Inikah Cinta

Inikah Cinta
104


__ADS_3

"Dari mana kamu?!" Tanya Juan dengan nada tinggi begitu Nita memasuki ruang tamu.


Nita terperanjat kaget mendengarnya,karena dia mengira Juan belum pulang atau mungkin bisa saja tidak pulang.


"Ah,Kau sudah pulang rupanya?" tanya Nita dengan berusaha santai.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku,darimana kamu?!!" ucap Juan yang masih duduk tegap di kursinya layaknya seorang raja yang memancarkan aura kebesaran.


"Oh,iya itu aku dari dari rumah teman. Ya aku dari rumah teman." jawab Nita terbata,ada sedikit rasa takut dan gemetar melihat Juan yang seperti itu.


"Siapa?!"


Sesaat Nita berpikir, kenapa Juan penasaran kemana dia pergi,dan dengan siapa? padahal biasanya tidak peduli.


"Oh,aku bertemu Niko." jawab Nita.


Mendengar jawaban Nita,Juan merasa dadanya makin terasa panas,ia tahu Nita berkata jujur,sesuai dengan yang dilihat Juan tadi. Tapi entah kenapa ia tak suka mendengar Nita menyebutkan nama pria lain di hadapannya. Terlebih ia ingat senyum bahagianya Nita saat dengan Niko tadi. Kenapa saat dengannya Nita tak menunjukkan senyum itu? ia malah selalu ingin menyudahi hubungan ini. Seolah ia tak mau berada dekat dengan Juan. Semua itu mengisi penuh dalam otak Juan, membuat nya makin emosi.


"Kau tahu jam berapa sekarang?!" tanya Juan lagi. Kali ini makin terlihat jelas kemarahan di wajahnya. Seketika membuat Nita makin gemetar. Seolah ia sedang diinterogasi karena melakukan kesalahan.Ia menundukkan kepalanya sambil meremas jari jemari nya untuk menenangkan dirinya.


"Ya..ini..sekarang hampir jam 12 malam." jawab Nita sambil melihat ke Juan sekilas lalu menunduk lagi dan membuang pandangannya sembarang. Tak mau berlama-lama dalam situasi itu Nita memutuskan untuk langsung pergi meninggalkan Juan.


"Ka..kalau begitu aku ke kamar. Selamat malam." Ucap Nita sambil bergegas berjalan menuju kamarnya.


"Aku belum selesai.!!" ucap Juan dengan suara tegasnya memecah keheningan malam di ruang itu. Seketika Nita menghentikan langkahnya.


Juan berdiri dari duduknya dan berjalan menuju Nita dengan langkahnya yang pasti, membuat jantung Nita berdetak cepat.

__ADS_1


"Angkat kepalamu!!" perintah Juan yang sudah berdiri di hadapan Nita saat ini.


"Ah? iy..iya" jawab Nita sambil mengangkat wajahnya namun enggan melihat wajah Juan.


"Tatap wajahku!!" perintah Juan.


"Ha?" Nita masih tak mengerti ada apa dengan Juan.


"Ku bilang tatap wajahku!!" ucap Juan yang saat ini sudah meraih wajah Nita dengan kedua tangan nya. Dengan sedikit membungkuk kan badannya,ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Nita.


Nita yang terkejut pun reflek memegang kedua pergelangan tangan Juan. Berusaha melepaskannya dari kedua pipinya. Agak kasar tindakan Juan padanya,namun jelas ada tanda tanya dalam kepalanya kenapa Juan bertindak demikian. Itu terasa aneh.


"Kenapa?? ingin aku melepaskan nya? Kau tidak suka hah? atau.." ucap Juan terpotong oleh Nita yang langsung menjawab.


"Bukan begitu!" jawab Nita berusaha berkata dengan jelas. Setelahnya ia terdiam sejenak mengambil nafas dan menenangkan dirinya yang memang sedari tadi merasa sedikit takut pada Juan. Namun,berbeda dengan Juan, melihat Nita berani menjawab nya dengan suara lebih jelas membuat nya puas. Di tatapnya dalam bola mata Nita. Masih terlihat jelas ketakutan nya. Namun kedua bola mata itu tak pernah membohongi nya.


"Tersenyumlah." ucap Juan yang membuat Nita melongo bingung dengan Juan.


"ha? ah..iya..ba-baiklah" jawab Nita. Lalu tak mau berlama-lama ia pun membuat senyum di wajahnya.


Melihat senyum itu,walau ia tahu itu senyum terpaksa,namun masih terlihat manis dan sangat menggoda bagi Juan. Tak menunggu lama,ia langsung mendaratkan bibirnya di bibir Nita,menciumnya dengan penuh semangat. Nita pun tak mau tinggal diam. Ia berusaha melepaskan dirinya dari Juan. Ia memukul dada bidang Juan, mendorong nya agar menjauh. Ingin ia berteriak tapi sepertinya sia-sia karena Juan mengunci mulutnya. Entah kenapa ia merasa Juan sedang menghukum nya karena kesalahan yang entah apa yang ia pun tak mengerti. Nita kesulitan bernafas, begitupun Juan yang terdengar terengah namun tak mau melepaskan Nita. Saat ini entah bagaimana caranya ia sudah mengunci tubuh Nita, mendekatkannya menempel di perut datar Juan. Menekan belakang kepala Nita, sehingga makin menempel pada Juan. Seberapa kuat ia berusaha melepaskan dirinya tetap tak bisa.


