian para pembaca ku. Setelah sekian lama,aku baru bisa melanjutkan cerita ini. Begitu banyak ujian dalam hidupku sehari-hari yang telah selalu membuat ku menunda episode ini. Terima kasih untuk kalian yang tetap percaya dan menunggu ku. Terima kasih banyak 🙏🙏🙏


__ADS_2