
"Ulu...ulu..ulu..thayang..yuk mamam dulu..aaaaa...." Nita tengah berusaha menyuapi Jongmin yang sedang asyik berjalan jalan kesana kemari sambil sesekali menyentuh apapun yang menarik perhatiannya.
Sementara Jongsun diletakkan di troli yang juga tengah menangis meminta susu. Untuk bayi seusianya memang saat ini jam lapar dan waktunya minum susu.
Nita kualahan menjaga mereka berdua, apalagi keduanya masih terlalu kecil. Satu belum lancar berjalan sedang satunya lagi masih harus digendong. Nita tidak mungkin menggendong mereka berdua bersamaan. Ia belum berpengalaman mengasuh anak sekecil mereka. Ia hanya pernah menjaga anak yang berusia sekitar 4 atau 5 tahun saja. Sungguh ini betul-betul situasi baru yang sangat melelahkan,menguji kesabaran dan juga menguji ketangkasannya dan lainnya.
Sekilas ia teringat bagaimana lelahnya ibunya menjaganya ketika kecil. Terlebih setiap malam ia harus terbangun untuk menyusui dan lainnya. Belum lagi harus terus terjaga sepanjang malam ketika anaknya sedang sakit. Karena itu Nita menyemangati dirinya sendiri saat ini,setidaknya ia hanya perlu menjaga tanpa harus menyusui.
"Astaga!! berisik sekali sih!!!" geram Juan karena merasa terganggu oleh Jongmin dan Jongsun. Ingin sekali ia menegur atau memarahi kedua anak kecil itu dan juga Nita,namun saat ini ia sedang mengadakan video meeting dengan beberapa klien nya dari luar negeri,jika tidak ada pujian dari salah satu klien yang mengatakan jika istrinya sangat telaten berlatih mengasuh anak,maka sudah pasti ia akan keluar dari ruang kerjanya sebentar untuk menegur Nita. Namun pujian itu membuat citra Juan dan istrinya baik,sehingga berpengaruh pada kerjasama mereka.
Beberapa saat kemudian video meeting Juan telah selesai. Ia pun bergegas menemui Nita dengan emosi yang tertahan sejak tadi. Kepalanya serasa mau pecah mendengar tangisan kedua anak di rumahnya itu.
"SIAL!! NITA!! NITA!!" Teriak Juan seakan mengisi seluruh sudut rumah itu.
"Nita!!" teriak nya lagi saat sampai di depan pintu menuju beranda samping rumahnya. Disana ia melihat Nita yang tengah menggendong Jongmin di punggungnya,sementara Jongsun digendong di depan. Sambil susah payah berusaha menenangkan kedua anak tersebut. Nita tak menghiraukan Juan sama sekali.
"Haishh,hei kamu tuli ya?!!" maki Juan tepat di hadapan Nita.
"Huft,iya. Khusus hari ini aku akan menjadi tuli dengan suara mu." Jawab Nita kesal.
"Kepalaku pusing mendengar tangisan mereka! Kamu bisa menenangkan mereka tidak si?! Kalau tidak bisa tidak usah sok berbaik hati mengajukan diri merawat anak kecil ini.! Mengganggu saja!!" tambah Juan lagi.
"Huft,iya. Maaf. Aku akan bertanggung jawab jadi kau pergi dari sini sekarang agar mereka bisa segera tenang." jawab Nita.
"Kau tahu, gara-gara mereka aku jadi tidak bisa tenang meeting,aku telat makan siang,dan sekarang aku terancam tidak makan malam karena kamu masih belum bisa menenangkan mereka. Kau akan menyesal karena telah bertindak ceroboh,tunggu hukuman mu setelah mereka pergi dari rumah ini.!" ucap Juan dengan penekanan di akhirnya,sambil melirik tajam pada Jongmin dan Jongsun,kemudian melangkah pergi meninggalkan Nita di sana.
"ihh dasar pria psikopat.!" umpat Nita begitu Juan pergi. Lalu ia kembali disibukkan dengan usahanya menenangkan Jongmin dan Jongsun, mulut nya tak henti-hentinya berucap apapun untuk menghibur tangisan mereka. Hingga dia bersholawat,barulah ia merasa lebih sabar dalam menghadapi kedua anak itu,mungkin suasana hatinya menular pada Jongmin dan Jongsun sehingga merekapun lama kelamaan ikut tenang,mulut mereka tak lagi menangis dan merengek tak jelas pintanya,hingga hanya terdengar ucapan dari Jongmin di punggungnya yang mulai mendengus kan kepalanya di punggung Nita menyamankan diri,begitupun dengan Jongsun yang juga mulai menguap dan matanya terlihat sayu hingga kelopak matanya akhirnya menutup. Tak lama kemudian hanya terdengar hembusan nafas mereka yang sepertinya sudah tertidur dengan nyenyak.
