
"Aku tahu tindakan ku terlalu memaksa kan kehendak ku padamu, aku tidak seharusnya begini. Tapi aku sungguh tidak bisa melakukan ini dengan selain kamu. Kamu adalah wanita yang sangat disukai oleh nenek. Dan kau tahu aku sangat menyayangi nya. Aku bukan tidak mau jujur padanya, tapi aku takut akan mempengaruhi kesehatan nya. Jadi demi nenek, walaupun aku harus bersujud padamu agar kamu mau melanjutkan perjanjian kita maka akan aku lakukan. Bahkan walaupun kamu menolak sekalipun, aku akan tetap melakukan segala cara agar kamu tetap bertahan." jelas Juan dengan mantap sambil menatap Nita yang saat ini sedang duduk santai sambil menonton TV.
Dengan volume TV yang memang tidak terlalu keras, tidak mungkin Nita tidak mendengar apa yang dikatakan Juan barusan. Namun ia sama sekali tak berniat menanggapi ucapan Juan. Karen percuma saja ditanggapi, dari perkataan Juan barusan,seolah Nita memang tidak diberi kesempatan menolak keinginan Juan. Maka, bagaimana pun caranya dia akan berusaha menjauh dan pergi dari Juan. Itu adalah jalan terbaik. Ia tidak tahu Juan akan menepati janjinya untuk melanjutkan kebohongan hubungannya hanya satu bulan. Manusia egois itu tak akan semudah itu untuk berkata jujur pada nenek Kim tentang kebenaran hubungan mereka ataupun kebenaran ia memiliki hubungan khusus dengan Yuri yang notabene wanita yang katanya tidak disetujui nenek jika menjalin cinta dengannya. Dengan kata lain, aku mungkin akan terjebak dalam situasi rumit yang diciptakan Juan, dan hanya bisa bebas jika mungkin nenek sudah tidak ada."Ah,aku tidak akan pernah tega melakukan ini pada nenek" pikir Nita dalam hatinya."Baiklah, pulang ke Indonesia adalah jalan terbaik. Terlepas apapun yang akan ku kerjakan di Indonesia, setidaknya jika aku sehat dan semangat pasti aku bisa hidup dan menghidupi orang tua ku." ucap Nita dalam hatinya dengan mantap.
Nita beranjak dari tempat duduknya. Namun Juan meraih tangan Nita dan menghentikan nya.
"Mau kemana?" tanya Juan.
"Huft,mandi. Kamu tidak berniat untuk mengikuti ke kamar mandi kan?" jawab Nita dengan malas.
"Tidak." jawab Juan.
"Bagus, kalau begitu lepas kan tanganmu." pinta Nita dengan melirik kan matanya pada tangan Juan yang masih memegang pergelangan tangan nya.
"Hem" jawab Juan sambil langsung melepaskan tangan Nita. Kemudian Nita pun pergi ke kamar mandi. Juan masih duduk menunggu Nita sambil membuka ponselnya.
Beberapa saat kemudian Nita telah selesai. Dia meminta pada Juan untuk keluar dari rumah sakit itu, karena sudah tidak perlu dirawat lagi dengan kondisi yang sangat sehat seperti sekarang. Lagi pula, rasanya tidak nyaman harus tidur di rumah sakit dalam kondisi sehat. Terlebih,Nita harus memikirkan rencana ke depan di tempat yang lebih nyaman selain di rumah sakit.
Juan mengikuti kemauan Nita. Ia membawa Nita ke hotel tempatnya menginap.
"Tunggu! kenapa kau membawaku kemari?!" tanya Nita.
"Lalu,aku harus membawamu kemana?" jawab Juan.
"Hei,kau lupa? barang-barang ku ada di.."
"Di apartemen Niko si bren*sek itu? aku sudah membereskan nya." tutur Juan dengan kesal.
"Hah? bren*sek katamu? justru dia pria terbaik yang ku temui sekarang. Huft" ucap Nita tak terima dengan perkataan Juan.
"Terserah kau saja." timpal Juan, yang langsung keluar dari mobil meninggalkan Nita yang tengah kesal padanya.
