Inikah Cinta

Inikah Cinta
64


__ADS_3

Waktu menunjukkan hampir pukul 3 sore,Nita bangun dari tidur siangnya karena merasa tubuhnya basah karena keringatnya. Suhu tubuhnya sudah tak begitu tinggi namun karena demam nya tadi membuatnya banyak berkeringat. Baju,selimut dan seprei pun sudah terasa gak nyaman lagi. Ia pun beranjak dan melepas selimut dan seprei yang dipakainya dan menaruhnya disisi tempat tidur.Ia berniat mencucinya nanti setelah mandi. Begitu ia melihat paperbag yang diberikan Juan yang berisi baju untuknya ia langsung meraih nya dan membawanya ke kamar mandi yang ada di kamar itu.


Sementara Juan tengah berada di ruang kerjanya,ia sibuk dengan pekerjaannya yang ia kerjakan dari rumah. Bukan hanya itu saja,ia masih harus menyamarkan diri dengan nenek Kim yang tiap jam selalu menelfon nya hanya untuk menanyakan kondisi Nita. Dan sebuah nomor baru yang sejak siang mengirimkan pesan padanya. Sekilas dilihatnya pengirim pesan itu adalah seorang wanita bernama Mimi yang merupakan putri dari tuan Aichi yang tadi siang sudah disampikan oleh kakek Kim.


"Haishhh,,jengah sekali rasanya. Kalau bukan kakek dan nenek sudah pasti ku hentikan dengan caraku sendiri.Hah, benar-benar mengganggu saja." keluh Juan sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya dan memijit pelipisnya sendiri. Dengan membuang nafasnya kasar kemudian ia beranjak dan keluar dari ruangan itu. Bermaksud ke kamar untuk mengecek kondisi Nita.


Ceklekk


Saat ia membuka pintu kamarnya bertepatan dengan Nita yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah setelah keramas dengan handuk yang ia temukan di kamar mandi. Ya tentu handuk itu milik Juan.


"Hei,apa yang kamu lakukan?!" tanya Juan dengan nada agak tinggi karena heran melihat Nita yang terlihat baru selesai mandi dengan berkeramas.


"Oh,aku habis mandi" jawab Nita santai.


Tap..tap..tap..


Juan berjalan cepat menghampiri Nita dan langsung meletakkan telapak tangannya di dahi Nita untuk mengecek suhu tubuhnya. Nita yang mendapat perlakuan tiba-tiba begitu hanya bisa terpaku karena ia tak tahu harus bagaimana.


"Ah, Syukurlah, kamu sudah tidak demam." gumam Juan.


"Aishh, singkirkan tanganmu! aku memang sudah tidak demam. Aku sudah merasa lebih baik sekarang." timpal Nita sambil mengalihkan tangan Juan dari dahinya kemudian berjalan menuju tepian tempat tidur sambil melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambutnya yang masih basah.


"Hei,harusnya kau berterima kasih padaku. Aku sudah merawatmu lhoh. Apa begitu caramu membalas orang yang sudah baik padamu?! cih keterlaluan sekali." omel Juan.


"Terima kasih pak direktur" ucap Nita sambil menunjukan senyum yang dibuat-buat nya.


"Hei..tunggu..bukankah itu bajuku? kenapa kau memakai bajuku?" tanya Juan yang baru memperhatikan ternyata Nita memakai kaos lengan panjang dan celana training milik nya. Jelas sekali terlihat kebesaran dipakai Nita.


"hehe..maaf. Aku pinjam dulu ya. Baju yang kamu berikan yang ada di paper bag itu terlalu kecil dan lagi itu modelnya aku kurang suka. Jadi ku lihat bajumu ada banyak di ruang ganti sana jadi aku cari yang cocok denganku. Dan lagi ini lebih nyaman untuk di rumah dan tidur.Piss" jawab Nita dengan menunjukan dua jari membentuk huruf V yang ia tunjukkan pada Juan tanda permintaan maaf.

__ADS_1


"Ya,buatmu saja. Lagipula itu terlihat cocok kok buatmu." jawab Juan sambil menahan senyumnya karena merasa Nita terlihat lucu memakai baju nya itu,namun ada sisi senang Nita dengan santai memakai bajunya.


"Sini ku bantu keringkan!" ucap Juan yang langsung meraih handuk yang dipegang Nita dan berdiri di depan Nita.


"Hah? ga usah. Aku bisa sendiri. Sini berikan handuknya." Nit berusaha meraih handuk dari tangan Juan namun Juan meninggikan nya sehingga Nita susah untuk menjangkau nya.


"Huft,ya sudah." Nita yang putus asa pun kemudian duduk di tepian ranjang membelakangi Juan dan Juan mulai menempatkan dirinya untuk membantu Nita mengeringkan rambutnya.


"Kau tidak mengambil handuk yang baru saja di rak tadi?" tanya Juan sambil memulai kegiatannya mengeringkan rambut Nita.


"Begitu masuk kamar mandi hanya handuk itu yang ku lihat jadi ku pakai saja. Daripada kelamaan mencari yang aku gak tau letak pastinya." jawab Nita.


"Kalau sedang sakit kan gapapa kalau gak mandi." ucap Juan.


"Siapa bilang aku sakit? cuma sedikit ga enak badan aja kok. Dan lagi,tubuhku banyak berkeringat jadi gak nyaman kalau mandi. Dan..aku minta maaf juga karena seprei dan selimut mu juga jadi kotor karena ku. Tapi nanti ku cuci kok setelah ini." jelas Nita tulus.


"Tidak usah dipikirkan,biar nanti aku saja yang cuci. Kau makanlah dulu. Aku sudah membuat beberapa makanan di meja makan." ucap Juan.