"Alhamdulillah,akhirnya mereka tidur juga. Lebih baik sekarang aku baringkan mereka di kamar sehingga aku bisa mandi dan menyiapkan makan malam." gumam Nita yang lalu membawa mereka ke kamar dan membaringkan mereka satu-persatu dengan hati-hati di troli untuk Jongsun dan di kasur untuk Jongmin.
"Hup." lenguh Nita sambil melenturkan tangannya dan sedikit memijit pundaknya yang terasa kaku.
"Astaga,sudah maghrib. Kenapa paman dan bibi belum juga kembali ya? huft." keluh Nita lalu menuju kamar mandi untuk mandi lalu melaksanakan sholat maghrib.
"sudah selesai?" tanya Juan yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Begitu Nita selesai sholat. Sesaat Nita kaget namun segera menormalkan diri karena ingat Jongmin dan Jongsun sedang tidur. Ia tak mau mereka kaget dan terbangun.
"Sssttt,,kita bicara diluar saja." jawab nya sambil berbisik.
"Hemm" jawab Juan yang langsung balik kanan.
***
"Ada apa?" tanya Nita begitu ia sampai di dapur dan Juan sudah duduk menghadap meja makan yang masih kosong.
"Masih tanya kenapa? Di depanku belum ada apapun yang tersaji.!" ucap Juan dengan jengkel.
"Iya..iya..maaf. Akan segera ku buatkan, lagipula punya banyak uang kenapa gak pesan makanan on line aja sih. Heran.."ucap Nita.
__ADS_1
"Kau ingat perjanjian kita kan?!" jawab Juan yang menang dengan posisinya.
"Iya,Baik tuan!!" jawab Nita yang langsung bergegas membuat makanan untuk Juan. Beberapa saat kemudian ia sudah siap dengan dua piring nasi goreng yang ia bawa di kedua tangannya dan menghidangkan di hadapan Juan.
"Silahkan tuan." ucap Nita dengan nada dibuat sangat ramah.
"Apa tidak ada yang lain?" tanya Juan yang terlihat sedang enggan memakan nasi goreng.
"Ada" Jawab Nita yang sudah mulai menyendok makanan ke dalam mulutnya.
"Kenapa kamu tidak membawa nya kesini? aku sedang tidak ingin makan nasi goreng. Aku sudah kelaparan seharian,dan menahan marah gara-gara kamu, harusnya kamu masak yang lebih menarik dong.!" oceh Juan.
"Ini juga enak kok." jawab Nita dengan mulutnya yang sedang mengunyah makanan dengan cuek dan hampir tak mempedulikan pria menyebalkan yang ada di hadapannya sekarang.
Brakkk
Juan menggebrak meja menunjukkan kemarahannya.
"Uhuk..uhukk...Nita tersedak karena kaget dengan tindakan Juan. Namun Juan mengulurkan segelas air putih dan memberikan pada Nita,hingga bentuknya berhenti.
"Aku tidak akan meminta jatah mu,bahkan aku tidak akan memakan bagianku, jadi lebih baik kau hati-hati makannya.!"
"Astaghfirullah,kau pikir aku tersedak ini gara-gara siapa?? kamu tahu!!
"Kamu itu seharian memperhatikan apa yang ku katakan tidak sih??! jangan menguji kesabaran ku lagi kalau kamu tak mau menderita .!" ucap Juan mengancam.
Diam diam sejenak dengan menatap Nita, sebelum akhirnya ia mengalah dan mengendalikan amarahnya.
"Haish,baiklah.. Untuk hari ini aku mentolerir mu, karena aku masih punya belas kasih pada wanita yang seharian sibuk merawat anak orang." ucap Juan.
Nita pun sontak kaget mendengar perkataan Juan,ia tak percaya seorang Juan yang seharian marah-marah karena terganggu oleh kericuhan anak-anak kini dengan mudah nya memaklumi.
"hah?" ekspresi ketidak percayaan Nita pada Juan.
"apa? sudah habis kan makanan mu.!" ucap Juan lalu mulai menyendok makanan nya dan mengarahkan ke mulutnya.
Melihat itu Nita pun bersyukur, setelah makan ia tak ada pekerjaan tambahan lagi sehingga bisa langsung istirahat. Memikirkan itu ia sudah tak sabar sehingga kembali melanjutkan makannya dengan lahap. Juan yang melihatnya hanya menyunggingkan sekilas senyumannya.
Beberapa saat kemudian acara makan pun selesai bersama dengan suara bel berbunyi.
"Biar aku saja buka." ucap Juan sambil beranjak berjalan menuju pintu depan.
"Terima kasih" jawab Nita.
**
"Tadaaa... selamat malam keponakan ku yang ganteng dan baik hati" ucap bibi Jeon dengan antusias begitu Juan membuka pintu.