Ingin rasanya Juan menyumpal mulut Nita yang mengatai pria lain lebih baik darinya. Namun ia menahan dirinya, ia sedang terlalu lelah untuk berdebat lagi dengan Nita. Demi nenek, ia harus sedikit bersabar menghadapi Nita. Wanita satu-satunya yang ia temui yang sama sekali tidak mau dekat dengannya. Padahal di luar,banyak wanita yang mengejarnya dan melakukan segala macam cara untuk bisa sekedar dekat dengannya,hingga menikahinya. Juan sempat berpikir mungkin Nita ada masalah dengan penglihatan nya.
"Hei!! tunggu!!" teriak Nita sambil berjalan cepat ke arah Juan yang tetap berjalan acuh hingga memasuki lift dan akan menutupnya.
"Sudah ku bilang,tunggu! hah hah" ucap Nita dengan nafas tersengal karena lelah berlari memasuki lift yang akan tertutup.
"Jalanmu saja yang terlalu lambat. Dasar siput." ucap Juan.
"Hah? apa kau bilang?" ucap Nita.
"Tidak ada pengulangan." jawab Juan.
"Isshh,dasar manusia kutub." Nita mengatai Juan. Dan hanya dibalas dengan smirk sekilas oleh Juan.
"Aku lapar." ucap Nita begitu masuk kamar hotel,sambil mengusap perutnya dan berjalan mendekati kulkas.
"Hah? apa-apa an ini? kenapa tak ada satupun makanan di kulkas?!", protes Nita.
"Kita makan diluar." ucap Juan.
__ADS_1
"Kenapa tadi tidak sekalian mampir makan saja dulu? Pesan disini saja kan bisa." protes Nita.
"Tidak.! Kita tak punya banyak waktu." jawab Juan sambil mengambil tas dan koper.
"Oh,kamu ada kerjaan? ya sudah pergi saja. Aku bisa pesan makan sendiri kok. Lagi pula,makan sendiri lebih nyaman." jawab Nita.
"Penerbangan kita satu jam lagi, jadi lebih baik sekarang kita langsung ke bandara." ucap Juan yang sudah berdiri tepat di hadapan Nita.
Nita melihat Juan dari wajahnya,terlihat dia serius dengan ucapannya. Di tambah tas dan koper sudah siap dibawa nya juga.
"Lho,kenapa tas ku juga dibawa?" tanya Nita heran. Karena ia mengira hanya Juan yang akan pergi untuk urusan bisnisnya,kenapa barang-barang nya juga ikut dibawa.
"Tentu saja. Tadi aku sudah bilang, penerbangan kita satu jam lagi. Itu berarti aku dan ka mu akan pergi bersama. Apa kau sudah paham sekarang?" ucap Juan dengan penekanan di akhir ucapan nya.
"Hah?? kita? pergi bersama?? kemana??" tanya Nita lagi yang masih tak percaya, namun bukannya menjawab pertanyaan Nita, Juan malah sudah berjalan keluar kamar hotel melewati Nita begitu saja.
"Hei.!!!" Nita menyusul Juan. Ia berusaha menyamakan langkahnya dengan Juan yang berjalan cepat namun tetap tegap itu, cukup sulit memang. Karena langkahnya tak selebar langkah Juan dengan kaki panjangnya.
"Hah..huft,,kenapa buru-buru sekali sih??!!" tanya Nita penuh protes ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Juan tak menjawab,ia langsung menyalakan mesin mobilnya dan melakukannya menuju bandara.
"Tenggorokan ku kering sekali. Aku haus, bisakah kita beli minum dulu? sebentar saja. Please" pinta Nita di tengah perjalanan.
Namun lagi-lagi Juan tak menggubris nya. Karena kesal, Nita pun memilih diam. Ia memalingkan dirinya dan menatap keluar kaca mobil.
"Sabar..sabar..ngomong sama beruang kutub itu memang tidak bisa dengan bahasa manusia. Jadi lebih baik kamu mengalah saja." ucap Nita dalam hati. Bermaksud menghibur dirinya sendiri.