Sementara Juan makin kasar ******* bibir Nita,tangan kirinya yang kini mencengkeram erat tubuh Nita membuat Nita makin sesak dan sulit bernafas. Hingga ia akhirnya menggigit bibir Juan untuk melepaskan dirinya. Dan usahanya berhasil,Juan melepaskan ciumannya pada Nita. Namun masih mengurung tubuh Nita dalam dadanya. Dengan nafas tersengal,Juan menyatukan keningnya dengan kening Nita. tanpa sepatah kata yang sempat terucap dari mulut Nita yang juga masih mengatur nafasnya,Juan menyunggingkan sudut bibirnya,tersenyum sinis pada Nita. Nita tak peduli,ia langsung berusaha melepaskan dirinya dari Juan. Dia mendorong sekuat tenaga dada Juan agar menjauh darinya. Walau hanya membuat jarak dua langkah mundur,itu cukup membuat nya lega. Ia tak mau tubuhnya menempel dengan Juan,pria yang bukan suaminya.


Suasana menjadi hening sejenak,Nita yang masih terkejut dan marah dengan tindakan Juan,seolah sulit memahami kenapa dia harus menerima perlakuan itu dari Juan. Ada apa? dan apa salahnya? Ia tetap tidak mengerti. Hanya satu yang pasti adalah dia makin mantap untuk menyudahi sandiwara konyol itu.


Melihat raut wajah Nita yang pucat dengan penuh keterkejutan dan kecewa,membuat Juan menyadari kesalahannya.Ia telah gegabah,ia tak mampu mengontrol emosi dirinya. Dia berpikir harus meminta maaf pada Nita,namun apa yang harus ia katakan saat Nita bertanya kenapa?

__ADS_1


"Sudah cukup! ya,kurasa sudah cukup sampai disini sandiwara yang kita tunjukkan!! Maaf, aku tak bisa lagi melanjutkan ini walaupun hanya menunggu satu bulan ini. Ini,kartu kredit mu. Aku jamin,aku tak memakai nya sepeserpun. Jadi tolong, jangan ganggu aku lagi. Anggap kita tidak pernah saling kenal. Dan untuk kejadian hari ini aku akan melupakannya." ucap Nita, mendahului Juan yang tadinya ingin meminta maaf terlebih dahulu pada Nita. Mendengar ucapan Nita,membuat Juan merasa dadanya sesak, seperti tersayat. Ia tak mau mengakhiri hubungan nya dengan Nita,ia tak mau Nita meninggalkan nya.


"Tidak...ini tidak boleh terjadi." gumam Juan.


"Tunggu!!" ucap Juan keras, bermaksud menghentikan Nita. Namun tak dihiraukan olehnya.Ia pergi meninggalkan Juan sendiri,menuju kamarnya dan mengunci pintunya. Ia tak menyadari kalau kakinya masih gemetar ketakutan karena kejadian tadi. Langkah nya tak seimbang membuat nya terjatuh tersungkur di lantai. Tiba-tiba air matanya menetes,ia menangisi dirinya.


"Nita!! buka pintunya!!" ucap Juan sambil menggedor-gedor pintu kamar Nita.


Nita menutup kedua telinganya,ia tak mau lagi melihat Juan. Pria itu terlalu mempermainkan hidupnya seenaknya.


"Buka pintunya,atau akan aku dobrak!" ucap Juan lagi.


"Huft" Nita mengeluh dalam kamar. Dipandanginya pintu kamarnya sambil terduduk di lantai. Benaknya menebak akankah Juan benar-benar akan mendobrak pintu itu.


"Ku mohon,jangan lakukan itu. Biarkan aku sendiri untuk kali ini." Jawab Nita dari dalam kamar.


"Baiklah,kalau itu mau mu. Kita bicarakan lagi besok." ucap Juan,lalu dengan berat ia meninggal kamar Nita.


Ting..


sebuah pesan masuk ke ponsel Nita.


"Nita,bagaimana? apakah kau sudah memikirkan nya? tuan David tadi sudah kerumah lagi." begitulah bunyi pesan yang tertera di layar ponsel Nita.


Nita hanya bisa menghela nafasnya lagi,dengan tubuhnya yang terasa lemas,lelah,lesu,sama sekali tak bersemangat ia berusaha beranjak dari duduknya dan berdiri. Berjalan lemah menuju kamar mandi. Ia menyiram tubuhnya dengan shower air dingin di sana. Sama sekali ia tak merasakan kedinginan. Pikirannya kacau. Sulit baginya untuk memutuskan pilihannya. Terlintas bayangan ibunya yang pasti akan senang melihatnya di pelaminan. Namun juga terlintas bayangan wajah nenek Kim yang terbaring di rumah sakit karena mendengar kebohongan nya dengan Juan. Wajah kakek Kim uang pasti akan sangat marah. Dan wajah Niko yang ia tahu kalau pria itu masih menunggunya. Namun perbedaan agama dan lain hal membuatnya tak bisa menaruh keyakinan dengannya. "Juan,ah sial. Kenapa bayangan wajah pria itu melintas juga di pikiranku? huft, sebenarnya kenapa harus berurusan dengan pria itu? Sudahlah,besok aku bisa langsung pergi dari rumah ini." gumam Nita.


Di kamar lain. Juan masih terjaga,berdiri menghadap ke luar jendela dengan pandangan tajamnya ke depan.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskan mu,Nita. Untuk Niko, ataupun pria lain di dunia ini. Tidak akan.!" gumam Juan penuh penekanan.


__ADS_2