"Kenapa?" tanya Juan yang heran dengan ekspresi Nita.


"Yah,sudah pasti luar biasa dong. Seorang direktur sepertimu yang galak dan menyebalkan tapi mau merawat orang yang sedang kurang sehat sepertiku yang bukan siapa-siapa,terlebih sekarang kan seharusnya aku yang sedang bekerja padamu. Kok malah jadi seperti aku yang bos nya.hehehe" tutur Nita dengan sedikit ketawa kecilnya.


"Enak saja,ini tidak gratis. Aku hanya berbaik hati sedikit karena kamu sedang kurang sehat. Jadi masa kamu bekerja yang seharusnya seminggu akan aku perpanjang sesuai dengan lamanya waktu liburku karena sakit. Atau kamu harus membayar ku yang sudah merawat mu. Tentunya dengan standar gaji seorang direktur K Group bukan hajimu." jawab Juan dengan santai namun datar dan cukup membuat Nita terkejut.


"Ap..apa??? kok gitu sih??! lagian kan yang minta aku disini kan kamu sendiri bukan aku. Bisa-bisanya sekarang kau malah berkata seolah aku yang sengaja merepotkan mu sih? Huh,menyebalkan.!"Jawab Nita dengan jengkel.


"Cepatlah keluar,aku tunggu di meja makan.!!" ucap Juan yang sudah beranjak dan melempar handuk yang dipegangnya hingga menutupi wajah Nita lalu ia pun berlalu keluar dari kamar itu sambil membawa selimut dan seprei yang kotor untuk dicuci.


"Aarrggg...Dasar manusia es,pria aneh. Menyebalkan.Aduhh..!!" omel Nita sambil menarik handuk yang menutupi wajahnya dan reflek berdiri hendak mengenal dan menjitak kepala Juan namun malah kakinya terpeleset handuknya yang terjatuh ke lantai hingga ia pun jatuh terduduk dan memegangi pantatnya yang terasa pegal. Sambil meringis kesakitan.

__ADS_1


*


"Halo" Juan tengah menelfon Denis,temannya di Jerman.


"Hallo Juan,Aku baru akan menghubungimu." jawab Denis.


"Tak apa,langsung saja. Kau sudah tau maksudku menelfonmu kan?" ucap Juan.


"Tentu. Namun aku minta maaf,ini di luar rencana. Yuri sudah terbebas dari mereka,namun mungkin Yuri mengira anak buahku adalah komplotan mereka sehingga saat kita akan membawanya malah Yuri kabur dan sialnya kami kehilangan jejak. Tapi aku yakin,pasti saat ini Yuri sedang mencari cara untuk bisa pulang ke Korea." jelas Denis.


"Hah,baiklah. Setidaknya Yuri sudah bebas. Dan ku mohon kamu tetap membantuku sampai Yuri benar-benar aman." tutur Juan.


"Tida usah kau minta,aku sudah tahu harus bagaimana dengan saudaraku. Kau tidak usah khawatir. Semua ini pasti akan berlalu. Kuatkan hatimu brother." ucap Denis sambil menyemangati.


"Baiklah." jawab Juan lalu mematikan telefon nya.


Juan adalah orang yang sangat sulit mengucapkan terima kasih,namun setiap orang yang sudah mengenalnya sudah tahu karakter Juan yang sebenarnya. Walaupun dia kaku dan dingin juga tidak banyak bercanda namun dia selalu serius dan baik serta ada sisi manja dan kekanakkan. Dia hanya tidak mau menunjukkan nya pada setiap orang,karena ia tak mau dianggap lemah. Sejak kecil ia hidup dengan kakek dan nenek Kim setelah ayahnya pergi meninggalkannya saat masih kecil dan ibunya meninggal karena kecelakaan beberapa tahun setelah kepergian ayahnya. Itu membuatnya harus menjadi kuat dan mandiri agar bisa melindunginya kakek dan nenek nya yang sangat menyayanginya. Kenakalan terbesarnya adalah ia mencintai Yuri,gadis yang tidak terlalu disukai oleh kakek dan nenek Kim. Entah apa alasan mereka,hingga saat ini kakek dan nenek Kim tidak pernah menjelaskan alsan mereka tidak menyetujuinya menikah dengan Yuri. Hingga saat ini Juan baru merasakan bahwa ada banyak teka teki dengan kehidupan Yuri. Namun masih sulit baginya untuk melupakannya begitu saja. Karena ia sudah berjanji padanya saat mereka kecil bahwa ia akan menikah hanya dengan Yuri.


Dulu Juan sangat yakin dengan perasaannya. Namun siapa sangka sekarang ia tengah mengalami kebimbangan dengan dirinya. Masihkan i mencintai Yuri? Yakinkah ia akan menikahi Yuri nanti ketika Yuri benar-benar kembali padanya? haruskah ia memilih antara Yuri dengan kakek dan nenek nya yang telah merawatnya selama ini? Ketiganya adalah orang yang ia sayangi dan berharga dalam hidupnya.


"Hei,pak direktur anda mau makan bersamaku tidak?" teriak Nita dari ruang makan yang membuyarkan lamunan Juan yang tengah berada di ruang laundry.


"Huft,iya!" jawab Juan sambil menghembuskan nafasnya untuk menenangkan pikirannya,lalu ia pun bergegas bergabung dengan Nita di ruang makan.


***


AUTHOR


Selamat membaca semuanya....

__ADS_1


semoga kalian selalu sehat,bahagia dan suka dengan episode ini. Jangan lupa LIKE nya ya,dan pastinya komen untuk selalu memberi dukungan semangat buatku. Thank you...🙏🌻🌻🌻❤️❤️


__ADS_2