"Aku juga tahu kok." jawab Nita dengan jutek,lalu langsung keluar dari mobil dan berjalan memasuki bandara. Baru beberapa langkah, ia menoleh ke belakang. Ia melihat Juan tak langsung mengikuti nya masuk ke bandara. Dilihatnya Juan tengah mengobrol dengan dua orang pria mengenakan setelan jas rapi. Mungkin membicarakan pekerjaan,pikir Nita.
"Oh,lebih baik aku beli minum dulu ah. Oh my god,,aku kan tidak bawa uang. Tas ku ada pada pria kutub itu." gumam Nita.
Akhirnya,Nita menunggu Juan beberapa saat hingga Juan menghampiri nya dan melemparkan tas milik Nita.
"Aduh!! Bisa gak si kamu memberikannya dengan ramah? jangan dilempar begini, kalau tasku jatuh dan ponsel ku pecah gimana?? mau tanggung jawab??!" omel Nita.
"Sayangnya,aku hanya ingin melakukan sesuai caraku. Dan kau pasti tahu kalau aku bisa membeli 1000 ponsel seperti itu. Jadi,tidak masalah kalau ponselmu jatuh dan rusak. Aku akan sangat bisa bertanggungjawab jawab." jawab Juan.
"Wah..woah..ha..hah..bodoh,,sejak kapan aku jadi sebodoh ini? sampai salah berkata-kata." ucap Nita dengan menepuk jidatnya sendiri sambil menahan kesal pada Juan.
"Yah,sudahlah. Tidak apa-apa,terserah padamu saja. Iya,lebih baik aku beli minum dulu. Oh iya,terima kasih sudah memberikan tas ku."
"Eits,, seperti nya kamu harus menahan hausmu lagi. Lihat, penerbangan kita diajukan." ucap Juan sambil menunjuk papan informasi pada Nita.
"Hah?? tunggu!! memang nya kita mau kemana sih??!" tanya Nita penasaran.
"Pulang ke Korea." Jawab Juan,dengan langsung menarik tangan Nita agar mengikuti langkahnya. Sementara sudah ada dua orang pria yang tadi bersama Juan sudah siap membawakan barang-barang mereka.
"Ya Tuhan,, berikanlah kesabaran serta kesehatan untuk ku." Doa Nita dengan suara agak keras, hingga Juan pun mendengar dengan jelas doa Nita, dan Juan hanya bisa menyunggingkan seutas senyum di wajahnya sambil terus membawa Nita mengikuti langkahnya.
"Seandainya kamu mengijinkan pasti aku sudah menggendong mu agar tak kesulitan menyesuaikan langkah denganku " ucap Juan dalam hatinya.
__ADS_1
Mereka baru saja duduk di dalam pesawat.
"Duh,kakiku pegal mengikuti langkah mu. Tenggorokan ku sudah saangat kering. Ugh,lemas sekali rasanya.Bisa-bisa aku pingsan sebelum sampai di Korea,huft." keluh Nita.
Juan hanya mendengar kan keluhan Nita sambil tetap fokus pada ponselnya. Hingga tiba-tiba Nita dikejutkan oleh kedatangan seorang pria yang duduk di sebelah kirinya.
"Maaf,aku sedikit terlambat." ucap pria itu sambil duduk. Suara yang sangat Nita kenal itu sontak membuatnya tertarik untuk melihat kearahnya. Hingga ia terkejut begitu melihat senyum di wajah pria itu setelah ia membuka topi dan maskernya.
"hah??" Nita menutup mulutnya saking terkejutnya. Sesekali ia menoleh pada Juan yang juga sedang melihat pada pria itu dengan ekspresi datar.
"Ada apa ini? kenapa mereka berdua?" gumam Nita dalam hati.
"Hem,tidak masalah." jawab Juan,seraya menandakan tidak masalah dengan kehadiran pria itu.
"Apa? tidak,ini..ini ada apa? kenapa kalian,ah..Niko, bagaimana kamu bisa ada disini?" tanya Nita penasaran pada Niko dan Juan. Belum juga dijawab,datang lagi seorang wanita yang duduk di sebelah Juan. Dia adalah Yuri.