__ADS_1
"Tidak usah basa-basi,kalian lekaslah bawa pulang anak-anak itu.! Dan jangan pernah menitipkan mereka lagi disini." ucap Juan tegas.
"Unduh,jangan galak galak begitu, nanti cepat keriput." Jawab bibi Jeon yang kemudian beralih dari Juan dan menerobos masuk ke dalam rumah setelah hanya mendapatkan respon tatapan tajam oleh Juan.
"Halo sayang, sedang apa?" sapa bibi Jeon yang langsung memeluk Nita begitu Melihat nya.
"Ah,halo bi." jawab Nita.
"Apa kalian sudah makan? bibi bawakan kue stroberi untuk kalian." ucap bibi sambil menaruh nya di atas meja makan.
"Dimana anak-anak? mereka tidak terlihat." tanya bibi sambil mengedarkan pandangannya, begitupun paman.
"Ah,mereka sedang tidur di kamar." jawab Nita.
"Hah? tidak biasanya mereka sudah tidur jam segini, biasanya kami harus begadang karena mata mereka seolah tak merasa ngantuk. Wah wah, sepertinya keponakan ku ini sudah siap untuk merawat anak. Semoga kalian cepat dikaruniai seorang anak ya. Jangan terlalu capek, berusaha lah yang giat supaya lekas hamil. Bila perlu kamu harus merayu suami mu setiap hari. Manfaat kan waktu liburnya sekarang yah,nanti kamu akan paham betapa bahagianya kehadiran anak yang lucu dan menggemaskan seperti Jongmin dan Jongsun kami." celoteh bibi Jeon yang hanya ditanggapi dengan senyum kebingungan Nita.
"Makanya,kalian cepatlah bawa anak-anak itu pulang.! Seharusnya tidak usah mengganggu waktu kami yang merupakan pengantin baru kalau ingin melihat Nita cepat hamil.!" ucap Juan tiba-tiba, mengejutkan Nita dan lainnya.
"Wow, keponakan ku.?? apa aku tidak salah dengar??" tanya bibi Jeon tak percaya mendengar Juan mengucapkan kalimat intim dengan santainya. Tidak seperti biasanya.
"Ayolah istri ku,lebih baik kita cepat bawa anak-anak pulang." ucap paman sambil menarik tangan bibi Jeon, diikuti Nita untuk menunjukkan kamarnya.
Beberapa saat kemudian mereka pun sudah pergi dari rumah itu. Seketika suasana menjadi tenang dan perasaan Nita langsung lega, begitupun dengan Juan.
"Akhirnya,para iblis kecil itu pulang juga.Nita, buatkan aku ko...Pi." ucap Juan yang langsung terhenti begitu melihat Nita yang terlihat sudah tertidur di kursi ruang tamu.
"Astaga, cepat sekali kau tidur." gumam Juan.
Juan pun berjalan mendekati Nita dan sedikit menggoyang kan. lengannya bermaksud membangunkannya.
"Hei, bangun.Jangan tidur disini, nanti dingin. Tidur lah di kamarmu." ucap Juan tapi Nita sedikit pun tak bergeming. Mungkin dia terlalu lelah seharian ini.
"Huft, merepotkan" gumam Juan yang kemudian akhirnya menggendong Nita dan membawanya ke kamarnya. Dibaringkan nya di kasur dengan perlahan dan menyelimuti nya.
Sekilas,Juan memandangi Nita yang terlihat sangat kelelahan.
"Selamat malam. Terima kasih untuk semua yang kau lakukan hari ini." ucap Juan sambil mengusap kening Nita sekilas lalu pergi meninggalkan Nita sendiri di kamarnya,tak lupa ia mematikan lampu kamar dan menutup pintu nya dengan hati-hati.
Ia pun masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Nita dan langsung membaringkan tubuhnya di kasur empuknya. Hembusan nafas lega dan lelah hari ini telah selesai, hingga ia pun memejamkan matanya menuju mimpi.
***
AUTHOR
SELAMAT BUAT SEMUA PEMBACAKU PARA WANITA HEBAT YANG MAMPU DENGAN SABAR MERAWAT ANAK-ANAK DENGAN BAIK. PENGHARGAAN SETINGGI TINGGINYA UNTUK PARA IBU DAN JUGA AYAH YANG IKUT MENDUKUNG PARA IBU DALAM BEKERJA SAMA MERAWAT DAN MENDIDIK ANAK-ANAK NYA. SEMOGA YANG BELUM PUNYA ANAK DAPAT ALLAH SEGERAKAN MENGARUNIAKAN SEORANG BUAH HATI DI TENGAH - TENGAH KALIAN.AMIN
SALAM SEHAT SELALU UNTUK SEMUANYA...
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️