"Apa maksudnya ini?" Nita penuh dengan tanda tanya di benaknya. Hingga Juan berkata.
"Kita sama-sama akan ke Korea." ucap Juan dengan tenang dan santai. Yuri pun menunjukkan senyumnya, begitupun Niko yang tersenyum dan mengangguk kan kepalanya pada Nita.
"Tunggu dulu!!" ucap Nita,lalu meletakkan telapak tangan nya di dahi Juan,yang tentu saja langsung ditepis oleh nya dan disertai tatapan tidak suka oleh Yuri.
"Kau tidak panas,tapi kenapa tingkahmu aneh?" gumam Juan.
"Sudahlah,nanti kita jelaskan." Ucap Niko. Sambil ia membantu mengecek keamanan sabuk pengaman yang dipakai Nita,karena pesawat akan segera lepas landas.
Niko terlihat sangat perhatian pada Nita. Dan Juan terlihat tidak masalah dengan itu. Sehingga Nita mengambil kesimpulan sendiri bahwa mereka mungkin sudah berdamai. Terang saja, karena di sebelahnya ada Yuri,yah itu impas untuk mereka.
"Es jeruk?" tanya Niko pada Nita saat seorang pramugari menawarkan minuman di deretan tempat duduk mereka. Nita pun mengangguk, dan Niko mengambilkan dan membantu Nita meminumnya.
"Mau makanan juga?" tanya Niko lagi.
"Ya,roti dan buah apel saja cukup." jawab Nita.
Niko kembali menyuapi Nita,begitu pramugari meletakkan permintaan Nita di atas mejanya.
Agak ragu untuk Nita menerima perlakuan Niko,sehingga ia melirik pada Juan. "Benar,dia terlihat tidak peduli. Berarti benar mereka sudah baikan." pikir Nita. sehingga kini ia bisa nyaman menerima perlakuan dari Niko yang memanjakan nya.
"Cih, berlebihan." gumam Juan, dengan tetap fokus pada buku yang kini dibaca nya. Namun Nita dan Niko mengabaikan ucapan Juan. Mereka malah terlihat lebih santai dengan mengobrol akrab dengan sesekali ada tawa kecil di tengah obrolan.
"Sayang,apa kamu tidak lelah terus membaca?" tanya Yuri, berharap Juan memperhatikan nya. Namun,Juan sama sekali tak menggubris nya.
"Apa kau sudah mulai berani mengaturku?" Juan balik bertanya pada Yuri dengan tatapan dingin. Sontak Yuri hanya terdiam, dan memilih hanya bergelayut manja di lengan kanan Juan yang tengah memegang buku bacaannya. Hingga suasana dalam pesawat tenang karena para penumpang kebanyakan sudah tertidur, begitupun tiga ora yang duduk sederet dengan Juan.
"Ia mengalihkan kepala Yuri yang menyender padanya. Ia mengatur sedikit tempat duduk Yuri agar dia bisa tidur tanpa bersender padanya. Namun saat ia menoleh ke sebelah kirinya,terlihat Nita dan Niko yang sama-sama sedang tidur dengan sambil menyender itu mengganggu pemandangan Juan. Ditariknya Nita,dan diarahkannya agar menyender pada pundaknya. Tanpa sadar,ia juga mengelus kepala Nita saat ia sedikit bergerak seraya menyamankan posisi kepalanya. "Ini,baru benar." gumam Juan dalam hatinya,dengan seulas senyum di wajahnya.
Deg...deg...deg...
Jantung Juan berdetak kencang, saat Nita melingkar kan tangannya di lengan Juan,seolah menjadikan nya guling tidurnya.Namun Juan mengatur dirinya agar tenang. Hingga ia pun akhirnya tertidur dan tak menyadari ada orang lain yang memotret tiap tindakan nya di pesawat itu.
******************************************
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA EPISODE INI. JANGAN LUPA LIKE NYA YA. TERIMA KASIH BANYAK UNTUK KALIAN YANG SUDAH MENUNGGU EPISODE LANJUTAN DARI CERITA INI. 🌻🌻🌻❤️❤️❤️🤗🤗🤗